Destinasi Liburan – Spot Wisata https://spotwisata.com Temukan ragam info seputar spot, tips, dan serba-serbi wisata yang menarik, di sini. Tue, 05 Jan 2021 05:16:04 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.3.12 https://spotwisata.com/wp-content/uploads/2019/10/Spot-Wisata-1-150x150.png Destinasi Liburan – Spot Wisata https://spotwisata.com 32 32 Sowan ke Kuil Dewi Kwan Im Terbesar di Tengah Pegunungan Chiang Rai https://spotwisata.com/wat-huay-pla-kang-chiang-rai/ https://spotwisata.com/wat-huay-pla-kang-chiang-rai/#respond Sun, 03 Jan 2021 22:00:44 +0000 https://spotwisata.com/?p=931 Sebelum mulai hectic lagi per Senin di Q1 2021 dan mumpung sempet cerita, here we go! Banyak banget, hal dan detail perjalanan menarik yang emang…

The post Sowan ke Kuil Dewi Kwan Im Terbesar di Tengah Pegunungan Chiang Rai appeared first on Spot Wisata.

]]>
Sebelum mulai hectic lagi per Senin di Q1 2021 dan mumpung sempet cerita, here we go!

Banyak banget, hal dan detail perjalanan menarik yang emang belum sempet gue ceritain dari solo trip 9 hari ke Thailand November 2019 kemarin. Salah satunya tentang kunjungan ke Wat Huay Pla Kang yang berlokasi di tengah pegunungan Chiang Rai.

Wat Huay Pla Kang Chiang Rai

Sebuah kuil Buddha di mana patung Dewi Kwan Im terbesar atau yang dikenal juga sebagai Guan Yin, Sang Goddess of Mercy, bersemayam kokoh dengan pesonanya yang magis.

Yang membuat perjalanan ini menarik bagi gue sendiri, bukan cuma karena tempat atau kuilnya yang emang legendaris. Baik dari sisi historis maupun arsitekturnya. Tapi juga karena kunjungan ke sana, gue lakuin secara spontan dan bisa dibilang nekat. Yes, the power of solo trip. Kalo nggak solo trip, pasti nggak bisa ubah-ubah & dadakan seenak jidat. Semua harus serba kompromi, brou.

Naik Taksi Argo Tembak dari Terminal Bis Chiang Rai ke Hostel

Kenapa spontan? Jadi, dari Bangkok ke Chiang Rai, gue naik bis kota Sombat Tour selama 12 jam. Bis jalan dari Bangkok mulai jam 7 malam, dan sampai di Terminal Bis Chiang Rai itu jam 7 paginya. Nah, dari sejak subuh sampe bis tiba di terminal, Chiang Rai diguyur hujan yang nggak kelar-kelar. Alhasil, suhu udara di bis jadi makin menjadi-jadi dinginnya. Ditambah lagi, Chiang Rai itu kan wilayah pegunungan. Otomatis, ya bikin gue yang nggak kuat dingin ini jadi agak ‘semaput’. Untung, untung banget, gue selalu bawa jaket dobel. Haha.

Saking dinginnya, pas turun dari bis, otak gue ikutan beku dan susah mikir.

“Buset, ini gue ke mana dulu, yak?”

Sebenernya, gue udah bikin itinerary lengkap dari berangkat sampe pulang lagi ke Jakarta. Tapi, ya berhubung gue jalan sendirian, gue pasti iseng masukin satu atau dua timeline kosong buat “yaudah gimana ntar atau di sana ajalah”. Sengaja, biar otak gue dipaksa mikir, kreatif, dan bisa solve the problem.

Wat Huay Pla Kang ini pun udah ada dalam itinerary gue saat itu. Cuma, ke sananya gimana, gue sama sekali nggak tau. Hahaha. Sialnya, pagi itu di terminal dingin & gloomy banget. Jangankan mikirin rute ke sana gimana, gue sibuk menggigil dan gerak-gerak biar dinginnya ilang, tapi nggak ilang-ilang. Akhirnya, gue pindah ke tempat duduk di terminal bagian dalam yang ada pintu dan jendelanya. Lumayan, dingin berkurang.

Sambil nenggak air mineral botolan 20 Baht yang gue beli di terminal, gue diem dan merhatiin sekitar. Terutama moda transportasi yang tersedia di terminal. Gue liat-liat ada tiga moda transportasi yang ready: taksi, songthaew (kayak angkot kalo di sini), sama ojek. Satu lagi, ada Grab Thailand juga.

Otak gue yang udah mulai bisa dipaksa mikir itu langsung ngasih ide:

“Cuy, ke hostel aja dulu. Siapa tau bisa early check in, naro tas, sama ngangetin badan at least sampe ada matahari, lah.”

Iya, gue agak gambling. Karena waktu itu seinget gue, hostel gue nggak nyediain fasilitas early check in. Yah, maklum, namanya juga hostel backpacker dengan rate 200K semalem. Haha.

Deal, tujuan utama ke hostel dulu. Bisa early check in apa nggak urusan belakangan. Setelah itu, gue mikir lagi: gue naik apa nih ke hostel? Langsung, gue cek aplikasi Grab Thailand. Niatnya mau naik Grab Car sama nyari ongkos yang fixed supaya nggak kena tembak. Tapi ternyata, harga Grab Car pagi itu sekitar 150 Baht lebih alias kalo dirupiahin dengan kurs Rp475 jadi sekitar Rp72.000. Gue lupa jarak dari terminal ke hostel berapa KM, tapi saat itu gue mikir harga ini mahal & nggak make sense. Ya make sense-nya karena hujan jadi lebih mahal.

The power of solo trip kayak yang gue bilang sebelumnya, nggak tau gue kerasukan apa. Gue milih skip & tutup aplikasi Grab, terus nekat nyamperin bapak-bapak taksi yang lagi pada ngumpul dan nyari penumpang. Padahal gue tau most likely, ini bakalan nembak argonya. Dan bener.

Pertama, gue langsung nanya khas turis:

“Excuse me, can you drive me to this hostel?” Kata gue, sambil nunjukin peta & nama hostel dalam bahasa Thailand. Lucky me, si bapak supir taksi yang gue tanya langsung tau dan jawab “oh yes, 100 Baht to this hostel.” Dalem hati: waw, berkah nekat & berinteraksi dengan warga lokal. Haha.

Kalo dibandingin Grab Car yang gue cek tadi harganya, jelas ini lebih murah. Gue bisa sampe ke hostel dengan ongkos hanya Rp47.500 saja! Pelajaran yang bisa diambil di sini: tidak semua harga tembak akan merugikan kita. 😄

Tidak ada perdebatan deal or no deal lagi, langsung aja gue naik dan bilang “ok, let’s go!”

Gue udah kedinginan dan laper, bos.

Duduk di depan bareng pak supir, gue sungguh menikmati jalanan kota Chiang Rai pagi itu. Lenggang, sepi, dan damai. 30 menit perjalanan, gue udah sampe depan Hostel Baan Mai Kradan.

Apakah gue bisa early check in? Jelas tidak. Haha. 🙂

Karena penghuni kamar gue belum keluar/checkout pagi itu, makanya nggak bisa. Tapi, staf hostel super baik. Gue dibolehin titip barang (kalo ada) dan langsung sarapan di ruang tamu. Sampe di hostel jam 9, gue numpang duduk, sarapan, dan bengong kurang lebih sampe jam 10. Kalo mau check in, ya mesti nunggu sampe jam 2. Yang mana ini tidak make sense dan ngapaaaain, brou?

Karena nggak mau nunggu sia-sia, gue memutuskan untuk lanjut jalan ke Wat Huay Pla Kang jam 10.30 pagi itu dari hostel. Ini super spontan, asli. Lalu, pertanyaannya: apakah gue harus nyewa motor? Atau naik ojek ke sana?

Lanjut Naik Grab Bike Thailand ke Wat Huay Pla Kang

Grab Bike Thailand

Pas ngetrip ke Chiang Mai, kota di sebelahnya Chiang Rai, tahun 2018, gue sempet sewa motor untuk keliling dan naik-naik ke puncak gunung. Tapi, kali ini gue mengurungkan niat untuk kembali sewa motor karena gue kelupaan bawa SIM (SIM Indonesia berlaku di ASEAN) dan kota Chiang Rai itu banyak wilayah perbatasan dengan negara tetangga, Laos & Myanmar. Daripada kena checking polisi di perbatasan soal urusan administratif dan jadi ribet?

Akhirnya, gue pilih buat nyoba naik ojek alias Grab Bike ke Wat Huay Pla Kang. Dengan ekspektasi, semoga harganya udah make sense karena jam 10 pagi itu udah nggak ujan dan matahari udah muncul. 5 menit setelah order Grab Bike, gue dapet driver dengan tarif 83 Baht atau sekitar Rp40.000 untuk menuju Wat Huay Pla Kang. Bener-bener first time experienced gue ngojek dan pake Grab di negara orang. All smooth!

Chiang Rai emang kota yang sepi banget, bedalah sama Chiang Mai. Tapi surprisingly, nemu Grab Car atau Grab Bike di sini gampang banget. Ditambah, selama gue nyoba Grab di sana, gue selalu dapet supir yang bisa bahasa Inggris & paham orderan gue mau ke mana.

Sama seperti perjalanan gue ke hostel dengan taksi argo tembak, gue juga sungguh-sungguh menikmati perjalanan ngojek ke Wat Huay Pla Kang yang ada di tengah pegunungan di Chiang Rai. Lebih malah. Naik ojek di Chiang Rai yang sepi lebih asik daripada naik mobil, ternyata. Life was very YOLO back then.

Agak lupa detail obrolannya gimana, tapi yang pasti, gue dengan bapak driver ojek menuju Wat Huay Pla Kang waktu itu sempet ngobrol sedikit. Standar, tentang gue dari mana, sama siapa dateng ke Chiang Rai, sekalian gue konfirm kalo ternyata Grab di Chiang Rai itu gampang dapetnya. Haha. Endingnya pas udah deket lokasi, bapak driver ngasih tau gue kalo gue bisa makan gratis di kuil. Beliau juga nunjukin langsung tempat di mana gue bisa makan gratis. Matur nuwun sanget, pak!

Tentang Wat Huay Pla Kang di Chiang Rai

Guan Yin Chiang Rai

Wat Huay Pla Kang adalah salah satu landmark yang populer dan terbilang baru di Chiang Rai. Kabarnya, kuil ini mulai berdiri keseluruhan dan terbuka untuk umum sejak tahun 2016. Berlokasi di wilayah pegunungan Muang, Chiang Rai, Wat Huay Pla Kang dulunya hanya terdiri atas 1 bangunan kantor khusus untuk biksu (tahun 2001), sebelum akhirnya berkembang sampai semegah sekarang ini.

Banyak orang sering salah sebut kuil ini sebagai “Chiang Rai’s Big Buddha Temple”. Padahal faktanya, patung yang ada di kuil ini bukan patung Buddha, tetapi patung Dewi Kwan Im atau Guan Yin, Sang Dewi Welas Asih.

Goddes of Mercy

Chiang Rai Buddha Statue

Dalam ajaran Buddhisme Mahayana, Guan Yin atau Kwan Im adalah Bodhisattiva, yaitu seseorang yang telah mendapat dan mencapai pencerahan. Namun, beliau memutuskan untuk mendedikasikan dirinya demi memperjuangkan kebahagiaan dan kesejahteraan makhluk lain yang masih menderita dan sengsara, alih-alih memilih memasuki nirwana.

Mahayana adalah salah satu aliran atau gerakan dari agama Buddha yang muncul di India sejak era umum/Masehi pada awal abad ke-9. Sejak itu juga, aliran atau ajaran ini mulai mendominasi kultur Buddha di Asia Tengah dan Asia Timur, dan menyebar hingga ke Asia Tenggara. Terutama Myanmar dan Sri Lanka.

Chiang Rai sendiri merupakan kota paling utara di Thailand yang salah satunya berbatasan langsung dengan Myanmar. Nah, bagian utara Thailand, terutama wilayah Chiang Mai, dulunya adalah pusat dari Kerajaan Lanna.

Sebagai informasi, Kota Chiang Mai dan Kota Chiang Rai ini bersebelahan, ya. Sama-sama di utara Thailand. Bedanya, Chiang Rai itu disebut sebagai “The Northernmost City in Thailand” alias kota paling ujung-banget-utaranya Thailand. Makanya, Chiang Rai berbatasan langsung sama Laos dan Myanmar. Dibelah sama Sungai Mekong.

Soal perbatasan ini, gue udah sempet nulis cerita perjalanan gue ke Golden Triangle Thailand secara khusus. Monggo kalo mau baca di sini: https://spotwisata.com/golden-triangle-dan-opium/

Dari Chiang Mai ke Chiang Rai, kurang lebih makan waktu 2-3 jam kalau lewat darat atau pake bis. Persis Jakarta – Bandung. Waktu ke Chiang Mai tahun 2018 lalu, gue sendiri belum sempet ngunjungin Chiang Rai.

Karena udah dateng ke Chiang Rai 2019 lalu, gue bisa bandingin kalo Chiang Rai dan Chiang Mai ini bisa dibilang beda banget. Chiang Mai itu udah kota turis dan cukup ramai, tapi masih super autentik dan khas. Kayak Jogja atau Malang kalau di Indonesia.

Sementara Chiang Rai, masih sepi banget dan menurut gue masih jarang turis yang destinasi utamanya direct ke Chiang Rai dari Bangkok. Rata-rata turis yang dateng ke kota ini, biasanya destinasinya ke Chiang Mai dulu, baru besoknya 1 day trip ke Chiang Rai pake tur atau travel van.

Background historis dan kultur tersebut, berpengaruh ke arsitektur dari bangunan kuil Wat Huay Pla Kang. Iya, kuil magis yang satu ini dibangun dalam gaya Thai-Lanna yang berpadu dengan banyak elemen arsitektur Tiongkok. Mulai dari segi warna bangunan kuil yang didominasi putih, kuning, emas, hijau, dan merah; sampai ke patung naga raksasa dan Pagoda khas Tiongkok yang ada di kompleks kuil Wat Huay Pla Kang.

Detail Kompleks Kuil Wat Huay Pla Kang di Chiang Rai

Wat Huay Pla Kung Chiang Rai

Sejak di Grab Bike alias ojek menuju kuil ini, gue udah mulai takjub karena sepanjang jalan sekitar 5 menitan lagi sampe, gue udah bisa liat megahnya patung Dewi Kwan Im dari jauh yang dikeliling area perbukitan.

Pas sampe di lokasi, sambil bayar ojek, gue ada bengong dulu sekitar 5 detik karena terkesima sama pesona kompleks kuil Wat Huay Pla Kang yang megah dan cerah. Ditambah, cuaca pasca hujan waktu itu super duper terik. Asli, ini kuil makin cantik dan ciamik!

Sepengamatan gue saat itu, kompleks kuil Wat Huay Pla Kang ini terdiri atas 3 bangunan utama, yaitu:

1. Area Bangunan dan Patung Dewi Kwan Im

Kwan Im Thailand

Bangunan ini jelas yang ternyentrik di kompleks kuil Wat Huay Pla Kang: udah keliatan jelas dari jauh dan seolah-olah manggil-manggil buat dikunjungin.

Patung Dewi Kwan Im ini jugalah yang kabarnya menjadi daya tarik utama bagi banyak turis mancanegara, terutama Tiongkok dan Vietnam, buat datang ke Chiang Rai dan beribadah di kuil ini.

Di bagian tangga bangunan patung Dewi Kwan Im, ada sepasang patung naga raksasa putih yang menjadi dekorasi tangga utama menuju tempat peribadatan.

Dragon Statue Chiang Rai

Chiang Rai Temple

Wat Huay Pla Kung Chiang Rai

Chiang Rai Temple

Bukan cuma sosok Dewi Kwan Im dan warna putihnya aja, patung naga raksasa dan beberapa patung lainnya yang ada di sekitar bangunan juga merupakan bagian dari representasi mitologi Buddha sekaligus elemen utama dari arsitektur tradisional Tiongkok.

Kwan Im atau Guan Yin adalah Dewi Welas Asih, Pemaaf, dan Penyayang. Sementara ikon naga dalam kepercayaan Tiongkok mengandung simbol harapan, kemakmuran, serta kebahagiaan. Dari sini, gue pribadi cukup relate sama makna dari bangunan dan detail arsitekturnya.

Wat Huay Pla Kung

Baik masyarakat lokal maupun turis sangat menghormati Wat Huay Pla Kang. Selain dijadikan tempat ibadah, juga sekaligus dijadikan tempat buat berlatih Dhamma. Bahkan, ada kepercayaan setempat: siapa pun yang berdoa di kuil ini niscaya akan mendapat kesehatan yang baik dan kesejahteraan materi. Amen? Amen!

Ngomong-ngomong, kalo lo liat gambar patung Dewi Kwan Im di atas, di bagian kening ada satu bulatan hitam. Yang mana bulatan tersebut adalah jendela yang bisa membawa kita buat ngeliat pemandangan di sekitar pegunungan lokasi Wat Huay Pla Kang.

Guan Yin Temple

Wat Huay Pla Kang

Wat Huay Pla Kang

Yak, kita bisa naik ke bagian kepala patung, tepatnya ke lantai 25, lewat lift yang sudah disediakan pihak kuil. Biayanya sekitar 40 Baht atau Rp20.000. Gue sendiri nggak sempet naik ke atas waktu itu karena datang bertepatan dengan jam makan siang. Kalo nggak salah, loket tiketnya ditutup sementara.

Gue juga nggak begitu minat buat naik & liat. Karena dengan naik ke bagian area Patung Dewi Kwan Im aja, pemandangannya udah super bagus.

Wat Huay Pla Kung

Oh iya, Wat Huay Pla Kang itu luas banget ya. Jadi, kalo misalnya kita capek keliling naik-naik bukit dan kuil, tinggal naik mobil keliling gratis warna pink ini aja. Tapi, nunggunya agak lama. Ya maklum, namanya juga gratis. Haha.

2. Bangunan Pagoda atau Stupa 9 Tingkat

Pagoda Chinese Chiang Rai

Di sebelah area bangunan Patung Dewi Kwan Im, ada Pagoda 9 Tingkat yang kalo diliat sekilas aja, gaya arsitektur Tiongkok-nya sangat mendominasi. Mulai dari detail bangunan, warna, sampai ke sepasang patung naga yang jadi dekorasi tangga utama.

Pagoda Chinese Chiang Rai

Pagoda Chiang Rai

Bangunan pagoda ini bisa dibilang unik karena di Thailand, jarang ada pagoda atau stupa yang terdiri atas banyak tingkat dan kombinasi warna seperti yang ada di kompleks Wat Huay Pla Kang.

Rata-rata stupa di Thailand biasanya terdiri atas 1 – 3 tingkat dan warna keseluruhannya emas. Contohnya kayak yang ada di Grand Palace Bangkok, cerita kunjungan gue ke Grand Palace bisa dibaca di sini: https://spotwisata.com/berkunjung-ke-grand-palace-bangkok/

3. Bangunan Tempat Peribadatan

Berlokasi di tengah dan diapit antara Patung Dewi Kwan Im dan Pagoda 9 Tingkat, bangunan tempat peribadatan di Wat Huay Pla Kang juga dijaga oleh sepasang patung naga putih di tangga utamanya. Di dalam bangunan, ada patung Buddha raksasa berwarna putih mengkilap yang dibuat dari porselain.

Wat Huay Pla Kung

Sekilas, bentuk bangunan tempat ibadah ini mirip banget sama Wat Rong Khun atau Kuil Putih yang juga ada di Chiang Rai. Nanti kapan-kapan, gue ceritain soal Wat Rong Khun juga ya. Di mana yang menarik dari Wat Rong Khun bukan hanya detail arsitekturnya, tetapi juga cerita dan filosofi di balik setiap detail dan elemen bangunannya.

Nyobain Makanan Gratis di Wat Huay Pla Kang

Makanan gratis di kuil

Jam 10.50 sampe di lokasi, nggak kerasa gue udah keliling kompleks kuil selama 1,5 jam. Yes, jalan kaki. 12.30, gue udah kelaparan dan bekal minum udah mulai abis. Akhirnya, gue turun dari kuil dan mulai gerilya cari outlet makanan. Sayangnya, karena berlokasi di tengah area pegunungan, seinget gue saat itu nggak banyak toko atau penjual makanan di Wat Huay Pla Kang. Cuma ada satu toko atau outlet minuman yang menunya lumayan variatif dan harganya standar.

Dapur umum di kuil

Satu yang menarik perhatian gue saat itu adalah “dapur umum” tempat buat ambil makanan gratis, sesuai yang dibilang bapak driver Grab Bike gue di awal. Bukan cuma makanan, ada juga area buat isi ulang air mineral dingin gratis. Standar kuil pada umumnya yang memang menyediakan makanan atau snack gratis buat pengunjung.

Makanan gratis di kuil

Menu makanan waktu itu, semacam mie pipih dan lebar kayak kwetiau, yang dikasih kecap dan disajikan dengan bumbu kaldu kental, sayuran rebus, dan bubuk cabe kering khas bumbu Thailand. Sederhana banget, tapi juga enak banget. Kemungkinan besar, karena gue juga udah lapar banget. Haha. Ini kedua kalinya gue nyoba makan makanan gratis di kuil. Yang paling bikin bersyukur adalah air putih dinginnya itu. Seger banget bos. 😆

10 menit makan, sisanya gue keliling-keliling area bawah kuil yang makin sore makin ramai didatangi pengunjung. Tadinya, gue mau coba sampe sore atau kalo bisa sampe malam di kuil ini. Penasaran, pengen liat gimana kompleks Wat Huay Pla Kang di waktu malam yang pastinya lebih bersinar karena dikeliling lampu-lampu.

Tapi, berhubung gue ke sini naik Grab Bike dan Chiang Rai kota yang sepi, gue khawatir baliknya malah susah. Haha. Nggak lucu kan kalo gue mesti jalan kaki di kampung orang berkilo-kilo buat ke hostel karena nggak ada transportasi?

Akhirnya sekitar jam 1 karena udah mulai mendung lagi juga, gue mutusin buat balik ke hostel dan check in. Perginya naik Grab Bike, pulangnya juga gue pesen Grab Bike karena nggak ada opsi transportasi lain yang possible. Kurang dari 10 menit, gue udah dapet Grab Bike menuju hostel.

Sampe di hostel jam 2 sorean, gue mutusin hari itu udahan dulu eksplornya. Baru berasa super capeknya 12 jam perjalanan darat di bis, langsung ke Wat Huay Pla Kang pula nggak pake istirahat. 😅

Oh iya, hostel gue ini, Baan Mai Kradan, super duper homey sekali. Nggak jauh dari pusat kota Chiang Rai dan juga outlet makanan. Hanya aja, seperti yang gue bilang, Chiang Rai adalah kota yang sepi.

Tapi, berhubung gue nginep di hostel yang banyak turis, lokal maupun internasional, kunjungan gue ke Chiang Rai saat itu bener-bener ngasih pengalaman gue buat hidup seperti orang lokal. Bahkan, buat beli makan malam ke area pusat kota, gue jalan kaki sekitar 30 menit santai sendirian udah kayak mau ke warung deket rumah mau beli telor sama indomi. Haha.

Di lain waktu, nanti gue mungkin akan cerita & review juga soal hostel-hostel yang gue inapin selama solo trip 9 hari gue di Thailand kemarin. Nggak ada yang zonk! Murah, berkualitas, strategis, dan atmosfernya bener-bener feels like home. Siapa tau bisa jadi rekomendasi lo yang pasca pandemi nanti pengen eksplor Thailand.

Adios! 😄

The post Sowan ke Kuil Dewi Kwan Im Terbesar di Tengah Pegunungan Chiang Rai appeared first on Spot Wisata.

]]>
https://spotwisata.com/wat-huay-pla-kang-chiang-rai/feed/ 0
Cerita Saya di Ayutthaya: Naik Kereta Ekonomi Sampai Keliling Sepedaan Seharian! https://spotwisata.com/wisata-ayutthaya-thailand/ https://spotwisata.com/wisata-ayutthaya-thailand/#respond Sun, 26 Apr 2020 00:52:37 +0000 https://spotwisata.com/?p=505 2019, tepatnya di bulan November kemarin, adalah tahun kedua saya berkunjung ke negeri yang terkenal dengan Thai Tea dan Mango Sticky Rice-nya alias Thailand. Iya,…

The post Cerita Saya di Ayutthaya: Naik Kereta Ekonomi Sampai Keliling Sepedaan Seharian! appeared first on Spot Wisata.

]]>
Stasiun Ayutthaya Bangkok

2019, tepatnya di bulan November kemarin, adalah tahun kedua saya berkunjung ke negeri yang terkenal dengan Thai Tea dan Mango Sticky Rice-nya alias Thailand. Iya, kali ini saya solo trip. Bedanya, yang kali ini lebih panjang. Saya ambil cuti total 9 hari dari kantor dan bikin itinerary yang cukup padat. Saya nggak tau kalau saya anaknya ternyata ambisius sampai saya bikin itinerary buat solo trip. 😅

Itinerary Ayutthaya
Itinerary solo trip yang saya buat. Total budget sengaja dicrop hehe.

Hasilnya, selama 9 hari, saya berhasil berkunjung dan menghabiskan waktu di tiga kota sekaligus di Thailand: Bangkok, Ayutthaya, dan Chiang Rai yang ada di bagian utara Thailand dan berbatasan langsung dengan Laos & Myanmar. Beda sama Bangkok yang udah dinobatkan sebagai “The Most Visited City in The World” versi Mastercard 2019 Global Destination Cities Index, mungkin Ayutthaya & Chiang Rai adalah dua kota di Thailand yang belum terlalu familiar didengar atau jadi tujuan kunjungan wisatawan.

Berhubung saya memang lebih suka destinasi wisata historis, gunung, sawah, dan pedesaan, jadilah saya mantap memasukkan dua kota tersebut ke dalam itinerary saya. Plus, saya memang mau eksplor semua moda transportasi selama di Thailand, termasuk bus dan kereta ekonominya. Buat ke Ayutthaya, saya naik kereta ekonomi kurang lebih 2 jam dari kota Bangkok. Sementara pas ke Chiang Rai, saya naik bus malam kurang lebih selama 13 jam dari Terminal Chatuchak, Bangkok. Pengalaman saya selama di Chiang Rai, nggak kalah menarik dan memorable-nya dengan di Ayutthaya. Mungkin berikutnya bakal saya tulis di artikel terpisah kalau ada waktu luang. Hehe. 😉

Perjalanan saya ke Ayutthaya adalah one day trip alias jalan pagi baliknya malam. Bukan karena kotanya kecil dan bisa dieksplor dalam waktu seharian. Tapi, berhubung jaraknya dekat dari Bangkok & saya berencana menghabiskan waktu lebih lama di Chiang Rai, jadi di Ayutthaya, cukup seharian aja. Sayangnya, setelah tahu gimana pesona kota yang seumuran sama kerajaan Majapahit di Nusantara ini, one day trip ternyata nggak cukup, bos! Apalagi kalau kita lumayan suka sama wisata historis.


Jam 8 Pagi: Berangkat dari Hostel Menuju Stasiun Hua Lamphong, Bangkok

The Posh Hostel Phaya Thai Bangkok

Di Bangkok, saya menginap di The Posh, sebuah hostel minimalis di daerah Phaya Thai yang kebetulan lokasinya sangat strategis: pinggir jalan, dekat banget sama stasiun BTS (Skytrain), terkoneksi langsung ke airport railink, dan yang paling penting, samping-sampingan sama 7-11 alias Seven Eleven. Kunjungan ke Ayutthaya adalah hari ketiga saya di Thailand. Landing di Suvarnabhumi, Bangkok, hari Sabtu sore terus ngaso dulu sampai Minggu. Hari Seninnya saya langsung gas lagi keliling-keliling ke kota lain sesuai itinerary.

Karena hari minggunya keliling-keliling jajan di Bangkok sampai jam 9 malam, hari Senin saya jadi bangun kesiangan. Niatnya mau berangkat ke stasiun jam 6 pagi, malah jam setengah 8 baru bangun. Untung saya solo trip, jadi nggak perlu ngerugiin & ganggu jadwal siapa-siapa. Bisa santai & ubah itinerary seenak jidat, hehe. Habis bangun, mandi, dan secepat kilat sarapan di hostel, saya langsung menuju ke stasiun BTS Phaya Thai dan naik BTS sesuai rute ke arah Stasiun Hua Lamphong.

Hua Lamphong Station

Hua Lamphong Station

Hua Lampong Station

Stasiun ini adalah stasiun kereta api utama di Bangkok dengan ratusan trayek yang bisa bawa kita menuju kota-kota lain di Thailand atau bahkan negara tetangga terdekat (Laos, Kamboja, Malaysia). Di stasiun ini juga tahun 2018 lalu, saya pertama kalinya nyobain naik sleeper train yang super comfy menuju Chiang Mai. Bedanya kali ini, saya datang ke sini mau nyobain kereta ekonominya menuju Ayutthaya. Saya pribadi suka banget sama desain arsitektur stasiun yang bergaya neo klasik ini.

Dari BTS Phaya Thai, buat ke Hua Lamphong, saya mesti nyambung naik MRT dengan transit di Stasiun BTS Siam lebih dulu. Lalu, saya lanjut naik BTS ke jalur Silom (yang garis hijau tua) menuju Stasiun Sala Daeng. Nah, dari Stasiun Sala Daeng saya lanjut interchange ke MRT menuju Stasiun MRT Hua Lamphong. Nyampe, deh. Oh iya, jangan lupa, tiket BTS & MRT berbeda ya. Jadi kalau teman-teman interchange, harus beli tiket lagi.

BTS Route Bangkok
Rute BTS & MRT yang saya naiki menuju Stasiun Hua Lamphong. Sumber Gambar: bangkok-maps.com

Mungkin kesannya ribet dan jauh, tapi kalau kita pelajarin & praktik langsung, rute BTS & MRT di Bangkok lumayan mudah buat diikutin & dipahamin, kok. Kalau temen-temen mau yang lebih cepet dan nggak ribet buat ke Stasiun Hua Lamphong, bisa naik grab bike, grab car, atau taksi, tapi tentunya biaya lebih tinggi & siap-siap kejebak di macetnya Kota Bangkok.

Ticket Hua Lamphon Station

Sampai di stasiun, saya langsung menuju loket dan buru-buru beli tiket keberangkatan ke Ayutthaya yang paling cepat karena ngejar waktu. Sampai stasiun jam 9 pagi (45 menit perjalanan naik BTS & MRT), saya dapat tiket pukul 09.25 dengan estimasi waktu tiba pukul 11: 27, atau sekitar 2 jam perjalanan.

Train Ticket to Ayutthaya

Saya beli tiket ekonomi kelas 3 dengan harga 15 Baht aja (Kurs Rp475/Baht saat itu) alias Rp7.125 untuk perjalanan 90 KM selama 2 jam. Sebagai informasi, untuk menuju Ayutthaya dari Bangkok, pilihan transportasinya banyak ya, temen-temen bisa juga naik bus kota dari Stasiun Mo Chit atau naik travel. Kalau saya pilih kereta ekonomi karena memang mau coba dan nikmatin angin sepoi-sepoi sepanjang perjalanan. Kereta kelas 1 & 2 sebenarnya juga tersedia, tapi jadwalnya sedikit & harus buru-buru beli supaya nggak kehabisan.

Economy Train to Ayutthaya

You get what you pay for, benar adanya. Dengan ongkos 15 Baht, saya mesti gercep naik ke kereta ekonomi menuju Ayutthata supaya kebagian tempat duduk yang strategis (dekat jendela). Kalau temen-temen pernah naik kereta ekonomi di Jabodetabek sebelum era commuter line atau kereta ekonomi ke Bandung jaman dulu, nah suasana di dalam kereta ini ya persis kayak gitu, kok. Banyak tukang jualan lalu lalang, duduk berebutan, bahkan ada yang berdiri. Tapi saya pribadi seneng-seneng aja dan cukup menikmati perjalanan karena lebih kerasa local vibes-nya. Oh iya, kereta ini juga berhenti dan menurunkan penumpang di setiap stasiun selama perjalanan ya.

Di kereta, saya duduk hadap-hadapan sama muda-mudi Thailand yang nampaknya pacaran. Meskipun saya roaming alias nggak ngerti mereka ngomong apa, tapi seru juga ngeliatin gimana pasangan yang lagi kasmaran saling goda dan becanda selama di kereta buat ngusir bosan. Yang saya perhatiin sekilas, muda-mudi ini secara fashion cukup kekinian, dandan, dan bawa seperangkat kamera. Jadi, tebakan saya, mereka mau ke Ayutthaya juga buat foto-foto. Mungkin buat project atau stok postingan media sosial. Sesekali mereka juga ketawa kalau ada ibu-ibu atau bapak-bapak penjual makanan di kereta yang teriak kenceng-kenceng. Jujur, saya penasaran apa yang mereka ketawain karena saya nggak ngerti bahasanya, tapi mau nanya atau nimbrung ya sungkan juga. Hahaha. 😂

Stasiun Ayutthaya

Perjalanan dua jam ke Ayutthaya naik kereta nggak berasa karena saya lumayan nikmatin pemandangan dan lalu lalang interaksi orang selama di kereta. Kalau boleh saya bilang, suasananya mirip perjalanan menuju Karawang, di mana banyak area sawah tapi udaranya panas banget. Kebetulan, saya pernah ke Karawang waktu bantu-bantu penelitian. Untungnya ketolong sama AC alam alias semilir angin selama perjalanan. Sampai akhirnya, tibalah saya di Stasiun Ayutthaya dan turun berbarengan sama muda-mudi yang duduk di hadapan saya. Selanjutnya, ngapain?


Sewa Sepeda di Rental Depan Stasiun Ayutthaya

Ketika sampai di Stasiun Ayutthaya, saya punya 3 pilihan cara buat mengeksplor ibukota lama Thailand  ini: sewa tuktuk buat one day trip, sewa motor, atau sewa sepeda. Saya pilih sewa sepeda.

Sepeda di Ayutthaya

Kenapa? Karena di Jakarta, saya ke mana-mana naik motor terus, jadi bosan & mau coba hal baru. Kalau sewa tuk-tuk, bisa jadi nggak puas mampir ke mana-mana karena tuk-tuk cuma bakal nganterin kita ke destinasi-destinasi yang udah disepakati di awal sesuai biaya sewa. Jadilah saya lumayan nekat langsung sewa sepeda di rental seberang stasiun dengan harga 50 Baht alias Rp24.000-an untuk keliling sampai pukul 6 sore. Dengan harga segitu, saya juga dapat peta Ayutthaya buat memudahkan selama keliling dan juga kunci gembok untuk keamanan.

Sepeda di Ayutthaya Bike in Ayutthaya

Bermodal sepeda berkeranjang warna pink inilah saya berkeliling menelusuri kota yang ditetapkan sebagai situs warisan dunia di tahun 1991 oleh UNESCO ini. Dengan keterbatasan alat transportasi, tentu aja saya nggak bisa berkeliling satu kota Ayutthaya yang luas seharian. Tapi, saya cukup menikmati bersepeda di Ayutthaya dan total bisa mengunjungi 2 candi.

Sisanya, saya sekadar menikmati suasana di pinggir jalan dan jajan di taman publik, nggak mau terlalu ambisius. Terik matahari yang nyengat di kulit nggak jadi penghalang saya bersepeda karena selain pakai topi saya juga excited dan terkesima dengan kecantikan kota yang sekarang jadi situs arkeologi ini. Yang paling bikin saya takjub, di kota ini disediain jalur khusus untuk pesepeda & aman banget. Saya pernah nyaris keluar jalur tapi nggak ada satupun mobil & motor yang klakson. Damai banget.

Total waktu saya bersepeda dan berkeliling jalan kaki di destinasi wisata Ayutthaya adalah mulai pukul 12.00 – 17.30 sore atau hampir 6 jam. Gempor nggak? Hahaha, jelas, tapi untungnya ada tiger balsem yang jadi penyelamat super pas nyampe hostel. 😝

Destinasi Pertama: Ayutthaya Historical Park (Wat Phra Mahathat)

Ayutthaya atau Phra Nakhon Si Ayutthaya adalah ibukota Provinsi Ayutthata yang udah berdiri sejak tahun 1350. Raja U Thong, sebagai pendirinya, adalah raja di Kerajaaan Ayutthaya di masa itu. Kota ini letaknya ada di tepi sungai Chao Phraya dan berseberangan dengan Kota Bangkok yang sekarang jadi ibukota Thailand. Jadi bisa dibilang, Chao Phraya adalah sungai yang menjadi saksi ibukota lama vs ibukota baru yang hidup damai berdampingan hingga kini. Sayangnya, karena peperangan dengan Kerajaan Burma, Kerajaan Ayutthaya dulu jadi runtuh dan reruntuhannya inilah yang sekarang masih tersisa di Kota Ayutthaya. Sampai kemudian, beberapa ada yang direstorasi juga oleh pemerintah setempat.

Wat Mahathat Ayutthaya

Awalnya, saya mau ambisius buat ngunjungin banyak candi dalam waktu 6 jam di Ayutthaya. Tapi, pas sampai di Ayutthaya Historical Park yang ada Wat Mahathat, saya langsung mengurungkan niat karena kompleks percandian yang satu ini aja guede banget, bos! Minimal eksplornya sejam, belum sepedaannya yang lumayan makan waktu. 🤪

Ayutthaya Historical Park
Tempat parkir sepeda sewaan di Wat Mahathat, Ayutthaya Historical Park.

Wat Mahathat sendiri adalah komplek candi yang paling ikonik di Ayutthaya karena banyak patung Buddha tanpa kepala (The Headless Buddha) dan ada juga kepala Buddha tanpa tubuh (Buddha’s Head). Dari rental sepeda, saya langsung meluncur ke Historical Park dan berkunjung ke Wat yang keren satu ini. Kurang lebih waktu bersepeda buat sampai ke Wat ini 40 menitan.

Ayutthaya Historical Park Admission Fee

Berdasarkan sejarahnya, Wat Mahathat adalah wihara yang dibangun tahun 1374 di masa pemerintahan Raja Borommaracha I dan merupakan bagian dari Kerajaan Ayutthaya. Tapi kemudian, seiring dengan serangan dari Kerajaan Burma, Wat Mahathat juga ikut dibakar dan akhirnya runtuh. Setelah itu, Wat ini kemudian direstorasi di tahun 1767 oleh pemerintah Thailand hingga dapat berdiri saat ini sebagai destinasi wisata historis di Ayutthaya, meski sebagian bangunannya masih berupa reruntuhan.

Buddha Head Statue Ayutthaya

Yang nggak boleh kelewatan dicari & dikunjungi selama di Wat Mahathat adalah patung kepala Buddha yang terjebak di pohon beringin. Ini salah satu patung yang cukup misterius dan legendaris di Wat Mahathat. Untungnya saya berhasil nemuin & ngeliat langsung. Seingat saya, patung ini boleh difoto tapi posisi kita saat mengambil foto harus jongkok atau merunduk agar kaki kita nggak sejajar atau pointing ke kepala Buddha dan kepala kita sama rendahnya/tidak lebih tinggi dari kepala Buddha di pohon tersebut.

Ini adalah salah satu bentuk respek sekaligus penghormatan terhadap patung Buddha sebagaimana yang kita tahu, Thailand adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha. Saya sendiri selalu ingat petuah: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Dengan kata lain, kita sangat perlu menghormati dan menghargai kepercayaan serta adat istiadat di mana pun wilayah yang kita pijak/datangi. 🙂

Buddha Statue Wat Mahathat

Wat Mahathat

Wat Mahathat

Kurang lebih sekitar 2 jam saya berkeliling Wat Mahathat, saya akhirnya mutusin buat pindah destinasi ke Wat lainnya. Dengan harga tiket masuk 50 Baht atau sekitar Rp24.000-an, saya jujur takjub dan terpesona banget sama kompleks percandian di Wat Mahathat. Ngeliat reruntuhannya, serasa kayak dibawa masuk ke lorong waktu & masa lampau. Mungkin karena masih sama-sama ASEAN. Meskipun saya sendiri jelas masih lumayan asing sama sejarah Thailand.


Destinasi Kedua: Ngaso & Jajan di Area Taman Publik

Kota Ayutthaya Thailand

Niat saya mau lanjut ke Wat berikutnya langsung ketahan sama bunyi perut yang udah mulai keroncongan dan tenggorokan yang kering karena haus. Karena sadar masih butuh tenaga banyak buat keliling Ayutthaya, destinasi berikutnya saya mutusin bentar buat keliling taman publik sekitar Wat Mahathat buat jajan es Fanta jeruk, Khanom Buang (kue leker khas Thailand), dan juga noodle boat (mi khas Thailand).

Khanom Buang Thailand

Segelas es Fanta jeruk dan seporsi Khanom Buang harganya masing-masing sekitar 20 Baht. Sedangkan seporsi noodle boat harganya kalau nggak salah sekitar 30 Baht atau 40 Baht. Nah, yang unik dari noodle boat Thailand adalah porsinya yang kecil dan dikit banget meski penyajiannya menggunakan mangkuk ayam jago yang ukurannya sama dengan yang ada di Indonesia. Jadi, kalau makan noodle boat jelas nggak cukup 1  porsi.

Saya sempet nengok ke meja sebelah, satu orang, minimal pesan 3 porsi noodle boat buat sekali makan. Makanya pas saya cuma pesan 1 porsi (meskipun habis itu nambah jadi 2 porsi), pelayannya bingung dan nanya: ‘are you sure?’ Hahaha. Ada dua menu noodle boat yang tersedia: ayam atau daging sapi.

Noodle Boat Thailand

Sementara jenis mi-nya bisa dipilih sesuai selera: bihun atau mi kuning. Tapi, kuah kaldunya sendiri seingat saya sama-sama asam dan segar khas kuliner Thailand. Penyajian satu porsi noodle boat isinya ada: mi (kuning atau bihun), tauge, daging atau ayam, bakso ikan, yang disiram dengan kuah kaldu. Nah pelengkapnya ada kerupuk kulit (babi) yang buat saya enak banget!

Noodle Boat Ayutthaya
Suasana warung noodle boat di Ayutthaya.

Kalau temen-temen prefer makanan halal, jangan lupa buat tanya-tanya dulu ke penjualnya atau cari warung yang ada kata “halal” atau khusus muslim. Karena, saya yakin, warung noodle boat yang saya kunjungi bukan termasuk yang halal. Kenyang & puas makan noodle boat saya langsung lanjut lagi keliling Ayutthaya naik sepeda sekitar jam 3 sore. Ke mana lagi destinasi saya selanjutnya?


Destinasi Ketiga: Wat Thummikarat

Wat Thummikarat Ayutthaya

Buat saya, Wat Thummikarat atau candi/wihara ayam jago ini unik banget. Sebab, baru kali ini saya liat wihara/kuil Buddha yang penuh sama patung ayam jago dan patung singa dari depan sampai belakang. Bermodal tiket masuk seharga 20 Baht, saya langsung keliling kompleks candi ayam jago ini selama sejam.

Wat Thummikarat Ayutthaya

Wat Thummikarat Ayutthaya

Wat Thummikarat Ayutthaya

Sama dengan Wat Mahathat, Wat Thummikarat juga bersinggungan dengan Bangsa Khamer dari Kamboja yang bermukim di dekat Wat ini pada masa lampau. Wat ini juga sekaligus jadi saksi dari pertempuran antarkerajaan di Ayutthaya.

Wat Thummikarat Ayutthaya

Wat Thummikarat Ayutthaya

Sepengamatan saya, kondisi patung dan lahan/kebun di Wat Thummikarat sangat terawat dan estetik. Ini karena mungkin Wat ini masih dijadikan tempat beribadah oleh biksu dan warga setempat. Di sini, saya mengabiskan waktu kurang lebih sejam. Sebelum mutusin buat kembali ke rental sepeda dan balik ke Bangkok, saya nyempet-nyempetin eksplor destinasi terdekat yang sesuai papan petunjuk jalan. Apa destinasinya?


Destinasi Keempat: Million Toy Museum & Baan Khao Nhom

Million Toy Museum Ayutthaya

Sayangnya, saya kurang beruntung karena kedua destinasi ini ternyata sama-sama tutup khusus di hari Senin. Mungkin hari buka yang diutamain justru Sabtu-Minggu karena pengunjung lebih banyak. Jadi dalam satu minggu, mereka ambil liburnya di hari Senin, hari di mana orang mulai beraktivitas/sibuk kerja.

Million Museum Ayutthaya

Sesuai namanya, Million Toy Museum sendiri adalah museum berisi jutaan mainan yang didirikan oleh seorang ilustrator buku anak-anak dan akademis, Prof Krirk Yoonpun, pada tahun 2008. Dikutip dari Bangkokpost.com, Prof Krirk kabarnya terinspirasi dari Kitahara Tin Toy Museum di Jepang yang sempat dikunjunginya saat menerima The Noma Prize untuk Chaona Thai (Thai Farmers), salah satu buku anak-anak yang ditulisnya tahun 1982. Saat kembali ke Thailand, Prof Krirk langsung mengoleksi mainan dari lokal & global, dan membutuhkan waktu sekitar 2 dekade atau 20 tahun hingga akhirnya Million Toy Museum bisa berdiri. Worth to visit, kan? Ya semoga di lain waktu, saya bisa kembali dan berkunjung ke sini.

Nah, kalau Baan Khao Nhom bukan museum atau destinasi wisata, tapi kafe yang menjual penganan manis atau dessert khas Thailand. Lokasi Baan Khao Nhom searah dengan Wat Mahathat, jadi saya pikir sekalian pulang bisa mampir. Tapi karena tutup, jadi pukul 16.30, saya mutusin buat sepedaan santai dan balik ke rental sepeda.


Rental Sepeda Selesai & Kembali ke Bangkok

Sepeda di Ayutthaya
Perjalanan pulang ke rental sepeda & Stasiun Ayutthaya.

Sesampainya saya di rental sekitar jam 17.00, pemilik rental nyuruh saya duduk sebentar dan ngasih segelas air mineral kemasan dingin. Ngeliat saya yang ngos-ngosan sambil megang betis, bapak pemilik rental nanya: ‘are you finished? how was your ride?’. Karena masih engap dan capek, saya cuma jawab: ‘It was great’. Hahaha. Si bapak yang peka langsung bilang: ‘I see, I see, enjoy your drink!’. 😄

Saya ngaso di rental sekitar setengah jam lalu langsung nyebrang ke Stasiun Ayutthaya buat beli tiket kereta balik ke Bangkok. Kebetulan, kereta saya berangkat jam 18.00 dan perjalanan sepanjang pulang, bagus banget! Kalau nggak salah, sunset di Thailand itu mulai jam 17.00 – 18.30. Jadi aja, saya masih ngeliat langit sunset dari kereta yang lumayan kece gradasi warnanya.

Kereta pulang saat itu cukup penuh, karena mungkin semua orang yang berkunjung ke Ayutthaya, balik di jam yang sama. Meskipun kereta balik dari Ayutthaya ke Bangkok jadwalnya masih tersedia sampai jam 10 malam. Tapi beruntungnya, saya bisa tetap dapat bangku di dekat jendela buat nikmatin semilir angin dan pemandangan di sepanjang perjalanan.

Di perjalanan, sambil sedikit ngelurusin kaki yang pegal luar biasa, saya merenung. Bukan hanya mengingat-ngingat betapa bagus dan eksotisnya Ayutthaya, tapi juga saya baru sadar satu hal. Di Jakarta, saya mungkin sering motoran berjam-jam. Tapi, baru kali ini saya sanggup sepedaan hampir 6 jam, di kota/negara orang, tanpa nyasar, takut, atau kena serempet mobil/motor. Hahaha. Buat saya, solo trip memang ajaib, karena bisa bikin saya tau & terkejut sama kemampuan yang saya nggak tau ternyata saya punya.

Oh iya, selama di Ayutthaya, saya nggak pernah dengar suara klakson motor atau mobil lho. Dan di jalan raya pun disediakan jalur khusus untuk sepeda. Jadi, mau saya lambat atau berhenti sebentar sekali pun, tetap aman sentosa.

2 jam perjalanan, nggak terasa saya sudah sampai kembali di Stasiun Hua Lamphong, Bangkok. Ingat sama sepasang muda-mudi Thailand yang saya ceritain di awal? Saya ternyata naik kereta balik yang sama dengan mereka juga lho. Meskipun duduknya nggak hadap-hadapan lagi.

Prachak Roasted Duck

Jam 19.30, sebelum balik ke hostel, saya mutusin buat sekalian makan di Prachak Roasted Duck, salah satu kuliner Thailand yang populer, di daerah Silom. Rasanya? Sungguh enaaaaak banget! One day trip saya ke Ayutthaya di hari itu benar-benar worth it dan capeknya kebayar sama seporsi nasi bebek panggang ini.

Thank you, Ayutthaya. Stay great, stay beautiful. See you next time. 😁

Note: semua foto di dalam artikel ini adalah dokumen pribadi saya. Boleh direpost, tapi mohon cantumkan credit, ya.

The post Cerita Saya di Ayutthaya: Naik Kereta Ekonomi Sampai Keliling Sepedaan Seharian! appeared first on Spot Wisata.

]]>
https://spotwisata.com/wisata-ayutthaya-thailand/feed/ 0