Berkunjung ke Golden Triangle: Jalur Silam Perdagangan Opium Terbesar di Asia Tenggara

Golden Triangle Monument Chiang Rai

Bagi saya, selalu ada hal yang menarik dan nggak pernah habis untuk dibahas dari perbatasan. Lebih daripada ‘sekadar’ garis khayalan yang memisahkan dua atau lebih wilayah geografis, politik, atau yurisdiksi seperti yang didefinisikan dalam hukum.

Tapi juga, bagaimana kehidupan masyarakat di masa lampau, budaya, adat istiadat, interaksi, berbagai peristiwa hebat yang terjadi pada masa itu sampai membentuk batas, hingga kondisi wilayah serta masyarakatnya kini.

Golden Triangle yang ada di Chiang Rai, provinsi paling utara di Thailand, adalah salah satunya. Sebuah segitiga perbatasan sekaligus tempat bertemunya 3 negara: Thailand, Laos, dan Myanmar. Bukan tanpa alasan perbatasan ini diberi nama Golden Triangle alias Segitiga Emas.

Dulunya, mulai tahun 1950-an, kawasan yang dipisahkan oleh Sungai Ruak dan Sungai Mekong ini dikenal sebagai penghasil sekaligus jalur perdagangan opium terbesar di Asia Tenggara dengan luas sekitar 950.000 KM2.

Opium atau bunga poppy sendiri adalah tanaman herbal yang memiliki kandungan racun (salah satunya opium) yang dapat menjadi bahan baku dari pembuatan narkotika: seperti morfin, heroin, dan sabu-sabu, di masa silam. Dari kawasan inilah, 70% lebih pasokan opium–yang juga dijuluki sebagai emas hitam–di seluruh dunia pada masa itu bisa terpenuhi.

Golden Triangle & Mekong River Chiang Rai


Sedikit Kilas Balik

Pengetahuan saya tentang perbatasan & kehidupan masyarakatnya, jelas masih sangat terbatas. Pun dengan pengalaman saya.

Pertama kalinya saya menginjakkan kaki ke wilayah perbatasan di tanah air adalah perbatasan Indonesia & Malaysia di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Yang kedua masih perbatasan Indonesia & Malaysia, tapi kali ini di Kepulauan Meranti, Riau. Dan yang ketiga, perbatasan Indonesia & Australia di Kepulauan Aru, Dobo, Provinsi Maluku. Ketiganya sama-sama di enam tahun silam, tepatnya di tahun 2015.

Sewaktu di Desa Tanah Merah, Pulau Rangsang, Riau, yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Yes, The Famous Selat Malaka!

Saya bisa berkunjung ke tiga perbatasan ini karena pasca lulus dari kampus di tahun yang sama, saya ikutan jadi freelance field researcher untuk program Desa Broadband Terpadu.

Sebuah program dari Kemenkominfo yang bermitra dengan UI, sebagai salah satu wujud dari prioritas Nawa Cita nomor tiga, yaitu: membangun Indonesia dari pinggiran. Yang tujuannya untuk mengembangkan SDM dan mengoptimalkan potensi masyarakat desa di wilayah perbatasan, melalui teknologi informasi dan komunikasi.

Nah, dari sana, ketertarikan saya lebih jauh tentang perbatasan bermula. Tapi, saya sadar, berkunjung ke desa atau wilayah perbatasan bukan hal yang mudah apalagi murah.

Makanya ketika saya ada kesempatan untuk traveling lagi, saya nggak ragu untuk nabung lebih banyak & menjadikan wilayah perbatasan sebagai salah satu destinasi. Termasuk Golden Triangle, di Chiang Rai, yang November tahun 2019 lalu saya kunjungi.

Terus, gimana ceritanya saya bisa sampai di Golden Triangle, Chiang Rai?


Perjalanan dari Bangkok ke Chiang Rai: 13 Jam dengan Bus Malam

Terminal Bus Sombat Tour Bangkok

Modal nekat dulu dan sokongan tabungan kemudian! 😁

Berkunjung ke Chiang Rai dan Golden Triangle termasuk dalam rangkaian solo trip saya selama 9 hari di Thailand. Di Chiang Rai, saya menghabiskan waktu 3 hari 2 malam.

Kunjungan ke Golden Triangle saya lakukan di hari kedua di Chiang Rai, dengan menggunakan one day tour yang disediakan di hostel tempat saya menginap: Baan Mai Kradan. Golden Triangle sendiri adalah destinasi terakhir dari rangkaian one day tour yang saya ikuti.

Jadi, di sini, saya menghabiskan waktu sekitar 3 – 4 jam untuk melihat Golden Triangle, Sungai Mekong, dan Museum Opium.

Ada banyak banget moda transportasi yang bisa dipilih buat menuju Chiang Rai dari Bangkok. Mulai dari pesawat, kereta, travel, sampai bus. Tapi, setahu saya, di Chiang Rai belum ada stasiun kereta api.

Jadi, belum ada rute kereta yang langsung turun di Chiang Rai. Kalau mau ke Chiang Rai pakai kereta, kita perlu ke Chiang Mai dulu naik kereta biasa atau sleeper train. Terus lanjut lagi naik travel atau bus sekitar 3 jam dari Chiang Mai buat ke Chiang Rai. Stasiun kereta terdekat dari Chiang Rai cuma ada di Chiang Mai.

Tiket Bus Bangkok-Chiang Rai
Penukaran tiket online jadi tiket cetak/fisik di Terminal Sombat Tour Bangkok.

Saya pribadi pilih bus malam untuk menuju Chiang Rai dari Bangkok. Alasannya sederhana: saya mau coba moda transportasi lain selain kereta atau pesawat. Sekalian lama-lama buat menikmati perjalanan malam ke kota yang juga dikenal sebagai “The Northernmost Large City in Thailand” ini.

Setelah riset sana sini soal bus malam ke Chiang Rai, saya akhirnya pesan tiket bus dari Sombat Tour lewat situs 12go.asia, harga totalnya 1.159 Baht atau sekitar Rp550.000.

Bus Sombat Tour VIP 20 Chiang Rai

Bus Sombat Tour VIP 20 Chiang Rai

Buat perjalanan 13 jam, fasilitas bus ini oke punya dengan kursi private buat masing-masing orang yang lumayan luas.

Ada kamar mandi, entertainment on board, makan malam gratis di restoran rest area di daerah Don Taeng, snack, bantal, dan headset yang sudah disediakan masing-masing di kursi penumpang. Lengkap & ciamik. Harga tiketnya juga 11-12 sama pesawat LCC direct dari Bangkok ke Chiang Rai kayak AirAsia.

Bus Sombat Tour VIP 20 Chiang Rai

Bus Sombat Tour VIP 20 Chiang Rai

Bus Sombat Tour VIP 20 Chiang Rai

Bus Sombat Tour VIP 20 Chiang Rai

Karena makin larut, nggak terlalu banyak yang saya bisa lihat di perjalanan selain kendaraan yang lalu lalang. Sesekali, bus juga melewati area perumahan penduduk, ladang, pabrik, dan hutan yang menandakan bahwa kita sudah masuk ke wilayah pegunungan dan nggak lama lagi bakal sampai di Chiang Rai.

Sekitar jam 06.00 pagi, bus sudah sampai di  Chiang Rai dan menuju terminal pemberhentian. Disambut langit yang kelabu karena hujan deras, pagi itu di Chiang Rai, saya lumayan menggigil kedinginan karena suhunya kalau nggak salah 25 atau 28 derajat celcius. Akhirnya terpaksa pakai jaket dobel sambil cari taksi buat langsung ke hostel. 😅


‘Well, Here I Am, Chiang Rai!’

Terminal Bus Chiang Rai
Suasana pagi itu di terminal bus Chiang Rai.
Terminal bus Chiang Rai
Ruang tunggu di terminal bus Chiang Rai yang kosong.

Adalah ungkapan yang saya serukan dalam hati ketika taksi yang saya tumpangi melaju dan membawa saya keluar dari terminal, menuju pusat kota Chiang Rai. Kota paling utara di Thailand. Kota yang menurut sejarahnya, ratusan tahun lalu berada di bawah kekuasaan Burma atau yang kini Myanmar.

Senang dan excited jadi satu. Tapi sebelum mengeksplor kota yang jauh dari hingar bingar ini, saya mutusin buat langsung early check in ke hostel dan istirahat dulu. Karena ya capek, laper, dan dingin banget, bos! 🤣

Hostel Baan Mai Kradan
Susana di hostel pagi itu yang halamannya basah karena hujan deras.

Berangkat dari Hostel: One Day Tour dengan Parn Trek

Hostel Baan Mai Kradan

Saya sebenernya pengen banget ngebolang sendirian dengan nyewa motor seharian di Chiang Rai. Tapi, setelah saya pikir ulang, saya nggak berani ambil risiko.

Soalnya, destinasi yang saya kunjungi dekat banget sama wilayah perbatasan Thailand dengan Laos & Myanmar. Kalau ada checking dari kepolisian setempat, bisa repot. Meskipun saya punya SIM C yang kabarnya berlaku di ASEAN, tapi lebih baik saya play safe di negeri orang.

Nah, one day tour saya saat itu menggunakan jasa tur dari Parn Trek yang saya pesan langsung di hostel tempat saya menginap. Harganya waktu itu 1.000 Baht atau sekitar Rp475.000 untuk 6–7 destinasi utama di Chiang Rai.

Destinasi terakhir dan yang jadi gong dari trip ini adalah kunjungan ke Golden Triangle. Harga paket tur sudah termasuk transportasi, bensin, tour guide merangkap driver, dan makan siang gratis.

Tapi, belum termasuk sebagian tiket masuk ke beberapa destinasi wisata kayak Wat Rong Khun (Kuil Putih) atau Black House Museum (Museum Hitam). Tiket masuk yang dikasih sama tour guide cuma tiket masuk ke Museum Opium di Golden Triangle. Kalau nggak salah harganya sekitar 50 Baht atau Rp24.000-an.

Parn Trek
Tour guide saya, Sammy Si Petualang!

Guide Tour saya hari itu namanya Sammy. Saya kurang tau nama asli/Thai-nya, tapi yang pasti Sammy itu nama panggilan karena biasanya nama orang Thailand cukup sulit buat dilafalin.

Sammy ini orang asli Chiang Rai yang saya tebak umurnya 30 – 35 tahunan. Sammy juga punya lisensi sebagai tour guide resmi dari TAT Tourism Thailand. Orangnya ramah banget & bahasa Inggrisnya fasih. Humoris juga walau kadang-kadang garing. Hehe, peace, Sam! 🤗

Di hari itu, ternyata cuma saya yang daftar tur. Untung nggak dicancel. Lucky me!

“Seems like today is a special day for you, cause I only take you to this tour. Like private tour!” Kata Sammy.

Jam setengah 9 pagi, saya dan Sammy berangkat sesuai jadwal tur yang sudah ditentukan. Sambil ngobrol-ngobrol kecil, saya jadi tau kalau Sammy ternyata orang/keturunan suku asli Lan Na, salah satu suku asli Thailand yang mendiami wilayah utara/pegunungan.


Menuju Golden Triangle

Chiang Rai
Jalanan yang lenggang di Chiang Rai dengan pemandangan gunung.

Jalanan Chiang Rai

Sekitar jam 2 siang, saya dan Sammy sudah on the way ke Chiang Saen, wilayah Golden Triangle. Jalan protokol di Chiang Rai, sangat lenggang cenderung sepi. Jadi aja ke tiap destinasi, waktu tempuhnya kurang dari 30 menit. Khusus ke Golden Triangle kalau nggak salah sekitar 1 jam, karena letaknya di paling utara kota Chiang Rai dekat area perbatasan.

Pas sampai, saya langsung bisa melihat monumen Golden Triangle yang berdiri menyambut dan membelakangi Sungai Mekong. Sungai Mekong sendiri adalah batas alam dari negara-negara yang berdiri berdampingan di Golden Triangle: Thailand, Myanmar, Laos. Dari monumen ini, saya bisa melihat tiga negara tersebut sekaligus.

Golden Triangle

Nggak banyak aktivitas yang bisa dilakukan di Golden Triangle kini selain berfoto di monumen, memandangi Sungai Mekong, berbelanja souvenir, atau menyeberang ke Laos dan Myanmar. Orang-orang Thailand sendiri biasanya memang sering menyeberang ke dua negara tersebut naik boat untuk berbagai keperluan. Salah satunya belanja. Ah, waktu saya lagi di ruang tunggu boarding bandara Chiang Rai buat balik ke Bangkok, saya juga kenalan sama seorang perempuan, asli Thailand, yang cerita kalau dia seneng banget habis balik dari Myanmar karena dapet banyak belanjaan murah. Salah satunya pouch seharga 80 Baht. 😁

Bukan cuma warga lokal, wisatawan yang mau nyeberang ke Laos atau Myanmar dari Golden Triangle juga bisa. Tapi, ada syarat administrasi yang harus dipenuhi karena hitungannya sudah ke luar dari Thailand meskipun masih dekat/di wilayah perbatasan. Di Laos/Myanmar sendiri, seingat saya, Sammy bilang ada kasino-kasino yang memang target pasarnya wisatawan. Jadi kalau mau main judi, bisa aja. Tapi risiko ditanggung sendiri, kata Sammy. 😄

Berdiri di Monumen Golden Triangle sedikit banyak membuat saya berimaji tentang masa tersebut. Di wilayah ini, lewat Sungai Mekong, produksi, distribusi, dan perdagangan opium dilakukan secara besar-besaran oleh Thailand, Myanmar, dan Laos. Bahkan menyabet gelar terbesar di Asia Tenggara karena dari jalur ini jugalah, pasokan opium ke negara-negara barat berasal.

Wilayah pegunungan yang dingin & menyelimuti Golden Triangle adalah kunci utama dari terproduksinya opium menjadi obat-obatan terlarang. Sebab, opium sendiri berasal dari bonggol dan getah hitam bunga poppy yang tumbuh paling subur di wilayah ini, dibandingkan tanaman lainnya.


Melihat Bunga Poppy & Pengolahannya di 212 House of Opium

House of Opium Chiang Rai

Kayak apa sih si bunga poppy yang akhirnya menjadikan Golden Triangle sebagai kawasan penghasil dan jalur distribusi opium terbesar di Asia Tenggara ini?

Nah, buat menjawab pertanyaan ini, Sammy langsung ngajak saya berkunjung ke 212 House of Opium atau Museum Opium yang nggak jauh letaknya dari Golden Triangle. Sebuah museum yang dibangun oleh pemerintah Thailand dengan bantuan Jepang untuk mengedukasi masyarakat luas terkait obat-obatan terlarang dan pemberantasannya.

House of Opium Chiang Rai
Pintu masuk Museum Opium, Chiang Rai.

House of Opium Chiang Rai

Museum yang terdiri atas dua lantai ini sukses bikin saya takjub dan bisa ikut “menghirup” aroma opium. Di pintu masuk utama, saya disambut dengan meja berisi berbagai macam jenis stempel untuk postcard/souvenir card saya. Persis macam paspor aja. Kreatif! 😅

Alhasil, buat kenang-kenangan, saya pun nggak ketinggalan membanjiri souvernir card saya dengan stempel berbagai bentuk.

Souvenir card opium chiang rai

Souvenir card opium chiang rai

Di dinding ruangan juga tertera berbagai informasi pengantar untuk mengenal Golden Triangle di masa silam. Mulai dari lokasinya di Chiang Rai, sampai ada kalender sosio agrikultural dari hilltribes atau suku asli yang mendiami area pegunungan di Thailand. Dari kalender besar di dinding ini juga saya tau kapan petani di masa itu mulai menanam padi, bunga poppy, ganja, hingga masa panennya.

Museum Opium Chiang Rai


Legenda tentang Opium

Legend of Opium

Meski bukan bagian dari fakta sejarah, melainkan sebatas cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi, legenda adalah bagian yang melekat erat pada suatu budaya. Nah, opium pun punya legenda asal usulnya sendiri yang ditempel di beberapa titik pada dinding ruangan di museum ini.

Menurut kepercayaan Suku Lua, jaman dulu, ada seorang wanita yang meninggal dalam usia sangat sepuh. Sebelum dia meninggal, dia berpesan untuk dimakamkan di dekat persimpangan jalan yang ramai. Setelah dimakamkan, tiba-tiba muncul dua tanaman tembakau di atas makamnya, tepatnya di bagian payudara jenazah wanita tersebut. Sementara di bagian pinggangnya, muncul sebuah tanaman opium.

Nah, penduduk desa yang penasaran kemudian mencicipi kedua jenis tanaman ini. Hasilnya, mereka ternyata lebih suka tembakau dibanding opium. Makanya, mereka coba menanam kembali tembakau itu dan pada akhirnya menggunakan tembakau untuk rokok.

Berbeda dengan Suku Lua, Suku Akha percaya bahwa dulu ada seorang perempuan muda yang cantik dan jadi primadona banyak laki-laki. Dari sekian banyak laki-laki, ada 7 orang yang bisa menarik hati si peremuan muda ini. Sampai suatu hari, ketujuh pria itu datang melamar si perempuan. Tapi, si perempuan ini nggak mau memilih salah satu dari mereka karena takut bikin yang lainnya–yang nggak dipilih–jadi sedih dan cemburu.

Akhirnya, perempuan ini bikin keputusan yang lumayan mengejutkan: berhubungan seksual dengan ketujuh pria yang datang tersebut sekaligus. Meskipun dia tahu hal itu bahaya dan mungkin bisa bikin dia mati, dia tetap rela.

Ketika dia sudah nggak sanggup lagi dan berharap mati, dia juga berdoa agar bisa dilahirkan kembali sebagai bunga yang cantik. Sampai ketika setelah dimakamkan, bunga tersebut pun muncul dari bagian hati/liver si perempuan tersebut.

Sebelum meninggal, perempuan ini juga sempat berpesan ke saudaranya untuk mengurus makamnya dan bunga yang bakal tumbuh di atasnya. Dia juga bilang: siapa pun yang mencicipi bunga tersebut bakal ‘ketagihan’, baik dalam makna baik atau buruk.

Dari legenda ini, baik dan buruk yang dimaksud mungkin adalah: untuk tujuan pengobatan atau justru kecanduan, ya. 🙂


Proses Pertumbuhan Bunga Poppy sampai Menjadi Opium

ladang bunga poppy di museum opium
Gambaran ladang bunga poppy di masa silam yang ada di House of Opium.

Setelah lumayan puas ‘berkenalan’ sama berbagai suku asli Thailand, Myanmar, dan Laos, dengan legendanya masing-masing, saya melipir ke ruangan khusus yang berisi ladang bunga poppy dan pertumbuhannya sampai menjadi opium.

Lagi-lagi, saya terkesan dengan seberapa detail museum ini menggambarkan & mendokumentasikan hal tersebut. Rasanya mau ngasih jempol banyak-banyak ke pemerintah Thailand, penggagas, pendiri, dan pengurus museum ini.


1. Biji bunga poppy sebelum ditanam

Opium seeds

2. Bunga poppy setelah ditanam dan tumbuh mekar

Oppium poppies

3. Bunga poppy yang petalnya rontok/jatuh dan bonggolnya siap tumbuh

Opium Poppies

4. Bonggol opium yang sudah tumbuh dan matang

Opium pods

5. Getah putih yang muncul dari bonggol opium yang diiris/disayat

Opium latex

6. Bonggol opium yang sudah kering/sedikit getahnya

Opium as narcotics

7. Bonggol opium kering berwarna hitam yang siap dijual & diolah

Dry opium pods


Peralatan yang Dibutuhkan untuk Memproduksi Opium

Opium production tools

Selain dijual bonggolnya, masyarakat atau petani lokal di wilayah Golden Triangle pada masa itu juga memproduksi opium untuk digunakan sebagai bahan merokok.

Nah, untuk mengolah bonggol opium kering ini, ada cukup banyak alat yang dibutuhkan. Mulai dari berbagai jenis timbangan tradisional, pisau sayat, alat kerik, panci, sampai boks penyimpanan opium yang sudah diolah.

Timbangan opium

Timbangan dan boks penyimpanan opium

Fakta menarik: 

  1. Berdasarkan informasi yang ditempel dalam pigura di dinding museum, setiap bonggol opium dapat diolah/dikerik sekitar 3 sampai 4 kali dalam rentang 2 – 3 hari setiap waktu pengerikan.
  2. Untuk mendapatkan 1,6 kilogram opium, dibutuhkan 3.000 bonggol opium kering.
  3. Opium yang mentah bisa disimpan selama 2 tahun tanpa kehilangan potensinya sebagai bahan relaksasi atau narkotika.
  4. Biji bunga poppy atau opium juga biasa digunakan untuk dekorasi kue, dessert, sampai makanan untuk burung merpati.
  5. Minyak yang berasal dan diekstraksi dari biji opium juga bisa digunakan sebagai bahan dasar pembersih seperti detergen, sabun, atau bahkan cat.

Perlengkapan yang Dibutuhkan untuk “Menikmati” Olahan Opium

China adalah negara di Asia yang masyarakatnya tak ketinggalan mengonsumsi opium di masa silam. Selain digunakan sebagai bahan obat-obatan medis dan pain killer sejak abad ke-7, opium juga mulai dikonsumsi sebagai rokok yang dicampur dengan tembakau mulai abad ke-17.

Tentu aja, aktivitas ini nggak lepas dari peran dan pengaruh Asia Tenggara, khususnya masyarakat di wilayah Golden Triangle pada masa itu yang mengolah dan mengonsumsi opium untuk rileksasi. Nggak heran, kalau berbagai perlengkapan yang dibutuhkan buat menikmati atau merokok opium sedikit banyak mendapat pengaruh dari tradisi China pada masa itu.

Iya, supaya bisa mencapai kenikmatan maksimal ketika menikmati opium, ada teknik dan perlengkapan khususnya juga. Mulai dari tikar alas rebahan, pipa rokok, sampai bantal sandaran kepala. Emanglah masyarakat Asia ini kalau urusan nyeni nggak usah diraguin lagi! 😎


1. Tikar bambu untuk alas rebahan saat merokok opium

Opium mats

Bukan tanpa alasan kuat kenapa tikar bambu dipilih untuk merokok opium. Desain dari tikar ini sudah secara khusus dirancang agar dapat melancarkan sirkulasi udara di bawah tubuh perokok agar tetap merasa “dingin” dan nyaman ketika merokok.

2. Pipa rokok opium 

Opium pipe

Ada banyak jenis pipa yang digunakan untuk merokok opium, mulai dari yang pendek sampai yang panjang. Tapi salah satu yang paling populer adalah pipa opium yang terkait dengan mitologi masyarakat Cina.

3. Bantal yang digunakan sebagai penyangga kepala saat merokok opium

Opium pillows

Bantal atau penyangga berbahan dasar porcelain kabarnya adalah yang terbaik untuk merokok opium karena dapat membuat kepala perokok tetap dingin dan nyaman. Selain itu, bantal ini juga bisa membuat perokok merasa seperti melayang-layang di awan ketika mengonsumsi opium.


Tips & Teknik Merokok Opium yang Digemari di Masa Silam

Perlengkapannya siap, sekarang giliran tekniknya.

Nah, suku asli yang mendiami wilayah pegunungan Golden Triangle di Thailand, punya posisi favorit dan diklaim jadi yang terbaik untuk menikmati opium.

Teknik atau posisi ini dinamakan “Heel against Buttocks” atau tumit yang membelakangi/berlawanan arah dengan bokong. Gambaran detailnya ada di bawah ini:

How to smoke opium

Position for smoking opium


Dampak dari Konsumsi Opium

Penalties of opium use

Sayangnya, dibanding digunakan untuk keperluan medis atau pain killer, opium lebih melekat digunakan sebagai obat-obatan terlarang yang membuat banyak orang kecanduan dan menimbulkan dampak serius.

Museum ini secara lengkap dan komprehensif menunjukkan berbagai dampak dari opium pada masa itu. Hingga akhirnya, budidaya dan produksi Opium di Thailand dilarang sekitar tahun 1970-an oleh mendiang Raja Bhumibol Adulyadej.

Selain melarang, Raja Bhumibol juga memperkenalkan tanaman penggantinya kepada suku asli setempat agar mereka tetap dapat bekerja dan menghasilkan uang dengan bercocok tanam. Setelah pelarangan, pertumbuhan opium di Thailand menurun drastis.

Effects of opoium

Effects of opium

Tapi tentu aja, perkara pemberantasan ini bukan hal mudah. Meski sudah dilarang, masih ada juga masyarakat yang diam-diam menanam opium di berbagai wilayah di Thailand dan berakhir di tangan penyelundup. Maka dari itu, pemberantasan dan peperangan terhadap obat-obatan ini terus berlanjut dan sejak tahun 2003, Thailand sendiri sudah menyerukan War on Drugs


Kekuatan Opium di Masa Silam

Bukan cuma bisa bikin ‘rileks’ dan menciptakan halusinasi yang berbahaya bagi tubuh, opium sebagai narkotik yang populer diperdagangkan di masa itu bahkan dapat digunakan sebagai alat tukar utang, memicu terjadinya peperangan serta revolusi, dan menghasilkan pundi-pundi keuntungan yang besar bagi pedagang dan pemerintah negara terkait. Seperti yang terjadi pada China, Inggris, Laos, dan Myanmar di abad ke-19.

Kalau boleh saya bilang, mungkin sama powerful-nya dengan rempah-rempah yang menjadi alasan bangsa Eropa datang dan menjajah Nusantara.

Khun Sa Opium King

Berakhirnya era kejayaan opium pada masa itu juga ditandai dengan penangkapan Khun Sa yang disebut-sebut sebagai Raja Opium dari Myanmar di tahun 1996.

Khun Sa ditangkap karena ia adalah tokoh yang sangat powerful dalam produksi, distribusi, dan perdagangan heroin ke seluruh dunia saat itu. Bahkan, ia menggunakan pundi-pundi uang hasil penjualan heroin di Golden Triangle untuk membiayai pasukan yang dibentuknya untuk perlawanan (Shan United Army) pasca “dikeluarkan” secara ilegal oleh rekannya.

Karena menjadi buruan banyak negara untuk diadili, termasuk Amerika Serikat, beberapa tahun setelahnya Khun Sa kemudian memutuskan untuk menyerahkan diri kepada Pemerintah Myanmar.

“If I can get back my country, eight million of my people will rejoice. But, if I can stop the narcotic problem, then the whole world will rejoice.”

Salah satu pernyataan yang dikemukakan Khun Sha terkait posisinya dalam perdagangan heroin. Silakan dimaknai sendiri. 🙂

Kini di Golden Triangle, nggak ada lagi peperangan atau huru hara transaksi opium si emas hitam. Baik Thailand, Myanmar, hingga Laos sudah damai hidup berdampingan dengan Sungai Ruak dan Sungai Mekong sebagai saksinya.

Interaksi masyarakat antar negara di perbatasan segitiga emas ini juga masih aktif. Sekarang malah ditambah wara-wiri turis, kemunculan berbagai objek wisata, hotel & resort, pasar malam, sampai pedagang souvenir.

Saya sendiri ngerasa sedikit nggak percaya bisa ngebolang sejauh ini. Bisa menjejakkan kaki ke salah satu wilayah paling ‘penting’ dan berpengaruh di Asia Tenggara berabad-abad lalu. Meskipun agak ngeri juga karena ngebayangin kelamnya perdagangan, perebutan, dan bahkan konflik/perang akibat opium di masa itu. Belum ditambah total korban jiwa.

Ngomong-ngomong, saya jadi kepikiran, kalau saya dilahirkan & hidup di masa itu, kira-kira saya jadi apa ya perannya di masyarakat? 😄


Berkunjung ke Patung Big Buddha & Kembali ke Hostel di Chiang Rai

Big Buddha Chiang Saen

Big Buddha Chiang Saen

Selesai keliling museum, saya melipir ke kuil/patung Buddha raksasa yang lokasinya nggak jauh dari museum ini. Sambil ngaso dan beli air mineral di 7-11 terdekat karena kepala saya agak pening habis mencerna informasi yang terlalu banyak di museum. Lalu lalang turis yang naik turun perahu dari dermaga dekat kuil, jadi pemandangan seru yang saya saksikan di sore hari itu.

Chiang Saen

Setengah jam di kuil, saya mutusin buat balik ke parkiran museum dan bangunin Sammy yang ketiduran di mobil karena capek nyetir seharian. Habis itu, kita pun balik sekitar jam 5 ke Chiang Rai dan disambut dengan pemandangan langit yang super duper bagus!

“Got a lot of photos today?” Tanya Sammy, sambil ngeliat saya yang lagi liat-liat memori foto yang sudah berhasil diambil di hari itu.

“Yes, a lot. This is for my blog. Hahaha.” Jawab saya.

“Oh, you have a blog? Don’t forget to write about my tour then. Pssst, please don’t say bad things in your blog. Haha.” Gurau Sammy.

“How is it? Did you enjoy your trip today?” Tanya Sammy lagi.

“Yes, one of the best trip I have ever had. You are cool, Sam!” Puji saya.

Sunset Chiang Rai

Sambil menikmati jalanan yang lenggang dengan warna langit yang memukau sore itu, saya dan Sammy lanjut ngobrol-ngobrol kecil tentang Chiang Rai yang jadi kota kelahirannya, plus profesinya sebagai tour guide di Chiang Rai. Sammy ini bisa nggak cuma bolang alias bocah petualang, tapi juga real akamsi alias anak kampung Chiang Rai sini. Semua tentang Chiang Rai, dia khatam. 🙂

Saking lancarnya jalanan, nggak terasa, saya sudah sampai di depan hostel. Saya dan Sammy pun berpisah. Semoga suatu waktu ketika saya kembali ke Chiang Rai, saya bisa ngetrip bareng Sammy & Parn Trek lagi.

Baan Mai Kradan Hostel
Spot di hostel yang cukup menarik & warm.

Makin malam, Chiang Rai makin sepi. Beda sama kota ‘sepupunya’ alias Chiang Mai yang makin malam justru makin ramai. Belum banyak wisatawan yang datang ke Chiang Rai sebagai destinasi utama. Rata-rata wisatawan datang ke sini karena biasanya pesan trip ekstensi dari Chiang Mai. Kondisi ini justru yang bikin Chiang Rai makin terasa berbeda.

Menginap 3 hari 2 malam di kota ini bikin saya ngerasa kayak warga lokal. Selain karena emang orang Thailand dan Indonesia mirip secara fisik dan kultur, ini juga karena saya nginap di hostel yang homey banget meskipun isinya rata-rata bule. Berasa di rumah! Kapan-kapan kalau ada waktu luang, mungkin saya bakal bikin artikel review soal hostel saya yang super comfy ini. Siapa tau bisa jadi rekomendasi buat temen-temen yang ada rencana berkunjung ke Chiang Rai nanti.

Clock tower Chiang Rai
Menara jam emas raksasa di pusat Kota Chiang Rai.

Food in Chiang Rai

Malam itu, saya mutusin buat jalan kaki ke menara jam emas raksasa yang ikonik di tengah kota Chiang Rai. Nggak jauh dari hostel tempat saya nginap. Sekalian cari makan, soalnya di sekitar hostel beneran sepi banget. Cuma dan 1 – 2 warung makan yang buka.

Sambil jalan kaki di jalan yang sepi, saya lumayan ngerasa capek saat itu. Tapi, rasa itu segera hilang ketika saya memasuki wilayah clock tower yang cukup ramai. Banyak penjual makanan gerobakan di pinggir jalan yang aromanya memanggil-manggil untuk saya beli. Mulai dari sate ayam, tom yum, nasi goreng, sampai martabak telur dan manis tipis khas Thailand.

Soal kuliner, makanan Thailand nggak perlu diraguin lagi rasanya. Di hari itu, ada satu kuliner khas Chiang Rai yang belum saya coba: Khao Soi. Untung masih ada setengah hari lagi besoknya di Chiang Rai sebelum on the way ke bandara buat balik ke Bangkok.

Lain waktu, mungkin bakal saya ceritain juga soal Khao Soi yang enak di Chiang Rai dan pengalaman saya pulang ke Bangkok pertama kali naik Nok Air, pesawat LCC Thailand. 🙂


Last but not least, thank you for all greatest experiences you gave me, Chiang Rai. Stay awesome! 🇹🇭

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *