Berkunjung ke Grand Palace Bangkok dengan Harga Tiket 500 Baht/240.000, Apakah Worth?

Grand Palace Bangkok

Mungkin, seperti Monas kalau di Jakarta. Berkunjung ke Grand Palace paling direkomendasikan ketika kita traveling ke Bangkok, Thailand. Di kunjungan pertama saya ke Thailand tahun 2018 lalu, saya belum sempat berkunjung ke landmark populer Bangkok yang satu ini. Karena waktunya terlalu singkat, cuma 5 hari 4 malam. Saya dan Adia (teman perjalanan saya) pun waktu itu memang lebih fokus ke Chiang Mai daripada eksplor Bangkok.

Saya nggak terlalu kepikiran atau “ngegas” ke sana sini waktu itu sebab saya yakin suatu saat saya bakal balik lagi ke Negeri Gajah Putih ini. Dan benar, kesampaian juga di bulan November 2019. 😁

I rarely fall in love, but when I do, I will enjoy the feeling while I still can.

Iya, jatuh cinta. Mungkin sesederhana itu alasan kenapa saya mau balik lagi traveling ke negara ini, alih-alih memilih destinasi lain. Pertama kali menjejakkan kaki di Suvarnabhumi Aiport di bulan Mei 2018, meski tengah malam karena pesawat saya delayed, saya langsung merasa cukup nyaman & ‘familiar’. Mungkin karena lanskap dan masyarakat Thailand memang nggak jauh berbeda dengan Indonesia. Ditambah, saya mendapat taksi dengan driver yang sangat ramah, sigap, bahasa Inggrisnya lancar, dan care. Masih hangat di ingatan saya, kalimat perpisahan yang dituturkan bapak driver-nya pasca menurunkan saya dini hari di hostel adalah “You take care of yourself, ya. Enjoy Thailand!”.

Singkat dan simple, tetapi cukup berkesan. Bagi saya.

Kali kedua kunjungan saya ke Thailand, 9 hari pula, tentu saya langsung memasukkan kunjungan ke Grand Palace ke dalam itinerary. Nggak lupa saya juga melakukan banyak riset lebih dulu terkait Grand Palace supaya nggak bingung & paham aturan dos and donts-nya. Yang menarik, saya banyak menemukan ulasan di forum traveling yang bilang kalau tiket masuk Grand Palace Bangkok itu kemahalan & nggak worth. Bener nggak, sih?

Berhubung saya emang lumayan suka datang ke tempat wisata bersejarah, saya nggak langsung percaya. Apalagi kalau banyak bangunan dengan arsitektur yang autentik, klasik, dan detail. Nggak perlu pakai mikir dua kali!


Sekilas Tentang Grand Palace Bangkok

Grand Palace Bangkok
Bagian Wat Phra Kaew, Grand Palace, Bangkok.

Dibangun pada 6 Mei 1782 oleh Raja Phutthayotfa Chulalok atau yang dikenal juga dengan Raja Rama I, Grand Palace adalah kompleks istana yang sangat besar dan megah yang juga menjadi tempat tinggal resmi dari raja-raja Siam di masa itu hingga tahun 1925. Seperti Bangkok yang memiliki nama resmi Krung Thep Maha Nakhon, dalam bahasa Thailand, Grand Palace dikenal sebagai Phra Borom Maha Ratcha Wang.

Istana ini sangat kompleks dengan berbagai bangunan di dalamnya, yang total luas areanya mencapai 24 hektar lebih atau sekitar 218.400 meter persegi. Ada bangunan utama istana, kantor & sekretariat kerajaan, kapel, museum, aula dan singgasana, paviliun, halaman rumput, taman, gerbang dan tembok besar yang makin menambah megah kompleks istana.

Grand Palace Bangkok.
Sepotong lukisan yang ada di dinding bagian dalam pintu masuk Grand Palace, Bangkok.

Berdasarkan denahnya, Grand Palace sendiri terdiri atas 35 bagian bangunan yang terpisah. Tapi secara umum, ada 4 bagian utama dari Grand Palace, yaitu:

  1. Area luar Grand Palace,
  2. Area Kuil Emerald Buddha atau Wat Phra Kaew,
  3. Area tengah Grand Palace,
  4. Dan area dalam Grand Palace.
Grand Palace Map
Denah detail Grand Palace, Bangkok. Sumber Gambar: www.royalgrandpalace.th/

Area luar Grand Palace merupakan area tempat masuk pengunjung pertama kali. Di mana pada area ini terdiri atas bangunan kantor tempat urusan dan segala informasi yang terkait dengan Grand Palace dan kerajaan. Kalau nggak salah, di area ini juga terdapat tempat penyewaan pakaian yang “pantas” sebelum beli tiket dan memasuki kompleks istana. Iya, untuk masuk ke Grand Palace, kita harus berpakaian tertutup dan sopan. Nggak boleh pakai celana atau rok pendek dan pakaian yang memperlihatkan bahu, lengan, atau terlalu menonjolkan dada.

Pakaian Grand Palace, Bangkok.
Aturan berpakaian saat kunjungan ke Grand Palace, Bangkok.

Area Wat Phra Kaew atau yang dikenal juga dengan The Temple of Emerald Buddha (area favorit yang ramai pengunjung) adalah kuil Buddha yang dibangun sejak 1783 sejalan dengan tradisi kuno dari Wat Mahathat di Ayutthaya. Tentang Ayutthaya sendiri, saya pernah tulis di sini. Di dalam kuil ini juga terdapat patung Buddha dari batu giok berwarna hijau zamrud (emerald) yang kabarnya disimpan di bagian bawah.

Nah, area tengah merupakan yang paling besar dan penting, karena merupakan area utama yang menjadi pusat istana. Ada rangkaian bangunan Phra Maha Monthien yang menjadi jantung dari Grand Palace sekaligus tempat tinggal dan tidur raja beserta keluarganya dahulu. Ada rangkaian bangunan Phra Thinang Chakri Maha Prasat yang merupakan aula singgasana kerajaan yang bergaya elektik: campuran antara arsitektur Thailand dan Eropa era Renaissance di abad ke-19. Dan ada juga kebun/taman Siwalai yang luas yang pada masa silam digunakan sebagai tempat bermain croquet oleh para wanita kerajaan.

Sementara itu, area dalam istana adalah wilayah khusus yang didiami oleh raja, harem (pelayan), ratu, para selir, dayang-dayang, dan juga anak-anak raja. Di mana pada masa itu, praktik rumah tangga poligami di kerajaan berakhir di masa kepemimpinan Raja Rama VII sekitar awal abad ke-20.

Meski sudah nggak lagi dihuni oleh Raja Thailand, saat ini, Grand Palace masih menjadi tempat diselenggarakannya berbagai acara resmi, upacara kerajaan, dan ibadah bagi masyarakat yang beragama Buddha. Salah satu contohnya adalah ketika Raja Bhumbol Adulyadej wafat. Grand Palace adalah tempat bagi masyarakat untuk memberikan penghormatan terakhir sekaligus mengenang wafatnya Raja Bhumibol satu tahun kemudian.


Harga Tiket Masuk Grand Palace Bangkok

Grand Palace Bangkok Tickets Office

Bagi wisatawan asing atau non-Thai, masuk ke Grand Palace wajib membeli tiket di loket utama seharga 500 Baht per orang. Sementara untuk orang Thailand asli, masuk Grand Palace tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis. Per November 2019 ketika saya ke Thailand, kurs-nya adalah Rp475 per 1 Baht. Jadi, 500 Baht x Rp475, adalah sekitar Rp240.000 untuk masuk ke dalam Grand Palace. Memang cukup mahal dan mirip-mirip harga tiket masuk Dunia Fantasi di di akhir pekan. 😆

Grand Palace main entry
Pintu masuk sekaligus area pengecekan tiket ke Grand Palace.

Banyak juga cerita orang Indonesia yang bisa masuk ke Grand Palace tanpa membeli tiket. Alasannya apalagi kalau bukan karena orang kita memang bak pinang dibelah dua dengan orang Thailand. Ya namanya juga masih sama-sama ASEAN. Hehe. Tapi, kalau saya pribadi sih nggak menyarankan hal ini dilakukan, meskipun kita punya ‘kesempatan’. Apalagi diam-diam ‘menyamar’ dan masuk Grand Palace lewat pintu khusus untuk warga Thai.

Selain sangat nggak etis, ini juga sama dengan tidak mendukung  pemerintah setempat dalam memelihara objek wisatanya. Dengan membeli tiket resmi, artinya kita juga memberi devisa kepada Thailand untuk terus memajukan pariwisatanya. 😁

Nah, sebagai tips, kalau  mau berkunjung ke Grand Palace, usahakan datang dari pagi. Kalau perlu, luangkan satu hari khusus hanya untuk ke Grand Palace aja. Sebab, kompleks istananya benar-benar luas dan nggak cukup dieksplor dalam waktu 1 – 2 jam. Apalagi kalau kita termasuk orang yang suka memerhatikan detail. Karena jujur aja, saya pribadi banyak mematung di beberapa spot cuma buat ngeliatin detail arsitektur bangunan di Grand Palace yang memukau banget! Sayangnya, saya waktu itu kesiangan. Baru sampai di Grand Palace sekitar jam 12, pas lagi terik-teriknya. Jadi nggak semua wilayah Grand Palace bisa saya jangkau.

Jam buka/kunjungan ke Grand Palace adalah mulai dari 08.30 – 16.30. Sementara jam buka loket tiketnya adalah mulai 08.30 – 03.30. Jangan lupa bawa topi dan pakai sunblock terutama kalau berkunjung di musim panas karena asli mataharinya nyengat banget, bos!

Tiket masuk ke Grand Palace

Mungkin kebanyakan orang bakal mikir, kok mahal amat 500 Baht? Emangnya dapat apa atau bisa ngapain aja sih di Grand Palace Bangkok? Weits, tenang. Tiket tersebut bukan untuk kunjungan single ke satu area atau bangunan aja, melainkan juga tiket terusan ke berbagai bagian lain yang menarik di Grand Palace. Di antaranya adalah:

  1. Tiket masuk utama ke seluruh wilayah Grand Palace,
  2. Kuil Emerald Buddha dan Museum Tekstil Ratu Sirikit,
  3. Museum Arts of Kingdoms,
  4. Dan terakhir, menonton pertunjukan Thai Mask Dance di Sala Chalermkrung Royal Theatre. (Yang ini favorit saya, karena pertunjukannya beneran niat dan keren!).

Cara Menuju Grand Palace Bangkok

Stasiun BTS Saphan Taksin Bangkok

Waktu itu, karena saya berangkat dari hostel di daerah Phaya Thai, saya memilih menggunakan BTS dan lanjut naik boat untuk menuju ke Grand Palace. Dari Stasiun Phaya Thai, saya naik BTS menuju Stasiun BTS Saphan Taksin. Kenapa harus Stasiun BTS Saphan Taksin? Karena, stasiun ini adalah satu-satunya yang terkoneksi atau terintegrasi langsung dengan sistem transportasi air di Chao Phraya River. Dari Stasiun BTS Saphan Taksin, kita cuma perlu turun tangga dan jalan sebentar menuju Dermaga Sathorn.

Tiket Perahu Bangkok
Tiket naik perahu di Sungai Chao Phraya, 20 Baht.

Dari dermaga inilah, kita bisa naik perahu untuk menuju Grand Palace dengan harga tiket hanya 20 Baht atau Rp9.500 aja. Tiket ini berlaku untuk perahu biasa yang berwarna oranye ya. Kalau mau naik perahu turis yang lebih fancy dan tingkat dua (bisa duduk di atas), kita bisa pilih Chao Phraya Tourist Boat Hop On Hop Off. Tapi, tentu aja harga tiketnya juga lebih mahal yaitu 60 Baht atau Rp30.000-an.

Chao Phraya River Line
Jalur Sungai Chao Phraya.

Jalur transportasi air di Sungai Chao Phraya sendiri terdiri atas beberapa dermaga pemberhentian yang jadi destinasi wisata utama para wisatawan, yaitu:

  1. Asiatique The Riverfront,
  2. Sathorn,
  3. Iconsiam,
  4. Ratchawongse/China Town,
  5. Yod Pi Man/Pak Klong Taladd/Flower Market,
  6. Wat Arun & Wat Pho,
  7. Tha Chang/Tha Maharaj/Grand Palace,
  8. Pranok/Thonburi/Shiriraj Phimukstan Museum,
  9. Phra Pin Klao/Phra Arthit/Khao San Road.

Bangkok The River City

Dermaga Tha Chang Grand Palace
Turun di Dermaga Tha Chang untuk menuju Grand Palace.

Kalau naik perahu dari Dermaga Sathorn, maka ambil jalur menuju Dermaga Phra Pin/Phra Arthit dan turun di Dermaga Tha Chang (Poin 7). Lalu, tinggal jalan kaki sekitar 15 menit untuk menuju kompleks Grand Palace. Jika ditotal ongkos saya untuk bisa sampai Grand Palace dengan naik BTS + perahu ya sekitar Rp30.000-an. Saya berani jamin kalau jumlah ini bakal jauh lebih murah dibanding kalau kita naik taksi atau grab menuju Grand Palace di tengah kemacetan Kota Bangkok. 😄

Bangkok dikenal sebagai The River City, jadi kalau nggak nyoba transportasi airnya, bakal rugi deh. Soalnya, selain praktis menghubungkan ke berbagai titik destinasi wisata, pemandangan selama naik perahu juga oke lho. Gambar di atas salah satu contohnya. Saya ambil dari perahu oranye menuju Grand Palace. Tips: duduk di pinggir dekat jendela supaya pengalaman naik perahunya lebih mantap karena bisa foto-foto dan menikmati angin sepoi-sepoi. Sesekali juga kecipratan air sungai yang sayang, warnanya coklat & hijau pekat. Banyak sampah juga.


Megah & Ramainya Grand Palace

Pintu masuk Grand Palace
Area pintu masuk utama Grand Palace yang dipadati wisatawan.

Jalan kaki dari Dermaga Ta Chang menuju Grand Palace nggak begitu jauh. Tapi, cuaca saat itu cukup terik dengan langit yang biru terang. Ya iya, saya kan nyampenya jam 12. Hahaha. Beda cerita mungkin kalau saya datang lebih awal. November 2019 lalu, di Thailand masih panas-panasnya. Kalau dari foto di atas, perhatiin aja turis-turis kebagi jadi dua tipe: yang pakai topi & yang pakai payung. Karena nggak mau ribet, saya pilih jadi tipe turis yang pertama. Hehe.

Kunjungan ke Grand Palace

Waktu itu, saya datang hari Senin ke Grand Palace. Dan itu, ramai banget, apalagi akhir pekan. Mulai dari wisatawan asing, lokal, sampai anak-anak sekolah di Thailand yang melakukan kunjungan untuk studi. Dari Dermaga Ta Chang, kita tinggal ikutin aja jalur jalan yang mengarahkan ke Grand Palace. Rata-rata turis yang jalan di wilayah ini sudah pasti mau berkunjung ke sana. Pas sampai di wilayah terluar Grand Palace, dalam hati saya “Buset megah banget!”. Perpaduan luas, kemegahan, dominasi warna putih dan emas bangunan, ditambah biru langit yang mencrang, Grand Palace saat itu bener-bener keren di mata saya!

Oh iya, di kalangan wisatawan asing, Grand Palace juga dikenal sebagai destinasi wisata yang banyak scammer-nya. Modusnya rata-rata menyetop turis di tengah jalan menuju Grand Palace, terus bilang kalau Grand Palace tutup. Nah, sebagai gantinya oknum ini akan menawarkan turis tersebut untuk ke destinasi wisata lain dengan menumpang tuk-tuk yang sudah ditunjuk sang oknum. Apesnya, kalau kita kejebak, kita bakal dibawa keliling-keliling dan konon berakhir di tempat pembelian emas/permata. Di mana, kita harus bayar sewa tuk-tuk selama keliling dan wajib beli emas/permata. Kalau enggak, ya risikonya bisa ngeri juga. Sementara kita, bakal berakhir dengan isi kantong terkuras akibat oknum tersebut.

Saya sendiri udah lama banget baca-baca di forum traveler soal scam ini. Makanya, saya hati-hati banget jangan sampai kena. Selain kabarnya “mengincar” turis bule & oriental look (karena paling bisa dibedakan dengan look turis Asia Tenggara/penduduk asli Thailand sendiri), oknum scammer ini juga melihat atau mengincar turis dari penampilannya. Contoh, biasanya kita kalau jalan-jalan suka gantungin kamera di leher, kan? Nah, yang begini ini udah pasti turis & berpeluang besar jadi sasaran mereka.

Ketika melihat keramaian Grand Palace waktu itu, saya sempet ragu: emang bener ada scam semacam ini? Bodoh banget kalau sampai ada yang kena. Tapi, kemudian, saya melihat banner pengumuman di bawah ini dari kepolisian setempat. Yang mana artinya, saya asumsikan, kepolisian Thailand pun sudah cukup aware dengan masalah scam di wilayah Grand Palace. Maka dari itu, agar tidak berjatuhan lagi korban, dipasang banner sosialisasi di bawah. Cool!

Jam buka Grand Palace Bangkok

Dari pintu masuk utama, kita bakal diarahin ke sebuah kantor/bangunan yang menyewakan/menjual pakaian tertutup. Khusus untuk turis yang datang dengan atasan atau bawahan pendek. Sebab, berpakaian tertutup adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi ketika berkunjung ke Grand Palace. Kalau dirasa pakaian kita sudah memenuhi syarat, maka tinggal langsung jalan aja menuju loket pembelian tiket.

Waktu itu saya pun pakai celana jeans panjang dan kaos oblong biasa. Masih tergolong pantas & bisa masuk tanpa perlu beli baju atau kain penutup tambahan. Nah, di pintu masuk utama, kita bakal masuk lebih dulu ke sebuah galeri terbuka yang bernama Galeri Ramakien.


Galeri Ramakien

Galeri Ramakien Grand Palace Bangkok

Galeri ini cukup besar dan mengelilingi bangunan kuil utama di Grand Palace. Di sepanjang dinding, terdapat lukisan mural yang menggambarkan kisah Ramakien. Sebuah epos Thailand yang diadaptasi dari epos Ramayana, India. Ramakien sendiri bercerita mengenai pertempuran antara Raja Tosakanth yang merupakan raja iblis melawan Raja Rama yang manusia.

Menurut kisahnya, Tosakanth menculik Ratu Sida, istri dari Raja Rama dan dibawa ke Kota Longka. Tosakanth berharap, Ratu Sida perlahan akan jatuh cinta kepadanya, namun ternyata tidak. Akhirnya Tosakanth kembali melakukan pertempuran dengan Raja Rama. Di mana kali ini Tosakanth membawa banyak kerabatnya sebagai pasukan sementara Raja Rama membawa pasukan monyet. Pertempuran dimenangkan oleh Raja Rama yang akhirnya berhasil membawa kembali Ratu Sida ke Ayutthaya, ibu kota Kerajaan Siam pada masa itu.

Lukisan mural di sepanjang dinding Galeri Ramakien ini total memiliki 178 bagian dan kabarnya dibuat di masa pemerintahan Raja Rama I tahun 1782, serta sudah direnovasi berkali-kali. Cara Thailand mempertahankan & menceritakan kembali sejarah & warisan kebudayaannya, memang patut diacungi jempol!

Potongan lukisan di atas adalah Tosakanth atau Raja Iblis yang dikisahkan berperang dengan Raja Rama. Nah, kalau dalam epos Ramayana dari India, Tosakanth adalah Rahwana. Lukisan ini terletak di sebelah kiri persis ketika kita masuk pertama ke Grand Palace sebagai “penyambutan”. Didominasi warna emas, waktu ngeliat langsung, saya lumayan lama berdiri memperhatikan detail lukisan Tosakanth ini. Haha.

Pintu masuk Grand Palace Bangkok

Selain dari eposnya yang mengadaptasi Kisah Ramayana India, mayoritas detail arsitektur bangunan yang ada di dalam Kompleks Grand Palace pun banyak yang mengambil dan dipengaruhi budaya Hindu India. Padahal, seperti yang kita tahu, Thailand adalah salah satu negara dengan pemeluk agama Buddha terbesar saat ini.

Nah di bawah, di pintu masuk ada sekitar 6 patung “The Demon of Guardians” yang menjaga galeri. Beberapa dari patung ini ditempatkan menghadap ke kapel patung Emerald Buddha atau patung Buddha Zamrud dengan tujuan agar menjaganya dari semua roh jahat.

Demon of Guardians Grand Palace, Bangkok.
The Demon of Guardians.
Emerald Buddha
Foto Patung Buddha Zamrud. Sumber Gambar: www.royalgrandpalace.th

Sayangnya, saya sendiri waktu itu nggak sempat menuju bagian bangunan Grand Palace yang ada patung Buddha Zamrud ini. Selain karena keterbatasan waktu, Grand Palace itu luas banget, bos! Letak bangunannya lumayan jauh & kalau nggak salah patung ini pun nggak boleh ‘didekati’. Maka dari itu, sebagai gambaran, saya kasih fotonya yang diambil dari website resmi Grand Palace aja ya. Semoga kebayang!

Sedikit tentang Buddha Zamrud, patung ini sendiri diukir dari batu giok berwarna zamrud yang tinggi atau ukurannya mencapai 66 cm. Dibuat dari Thailand Utara (wilayah Chiang Mai, Chiang Rai, dll), patung ini dianggap sebagai patung Buddha paling penting di Thailand karena sejarahnya yang sudah dibuat sejak abad ke-15. Nah, yang menarik, patung ini punya tiga kostum khusus yang disesuaikan dengan musim, yaitu musim panas, musim hujan, dan musim dingin. Dua kostum pertama dibuat di masa pemerintahan Raja Rama I sementara kostum musim dingin dibuat di masa pemerintahan Raja Rama III. Pengubahan kostum juga dilakukan tiga kali dalam setahun yang upacaranya dipimpin langsung oleh raja.

Patung Cheewok Komaraphat

Bukan cuma itu aja yang menarik, ada juga Patung Cheewok Komaraphat yang duduk dengan menopang sebelah kaki memberikan kesan magis di dekat Galeri Ramakien. Cheewok Komaraphat adalah dokter dari Sang Buddha yang kini dianggap sebagai bapak obat herbal Thailand. Di hadapannya, ditempatkan juga mortar dan batu gerindra yang di masa lampau, digunakan oleh banyak orang untuk menggiling obat yang dipercaya lebih manjur khasiatnya.


The Temple of Emerald Buddha (Wat Phra Kaew)

The Temple of Emerald Buddha

Dari pintu masuk, kita bakal langsung ke bagian bangunan berikutnya yang paling populer dari Grand Palace yaitu The Temple of Emerald Buddha atau Wat Phra Kaew. Kuil yang terletak di area luar istana ini adalah bangunan yang menampung patung Buddha Zamrud. Dibangun sejak periode Sukhothai atau 800 tahun lalu,  yang menarik, kuil kerajaan ini nggak punya tempat khusus untuk tempat tinggal para biksu. Seperti kuil pada umumnya.

Masih dalam kompleks The Temple of Emerald Buddha, kalau yang di atas ini adalah Phra Siratana Chedi. Sebuah stupa emas yang didirikan oleh Raja Rama IV untuk menyimpan dan mengabadikan peninggalan Buddha. Phra Siratana Chedi memiliki bentuk dasar seperti lonceng seperti stupa khas Sri Lanka, yang mayoritas penduduknya juga beragama Buddha. Keren!

Phra Mondop Grand Palace Bangkok
Phra Mondop
Phra Mondop Grand Palace Bangkok
Detail bangunan Phra Mondop yang didominasi warna emas dan hijau zamrud.

Phra Mondop adalah bangunan perpustakaan Buddha yang dibangun pada tahun 1789 di masa pemerintahan Raja Rama I. Kabarnya, di dalam perpustakaan ini terdapat lemari buku berbahan permata yang besar dan indah tempat menampung tulisan-tulisan atau naskah suci Buddha.

Gambar di atas adalah sebuah patung Kinnara & Kinnari, yang berdiri kokoh di wilayah The Temple of Emerald Buddha. Dalam mitologi Buddha, Kinnara dan Kinnari adalah makhluk setengah manusia dan setengah burung yang baik hati dan diyakini berasal dari Pegunungan Himalaya. Kinnara dan Kinnari juga dipercaya adalah pengawas dari segala aspek kesejahteraan kehidupan manusia. Sementara dalam mitologi Hindu, Kinnara digambarkan sebagai makhluk surgawi yang sosoknya sebagian manusia, sebagian kuda, dan sebagian lagi burung. Namun, pada intinya, karakter makhluk ini di kedua mitologi sama: baik & membawa keberkahan bagi manusia. 😇

Detail bangunan Grand Palace Bangkok

Detail bangunan Grand Palace Bangkok

Saya lumayan takjub & terkesima sendiri pas ngambil gambar di atas. Detail bangunan yang rumit, perpaduan warna yang vivid tapi pas, dan tinggi bangunan yang menjulang, Grand Palace ini tanpa kita tahu sejarahnya pun udah keren banget emang! Saya sempat juga masuk ke dalam kuil Buddha-nya. Waktu itu, kalau nggak salah sedang ada aktivitas beribadah/berdoa yang dilakukan para Biksu. Warga lokal dan juga turis banyak juga yang ikutan berdoa di belakang para Biksu ini. Tapi, nggak boleh difoto, divideoin, & kita harus respek (nggak boleh berisik/berkerumun berdekatan orang yang beribadah) selama ibadah tersebut berlangsung. Foto keempat di atas kalau nggak salah ingat adalah detail arsitektur bagian dalam kuil.


Bangunan Inti Istana Kerajaan

Area inti istana Grand Palace yang bergaya elektik

Setelah dari The Temple of Emerald Buddha, bangunan selanjutnya yang bisa dikunjungi adalah Chakri Maha Prasat Hall, atau yang menjadi inti dari bangunan istana kerajaan. Semua yang berkaitan dengan Dinasti Chakri, ada di sini. Bangunan ini adalah kediaman kerajaan yang dibangun oleh Raja Rama V di tahun 1877. Kalau teman-teman lihat, sekilas desainnya memang bergaya ala-ala kerajaan Inggris sedikit karena arsiteknya pun ternyata memang dari Inggris: John Clunish.

Chakri Maha Prasat

Tapi, kemudian, Raja Rama V meminta tiga kubah di atas bangunan untuk diganti menjadi bergaya Prasat atau istana khas bangsa Khmer dan Thai. Maka dari itu, bangunan ini pada akhirnya dibuat dengan berpadu dalam dua gaya: Eropa (abad ke-19) & Thailand. Kalau dulu, Raja Rama V tinggal di bangunan ini, sekarang, bangunan ini diperuntukkan menjadi tempat perjamuan bagi tamu negara. Di bawah ini adalah foto Chakri Maha Prasat dari sudut yang lain. Dari sudut mana aja, emang bikin takjub sih!

Nah, di sebelah Chakri Maha Prasat, ada juga Dusit Maha Prasat Hall. Bangunan di foto di bawah ini adalah sebuah aula yang bertingkat dan besar yang kini difungsikan sebagai tempat persemayaman atau peristirahatan terakhir para raja dan keluarganya. Di bangunan ini pula, jenazah raja dan keluarganya disimpan selama seratus hari sebelum dikremasi. Dusit Maha Prasat sendiri dibangun oleh Raja Rama I sebagai pengganti dari Phra Thinang Amarintharaphisek Maha Prasat yang terbakar di tahun 1789.

Sementara di bagian depan kompleks bangunan ini, terdapat sebuah taman yang luas yang disebut sebagai kebun/taman Siwalai. Yang di masa silam, dijadikan sebagai tempat bermain croquet oleh para bangsawan wanita di kerajaan. Tamannya sangat bersih dan terawat dengan baik. Penting untuk diingat ketika berkunjung, jangan sampai menginjak taman ini ya.

Dusit Maha Prasat Hall

Dusit Maha Prasat Hall

Dusit Maha Prasat Hall

Dusit Maha Prasat Hall


Bak Oase di Tengah Gurun: Coffee Shop di Grand Palace

Coffee Shop Grand Palace

Karena perbekalan air mineral sudah menipis & teriknya matahari di Bangkok saat itu lumayan bikin dehidrasi, saya merasa bersyukur ada kafe/coffee shop di dalam Grand Palace! Saya lupa nama kafenya apa, nyari-nyari di internet nggak nemu hehe. Tapi, yang pasti, kafe ini seingat saya cuma satu-satunya di Grand Palace. Kalau keluar dari Dusit Maha Prasat ke arah Museum The Temple of Emerald Buddha, kita pasti ngelewatin kafe ini karena letaknya di tengah-tengah. Sekilas dari desain bangunannya, persis sama kafe-kafe yang ada di wilayah Kota Tua, lho.

Kalau nggak salah ingat juga, harga makanan dan minuman di kafe ini nggak mahal. Ya standar kafe pada umumnya. Kafenya lumayan ramai & rasa minumannya enak. Seperti biasa, mumpung di Thailand, saya nyobain Thai Tea-nya, dong! Hehe.

Kafe di Grand Palace

Kafe di Grand Palace


Museum The Temple of Emerald Buddha

The Temple of The Emerald Buddha Museum

Kelar ngaso di kafe, saya langsung melanjutkan perjalanan karena berhubung waktu sudah jam 2/3 sore. Kunjungan selanjutnya adalah ke Museum The Temple of The Emerald Buddha. Kalau di awal saya berkunjung ke kuil “beneran” dan menikmati keindahan bangunannya, kali ini ke museumnya untuk melihat & tahu cerita detail tentang Buddha. Di museum inilah banyak peninggalan sekaligus dokumentasi historis dari perjalanan Buddha. Saya nggak punya foto bagian dalam museum ini karena seingat saya pengambilan foto/video dilarang. Tapi, yang pasti, bagian dalamnya komplit & bagus banget. Berasa “tercerahkan”, hehe.


Menonton Pertunjukan Thai Mask Dance

Tiket nonton pertunjukan Thai Mask Dance di Grand Palace Bangkok

Terakhir, part yang paling ditunggu-tunggu dari kunjungan ke Grand Palace adalah menonton pertunjukan Thai Mask Dance di Teater Sala Chalermkrung. Menonton pertunjukan ini gratis karena sudah masuk dalam tiket terusan yang kita beli di awal ya, temen-temen. Jadi, pastikan habis beli tiket jangan dibuang karena kita bakal butuh tiketnya untuk masuk ke beberapa bagian bangunan, termasuk menonton Thai Mask Dance ini.

Keluar dari area dalam Grand Palace, saya langsung menuju area jalan besar di mana terdapat bus wisata gratis yang bakal membawa kita ke Royal Theater Sala Chalermkrung. Bus akan jalan sekitar 10-15 menit sebelum jadwal pertunjukan dimulai. Dalam satu hari, pertunjukan Thai Mask Dance ini digelar 5 kali yang menyesuaikan jadwal buka Grand Palace. Yaitu: jam 10.30, 13.00, 14.30, 16.00, dan 17.30. Kalau nggak salah, saya ambil jadwal pertunjukan yang 14.30. Sebab, sore harinya saya sudah harus buru-buru ke terminal bus Chatuchak untuk naik bus menuju Chiang Rai. Hehe.

Bus Wisata di Grand Palace

Perjalanan dari Grand Palace menuju teater cukup menyenangkan karena bus terbuka jadi kita bisa menikmati jalan sekaligus angin sepoi-sepoi. Dari luar, keseluruhan kompleks Grand Palace makin terlihat megah & menawannya dengan dinding berwarna putih yang berdiri kokoh.

Area luar Grand Palace

Royal Theatre Sala Chalermkrung

Royal Theatre Sala Chalermkrung

Sesampainya di Teater Sala Chalermkrung, semua penumpang langsung menyeberang dan masuk ke teater untuk menonton pertunjukan. Kalau boleh saya bilang, lumayan mirip sama bangunan teater di Taman Ismail Marzuki. Saya sendiri cukup terkesan sama rapinya persiapan & pelayanan menuju teater ini dari Grand Palace. Di Batch saya waktu itu, yang nonton lumayan ramai karena mungkin juga udah terlalu sore dan beberapa jam lagi Grand Palace bakal tutup.

Royal Theatre Sala Chalermkrung

Lima menit setelah penonton masuk semua, pertunjukan pun dimulai. Nah, Thai Mask Dance atau yang dikenal juga sebagai Khon-Thai Classical Masked Dance ini sudah ada atau dipertunjukan sejak jaman Kerajaan Ayutthaya. Kalau tadi di awal datang ke Grand Palace, kita bisa melihat lukisan mural tentang Ramakien, nah di teater ini kita bisa nonton pertunjukannya yang lengkap! Mengadopsi cerita/epos Ramayana dari India, Ramakien adalah cerita/epos nasional Thailand yang memadukan mitologi Hindu dan Buddha dengan tradisi/budaya Thailand.

Bukan hanya soal Raja Rama melawan Raja Iblis (Tosakanth) untuk merebut kembali Ratu Sida, di pertunjukan ini juga banyak cerita dari karakter-karakter dalam cerita Ramakien. Yang paling populer adalah karakter monyet besar yang dikenal sebagai Hanoman dalam epos Ramayana, yang ada di kubu Raja Rama dalam memerangi Tosakanth. Diiringi dengan narator dan musik yang apik, mata kita bakal dimanjain sama detail panggung, pakaian tokoh, dan aksi berbagai karakter yang ciamik.

Thai Mask Dance Performance Grand Palace
Tokoh Perempuan dalam Thai Mask Dance.

Thai Mask Dance Performance Grand Palace

Thai Mask Dance Performance Grand Palace
Hanoman.
Thai Mask Dance Performance Grand Palace
Perang antara Raja Rama dan Raja Iblis.
Thai Mask Dance Performance Grand Palace
Efek lighting dan tata panggung yang memukau.
Thai Mask Dance Performance Grand Palace
Akhir pertunjukan.

Pertunjukan ini harus diakui cukup bagus, niat, dan keren! Gemuruh tepuk tangan & sorak sorai penonton juga nggak ketinggalan menjadi penutup pertunjukan. Bukan cuma itu, pasca menonton pertunjukan Thai Mask Dance ini, tokoh Hanoman dan Ratu juga dipersiapkan secara khusus di bagian depan teater untuk sesi foto bersama penonton yang berminat, lho. Saya pun juga nggak ketinggalan untuk ikutan foto meski antreannya cukup panjang. Hehe, ya kapan lagi, kan?

Thai Mask Dance Performance Grand Palace


Kesimpulan: apakah worth berkunjung ke Grand Palace dengan harga tiket Rp240.000?

Buat saya, sangat worth! Meskipun saya cuma bisa menghabiskan waktu 4 jam di Grand Palace, sudah cukup buat bikin saya eyegasm berkali-kali melihat detail bangunan di Grand Palace yang desainnya secantik itu. Sambil dikit-dikit buka denah buat coba memahami bangunan & patung-patung yang ada di Grand Palace, di tengah teriknya matahari dan ramainya turis. Ditambah, pertunjukan Thai Mask Dance yang jadi gong terakhir dari tiket masuk Grand Palace, bikin pengalaman kunjungan saya jadi makin berkesan. Akulturasi Hindu, Buddha, dalam budaya lokal Thailand bikin saya relate dan lumayan bisa paham karena di Indonesia pun bisa dibilang mirip.

Agak lumayan nyesel karena nggak datang lebih awal untuk mengeksplor Grand Palace yang luas banget ini. Tapi, nggak masalah karena saya yakin, ini bukan kunjungan terakhir saya ke Thailand. Kalau ada kesempatan & tabungan cukup, saya nggak bakal ragu untuk liburan lagi ke sini. 😉

Sore itu, pasca nonton Thai Mask Dance, karena sudah mau jam 4, saya langsung lari ke stasiun MRT terdekat untuk menuju ke terminal bus Chatuchak. Saya emang sudah beli tiket bus malam ke Chiang Rai (kota di utara Thailand) dengan total perjalanan 13 jam dari pukul 7 malam. Agak ambisius karena keliling Grand Palace selama 4 jam lumayan bikin kaki pegel dan menuntut dikasih balsem. Hehe.

Tapi, karena bus yang saya tumpangi cukup nyaman dengan leg room yang lega banget, saya jadi bisa istirahat sepanjang perjalanan sambil ngelurusin kaki.

Thank you Grand Palace, till we meet again! ❤️


Note:

Selain yang dicantumkan sumbernya, semua gambar dalam artikel ini adalah hasil dokumentasi saya sendiri. Meski nggak ditempeli watermark, mohon izin dulu di kolom komentar kalau mau digunakan untuk tujuan tertentu ya. Kalau tidak izin pun, mohon sertakan sumber jika direpost. Terima kasih. 🙂

2 Replies to “Berkunjung ke Grand Palace Bangkok dengan Harga Tiket 500 Baht/240.000, Apakah Worth?”

  1. Worth it banget! Gua yang baru baca tanpa kesana aja udah berasa banget feelnya. Excited banget baca sampe akhir! Dan berharap bisa kesana juga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *