Sowan ke Kuil Dewi Kwan Im Terbesar di Tengah Pegunungan Chiang Rai

Sebelum mulai hectic lagi per Senin di Q1 2021 dan mumpung sempet cerita, here we go!

Banyak banget, hal dan detail perjalanan menarik yang emang belum sempet gue ceritain dari solo trip 9 hari ke Thailand November 2019 kemarin. Salah satunya tentang kunjungan ke Wat Huay Pla Kang yang berlokasi di tengah pegunungan Chiang Rai.

Wat Huay Pla Kang Chiang Rai

Sebuah kuil Buddha di mana patung Dewi Kwan Im terbesar atau yang dikenal juga sebagai Guan Yin, Sang Goddess of Mercy, bersemayam kokoh dengan pesonanya yang magis.

Yang membuat perjalanan ini menarik bagi gue sendiri, bukan cuma karena tempat atau kuilnya yang emang legendaris. Baik dari sisi historis maupun arsitekturnya. Tapi juga karena kunjungan ke sana, gue lakuin secara spontan dan bisa dibilang nekat. Yes, the power of solo trip. Kalo nggak solo trip, pasti nggak bisa ubah-ubah & dadakan seenak jidat. Semua harus serba kompromi, brou.

Naik Taksi Argo Tembak dari Terminal Bis Chiang Rai ke Hostel

Kenapa spontan? Jadi, dari Bangkok ke Chiang Rai, gue naik bis kota Sombat Tour selama 12 jam. Bis jalan dari Bangkok mulai jam 7 malam, dan sampai di Terminal Bis Chiang Rai itu jam 7 paginya. Nah, dari sejak subuh sampe bis tiba di terminal, Chiang Rai diguyur hujan yang nggak kelar-kelar. Alhasil, suhu udara di bis jadi makin menjadi-jadi dinginnya. Ditambah lagi, Chiang Rai itu kan wilayah pegunungan. Otomatis, ya bikin gue yang nggak kuat dingin ini jadi agak ‘semaput’. Untung, untung banget, gue selalu bawa jaket dobel. Haha.

Saking dinginnya, pas turun dari bis, otak gue ikutan beku dan susah mikir.

“Buset, ini gue ke mana dulu, yak?”

Sebenernya, gue udah bikin itinerary lengkap dari berangkat sampe pulang lagi ke Jakarta. Tapi, ya berhubung gue jalan sendirian, gue pasti iseng masukin satu atau dua timeline kosong buat “yaudah gimana ntar atau di sana ajalah”. Sengaja, biar otak gue dipaksa mikir, kreatif, dan bisa solve the problem.

Wat Huay Pla Kang ini pun udah ada dalam itinerary gue saat itu. Cuma, ke sananya gimana, gue sama sekali nggak tau. Hahaha. Sialnya, pagi itu di terminal dingin & gloomy banget. Jangankan mikirin rute ke sana gimana, gue sibuk menggigil dan gerak-gerak biar dinginnya ilang, tapi nggak ilang-ilang. Akhirnya, gue pindah ke tempat duduk di terminal bagian dalam yang ada pintu dan jendelanya. Lumayan, dingin berkurang.

Sambil nenggak air mineral botolan 20 Baht yang gue beli di terminal, gue diem dan merhatiin sekitar. Terutama moda transportasi yang tersedia di terminal. Gue liat-liat ada tiga moda transportasi yang ready: taksi, songthaew (kayak angkot kalo di sini), sama ojek. Satu lagi, ada Grab Thailand juga.

Otak gue yang udah mulai bisa dipaksa mikir itu langsung ngasih ide:

“Cuy, ke hostel aja dulu. Siapa tau bisa early check in, naro tas, sama ngangetin badan at least sampe ada matahari, lah.”

Iya, gue agak gambling. Karena waktu itu seinget gue, hostel gue nggak nyediain fasilitas early check in. Yah, maklum, namanya juga hostel backpacker dengan rate 200K semalem. Haha.

Deal, tujuan utama ke hostel dulu. Bisa early check in apa nggak urusan belakangan. Setelah itu, gue mikir lagi: gue naik apa nih ke hostel? Langsung, gue cek aplikasi Grab Thailand. Niatnya mau naik Grab Car sama nyari ongkos yang fixed supaya nggak kena tembak. Tapi ternyata, harga Grab Car pagi itu sekitar 150 Baht lebih alias kalo dirupiahin dengan kurs Rp475 jadi sekitar Rp72.000. Gue lupa jarak dari terminal ke hostel berapa KM, tapi saat itu gue mikir harga ini mahal & nggak make sense. Ya make sense-nya karena hujan jadi lebih mahal.

The power of solo trip kayak yang gue bilang sebelumnya, nggak tau gue kerasukan apa. Gue milih skip & tutup aplikasi Grab, terus nekat nyamperin bapak-bapak taksi yang lagi pada ngumpul dan nyari penumpang. Padahal gue tau most likely, ini bakalan nembak argonya. Dan bener.

Pertama, gue langsung nanya khas turis:

“Excuse me, can you drive me to this hostel?” Kata gue, sambil nunjukin peta & nama hostel dalam bahasa Thailand. Lucky me, si bapak supir taksi yang gue tanya langsung tau dan jawab “oh yes, 100 Baht to this hostel.” Dalem hati: waw, berkah nekat & berinteraksi dengan warga lokal. Haha.

Kalo dibandingin Grab Car yang gue cek tadi harganya, jelas ini lebih murah. Gue bisa sampe ke hostel dengan ongkos hanya Rp47.500 saja! Pelajaran yang bisa diambil di sini: tidak semua harga tembak akan merugikan kita. 😄

Tidak ada perdebatan deal or no deal lagi, langsung aja gue naik dan bilang “ok, let’s go!”

Gue udah kedinginan dan laper, bos.

Duduk di depan bareng pak supir, gue sungguh menikmati jalanan kota Chiang Rai pagi itu. Lenggang, sepi, dan damai. 30 menit perjalanan, gue udah sampe depan Hostel Baan Mai Kradan.

Apakah gue bisa early check in? Jelas tidak. Haha. 🙂

Karena penghuni kamar gue belum keluar/checkout pagi itu, makanya nggak bisa. Tapi, staf hostel super baik. Gue dibolehin titip barang (kalo ada) dan langsung sarapan di ruang tamu. Sampe di hostel jam 9, gue numpang duduk, sarapan, dan bengong kurang lebih sampe jam 10. Kalo mau check in, ya mesti nunggu sampe jam 2. Yang mana ini tidak make sense dan ngapaaaain, brou?

Karena nggak mau nunggu sia-sia, gue memutuskan untuk lanjut jalan ke Wat Huay Pla Kang jam 10.30 pagi itu dari hostel. Ini super spontan, asli. Lalu, pertanyaannya: apakah gue harus nyewa motor? Atau naik ojek ke sana?

Lanjut Naik Grab Bike Thailand ke Wat Huay Pla Kang

Grab Bike Thailand

Pas ngetrip ke Chiang Mai, kota di sebelahnya Chiang Rai, tahun 2018, gue sempet sewa motor untuk keliling dan naik-naik ke puncak gunung. Tapi, kali ini gue mengurungkan niat untuk kembali sewa motor karena gue kelupaan bawa SIM (SIM Indonesia berlaku di ASEAN) dan kota Chiang Rai itu banyak wilayah perbatasan dengan negara tetangga, Laos & Myanmar. Daripada kena checking polisi di perbatasan soal urusan administratif dan jadi ribet?

Akhirnya, gue pilih buat nyoba naik ojek alias Grab Bike ke Wat Huay Pla Kang. Dengan ekspektasi, semoga harganya udah make sense karena jam 10 pagi itu udah nggak ujan dan matahari udah muncul. 5 menit setelah order Grab Bike, gue dapet driver dengan tarif 83 Baht atau sekitar Rp40.000 untuk menuju Wat Huay Pla Kang. Bener-bener first time experienced gue ngojek dan pake Grab di negara orang. All smooth!

Chiang Rai emang kota yang sepi banget, bedalah sama Chiang Mai. Tapi surprisingly, nemu Grab Car atau Grab Bike di sini gampang banget. Ditambah, selama gue nyoba Grab di sana, gue selalu dapet supir yang bisa bahasa Inggris & paham orderan gue mau ke mana.

Sama seperti perjalanan gue ke hostel dengan taksi argo tembak, gue juga sungguh-sungguh menikmati perjalanan ngojek ke Wat Huay Pla Kang yang ada di tengah pegunungan di Chiang Rai. Lebih malah. Naik ojek di Chiang Rai yang sepi lebih asik daripada naik mobil, ternyata. Life was very YOLO back then.

Agak lupa detail obrolannya gimana, tapi yang pasti, gue dengan bapak driver ojek menuju Wat Huay Pla Kang waktu itu sempet ngobrol sedikit. Standar, tentang gue dari mana, sama siapa dateng ke Chiang Rai, sekalian gue konfirm kalo ternyata Grab di Chiang Rai itu gampang dapetnya. Haha. Endingnya pas udah deket lokasi, bapak driver ngasih tau gue kalo gue bisa makan gratis di kuil. Beliau juga nunjukin langsung tempat di mana gue bisa makan gratis. Matur nuwun sanget, pak!

Tentang Wat Huay Pla Kang di Chiang Rai

Guan Yin Chiang Rai

Wat Huay Pla Kang adalah salah satu landmark yang populer dan terbilang baru di Chiang Rai. Kabarnya, kuil ini mulai berdiri keseluruhan dan terbuka untuk umum sejak tahun 2016. Berlokasi di wilayah pegunungan Muang, Chiang Rai, Wat Huay Pla Kang dulunya hanya terdiri atas 1 bangunan kantor khusus untuk biksu (tahun 2001), sebelum akhirnya berkembang sampai semegah sekarang ini.

Banyak orang sering salah sebut kuil ini sebagai “Chiang Rai’s Big Buddha Temple”. Padahal faktanya, patung yang ada di kuil ini bukan patung Buddha, tetapi patung Dewi Kwan Im atau Guan Yin, Sang Dewi Welas Asih.

Goddes of Mercy

Chiang Rai Buddha Statue

Dalam ajaran Buddhisme Mahayana, Guan Yin atau Kwan Im adalah Bodhisattiva, yaitu seseorang yang telah mendapat dan mencapai pencerahan. Namun, beliau memutuskan untuk mendedikasikan dirinya demi memperjuangkan kebahagiaan dan kesejahteraan makhluk lain yang masih menderita dan sengsara, alih-alih memilih memasuki nirwana.

Mahayana adalah salah satu aliran atau gerakan dari agama Buddha yang muncul di India sejak era umum/Masehi pada awal abad ke-9. Sejak itu juga, aliran atau ajaran ini mulai mendominasi kultur Buddha di Asia Tengah dan Asia Timur, dan menyebar hingga ke Asia Tenggara. Terutama Myanmar dan Sri Lanka.

Chiang Rai sendiri merupakan kota paling utara di Thailand yang salah satunya berbatasan langsung dengan Myanmar. Nah, bagian utara Thailand, terutama wilayah Chiang Mai, dulunya adalah pusat dari Kerajaan Lanna.

Sebagai informasi, Kota Chiang Mai dan Kota Chiang Rai ini bersebelahan, ya. Sama-sama di utara Thailand. Bedanya, Chiang Rai itu disebut sebagai “The Northernmost City in Thailand” alias kota paling ujung-banget-utaranya Thailand. Makanya, Chiang Rai berbatasan langsung sama Laos dan Myanmar. Dibelah sama Sungai Mekong.

Soal perbatasan ini, gue udah sempet nulis cerita perjalanan gue ke Golden Triangle Thailand secara khusus. Monggo kalo mau baca di sini: https://spotwisata.com/golden-triangle-dan-opium/

Dari Chiang Mai ke Chiang Rai, kurang lebih makan waktu 2-3 jam kalau lewat darat atau pake bis. Persis Jakarta – Bandung. Waktu ke Chiang Mai tahun 2018 lalu, gue sendiri belum sempet ngunjungin Chiang Rai.

Karena udah dateng ke Chiang Rai 2019 lalu, gue bisa bandingin kalo Chiang Rai dan Chiang Mai ini bisa dibilang beda banget. Chiang Mai itu udah kota turis dan cukup ramai, tapi masih super autentik dan khas. Kayak Jogja atau Malang kalau di Indonesia.

Sementara Chiang Rai, masih sepi banget dan menurut gue masih jarang turis yang destinasi utamanya direct ke Chiang Rai dari Bangkok. Rata-rata turis yang dateng ke kota ini, biasanya destinasinya ke Chiang Mai dulu, baru besoknya 1 day trip ke Chiang Rai pake tur atau travel van.

Background historis dan kultur tersebut, berpengaruh ke arsitektur dari bangunan kuil Wat Huay Pla Kang. Iya, kuil magis yang satu ini dibangun dalam gaya Thai-Lanna yang berpadu dengan banyak elemen arsitektur Tiongkok. Mulai dari segi warna bangunan kuil yang didominasi putih, kuning, emas, hijau, dan merah; sampai ke patung naga raksasa dan Pagoda khas Tiongkok yang ada di kompleks kuil Wat Huay Pla Kang.

Detail Kompleks Kuil Wat Huay Pla Kang di Chiang Rai

Wat Huay Pla Kung Chiang Rai

Sejak di Grab Bike alias ojek menuju kuil ini, gue udah mulai takjub karena sepanjang jalan sekitar 5 menitan lagi sampe, gue udah bisa liat megahnya patung Dewi Kwan Im dari jauh yang dikeliling area perbukitan.

Pas sampe di lokasi, sambil bayar ojek, gue ada bengong dulu sekitar 5 detik karena terkesima sama pesona kompleks kuil Wat Huay Pla Kang yang megah dan cerah. Ditambah, cuaca pasca hujan waktu itu super duper terik. Asli, ini kuil makin cantik dan ciamik!

Sepengamatan gue saat itu, kompleks kuil Wat Huay Pla Kang ini terdiri atas 3 bangunan utama, yaitu:

1. Area Bangunan dan Patung Dewi Kwan Im

Kwan Im Thailand

Bangunan ini jelas yang ternyentrik di kompleks kuil Wat Huay Pla Kang: udah keliatan jelas dari jauh dan seolah-olah manggil-manggil buat dikunjungin.

Patung Dewi Kwan Im ini jugalah yang kabarnya menjadi daya tarik utama bagi banyak turis mancanegara, terutama Tiongkok dan Vietnam, buat datang ke Chiang Rai dan beribadah di kuil ini.

Di bagian tangga bangunan patung Dewi Kwan Im, ada sepasang patung naga raksasa putih yang menjadi dekorasi tangga utama menuju tempat peribadatan.

Dragon Statue Chiang Rai

Chiang Rai Temple

Wat Huay Pla Kung Chiang Rai

Chiang Rai Temple

Bukan cuma sosok Dewi Kwan Im dan warna putihnya aja, patung naga raksasa dan beberapa patung lainnya yang ada di sekitar bangunan juga merupakan bagian dari representasi mitologi Buddha sekaligus elemen utama dari arsitektur tradisional Tiongkok.

Kwan Im atau Guan Yin adalah Dewi Welas Asih, Pemaaf, dan Penyayang. Sementara ikon naga dalam kepercayaan Tiongkok mengandung simbol harapan, kemakmuran, serta kebahagiaan. Dari sini, gue pribadi cukup relate sama makna dari bangunan dan detail arsitekturnya.

Wat Huay Pla Kung

Baik masyarakat lokal maupun turis sangat menghormati Wat Huay Pla Kang. Selain dijadikan tempat ibadah, juga sekaligus dijadikan tempat buat berlatih Dhamma. Bahkan, ada kepercayaan setempat: siapa pun yang berdoa di kuil ini niscaya akan mendapat kesehatan yang baik dan kesejahteraan materi. Amen? Amen!

Ngomong-ngomong, kalo lo liat gambar patung Dewi Kwan Im di atas, di bagian kening ada satu bulatan hitam. Yang mana bulatan tersebut adalah jendela yang bisa membawa kita buat ngeliat pemandangan di sekitar pegunungan lokasi Wat Huay Pla Kang.

Guan Yin Temple

Wat Huay Pla Kang

Wat Huay Pla Kang

Yak, kita bisa naik ke bagian kepala patung, tepatnya ke lantai 25, lewat lift yang sudah disediakan pihak kuil. Biayanya sekitar 40 Baht atau Rp20.000. Gue sendiri nggak sempet naik ke atas waktu itu karena datang bertepatan dengan jam makan siang. Kalo nggak salah, loket tiketnya ditutup sementara.

Gue juga nggak begitu minat buat naik & liat. Karena dengan naik ke bagian area Patung Dewi Kwan Im aja, pemandangannya udah super bagus.

Wat Huay Pla Kung

Oh iya, Wat Huay Pla Kang itu luas banget ya. Jadi, kalo misalnya kita capek keliling naik-naik bukit dan kuil, tinggal naik mobil keliling gratis warna pink ini aja. Tapi, nunggunya agak lama. Ya maklum, namanya juga gratis. Haha.

2. Bangunan Pagoda atau Stupa 9 Tingkat

Pagoda Chinese Chiang Rai

Di sebelah area bangunan Patung Dewi Kwan Im, ada Pagoda 9 Tingkat yang kalo diliat sekilas aja, gaya arsitektur Tiongkok-nya sangat mendominasi. Mulai dari detail bangunan, warna, sampai ke sepasang patung naga yang jadi dekorasi tangga utama.

Pagoda Chinese Chiang Rai

Pagoda Chiang Rai

Bangunan pagoda ini bisa dibilang unik karena di Thailand, jarang ada pagoda atau stupa yang terdiri atas banyak tingkat dan kombinasi warna seperti yang ada di kompleks Wat Huay Pla Kang.

Rata-rata stupa di Thailand biasanya terdiri atas 1 – 3 tingkat dan warna keseluruhannya emas. Contohnya kayak yang ada di Grand Palace Bangkok, cerita kunjungan gue ke Grand Palace bisa dibaca di sini: https://spotwisata.com/berkunjung-ke-grand-palace-bangkok/

3. Bangunan Tempat Peribadatan

Berlokasi di tengah dan diapit antara Patung Dewi Kwan Im dan Pagoda 9 Tingkat, bangunan tempat peribadatan di Wat Huay Pla Kang juga dijaga oleh sepasang patung naga putih di tangga utamanya. Di dalam bangunan, ada patung Buddha raksasa berwarna putih mengkilap yang dibuat dari porselain.

Wat Huay Pla Kung

Sekilas, bentuk bangunan tempat ibadah ini mirip banget sama Wat Rong Khun atau Kuil Putih yang juga ada di Chiang Rai. Nanti kapan-kapan, gue ceritain soal Wat Rong Khun juga ya. Di mana yang menarik dari Wat Rong Khun bukan hanya detail arsitekturnya, tetapi juga cerita dan filosofi di balik setiap detail dan elemen bangunannya.

Nyobain Makanan Gratis di Wat Huay Pla Kang

Makanan gratis di kuil

Jam 10.50 sampe di lokasi, nggak kerasa gue udah keliling kompleks kuil selama 1,5 jam. Yes, jalan kaki. 12.30, gue udah kelaparan dan bekal minum udah mulai abis. Akhirnya, gue turun dari kuil dan mulai gerilya cari outlet makanan. Sayangnya, karena berlokasi di tengah area pegunungan, seinget gue saat itu nggak banyak toko atau penjual makanan di Wat Huay Pla Kang. Cuma ada satu toko atau outlet minuman yang menunya lumayan variatif dan harganya standar.

Dapur umum di kuil

Satu yang menarik perhatian gue saat itu adalah “dapur umum” tempat buat ambil makanan gratis, sesuai yang dibilang bapak driver Grab Bike gue di awal. Bukan cuma makanan, ada juga area buat isi ulang air mineral dingin gratis. Standar kuil pada umumnya yang memang menyediakan makanan atau snack gratis buat pengunjung.

Makanan gratis di kuil

Menu makanan waktu itu, semacam mie pipih dan lebar kayak kwetiau, yang dikasih kecap dan disajikan dengan bumbu kaldu kental, sayuran rebus, dan bubuk cabe kering khas bumbu Thailand. Sederhana banget, tapi juga enak banget. Kemungkinan besar, karena gue juga udah lapar banget. Haha. Ini kedua kalinya gue nyoba makan makanan gratis di kuil. Yang paling bikin bersyukur adalah air putih dinginnya itu. Seger banget bos. 😆

10 menit makan, sisanya gue keliling-keliling area bawah kuil yang makin sore makin ramai didatangi pengunjung. Tadinya, gue mau coba sampe sore atau kalo bisa sampe malam di kuil ini. Penasaran, pengen liat gimana kompleks Wat Huay Pla Kang di waktu malam yang pastinya lebih bersinar karena dikeliling lampu-lampu.

Tapi, berhubung gue ke sini naik Grab Bike dan Chiang Rai kota yang sepi, gue khawatir baliknya malah susah. Haha. Nggak lucu kan kalo gue mesti jalan kaki di kampung orang berkilo-kilo buat ke hostel karena nggak ada transportasi?

Akhirnya sekitar jam 1 karena udah mulai mendung lagi juga, gue mutusin buat balik ke hostel dan check in. Perginya naik Grab Bike, pulangnya juga gue pesen Grab Bike karena nggak ada opsi transportasi lain yang possible. Kurang dari 10 menit, gue udah dapet Grab Bike menuju hostel.

Sampe di hostel jam 2 sorean, gue mutusin hari itu udahan dulu eksplornya. Baru berasa super capeknya 12 jam perjalanan darat di bis, langsung ke Wat Huay Pla Kang pula nggak pake istirahat. 😅

Oh iya, hostel gue ini, Baan Mai Kradan, super duper homey sekali. Nggak jauh dari pusat kota Chiang Rai dan juga outlet makanan. Hanya aja, seperti yang gue bilang, Chiang Rai adalah kota yang sepi.

Tapi, berhubung gue nginep di hostel yang banyak turis, lokal maupun internasional, kunjungan gue ke Chiang Rai saat itu bener-bener ngasih pengalaman gue buat hidup seperti orang lokal. Bahkan, buat beli makan malam ke area pusat kota, gue jalan kaki sekitar 30 menit santai sendirian udah kayak mau ke warung deket rumah mau beli telor sama indomi. Haha.

Di lain waktu, nanti gue mungkin akan cerita & review juga soal hostel-hostel yang gue inapin selama solo trip 9 hari gue di Thailand kemarin. Nggak ada yang zonk! Murah, berkualitas, strategis, dan atmosfernya bener-bener feels like home. Siapa tau bisa jadi rekomendasi lo yang pasca pandemi nanti pengen eksplor Thailand.

Adios! 😄

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *