Pengalaman Pertama Terbang dengan Nok Air dari Bandara Mae Fah Luang Chiang Rai

Nok Air

Jujur aja, akhir-akhir ini, saya lagi kangen banget sama suasana bandara & onboard di pesawat. Sebelum pandemi, di akhir Januari 2020, saya masih ke luar kota karena ada urusan kerjaan dari kantor. Yang buat traveling, biasanya memang setahun sekali sekalian ngabisin cuti. Terakhir di November 2019, rute yang saya tempuh JKT-BKK-JKT direct pakai Garuda & CEI (Chiang Rai) ke DMK (Don Mueang) pakai Nok Air.

Karena menulis adalah bagian dari terapi & bisa mengatasi rasa kangen, ya udah deh sekalian aja saya ceritain pengalaman terbang saya pertama kali dengan Nok Air. Pesawat LCC (Low Cost Carrier) dari Thailand yang armadanya (livery) punya desain unik & beda daripada yang lain. 🤗

Waktu itu, saya naik Nok Air untuk pulang dari Chiang Rai ke Bangkok dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 30 menit. Mirip dengan penerbangan Jakarta ke Malang dan sebaliknya. Karena pergi ke Chiang Rai udah naik bus selama 13 jam, buat pulangnya saya pilih yang praktis & cepat aja pakai pesawat. Udah capek soalnya, bos! Hehe. Nah, alih-alih beli tiket pesawat LCC populer kayak AirAsia atau Thai Lion Air, saya malah milih Nok Air. Kenapa sih? Nggak takut dapat bad experience, emang?

Alasannya simple aja: saya tertarik sama desain bodi pesawat Nok Air yang unik & menonjol. Didominasi warna kuning terang dengan logo paruh burung yang juga dijadikan sebagai desain utama bagian kepala pesawat. Dalam bahasa Thailand, “Nok” sendiri artinya memang burung. Dari kejauhan/di landasan terbang, pesawat Nok Air terlihat cukup mencuri perhatian & memikat. Tapi, apakah sebanding dengan pelayanannya?

Justru itu, prinsip saya sih, kalau nggak dicoba dan dibuktikan sendiri, saya nggak bakal tau. Apalagi waktu itu saya sempet sedikit maju mundur mau beli tiket pulang naik Nok Air. Sebab, di beberapa forum traveling seperti TripAdvisor, rating Nok Air terbilang kurang bagus. Belum lagi dibarengi dengan berbagai komentar negatif dari orang-orang yang pernah menjadi penumpang.

Bener nggak, sih?


Nekat Beli Tiket Nok Air Rute Chiang Rai ke Don Mueang Lewat Traveloka

Nok Air Traveloka

Saya sih nothing to lose aja. Kalau dapet good experience ya bagus, kalau dapet bad experience ya dijadiin pelajaran. Sebagai traveler, saya sebenernya juga khawatir kalau-kalau pesawat delayed lama atau bahkan sampai dibatalkan dan saya harus refund. Ribet lagi urusannya. Sementara lusa, saya sudah harus terbang & pulang ke Jakarta lagi. Kebayang kan kalau sampai nggak dapet pesawat dalam waktu cepat? Bisa dobel deh ruginya. Haha. 😂

Akhirnya, saya mutusin buat modal nekat & bismillah aja beli tiket Nok Air lewat Traveloka. Nah kebetulan, saya tipe traveler yang nggak suka gambling untuk urusan persiapan akomodasi kayak tiket atau penginapan. Nggak bisa pakai rumus “gimana ntar”. Apalagi buat perjalanan ke luar negeri. Semua udah harus saya siapin jauh-jauh hari sebelum hari keberangkatan. Buat perjalanan ke Thailand kemarin, semua akomodasi udah saya beli 1 bulan sebelum keberangkatan lewat online travel agent: Traveloka untuk pesawat dan hostel & 12go.asia untuk tiket bus.

Kalau di Indonesia, Nok Air ini mirip-mirip dengan Citilink, terutama dari segi pelayanannya. Nah dari sisi harga, lebih mirip murahnya Lion Air & AirAsia. Untuk rute one way dari Chiang Rai (CEI) ke Don Mueang (DMK), Bangkok, saya beli hanya seharga Rp430.000 di Traveloka. Harga tiket ini lebih murah dibanding tiket bus yang saya beli di 12go.asia untuk menuju Chiang Rai: sekitar Rp550.000-an. Namun tentunya, fasilitasnya juga sebanding. Kapan-kapan, saya mungkin bakal cerita juga soal bus dari Sombat Tour yang saya tumpangi menuju Chiang Rai ini.

Saya sendiri emang paling males terbang siang bolong karena panas & silau. Saya juga tipe orang yang lebih suka menikmati penerbangan dengan melihat pemandangan dari jendela atau nonton/dengerin musik di in flight entertainment (kalau naik premium airline). Alih-alih tidur dan menutup jendela pesawat. Kebetulan, waktu itu di Traveloka ada jadwal Nok Air yang sore jam 16.00. Pas, deh! Saya udah kebayang bakalan sebagus apa langitnya kalau terbang jam-jam segitu. Apalagi Chiang Rai kan wilayah pegunungan. Bisa makin ciamik pemandangannya dengan asumsi nggak turun hujan, hehe.


Dari Hostel Baan Mai Kradan Menuju Bandara Internasional Mae Fah Luang Chiang Rai

Hostel Baan Mai Kradan Chiang Rai

Kebetulan, saya menginap di hostel yang letaknya cukup strategis di tengah Kota Chiang Rai: Baan Mai Kradan. Karena bangun siang, di hari ketiga di Chiang Rai, saya nggak sempet eksplor ke mana-mana lagi selain ngaso sebentar buat minum Thai Tea di warung dekat hostel. Jam 1 siang, saya mutusin buat langsung ke bandara naik GrabCar. Padahal, saya belum sempet nyobain Khao Soi, kuliner khas wilayah utara Thailand. Tapi yaa daripada telat, kan. Hehe.

GrabCar Chiang Rai

Nah, Chiang Rai ini, meskipun kotanya terbilang sepi dan belum jadi destinasi wisata utama turis asing, saya tetep gampang banget dapet GrabCar ataupun GrabBike di sini. Waktu mau ke Bandara Mae Fah Luang, saya cuma nunggu sekitar 10 menit pasca booking. Dengan ongkos 136 Baht atau sekitar Rp65.000, perjalanan dari hostel ke bandara cuma memakan waktu 20 menit di tengah lenggangnya kota Chiang Rai.

Karena nyapa & konfirmasi tujuan pakai bahasa Inggris, driver Grab saya waktu itu nanya: “Oh, I thought at first you are Thai, where are you from?” Hahaha, iya, emang muka saya ini bak pinang dibelah dua sama orang-orang asli Thailand. Ya namanya juga masih ASEAN. 😝

Sambil ngobrol-ngobrol kecil sama bapak driver soal Chiang Rai, saya cukup menikmati jalanan yang sepi & lancar jaya menuju bandara. Chiang Rai ini kota yang cocok banget buat meditasi dan jadi escape buat kita yang capek sama segala hiruk-pikuk kota dan kesibukannya. Nyaman & tenang.

Nah, sampai di bandara, karena masih jam setengah 2 siang, saya masih sempat keliling-keliling bandara. Karena belum makan siang, saya jadi jalan-jalan dulu ngeliatin merchant di bandara. Harapannya bisa nemu Khao Soi, kuliner khas setempat yang belum sempat saya coba selama 3 hari 2 malam di Chiang Rai.

Mae Fah Luang Chiang Rai International Airport

Mae Fah Luang Chiang Rai International Airport

Khao Soi House at Chiang Rai Airport

Emang dasar kalau rejeki nggak ke mana, saya nemu Khao Soi House, dong! Salah satu merchant makanan di Bandara Mae Fah Luang—yang sesuai namanya—specialty dish-nya adalah Khao Soi. Nggak pakai mikir 2 kali, langsung deh saya coba. Soalnya, kalau makan Khao Soi bukan di Chiang Rai/utara Thailand, udah beda lagi nuansanya. Jadi, saya nggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini (lagi). Hehe.

Khao Soi Menu

Khao Soi ini sendiri sebenarnya makanan khas dari tiga negara sekaligus: Thailand (bagian utara), Laos, dan Myanmar. Khao Soi adalah semacam mi kari (berkuah santan) dengan isian daging (bisa babi atau sapi), telur rebus, daun bawang, dan dikasih taburan mi telur krispi dan daun bawang di atasnya. Tapi, kalau di lidah saya sendiri, Khao Soi yang saya makan rasanya lebih mirip kari daging. Santannya dominan dengan mi kuning gepeng mirip kwetiau yang lembut. Khao Soi ini disajikan dengan acar ketimun, bawang, dan potongan jeruk nipis. Kalau suka pedas, di meja juga tersedia bubuk cabe yang bisa ditambahin ke mangkuk, khas sajian Thailand. Kalau kita di Indonesia kan, biasanya sambel ya.

Khao Soi Chiang Rai

Apakah enak? Buat saya enak, tapi bikin begah. Mungkin karena santannya yang banyak dan porsi yang saya pesan itu ternyata besar banget. Karena makannya di bandara, harga Khao Soi yang saya pesan waktu itu lumayan mahal 178 Baht atau sekitar Rp85.000-an. Tapi tetap worth karena porsi dan dagingnya besar-besar. Saya juga jadi nggak penasaran lagi sama rasa Khao Soi!


Proses Check In sampai On Boarding Pesawat Nok Air di Bandara Mae Fah Luang Chiang Rai

Check In Counter Chiang Rai Airport

Selesai makan Khao Soi karena udah jam setengah 3, saya langsung ke konter check-in Nok Air untuk nyetak boarding pass. Kebetulan, malamnya saya udah web check in lewat website Nok Air langsung. Nggak bisa lewat Traveloka karena opsi Nok Air waktu itu nggak tersedia.


Web Check In Nok Air Bisa Pilih Kursi (untuk 1 Hari Sebelum Keberangkatan)

Web Check In Nok Air
Check-in melalui website Nok Air. Sumber gambar: nokair.com

Nah, yang istimewa buat saya, Nok Air ini meskipun LCC, saya tetap bisa check-in lewat website sambil pilih kursi! Gratis pula. Sebagai window seat person, saya seneng banget, dong! Biasanya kalau di LCC kayak Citilink atau AirAsia, kalau kita nggak beli kursi ya bakalan dikasih random pas check-in. Alih-alih beli kursi, saya juga biasanya cenderung pasrah aja kalau naik LCC. Paling sering dapet kursi tengah atau aisle, jarang banget dapet window seat. Dari sini, poin +10 buat Nok Air. Dengan harga tiket Rp430.000 tanpa additional apa pun, bisa pilih kursi, itu wow & worth sih buat saya.

Boarding Pass Nok Air

Nok Air Entry Boarding Room

Habis check in dan dapet boarding pass, saya langsung lanjut ke boarding room. Karena waktu itu hari Jumat sore, besoknya weekend, Bandara Mae Fah Luang lumayan padat & ramai waktu itu. Bandara Mae Fah Luang ini adalah bandara internasional yang melayani rute internasional ke kota-kota di Tiongkok salah satunya Hangzhou. Mirip Bandara Internasional Juanda di Surabaya.

Nah, yang menarik, di boarding room, lagi-lagi saya disapa/diajak ngobrol sama orang asli Thailand pakai bahasa Thailand. Haha. Pas saya jawab pakai bahasa Inggris, baru deh si mbak tau saya bukan orang lokal. Si mbaknya ini nanya, dia bener atau nggak ada di gate untuk boarding Nok Air ke Bangkok? Akhirnya kita ngobrol-ngobrol dikit sambil nunggu boarding. Si mbak juga nanya, kok saya nggak lanjut ke perbatasan Myanmar? Katanya, di sana barang belanjaannya bagus-bagus & murah. Si mbaknya sendiri habis dari Myanmar dan beli beberapa barang yang menurut dia bagus sambil ditunjukin ke saya. 😄


Desain Bodi Pesawat yang Unik & Kabin yang Terawat

Nok Air Livery

Nok Air cabin inside

Penerbangan saya waktu itu jam 16.10 waktu setempat. Nah, sekitar jam 15.45 saya udah berdiri di barisan seat 46-61 untuk masuk pesawat. Artinya, penerbangan Nok Air DD-8719 rute Chiang Rai – Bangkok yang saya tumpangi waktu itu tepat waktu! Poin +10 lagi deh buat Nok Air. Kekhawatiran saya tentang delayed apalagi sampai nggak ada kejelasan, nggak kebukti.

Nok Air Mae Fah Luang Chiang Rai Airport

Waktu itu, karena masuk pesawat Nok Air nggak lewat garbarata, saya jadi bisa liat langsung desain bodi pesawat Nok Air berbentuk kepala burung yang didominasi warna kuning dan pink. Ini pertama kalinya saya ngeliat pesawat yang punya desain “beda” kayak gini alih-alih pattern abstrak, logo, atau dominasi warna brand semata. Berasa mau siap-siap naik burung terbang. Hahaha.

Safety instruction card Nok Air

Sepengamatan saya, kabin pesawat Nok Air waktu itu cukup bersih dan terawat. Saya juga merhatiin jendela pesawat yang biasanya berdebu & ada goresan-goresan. Tapi saya nggak nemuin itu di Nok Air. Jendelanya cukup bersih & bikin foto-foto yang saya ambil jadi jernih juga.


Legroom & Sandaran Kursi Nok Air yang Cukup Lega & Nyaman

Nok Air Legroom

Nok Air DD-8719 yang saya tumpangi waktu itu menggunakan pesawat Boeing 737-800 dengan formasi/layout seat 3-3. Seat pitch atau jarak antara kursi dengan kursi di depannya adalah sekitar 30 inci. Yang saya tau, untuk pesawat LCC lain, seat pitch biasanya antara 28-29 inci. Dengan seat pitch 30 inci, otomatis legroom seat Nok Air jadi lebih lega. At least buat saya yang tingginya 157 cm ini. Karena saya pribadi pernah naik pesawat LCC yang mana lutut saya sampai mentok ke kursi depan. Dan itu nggak nyaman banget. Perpaduan legroom yang pas dan sandaran kursi yang nyaman, saya cukup senang sih bisa naik Nok Air waktu itu. Apalagi harga tiketnya termasuk murah. +10 lagi!


Gratis Refreshment Air Mineral 100 ML

Mineral water refreshment Nok Air

Bukan cuma itu aja, saya lumayan kaget 15 menit pasca take-off, pramugari di pesawat ngasih air mineral 100 ML gratis buat semua penumpang. Pengalaman saya naik LCC lain, kalau kita nggak beli atau nggak bawa dari bandara, ya nggak bakal ada snack atau sekadar air. Saya pun juga tahu diri & nggak berekspektasi apa-apa kalau beli tiket LCC. Asalkan tepat waktu aja, udah cukup. Awalnya iseng mau nyobain LCC asli Thai buat jalan-jalan di Thailand sendiri, eh malah berujung saya terkesan banget sama Nok Air ini! Haha. 😆

Fly with Nok Air

Karena jam terbangnya sore, selama penerbangan, mata saya terus-terusan dimanjain sama warna langit yang gradasinya keren & cantik banget! Ngeliat sunset dari atas langit adalah goal!


Landing di Bandara Internasional Don Mueang Bangkok

Fly with Nok Air

Nok Air landing at Don Mueang Bangkok Airport

Nggak berasa satu setengah jam berlalu, penerbangan saya pun selesai dan landing di Bandara Internasional Don Mueang, Bangkok. Saya sangat menikmati penerbangan sore hari itu dengan Nok Air karena pemandangannya bikin takjub, terutama gradasi sunset-nya yang oranye & pink. Jadi aja satu setengah jam saya cuma bengong ngeliatin ke luar jendela sambil sesekali ngambil foto. Emang waktu terbang terbaik buat short haul itu ya sore sih. Terutama kalau kita lagi nggak diburu-buru waktu.

Don Mueang Airport

Don Mueang Airport

Btw, kenapa sih landingnya di Bandara Internasional Don Mueang, bukan Suvarnabhumi? Nah, buat teman-teman yang belum tahu, Don Mueang ini emang dikenal sebagai bandara-nya backpaker dan diperuntukkan bagi pesawat-pesawat LCC. Kalau Suvarnabhumi, dikenal sebagai bandara internasional yang melayani penerbangan dengan pesawat-pesawat premium (full service) seperti Thai Airways atau Garuda Indonesia. Biaya layanannya juga pasti beda. Kalau di sini, mungkin kayak Bandara Soetta dan Bandara Halim.

Suvarnabhumi Airport
Suvarnabhumi Airport
Suvarnabhumi Airport
Suvarnabhumi Airport
Suvarnabhumi Airport Rail Link
Vending Machine untuk beli tiket Airport Rail Link di Suvarnabhumi.

Kebetulan, saya udah pernah landing dan take off dari Don Mueang maupun Suvarnabhumi. Masing-masing, ada kelebihannya. Suvarnabhumi meskipun jauh dari tengah Kota Bangkok, tapi ada kereta bandara (Airport Rail Link) yang terhubung langsung dengan BTS (Bangkok Sky Train) yang ongkosnya jauh lebih murah (50 Baht) dibanding naik taksi. Nah, kalau bandara Don Mueang ini udah dekat tengah Kota Bangkok, jadi pilihan transportasinya lebih beragam. Ada bus bandara juga yang melayani rute ke beberapa titik/destinasi populer seperti Chatuchak dan Victory Monument. Ongkosnya cuma sekitar 20/30 Baht. Nggak heran kan kenapa bandara ini disebut-sebut sebagai bandaranya backpacker? Hehe.

Don Mueang Airport Bus
Tempat tunggu bus di Bandara Don Mueang.
Bus Don Mueang AIrport
Bus A1 dari Bandara Don Mueang.
Bus Bandara Don Mueang
Tiket Bus A1.

Nok Air Is Totally Worth It!

Kalau pasca pandemi, teman-teman ada yang berencana traveling ke Thailand dan ke kota lain selain Bangkok, Nok Air bisa jadi pilihan pesawat LCC yang bersahabat & worth it. Seperti yang kita tahu, industri penerbangan dan pariwisata adalah yang paling telak terimbas covid-19. Karena itu juga, saya kepikiran untuk nulis artikel review ini sedikit sebagai bentuk support. Semoga, industri penerbangan, pariwisata, dan semua orang yang bekerja & menumpukan hidup di dalamnya, bisa segera pulih & bangkit kembali. Semangat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *