Destinasi Wisata – Spot Wisata https://spotwisata.com Temukan ragam info seputar spot, tips, dan serba-serbi wisata yang menarik, di sini. Tue, 23 Jun 2020 11:18:34 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.3.12 https://spotwisata.com/wp-content/uploads/2019/10/Spot-Wisata-1-150x150.png Destinasi Wisata – Spot Wisata https://spotwisata.com 32 32 Berkunjung ke Grand Palace Bangkok dengan Harga Tiket 500 Baht/240.000, Apakah Worth? https://spotwisata.com/berkunjung-ke-grand-palace-bangkok/ https://spotwisata.com/berkunjung-ke-grand-palace-bangkok/#comments Sun, 31 May 2020 05:55:47 +0000 https://spotwisata.com/?p=729 Mungkin, seperti Monas kalau di Jakarta. Berkunjung ke Grand Palace paling direkomendasikan ketika kita traveling ke Bangkok, Thailand. Di kunjungan pertama saya ke Thailand tahun 2018…

The post Berkunjung ke Grand Palace Bangkok dengan Harga Tiket 500 Baht/240.000, Apakah Worth? appeared first on Spot Wisata.

]]>
Grand Palace Bangkok

Mungkin, seperti Monas kalau di Jakarta. Berkunjung ke Grand Palace paling direkomendasikan ketika kita traveling ke Bangkok, Thailand. Di kunjungan pertama saya ke Thailand tahun 2018 lalu, saya belum sempat berkunjung ke landmark populer Bangkok yang satu ini. Karena waktunya terlalu singkat, cuma 5 hari 4 malam. Saya dan Adia (teman perjalanan saya) pun waktu itu memang lebih fokus ke Chiang Mai daripada eksplor Bangkok.

Saya nggak terlalu kepikiran atau “ngegas” ke sana sini waktu itu sebab saya yakin suatu saat saya bakal balik lagi ke Negeri Gajah Putih ini. Dan benar, kesampaian juga di bulan November 2019. 😁

I rarely fall in love, but when I do, I will enjoy the feeling while I still can.

Iya, jatuh cinta. Mungkin sesederhana itu alasan kenapa saya mau balik lagi traveling ke negara ini, alih-alih memilih destinasi lain. Pertama kali menjejakkan kaki di Suvarnabhumi Aiport di bulan Mei 2018, meski tengah malam karena pesawat saya delayed, saya langsung merasa cukup nyaman & ‘familiar’. Mungkin karena lanskap dan masyarakat Thailand memang nggak jauh berbeda dengan Indonesia. Ditambah, saya mendapat taksi dengan driver yang sangat ramah, sigap, bahasa Inggrisnya lancar, dan care. Masih hangat di ingatan saya, kalimat perpisahan yang dituturkan bapak driver-nya pasca menurunkan saya dini hari di hostel adalah “You take care of yourself, ya. Enjoy Thailand!”.

Singkat dan simple, tetapi cukup berkesan. Bagi saya.

Kali kedua kunjungan saya ke Thailand, 9 hari pula, tentu saya langsung memasukkan kunjungan ke Grand Palace ke dalam itinerary. Nggak lupa saya juga melakukan banyak riset lebih dulu terkait Grand Palace supaya nggak bingung & paham aturan dos and donts-nya. Yang menarik, saya banyak menemukan ulasan di forum traveling yang bilang kalau tiket masuk Grand Palace Bangkok itu kemahalan & nggak worth. Bener nggak, sih?

Berhubung saya emang lumayan suka datang ke tempat wisata bersejarah, saya nggak langsung percaya. Apalagi kalau banyak bangunan dengan arsitektur yang autentik, klasik, dan detail. Nggak perlu pakai mikir dua kali!


Sekilas Tentang Grand Palace Bangkok

Grand Palace Bangkok
Bagian Wat Phra Kaew, Grand Palace, Bangkok.

Dibangun pada 6 Mei 1782 oleh Raja Phutthayotfa Chulalok atau yang dikenal juga dengan Raja Rama I, Grand Palace adalah kompleks istana yang sangat besar dan megah yang juga menjadi tempat tinggal resmi dari raja-raja Siam di masa itu hingga tahun 1925. Seperti Bangkok yang memiliki nama resmi Krung Thep Maha Nakhon, dalam bahasa Thailand, Grand Palace dikenal sebagai Phra Borom Maha Ratcha Wang.

Istana ini sangat kompleks dengan berbagai bangunan di dalamnya, yang total luas areanya mencapai 24 hektar lebih atau sekitar 218.400 meter persegi. Ada bangunan utama istana, kantor & sekretariat kerajaan, kapel, museum, aula dan singgasana, paviliun, halaman rumput, taman, gerbang dan tembok besar yang makin menambah megah kompleks istana.

Grand Palace Bangkok.
Sepotong lukisan yang ada di dinding bagian dalam pintu masuk Grand Palace, Bangkok.

Berdasarkan denahnya, Grand Palace sendiri terdiri atas 35 bagian bangunan yang terpisah. Tapi secara umum, ada 4 bagian utama dari Grand Palace, yaitu:

  1. Area luar Grand Palace,
  2. Area Kuil Emerald Buddha atau Wat Phra Kaew,
  3. Area tengah Grand Palace,
  4. Dan area dalam Grand Palace.
Grand Palace Map
Denah detail Grand Palace, Bangkok. Sumber Gambar: www.royalgrandpalace.th/

Area luar Grand Palace merupakan area tempat masuk pengunjung pertama kali. Di mana pada area ini terdiri atas bangunan kantor tempat urusan dan segala informasi yang terkait dengan Grand Palace dan kerajaan. Kalau nggak salah, di area ini juga terdapat tempat penyewaan pakaian yang “pantas” sebelum beli tiket dan memasuki kompleks istana. Iya, untuk masuk ke Grand Palace, kita harus berpakaian tertutup dan sopan. Nggak boleh pakai celana atau rok pendek dan pakaian yang memperlihatkan bahu, lengan, atau terlalu menonjolkan dada.

Pakaian Grand Palace, Bangkok.
Aturan berpakaian saat kunjungan ke Grand Palace, Bangkok.

Area Wat Phra Kaew atau yang dikenal juga dengan The Temple of Emerald Buddha (area favorit yang ramai pengunjung) adalah kuil Buddha yang dibangun sejak 1783 sejalan dengan tradisi kuno dari Wat Mahathat di Ayutthaya. Tentang Ayutthaya sendiri, saya pernah tulis di sini. Di dalam kuil ini juga terdapat patung Buddha dari batu giok berwarna hijau zamrud (emerald) yang kabarnya disimpan di bagian bawah.

Nah, area tengah merupakan yang paling besar dan penting, karena merupakan area utama yang menjadi pusat istana. Ada rangkaian bangunan Phra Maha Monthien yang menjadi jantung dari Grand Palace sekaligus tempat tinggal dan tidur raja beserta keluarganya dahulu. Ada rangkaian bangunan Phra Thinang Chakri Maha Prasat yang merupakan aula singgasana kerajaan yang bergaya elektik: campuran antara arsitektur Thailand dan Eropa era Renaissance di abad ke-19. Dan ada juga kebun/taman Siwalai yang luas yang pada masa silam digunakan sebagai tempat bermain croquet oleh para wanita kerajaan.

Sementara itu, area dalam istana adalah wilayah khusus yang didiami oleh raja, harem (pelayan), ratu, para selir, dayang-dayang, dan juga anak-anak raja. Di mana pada masa itu, praktik rumah tangga poligami di kerajaan berakhir di masa kepemimpinan Raja Rama VII sekitar awal abad ke-20.

Meski sudah nggak lagi dihuni oleh Raja Thailand, saat ini, Grand Palace masih menjadi tempat diselenggarakannya berbagai acara resmi, upacara kerajaan, dan ibadah bagi masyarakat yang beragama Buddha. Salah satu contohnya adalah ketika Raja Bhumbol Adulyadej wafat. Grand Palace adalah tempat bagi masyarakat untuk memberikan penghormatan terakhir sekaligus mengenang wafatnya Raja Bhumibol satu tahun kemudian.


Harga Tiket Masuk Grand Palace Bangkok

Grand Palace Bangkok Tickets Office

Bagi wisatawan asing atau non-Thai, masuk ke Grand Palace wajib membeli tiket di loket utama seharga 500 Baht per orang. Sementara untuk orang Thailand asli, masuk Grand Palace tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis. Per November 2019 ketika saya ke Thailand, kurs-nya adalah Rp475 per 1 Baht. Jadi, 500 Baht x Rp475, adalah sekitar Rp240.000 untuk masuk ke dalam Grand Palace. Memang cukup mahal dan mirip-mirip harga tiket masuk Dunia Fantasi di di akhir pekan. 😆

Grand Palace main entry
Pintu masuk sekaligus area pengecekan tiket ke Grand Palace.

Banyak juga cerita orang Indonesia yang bisa masuk ke Grand Palace tanpa membeli tiket. Alasannya apalagi kalau bukan karena orang kita memang bak pinang dibelah dua dengan orang Thailand. Ya namanya juga masih sama-sama ASEAN. Hehe. Tapi, kalau saya pribadi sih nggak menyarankan hal ini dilakukan, meskipun kita punya ‘kesempatan’. Apalagi diam-diam ‘menyamar’ dan masuk Grand Palace lewat pintu khusus untuk warga Thai.

Selain sangat nggak etis, ini juga sama dengan tidak mendukung  pemerintah setempat dalam memelihara objek wisatanya. Dengan membeli tiket resmi, artinya kita juga memberi devisa kepada Thailand untuk terus memajukan pariwisatanya. 😁

Nah, sebagai tips, kalau  mau berkunjung ke Grand Palace, usahakan datang dari pagi. Kalau perlu, luangkan satu hari khusus hanya untuk ke Grand Palace aja. Sebab, kompleks istananya benar-benar luas dan nggak cukup dieksplor dalam waktu 1 – 2 jam. Apalagi kalau kita termasuk orang yang suka memerhatikan detail. Karena jujur aja, saya pribadi banyak mematung di beberapa spot cuma buat ngeliatin detail arsitektur bangunan di Grand Palace yang memukau banget! Sayangnya, saya waktu itu kesiangan. Baru sampai di Grand Palace sekitar jam 12, pas lagi terik-teriknya. Jadi nggak semua wilayah Grand Palace bisa saya jangkau.

Jam buka/kunjungan ke Grand Palace adalah mulai dari 08.30 – 16.30. Sementara jam buka loket tiketnya adalah mulai 08.30 – 03.30. Jangan lupa bawa topi dan pakai sunblock terutama kalau berkunjung di musim panas karena asli mataharinya nyengat banget, bos!

Tiket masuk ke Grand Palace

Mungkin kebanyakan orang bakal mikir, kok mahal amat 500 Baht? Emangnya dapat apa atau bisa ngapain aja sih di Grand Palace Bangkok? Weits, tenang. Tiket tersebut bukan untuk kunjungan single ke satu area atau bangunan aja, melainkan juga tiket terusan ke berbagai bagian lain yang menarik di Grand Palace. Di antaranya adalah:

  1. Tiket masuk utama ke seluruh wilayah Grand Palace,
  2. Kuil Emerald Buddha dan Museum Tekstil Ratu Sirikit,
  3. Museum Arts of Kingdoms,
  4. Dan terakhir, menonton pertunjukan Thai Mask Dance di Sala Chalermkrung Royal Theatre. (Yang ini favorit saya, karena pertunjukannya beneran niat dan keren!).

Cara Menuju Grand Palace Bangkok

Stasiun BTS Saphan Taksin Bangkok

Waktu itu, karena saya berangkat dari hostel di daerah Phaya Thai, saya memilih menggunakan BTS dan lanjut naik boat untuk menuju ke Grand Palace. Dari Stasiun Phaya Thai, saya naik BTS menuju Stasiun BTS Saphan Taksin. Kenapa harus Stasiun BTS Saphan Taksin? Karena, stasiun ini adalah satu-satunya yang terkoneksi atau terintegrasi langsung dengan sistem transportasi air di Chao Phraya River. Dari Stasiun BTS Saphan Taksin, kita cuma perlu turun tangga dan jalan sebentar menuju Dermaga Sathorn.

Tiket Perahu Bangkok
Tiket naik perahu di Sungai Chao Phraya, 20 Baht.

Dari dermaga inilah, kita bisa naik perahu untuk menuju Grand Palace dengan harga tiket hanya 20 Baht atau Rp9.500 aja. Tiket ini berlaku untuk perahu biasa yang berwarna oranye ya. Kalau mau naik perahu turis yang lebih fancy dan tingkat dua (bisa duduk di atas), kita bisa pilih Chao Phraya Tourist Boat Hop On Hop Off. Tapi, tentu aja harga tiketnya juga lebih mahal yaitu 60 Baht atau Rp30.000-an.

Chao Phraya River Line
Jalur Sungai Chao Phraya.

Jalur transportasi air di Sungai Chao Phraya sendiri terdiri atas beberapa dermaga pemberhentian yang jadi destinasi wisata utama para wisatawan, yaitu:

  1. Asiatique The Riverfront,
  2. Sathorn,
  3. Iconsiam,
  4. Ratchawongse/China Town,
  5. Yod Pi Man/Pak Klong Taladd/Flower Market,
  6. Wat Arun & Wat Pho,
  7. Tha Chang/Tha Maharaj/Grand Palace,
  8. Pranok/Thonburi/Shiriraj Phimukstan Museum,
  9. Phra Pin Klao/Phra Arthit/Khao San Road.

Bangkok The River City

Dermaga Tha Chang Grand Palace
Turun di Dermaga Tha Chang untuk menuju Grand Palace.

Kalau naik perahu dari Dermaga Sathorn, maka ambil jalur menuju Dermaga Phra Pin/Phra Arthit dan turun di Dermaga Tha Chang (Poin 7). Lalu, tinggal jalan kaki sekitar 15 menit untuk menuju kompleks Grand Palace. Jika ditotal ongkos saya untuk bisa sampai Grand Palace dengan naik BTS + perahu ya sekitar Rp30.000-an. Saya berani jamin kalau jumlah ini bakal jauh lebih murah dibanding kalau kita naik taksi atau grab menuju Grand Palace di tengah kemacetan Kota Bangkok. 😄

Bangkok dikenal sebagai The River City, jadi kalau nggak nyoba transportasi airnya, bakal rugi deh. Soalnya, selain praktis menghubungkan ke berbagai titik destinasi wisata, pemandangan selama naik perahu juga oke lho. Gambar di atas salah satu contohnya. Saya ambil dari perahu oranye menuju Grand Palace. Tips: duduk di pinggir dekat jendela supaya pengalaman naik perahunya lebih mantap karena bisa foto-foto dan menikmati angin sepoi-sepoi. Sesekali juga kecipratan air sungai yang sayang, warnanya coklat & hijau pekat. Banyak sampah juga.


Megah & Ramainya Grand Palace

Pintu masuk Grand Palace
Area pintu masuk utama Grand Palace yang dipadati wisatawan.

Jalan kaki dari Dermaga Ta Chang menuju Grand Palace nggak begitu jauh. Tapi, cuaca saat itu cukup terik dengan langit yang biru terang. Ya iya, saya kan nyampenya jam 12. Hahaha. Beda cerita mungkin kalau saya datang lebih awal. November 2019 lalu, di Thailand masih panas-panasnya. Kalau dari foto di atas, perhatiin aja turis-turis kebagi jadi dua tipe: yang pakai topi & yang pakai payung. Karena nggak mau ribet, saya pilih jadi tipe turis yang pertama. Hehe.

Kunjungan ke Grand Palace

Waktu itu, saya datang hari Senin ke Grand Palace. Dan itu, ramai banget, apalagi akhir pekan. Mulai dari wisatawan asing, lokal, sampai anak-anak sekolah di Thailand yang melakukan kunjungan untuk studi. Dari Dermaga Ta Chang, kita tinggal ikutin aja jalur jalan yang mengarahkan ke Grand Palace. Rata-rata turis yang jalan di wilayah ini sudah pasti mau berkunjung ke sana. Pas sampai di wilayah terluar Grand Palace, dalam hati saya “Buset megah banget!”. Perpaduan luas, kemegahan, dominasi warna putih dan emas bangunan, ditambah biru langit yang mencrang, Grand Palace saat itu bener-bener keren di mata saya!

Oh iya, di kalangan wisatawan asing, Grand Palace juga dikenal sebagai destinasi wisata yang banyak scammer-nya. Modusnya rata-rata menyetop turis di tengah jalan menuju Grand Palace, terus bilang kalau Grand Palace tutup. Nah, sebagai gantinya oknum ini akan menawarkan turis tersebut untuk ke destinasi wisata lain dengan menumpang tuk-tuk yang sudah ditunjuk sang oknum. Apesnya, kalau kita kejebak, kita bakal dibawa keliling-keliling dan konon berakhir di tempat pembelian emas/permata. Di mana, kita harus bayar sewa tuk-tuk selama keliling dan wajib beli emas/permata. Kalau enggak, ya risikonya bisa ngeri juga. Sementara kita, bakal berakhir dengan isi kantong terkuras akibat oknum tersebut.

Saya sendiri udah lama banget baca-baca di forum traveler soal scam ini. Makanya, saya hati-hati banget jangan sampai kena. Selain kabarnya “mengincar” turis bule & oriental look (karena paling bisa dibedakan dengan look turis Asia Tenggara/penduduk asli Thailand sendiri), oknum scammer ini juga melihat atau mengincar turis dari penampilannya. Contoh, biasanya kita kalau jalan-jalan suka gantungin kamera di leher, kan? Nah, yang begini ini udah pasti turis & berpeluang besar jadi sasaran mereka.

Ketika melihat keramaian Grand Palace waktu itu, saya sempet ragu: emang bener ada scam semacam ini? Bodoh banget kalau sampai ada yang kena. Tapi, kemudian, saya melihat banner pengumuman di bawah ini dari kepolisian setempat. Yang mana artinya, saya asumsikan, kepolisian Thailand pun sudah cukup aware dengan masalah scam di wilayah Grand Palace. Maka dari itu, agar tidak berjatuhan lagi korban, dipasang banner sosialisasi di bawah. Cool!

Jam buka Grand Palace Bangkok

Dari pintu masuk utama, kita bakal diarahin ke sebuah kantor/bangunan yang menyewakan/menjual pakaian tertutup. Khusus untuk turis yang datang dengan atasan atau bawahan pendek. Sebab, berpakaian tertutup adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi ketika berkunjung ke Grand Palace. Kalau dirasa pakaian kita sudah memenuhi syarat, maka tinggal langsung jalan aja menuju loket pembelian tiket.

Waktu itu saya pun pakai celana jeans panjang dan kaos oblong biasa. Masih tergolong pantas & bisa masuk tanpa perlu beli baju atau kain penutup tambahan. Nah, di pintu masuk utama, kita bakal masuk lebih dulu ke sebuah galeri terbuka yang bernama Galeri Ramakien.


Galeri Ramakien

Galeri Ramakien Grand Palace Bangkok

Galeri ini cukup besar dan mengelilingi bangunan kuil utama di Grand Palace. Di sepanjang dinding, terdapat lukisan mural yang menggambarkan kisah Ramakien. Sebuah epos Thailand yang diadaptasi dari epos Ramayana, India. Ramakien sendiri bercerita mengenai pertempuran antara Raja Tosakanth yang merupakan raja iblis melawan Raja Rama yang manusia.

Menurut kisahnya, Tosakanth menculik Ratu Sida, istri dari Raja Rama dan dibawa ke Kota Longka. Tosakanth berharap, Ratu Sida perlahan akan jatuh cinta kepadanya, namun ternyata tidak. Akhirnya Tosakanth kembali melakukan pertempuran dengan Raja Rama. Di mana kali ini Tosakanth membawa banyak kerabatnya sebagai pasukan sementara Raja Rama membawa pasukan monyet. Pertempuran dimenangkan oleh Raja Rama yang akhirnya berhasil membawa kembali Ratu Sida ke Ayutthaya, ibu kota Kerajaan Siam pada masa itu.

Lukisan mural di sepanjang dinding Galeri Ramakien ini total memiliki 178 bagian dan kabarnya dibuat di masa pemerintahan Raja Rama I tahun 1782, serta sudah direnovasi berkali-kali. Cara Thailand mempertahankan & menceritakan kembali sejarah & warisan kebudayaannya, memang patut diacungi jempol!

Potongan lukisan di atas adalah Tosakanth atau Raja Iblis yang dikisahkan berperang dengan Raja Rama. Nah, kalau dalam epos Ramayana dari India, Tosakanth adalah Rahwana. Lukisan ini terletak di sebelah kiri persis ketika kita masuk pertama ke Grand Palace sebagai “penyambutan”. Didominasi warna emas, waktu ngeliat langsung, saya lumayan lama berdiri memperhatikan detail lukisan Tosakanth ini. Haha.

Pintu masuk Grand Palace Bangkok

Selain dari eposnya yang mengadaptasi Kisah Ramayana India, mayoritas detail arsitektur bangunan yang ada di dalam Kompleks Grand Palace pun banyak yang mengambil dan dipengaruhi budaya Hindu India. Padahal, seperti yang kita tahu, Thailand adalah salah satu negara dengan pemeluk agama Buddha terbesar saat ini.

Nah di bawah, di pintu masuk ada sekitar 6 patung “The Demon of Guardians” yang menjaga galeri. Beberapa dari patung ini ditempatkan menghadap ke kapel patung Emerald Buddha atau patung Buddha Zamrud dengan tujuan agar menjaganya dari semua roh jahat.

Demon of Guardians Grand Palace, Bangkok.
The Demon of Guardians.
Emerald Buddha
Foto Patung Buddha Zamrud. Sumber Gambar: www.royalgrandpalace.th

Sayangnya, saya sendiri waktu itu nggak sempat menuju bagian bangunan Grand Palace yang ada patung Buddha Zamrud ini. Selain karena keterbatasan waktu, Grand Palace itu luas banget, bos! Letak bangunannya lumayan jauh & kalau nggak salah patung ini pun nggak boleh ‘didekati’. Maka dari itu, sebagai gambaran, saya kasih fotonya yang diambil dari website resmi Grand Palace aja ya. Semoga kebayang!

Sedikit tentang Buddha Zamrud, patung ini sendiri diukir dari batu giok berwarna zamrud yang tinggi atau ukurannya mencapai 66 cm. Dibuat dari Thailand Utara (wilayah Chiang Mai, Chiang Rai, dll), patung ini dianggap sebagai patung Buddha paling penting di Thailand karena sejarahnya yang sudah dibuat sejak abad ke-15. Nah, yang menarik, patung ini punya tiga kostum khusus yang disesuaikan dengan musim, yaitu musim panas, musim hujan, dan musim dingin. Dua kostum pertama dibuat di masa pemerintahan Raja Rama I sementara kostum musim dingin dibuat di masa pemerintahan Raja Rama III. Pengubahan kostum juga dilakukan tiga kali dalam setahun yang upacaranya dipimpin langsung oleh raja.

Patung Cheewok Komaraphat

Bukan cuma itu aja yang menarik, ada juga Patung Cheewok Komaraphat yang duduk dengan menopang sebelah kaki memberikan kesan magis di dekat Galeri Ramakien. Cheewok Komaraphat adalah dokter dari Sang Buddha yang kini dianggap sebagai bapak obat herbal Thailand. Di hadapannya, ditempatkan juga mortar dan batu gerindra yang di masa lampau, digunakan oleh banyak orang untuk menggiling obat yang dipercaya lebih manjur khasiatnya.


The Temple of Emerald Buddha (Wat Phra Kaew)

The Temple of Emerald Buddha

Dari pintu masuk, kita bakal langsung ke bagian bangunan berikutnya yang paling populer dari Grand Palace yaitu The Temple of Emerald Buddha atau Wat Phra Kaew. Kuil yang terletak di area luar istana ini adalah bangunan yang menampung patung Buddha Zamrud. Dibangun sejak periode Sukhothai atau 800 tahun lalu,  yang menarik, kuil kerajaan ini nggak punya tempat khusus untuk tempat tinggal para biksu. Seperti kuil pada umumnya.

Masih dalam kompleks The Temple of Emerald Buddha, kalau yang di atas ini adalah Phra Siratana Chedi. Sebuah stupa emas yang didirikan oleh Raja Rama IV untuk menyimpan dan mengabadikan peninggalan Buddha. Phra Siratana Chedi memiliki bentuk dasar seperti lonceng seperti stupa khas Sri Lanka, yang mayoritas penduduknya juga beragama Buddha. Keren!

Phra Mondop Grand Palace Bangkok
Phra Mondop
Phra Mondop Grand Palace Bangkok
Detail bangunan Phra Mondop yang didominasi warna emas dan hijau zamrud.

Phra Mondop adalah bangunan perpustakaan Buddha yang dibangun pada tahun 1789 di masa pemerintahan Raja Rama I. Kabarnya, di dalam perpustakaan ini terdapat lemari buku berbahan permata yang besar dan indah tempat menampung tulisan-tulisan atau naskah suci Buddha.

Gambar di atas adalah sebuah patung Kinnara & Kinnari, yang berdiri kokoh di wilayah The Temple of Emerald Buddha. Dalam mitologi Buddha, Kinnara dan Kinnari adalah makhluk setengah manusia dan setengah burung yang baik hati dan diyakini berasal dari Pegunungan Himalaya. Kinnara dan Kinnari juga dipercaya adalah pengawas dari segala aspek kesejahteraan kehidupan manusia. Sementara dalam mitologi Hindu, Kinnara digambarkan sebagai makhluk surgawi yang sosoknya sebagian manusia, sebagian kuda, dan sebagian lagi burung. Namun, pada intinya, karakter makhluk ini di kedua mitologi sama: baik & membawa keberkahan bagi manusia. 😇

Detail bangunan Grand Palace Bangkok

Detail bangunan Grand Palace Bangkok

Saya lumayan takjub & terkesima sendiri pas ngambil gambar di atas. Detail bangunan yang rumit, perpaduan warna yang vivid tapi pas, dan tinggi bangunan yang menjulang, Grand Palace ini tanpa kita tahu sejarahnya pun udah keren banget emang! Saya sempat juga masuk ke dalam kuil Buddha-nya. Waktu itu, kalau nggak salah sedang ada aktivitas beribadah/berdoa yang dilakukan para Biksu. Warga lokal dan juga turis banyak juga yang ikutan berdoa di belakang para Biksu ini. Tapi, nggak boleh difoto, divideoin, & kita harus respek (nggak boleh berisik/berkerumun berdekatan orang yang beribadah) selama ibadah tersebut berlangsung. Foto keempat di atas kalau nggak salah ingat adalah detail arsitektur bagian dalam kuil.


Bangunan Inti Istana Kerajaan

Area inti istana Grand Palace yang bergaya elektik

Setelah dari The Temple of Emerald Buddha, bangunan selanjutnya yang bisa dikunjungi adalah Chakri Maha Prasat Hall, atau yang menjadi inti dari bangunan istana kerajaan. Semua yang berkaitan dengan Dinasti Chakri, ada di sini. Bangunan ini adalah kediaman kerajaan yang dibangun oleh Raja Rama V di tahun 1877. Kalau teman-teman lihat, sekilas desainnya memang bergaya ala-ala kerajaan Inggris sedikit karena arsiteknya pun ternyata memang dari Inggris: John Clunish.

Chakri Maha Prasat

Tapi, kemudian, Raja Rama V meminta tiga kubah di atas bangunan untuk diganti menjadi bergaya Prasat atau istana khas bangsa Khmer dan Thai. Maka dari itu, bangunan ini pada akhirnya dibuat dengan berpadu dalam dua gaya: Eropa (abad ke-19) & Thailand. Kalau dulu, Raja Rama V tinggal di bangunan ini, sekarang, bangunan ini diperuntukkan menjadi tempat perjamuan bagi tamu negara. Di bawah ini adalah foto Chakri Maha Prasat dari sudut yang lain. Dari sudut mana aja, emang bikin takjub sih!

Nah, di sebelah Chakri Maha Prasat, ada juga Dusit Maha Prasat Hall. Bangunan di foto di bawah ini adalah sebuah aula yang bertingkat dan besar yang kini difungsikan sebagai tempat persemayaman atau peristirahatan terakhir para raja dan keluarganya. Di bangunan ini pula, jenazah raja dan keluarganya disimpan selama seratus hari sebelum dikremasi. Dusit Maha Prasat sendiri dibangun oleh Raja Rama I sebagai pengganti dari Phra Thinang Amarintharaphisek Maha Prasat yang terbakar di tahun 1789.

Sementara di bagian depan kompleks bangunan ini, terdapat sebuah taman yang luas yang disebut sebagai kebun/taman Siwalai. Yang di masa silam, dijadikan sebagai tempat bermain croquet oleh para bangsawan wanita di kerajaan. Tamannya sangat bersih dan terawat dengan baik. Penting untuk diingat ketika berkunjung, jangan sampai menginjak taman ini ya.

Dusit Maha Prasat Hall

Dusit Maha Prasat Hall

Dusit Maha Prasat Hall

Dusit Maha Prasat Hall


Bak Oase di Tengah Gurun: Coffee Shop di Grand Palace

Coffee Shop Grand Palace

Karena perbekalan air mineral sudah menipis & teriknya matahari di Bangkok saat itu lumayan bikin dehidrasi, saya merasa bersyukur ada kafe/coffee shop di dalam Grand Palace! Saya lupa nama kafenya apa, nyari-nyari di internet nggak nemu hehe. Tapi, yang pasti, kafe ini seingat saya cuma satu-satunya di Grand Palace. Kalau keluar dari Dusit Maha Prasat ke arah Museum The Temple of Emerald Buddha, kita pasti ngelewatin kafe ini karena letaknya di tengah-tengah. Sekilas dari desain bangunannya, persis sama kafe-kafe yang ada di wilayah Kota Tua, lho.

Kalau nggak salah ingat juga, harga makanan dan minuman di kafe ini nggak mahal. Ya standar kafe pada umumnya. Kafenya lumayan ramai & rasa minumannya enak. Seperti biasa, mumpung di Thailand, saya nyobain Thai Tea-nya, dong! Hehe.

Kafe di Grand Palace

Kafe di Grand Palace


Museum The Temple of Emerald Buddha

The Temple of The Emerald Buddha Museum

Kelar ngaso di kafe, saya langsung melanjutkan perjalanan karena berhubung waktu sudah jam 2/3 sore. Kunjungan selanjutnya adalah ke Museum The Temple of The Emerald Buddha. Kalau di awal saya berkunjung ke kuil “beneran” dan menikmati keindahan bangunannya, kali ini ke museumnya untuk melihat & tahu cerita detail tentang Buddha. Di museum inilah banyak peninggalan sekaligus dokumentasi historis dari perjalanan Buddha. Saya nggak punya foto bagian dalam museum ini karena seingat saya pengambilan foto/video dilarang. Tapi, yang pasti, bagian dalamnya komplit & bagus banget. Berasa “tercerahkan”, hehe.


Menonton Pertunjukan Thai Mask Dance

Tiket nonton pertunjukan Thai Mask Dance di Grand Palace Bangkok

Terakhir, part yang paling ditunggu-tunggu dari kunjungan ke Grand Palace adalah menonton pertunjukan Thai Mask Dance di Teater Sala Chalermkrung. Menonton pertunjukan ini gratis karena sudah masuk dalam tiket terusan yang kita beli di awal ya, temen-temen. Jadi, pastikan habis beli tiket jangan dibuang karena kita bakal butuh tiketnya untuk masuk ke beberapa bagian bangunan, termasuk menonton Thai Mask Dance ini.

Keluar dari area dalam Grand Palace, saya langsung menuju area jalan besar di mana terdapat bus wisata gratis yang bakal membawa kita ke Royal Theater Sala Chalermkrung. Bus akan jalan sekitar 10-15 menit sebelum jadwal pertunjukan dimulai. Dalam satu hari, pertunjukan Thai Mask Dance ini digelar 5 kali yang menyesuaikan jadwal buka Grand Palace. Yaitu: jam 10.30, 13.00, 14.30, 16.00, dan 17.30. Kalau nggak salah, saya ambil jadwal pertunjukan yang 14.30. Sebab, sore harinya saya sudah harus buru-buru ke terminal bus Chatuchak untuk naik bus menuju Chiang Rai. Hehe.

Bus Wisata di Grand Palace

Perjalanan dari Grand Palace menuju teater cukup menyenangkan karena bus terbuka jadi kita bisa menikmati jalan sekaligus angin sepoi-sepoi. Dari luar, keseluruhan kompleks Grand Palace makin terlihat megah & menawannya dengan dinding berwarna putih yang berdiri kokoh.

Area luar Grand Palace

Royal Theatre Sala Chalermkrung

Royal Theatre Sala Chalermkrung

Sesampainya di Teater Sala Chalermkrung, semua penumpang langsung menyeberang dan masuk ke teater untuk menonton pertunjukan. Kalau boleh saya bilang, lumayan mirip sama bangunan teater di Taman Ismail Marzuki. Saya sendiri cukup terkesan sama rapinya persiapan & pelayanan menuju teater ini dari Grand Palace. Di Batch saya waktu itu, yang nonton lumayan ramai karena mungkin juga udah terlalu sore dan beberapa jam lagi Grand Palace bakal tutup.

Royal Theatre Sala Chalermkrung

Lima menit setelah penonton masuk semua, pertunjukan pun dimulai. Nah, Thai Mask Dance atau yang dikenal juga sebagai Khon-Thai Classical Masked Dance ini sudah ada atau dipertunjukan sejak jaman Kerajaan Ayutthaya. Kalau tadi di awal datang ke Grand Palace, kita bisa melihat lukisan mural tentang Ramakien, nah di teater ini kita bisa nonton pertunjukannya yang lengkap! Mengadopsi cerita/epos Ramayana dari India, Ramakien adalah cerita/epos nasional Thailand yang memadukan mitologi Hindu dan Buddha dengan tradisi/budaya Thailand.

Bukan hanya soal Raja Rama melawan Raja Iblis (Tosakanth) untuk merebut kembali Ratu Sida, di pertunjukan ini juga banyak cerita dari karakter-karakter dalam cerita Ramakien. Yang paling populer adalah karakter monyet besar yang dikenal sebagai Hanoman dalam epos Ramayana, yang ada di kubu Raja Rama dalam memerangi Tosakanth. Diiringi dengan narator dan musik yang apik, mata kita bakal dimanjain sama detail panggung, pakaian tokoh, dan aksi berbagai karakter yang ciamik.

Thai Mask Dance Performance Grand Palace
Tokoh Perempuan dalam Thai Mask Dance.

Thai Mask Dance Performance Grand Palace

Thai Mask Dance Performance Grand Palace
Hanoman.
Thai Mask Dance Performance Grand Palace
Perang antara Raja Rama dan Raja Iblis.
Thai Mask Dance Performance Grand Palace
Efek lighting dan tata panggung yang memukau.
Thai Mask Dance Performance Grand Palace
Akhir pertunjukan.

Pertunjukan ini harus diakui cukup bagus, niat, dan keren! Gemuruh tepuk tangan & sorak sorai penonton juga nggak ketinggalan menjadi penutup pertunjukan. Bukan cuma itu, pasca menonton pertunjukan Thai Mask Dance ini, tokoh Hanoman dan Ratu juga dipersiapkan secara khusus di bagian depan teater untuk sesi foto bersama penonton yang berminat, lho. Saya pun juga nggak ketinggalan untuk ikutan foto meski antreannya cukup panjang. Hehe, ya kapan lagi, kan?

Thai Mask Dance Performance Grand Palace


Kesimpulan: apakah worth berkunjung ke Grand Palace dengan harga tiket Rp240.000?

Buat saya, sangat worth! Meskipun saya cuma bisa menghabiskan waktu 4 jam di Grand Palace, sudah cukup buat bikin saya eyegasm berkali-kali melihat detail bangunan di Grand Palace yang desainnya secantik itu. Sambil dikit-dikit buka denah buat coba memahami bangunan & patung-patung yang ada di Grand Palace, di tengah teriknya matahari dan ramainya turis. Ditambah, pertunjukan Thai Mask Dance yang jadi gong terakhir dari tiket masuk Grand Palace, bikin pengalaman kunjungan saya jadi makin berkesan. Akulturasi Hindu, Buddha, dalam budaya lokal Thailand bikin saya relate dan lumayan bisa paham karena di Indonesia pun bisa dibilang mirip.

Agak lumayan nyesel karena nggak datang lebih awal untuk mengeksplor Grand Palace yang luas banget ini. Tapi, nggak masalah karena saya yakin, ini bukan kunjungan terakhir saya ke Thailand. Kalau ada kesempatan & tabungan cukup, saya nggak bakal ragu untuk liburan lagi ke sini. 😉

Sore itu, pasca nonton Thai Mask Dance, karena sudah mau jam 4, saya langsung lari ke stasiun MRT terdekat untuk menuju ke terminal bus Chatuchak. Saya emang sudah beli tiket bus malam ke Chiang Rai (kota di utara Thailand) dengan total perjalanan 13 jam dari pukul 7 malam. Agak ambisius karena keliling Grand Palace selama 4 jam lumayan bikin kaki pegel dan menuntut dikasih balsem. Hehe.

Tapi, karena bus yang saya tumpangi cukup nyaman dengan leg room yang lega banget, saya jadi bisa istirahat sepanjang perjalanan sambil ngelurusin kaki.

Thank you Grand Palace, till we meet again! ❤


Note:

Selain yang dicantumkan sumbernya, semua gambar dalam artikel ini adalah hasil dokumentasi saya sendiri. Meski nggak ditempeli watermark, mohon izin dulu di kolom komentar kalau mau digunakan untuk tujuan tertentu ya. Kalau tidak izin pun, mohon sertakan sumber jika direpost. Terima kasih. 🙂

The post Berkunjung ke Grand Palace Bangkok dengan Harga Tiket 500 Baht/240.000, Apakah Worth? appeared first on Spot Wisata.

]]>
https://spotwisata.com/berkunjung-ke-grand-palace-bangkok/feed/ 4
Berkunjung ke Golden Triangle: Jalur Silam Perdagangan Opium Terbesar di Asia Tenggara https://spotwisata.com/golden-triangle-dan-opium/ https://spotwisata.com/golden-triangle-dan-opium/#respond Sun, 03 May 2020 03:13:00 +0000 https://spotwisata.com/?p=591 Bagi saya, selalu ada hal yang menarik dan nggak pernah habis untuk dibahas dari perbatasan. Lebih daripada ‘sekadar’ garis khayalan yang memisahkan dua atau lebih…

The post Berkunjung ke Golden Triangle: Jalur Silam Perdagangan Opium Terbesar di Asia Tenggara appeared first on Spot Wisata.

]]>
Golden Triangle Monument Chiang Rai

Bagi saya, selalu ada hal yang menarik dan nggak pernah habis untuk dibahas dari perbatasan. Lebih daripada ‘sekadar’ garis khayalan yang memisahkan dua atau lebih wilayah geografis, politik, atau yurisdiksi seperti yang didefinisikan dalam hukum.

Tapi juga, bagaimana kehidupan masyarakat di masa lampau, budaya, adat istiadat, interaksi, berbagai peristiwa hebat yang terjadi pada masa itu sampai membentuk batas, hingga kondisi wilayah serta masyarakatnya kini.

Golden Triangle yang ada di Chiang Rai, provinsi paling utara di Thailand, adalah salah satunya. Sebuah segitiga perbatasan sekaligus tempat bertemunya 3 negara: Thailand, Laos, dan Myanmar. Bukan tanpa alasan perbatasan ini diberi nama Golden Triangle alias Segitiga Emas.

Dulunya, mulai tahun 1950-an, kawasan yang dipisahkan oleh Sungai Ruak dan Sungai Mekong ini dikenal sebagai penghasil sekaligus jalur perdagangan opium terbesar di Asia Tenggara dengan luas sekitar 950.000 KM2.

Opium atau bunga poppy sendiri adalah tanaman herbal yang memiliki kandungan racun (salah satunya opium) yang dapat menjadi bahan baku dari pembuatan narkotika: seperti morfin, heroin, dan sabu-sabu, di masa silam. Dari kawasan inilah, 70% lebih pasokan opium–yang juga dijuluki sebagai emas hitam–di seluruh dunia pada masa itu bisa terpenuhi.

Golden Triangle & Mekong River Chiang Rai


Sedikit Kilas Balik

Pengetahuan saya tentang perbatasan & kehidupan masyarakatnya, jelas masih sangat terbatas. Pun dengan pengalaman saya.

Pertama kalinya saya menginjakkan kaki ke wilayah perbatasan di tanah air adalah perbatasan Indonesia & Malaysia di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Yang kedua masih perbatasan Indonesia & Malaysia, tapi kali ini di Kepulauan Meranti, Riau. Dan yang ketiga, perbatasan Indonesia & Australia di Kepulauan Aru, Dobo, Provinsi Maluku. Ketiganya sama-sama di enam tahun silam, tepatnya di tahun 2015.

Sewaktu di Desa Tanah Merah, Pulau Rangsang, Riau, yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Yes, The Famous Selat Malaka!

Saya bisa berkunjung ke tiga perbatasan ini karena pasca lulus dari kampus di tahun yang sama, saya ikutan jadi freelance field researcher untuk program Desa Broadband Terpadu.

Sebuah program dari Kemenkominfo yang bermitra dengan UI, sebagai salah satu wujud dari prioritas Nawa Cita nomor tiga, yaitu: membangun Indonesia dari pinggiran. Yang tujuannya untuk mengembangkan SDM dan mengoptimalkan potensi masyarakat desa di wilayah perbatasan, melalui teknologi informasi dan komunikasi.

Nah, dari sana, ketertarikan saya lebih jauh tentang perbatasan bermula. Tapi, saya sadar, berkunjung ke desa atau wilayah perbatasan bukan hal yang mudah apalagi murah.

Makanya ketika saya ada kesempatan untuk traveling lagi, saya nggak ragu untuk nabung lebih banyak & menjadikan wilayah perbatasan sebagai salah satu destinasi. Termasuk Golden Triangle, di Chiang Rai, yang November tahun 2019 lalu saya kunjungi.

Terus, gimana ceritanya saya bisa sampai di Golden Triangle, Chiang Rai?


Perjalanan dari Bangkok ke Chiang Rai: 13 Jam dengan Bus Malam

Terminal Bus Sombat Tour Bangkok

Modal nekat dulu dan sokongan tabungan kemudian! 😁

Berkunjung ke Chiang Rai dan Golden Triangle termasuk dalam rangkaian solo trip saya selama 9 hari di Thailand. Di Chiang Rai, saya menghabiskan waktu 3 hari 2 malam.

Kunjungan ke Golden Triangle saya lakukan di hari kedua di Chiang Rai, dengan menggunakan one day tour yang disediakan di hostel tempat saya menginap: Baan Mai Kradan. Golden Triangle sendiri adalah destinasi terakhir dari rangkaian one day tour yang saya ikuti.

Jadi, di sini, saya menghabiskan waktu sekitar 3 – 4 jam untuk melihat Golden Triangle, Sungai Mekong, dan Museum Opium.

Ada banyak banget moda transportasi yang bisa dipilih buat menuju Chiang Rai dari Bangkok. Mulai dari pesawat, kereta, travel, sampai bus. Tapi, setahu saya, di Chiang Rai belum ada stasiun kereta api.

Jadi, belum ada rute kereta yang langsung turun di Chiang Rai. Kalau mau ke Chiang Rai pakai kereta, kita perlu ke Chiang Mai dulu naik kereta biasa atau sleeper train. Terus lanjut lagi naik travel atau bus sekitar 3 jam dari Chiang Mai buat ke Chiang Rai. Stasiun kereta terdekat dari Chiang Rai cuma ada di Chiang Mai.

Tiket Bus Bangkok-Chiang Rai
Penukaran tiket online jadi tiket cetak/fisik di Terminal Sombat Tour Bangkok.

Saya pribadi pilih bus malam untuk menuju Chiang Rai dari Bangkok. Alasannya sederhana: saya mau coba moda transportasi lain selain kereta atau pesawat. Sekalian lama-lama buat menikmati perjalanan malam ke kota yang juga dikenal sebagai “The Northernmost Large City in Thailand” ini.

Setelah riset sana sini soal bus malam ke Chiang Rai, saya akhirnya pesan tiket bus dari Sombat Tour lewat situs 12go.asia, harga totalnya 1.159 Baht atau sekitar Rp550.000.

Bus Sombat Tour VIP 20 Chiang Rai

Bus Sombat Tour VIP 20 Chiang Rai

Buat perjalanan 13 jam, fasilitas bus ini oke punya dengan kursi private buat masing-masing orang yang lumayan luas.

Ada kamar mandi, entertainment on board, makan malam gratis di restoran rest area di daerah Don Taeng, snack, bantal, dan headset yang sudah disediakan masing-masing di kursi penumpang. Lengkap & ciamik. Harga tiketnya juga 11-12 sama pesawat LCC direct dari Bangkok ke Chiang Rai kayak AirAsia.

Bus Sombat Tour VIP 20 Chiang Rai

Bus Sombat Tour VIP 20 Chiang Rai

Bus Sombat Tour VIP 20 Chiang Rai

Bus Sombat Tour VIP 20 Chiang Rai

Karena makin larut, nggak terlalu banyak yang saya bisa lihat di perjalanan selain kendaraan yang lalu lalang. Sesekali, bus juga melewati area perumahan penduduk, ladang, pabrik, dan hutan yang menandakan bahwa kita sudah masuk ke wilayah pegunungan dan nggak lama lagi bakal sampai di Chiang Rai.

Sekitar jam 06.00 pagi, bus sudah sampai di  Chiang Rai dan menuju terminal pemberhentian. Disambut langit yang kelabu karena hujan deras, pagi itu di Chiang Rai, saya lumayan menggigil kedinginan karena suhunya kalau nggak salah 25 atau 28 derajat celcius. Akhirnya terpaksa pakai jaket dobel sambil cari taksi buat langsung ke hostel. 😅


‘Well, Here I Am, Chiang Rai!’

Terminal Bus Chiang Rai
Suasana pagi itu di terminal bus Chiang Rai.
Terminal bus Chiang Rai
Ruang tunggu di terminal bus Chiang Rai yang kosong.

Adalah ungkapan yang saya serukan dalam hati ketika taksi yang saya tumpangi melaju dan membawa saya keluar dari terminal, menuju pusat kota Chiang Rai. Kota paling utara di Thailand. Kota yang menurut sejarahnya, ratusan tahun lalu berada di bawah kekuasaan Burma atau yang kini Myanmar.

Senang dan excited jadi satu. Tapi sebelum mengeksplor kota yang jauh dari hingar bingar ini, saya mutusin buat langsung early check in ke hostel dan istirahat dulu. Karena ya capek, laper, dan dingin banget, bos! 🤣

Hostel Baan Mai Kradan
Susana di hostel pagi itu yang halamannya basah karena hujan deras.

Berangkat dari Hostel: One Day Tour dengan Parn Trek

Hostel Baan Mai Kradan

Saya sebenernya pengen banget ngebolang sendirian dengan nyewa motor seharian di Chiang Rai. Tapi, setelah saya pikir ulang, saya nggak berani ambil risiko.

Soalnya, destinasi yang saya kunjungi dekat banget sama wilayah perbatasan Thailand dengan Laos & Myanmar. Kalau ada checking dari kepolisian setempat, bisa repot. Meskipun saya punya SIM C yang kabarnya berlaku di ASEAN, tapi lebih baik saya play safe di negeri orang.

Nah, one day tour saya saat itu menggunakan jasa tur dari Parn Trek yang saya pesan langsung di hostel tempat saya menginap. Harganya waktu itu 1.000 Baht atau sekitar Rp475.000 untuk 6–7 destinasi utama di Chiang Rai.

Destinasi terakhir dan yang jadi gong dari trip ini adalah kunjungan ke Golden Triangle. Harga paket tur sudah termasuk transportasi, bensin, tour guide merangkap driver, dan makan siang gratis.

Tapi, belum termasuk sebagian tiket masuk ke beberapa destinasi wisata kayak Wat Rong Khun (Kuil Putih) atau Black House Museum (Museum Hitam). Tiket masuk yang dikasih sama tour guide cuma tiket masuk ke Museum Opium di Golden Triangle. Kalau nggak salah harganya sekitar 50 Baht atau Rp24.000-an.

Parn Trek
Tour guide saya, Sammy Si Petualang!

Guide Tour saya hari itu namanya Sammy. Saya kurang tau nama asli/Thai-nya, tapi yang pasti Sammy itu nama panggilan karena biasanya nama orang Thailand cukup sulit buat dilafalin.

Sammy ini orang asli Chiang Rai yang saya tebak umurnya 30 – 35 tahunan. Sammy juga punya lisensi sebagai tour guide resmi dari TAT Tourism Thailand. Orangnya ramah banget & bahasa Inggrisnya fasih. Humoris juga walau kadang-kadang garing. Hehe, peace, Sam! 🤗

Di hari itu, ternyata cuma saya yang daftar tur. Untung nggak dicancel. Lucky me!

“Seems like today is a special day for you, cause I only take you to this tour. Like private tour!” Kata Sammy.

Jam setengah 9 pagi, saya dan Sammy berangkat sesuai jadwal tur yang sudah ditentukan. Sambil ngobrol-ngobrol kecil, saya jadi tau kalau Sammy ternyata orang/keturunan suku asli Lan Na, salah satu suku asli Thailand yang mendiami wilayah utara/pegunungan.


Menuju Golden Triangle

Chiang Rai
Jalanan yang lenggang di Chiang Rai dengan pemandangan gunung.

Jalanan Chiang Rai

Sekitar jam 2 siang, saya dan Sammy sudah on the way ke Chiang Saen, wilayah Golden Triangle. Jalan protokol di Chiang Rai, sangat lenggang cenderung sepi. Jadi aja ke tiap destinasi, waktu tempuhnya kurang dari 30 menit. Khusus ke Golden Triangle kalau nggak salah sekitar 1 jam, karena letaknya di paling utara kota Chiang Rai dekat area perbatasan.

Pas sampai, saya langsung bisa melihat monumen Golden Triangle yang berdiri menyambut dan membelakangi Sungai Mekong. Sungai Mekong sendiri adalah batas alam dari negara-negara yang berdiri berdampingan di Golden Triangle: Thailand, Myanmar, Laos. Dari monumen ini, saya bisa melihat tiga negara tersebut sekaligus.

Golden Triangle

Nggak banyak aktivitas yang bisa dilakukan di Golden Triangle kini selain berfoto di monumen, memandangi Sungai Mekong, berbelanja souvenir, atau menyeberang ke Laos dan Myanmar. Orang-orang Thailand sendiri biasanya memang sering menyeberang ke dua negara tersebut naik boat untuk berbagai keperluan. Salah satunya belanja. Ah, waktu saya lagi di ruang tunggu boarding bandara Chiang Rai buat balik ke Bangkok, saya juga kenalan sama seorang perempuan, asli Thailand, yang cerita kalau dia seneng banget habis balik dari Myanmar karena dapet banyak belanjaan murah. Salah satunya pouch seharga 80 Baht. 😁

Bukan cuma warga lokal, wisatawan yang mau nyeberang ke Laos atau Myanmar dari Golden Triangle juga bisa. Tapi, ada syarat administrasi yang harus dipenuhi karena hitungannya sudah ke luar dari Thailand meskipun masih dekat/di wilayah perbatasan. Di Laos/Myanmar sendiri, seingat saya, Sammy bilang ada kasino-kasino yang memang target pasarnya wisatawan. Jadi kalau mau main judi, bisa aja. Tapi risiko ditanggung sendiri, kata Sammy. 😄

Berdiri di Monumen Golden Triangle sedikit banyak membuat saya berimaji tentang masa tersebut. Di wilayah ini, lewat Sungai Mekong, produksi, distribusi, dan perdagangan opium dilakukan secara besar-besaran oleh Thailand, Myanmar, dan Laos. Bahkan menyabet gelar terbesar di Asia Tenggara karena dari jalur ini jugalah, pasokan opium ke negara-negara barat berasal.

Wilayah pegunungan yang dingin & menyelimuti Golden Triangle adalah kunci utama dari terproduksinya opium menjadi obat-obatan terlarang. Sebab, opium sendiri berasal dari bonggol dan getah hitam bunga poppy yang tumbuh paling subur di wilayah ini, dibandingkan tanaman lainnya.


Melihat Bunga Poppy & Pengolahannya di 212 House of Opium

House of Opium Chiang Rai

Kayak apa sih si bunga poppy yang akhirnya menjadikan Golden Triangle sebagai kawasan penghasil dan jalur distribusi opium terbesar di Asia Tenggara ini?

Nah, buat menjawab pertanyaan ini, Sammy langsung ngajak saya berkunjung ke 212 House of Opium atau Museum Opium yang nggak jauh letaknya dari Golden Triangle. Sebuah museum yang dibangun oleh pemerintah Thailand dengan bantuan Jepang untuk mengedukasi masyarakat luas terkait obat-obatan terlarang dan pemberantasannya.

House of Opium Chiang Rai
Pintu masuk Museum Opium, Chiang Rai.

House of Opium Chiang Rai

Museum yang terdiri atas dua lantai ini sukses bikin saya takjub dan bisa ikut “menghirup” aroma opium. Di pintu masuk utama, saya disambut dengan meja berisi berbagai macam jenis stempel untuk postcard/souvenir card saya. Persis macam paspor aja. Kreatif! 😅

Alhasil, buat kenang-kenangan, saya pun nggak ketinggalan membanjiri souvernir card saya dengan stempel berbagai bentuk.

Souvenir card opium chiang rai

Souvenir card opium chiang rai

Di dinding ruangan juga tertera berbagai informasi pengantar untuk mengenal Golden Triangle di masa silam. Mulai dari lokasinya di Chiang Rai, sampai ada kalender sosio agrikultural dari hilltribes atau suku asli yang mendiami area pegunungan di Thailand. Dari kalender besar di dinding ini juga saya tau kapan petani di masa itu mulai menanam padi, bunga poppy, ganja, hingga masa panennya.

Museum Opium Chiang Rai


Legenda tentang Opium

Legend of Opium

Meski bukan bagian dari fakta sejarah, melainkan sebatas cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi, legenda adalah bagian yang melekat erat pada suatu budaya. Nah, opium pun punya legenda asal usulnya sendiri yang ditempel di beberapa titik pada dinding ruangan di museum ini.

Menurut kepercayaan Suku Lua, jaman dulu, ada seorang wanita yang meninggal dalam usia sangat sepuh. Sebelum dia meninggal, dia berpesan untuk dimakamkan di dekat persimpangan jalan yang ramai. Setelah dimakamkan, tiba-tiba muncul dua tanaman tembakau di atas makamnya, tepatnya di bagian payudara jenazah wanita tersebut. Sementara di bagian pinggangnya, muncul sebuah tanaman opium.

Nah, penduduk desa yang penasaran kemudian mencicipi kedua jenis tanaman ini. Hasilnya, mereka ternyata lebih suka tembakau dibanding opium. Makanya, mereka coba menanam kembali tembakau itu dan pada akhirnya menggunakan tembakau untuk rokok.

Berbeda dengan Suku Lua, Suku Akha percaya bahwa dulu ada seorang perempuan muda yang cantik dan jadi primadona banyak laki-laki. Dari sekian banyak laki-laki, ada 7 orang yang bisa menarik hati si peremuan muda ini. Sampai suatu hari, ketujuh pria itu datang melamar si perempuan. Tapi, si perempuan ini nggak mau memilih salah satu dari mereka karena takut bikin yang lainnya–yang nggak dipilih–jadi sedih dan cemburu.

Akhirnya, perempuan ini bikin keputusan yang lumayan mengejutkan: berhubungan seksual dengan ketujuh pria yang datang tersebut sekaligus. Meskipun dia tahu hal itu bahaya dan mungkin bisa bikin dia mati, dia tetap rela.

Ketika dia sudah nggak sanggup lagi dan berharap mati, dia juga berdoa agar bisa dilahirkan kembali sebagai bunga yang cantik. Sampai ketika setelah dimakamkan, bunga tersebut pun muncul dari bagian hati/liver si perempuan tersebut.

Sebelum meninggal, perempuan ini juga sempat berpesan ke saudaranya untuk mengurus makamnya dan bunga yang bakal tumbuh di atasnya. Dia juga bilang: siapa pun yang mencicipi bunga tersebut bakal ‘ketagihan’, baik dalam makna baik atau buruk.

Dari legenda ini, baik dan buruk yang dimaksud mungkin adalah: untuk tujuan pengobatan atau justru kecanduan, ya. 🙂


Proses Pertumbuhan Bunga Poppy sampai Menjadi Opium

ladang bunga poppy di museum opium
Gambaran ladang bunga poppy di masa silam yang ada di House of Opium.

Setelah lumayan puas ‘berkenalan’ sama berbagai suku asli Thailand, Myanmar, dan Laos, dengan legendanya masing-masing, saya melipir ke ruangan khusus yang berisi ladang bunga poppy dan pertumbuhannya sampai menjadi opium.

Lagi-lagi, saya terkesan dengan seberapa detail museum ini menggambarkan & mendokumentasikan hal tersebut. Rasanya mau ngasih jempol banyak-banyak ke pemerintah Thailand, penggagas, pendiri, dan pengurus museum ini.


1. Biji bunga poppy sebelum ditanam

Opium seeds

2. Bunga poppy setelah ditanam dan tumbuh mekar

Oppium poppies

3. Bunga poppy yang petalnya rontok/jatuh dan bonggolnya siap tumbuh

Opium Poppies

4. Bonggol opium yang sudah tumbuh dan matang

Opium pods

5. Getah putih yang muncul dari bonggol opium yang diiris/disayat

Opium latex

6. Bonggol opium yang sudah kering/sedikit getahnya

Opium as narcotics

7. Bonggol opium kering berwarna hitam yang siap dijual & diolah

Dry opium pods


Peralatan yang Dibutuhkan untuk Memproduksi Opium

Opium production tools

Selain dijual bonggolnya, masyarakat atau petani lokal di wilayah Golden Triangle pada masa itu juga memproduksi opium untuk digunakan sebagai bahan merokok.

Nah, untuk mengolah bonggol opium kering ini, ada cukup banyak alat yang dibutuhkan. Mulai dari berbagai jenis timbangan tradisional, pisau sayat, alat kerik, panci, sampai boks penyimpanan opium yang sudah diolah.

Timbangan opium

Timbangan dan boks penyimpanan opium

Fakta menarik: 

  1. Berdasarkan informasi yang ditempel dalam pigura di dinding museum, setiap bonggol opium dapat diolah/dikerik sekitar 3 sampai 4 kali dalam rentang 2 – 3 hari setiap waktu pengerikan.
  2. Untuk mendapatkan 1,6 kilogram opium, dibutuhkan 3.000 bonggol opium kering.
  3. Opium yang mentah bisa disimpan selama 2 tahun tanpa kehilangan potensinya sebagai bahan relaksasi atau narkotika.
  4. Biji bunga poppy atau opium juga biasa digunakan untuk dekorasi kue, dessert, sampai makanan untuk burung merpati.
  5. Minyak yang berasal dan diekstraksi dari biji opium juga bisa digunakan sebagai bahan dasar pembersih seperti detergen, sabun, atau bahkan cat.

Perlengkapan yang Dibutuhkan untuk “Menikmati” Olahan Opium

China adalah negara di Asia yang masyarakatnya tak ketinggalan mengonsumsi opium di masa silam. Selain digunakan sebagai bahan obat-obatan medis dan pain killer sejak abad ke-7, opium juga mulai dikonsumsi sebagai rokok yang dicampur dengan tembakau mulai abad ke-17.

Tentu aja, aktivitas ini nggak lepas dari peran dan pengaruh Asia Tenggara, khususnya masyarakat di wilayah Golden Triangle pada masa itu yang mengolah dan mengonsumsi opium untuk rileksasi. Nggak heran, kalau berbagai perlengkapan yang dibutuhkan buat menikmati atau merokok opium sedikit banyak mendapat pengaruh dari tradisi China pada masa itu.

Iya, supaya bisa mencapai kenikmatan maksimal ketika menikmati opium, ada teknik dan perlengkapan khususnya juga. Mulai dari tikar alas rebahan, pipa rokok, sampai bantal sandaran kepala. Emanglah masyarakat Asia ini kalau urusan nyeni nggak usah diraguin lagi! 😎


1. Tikar bambu untuk alas rebahan saat merokok opium

Opium mats

Bukan tanpa alasan kuat kenapa tikar bambu dipilih untuk merokok opium. Desain dari tikar ini sudah secara khusus dirancang agar dapat melancarkan sirkulasi udara di bawah tubuh perokok agar tetap merasa “dingin” dan nyaman ketika merokok.

2. Pipa rokok opium 

Opium pipe

Ada banyak jenis pipa yang digunakan untuk merokok opium, mulai dari yang pendek sampai yang panjang. Tapi salah satu yang paling populer adalah pipa opium yang terkait dengan mitologi masyarakat Cina.

3. Bantal yang digunakan sebagai penyangga kepala saat merokok opium

Opium pillows

Bantal atau penyangga berbahan dasar porcelain kabarnya adalah yang terbaik untuk merokok opium karena dapat membuat kepala perokok tetap dingin dan nyaman. Selain itu, bantal ini juga bisa membuat perokok merasa seperti melayang-layang di awan ketika mengonsumsi opium.


Tips & Teknik Merokok Opium yang Digemari di Masa Silam

Perlengkapannya siap, sekarang giliran tekniknya.

Nah, suku asli yang mendiami wilayah pegunungan Golden Triangle di Thailand, punya posisi favorit dan diklaim jadi yang terbaik untuk menikmati opium.

Teknik atau posisi ini dinamakan “Heel against Buttocks” atau tumit yang membelakangi/berlawanan arah dengan bokong. Gambaran detailnya ada di bawah ini:

How to smoke opium

Position for smoking opium


Dampak dari Konsumsi Opium

Penalties of opium use

Sayangnya, dibanding digunakan untuk keperluan medis atau pain killer, opium lebih melekat digunakan sebagai obat-obatan terlarang yang membuat banyak orang kecanduan dan menimbulkan dampak serius.

Museum ini secara lengkap dan komprehensif menunjukkan berbagai dampak dari opium pada masa itu. Hingga akhirnya, budidaya dan produksi Opium di Thailand dilarang sekitar tahun 1970-an oleh mendiang Raja Bhumibol Adulyadej.

Selain melarang, Raja Bhumibol juga memperkenalkan tanaman penggantinya kepada suku asli setempat agar mereka tetap dapat bekerja dan menghasilkan uang dengan bercocok tanam. Setelah pelarangan, pertumbuhan opium di Thailand menurun drastis.

Effects of opoium

Effects of opium

Tapi tentu aja, perkara pemberantasan ini bukan hal mudah. Meski sudah dilarang, masih ada juga masyarakat yang diam-diam menanam opium di berbagai wilayah di Thailand dan berakhir di tangan penyelundup. Maka dari itu, pemberantasan dan peperangan terhadap obat-obatan ini terus berlanjut dan sejak tahun 2003, Thailand sendiri sudah menyerukan War on Drugs. 


Kekuatan Opium di Masa Silam

Bukan cuma bisa bikin ‘rileks’ dan menciptakan halusinasi yang berbahaya bagi tubuh, opium sebagai narkotik yang populer diperdagangkan di masa itu bahkan dapat digunakan sebagai alat tukar utang, memicu terjadinya peperangan serta revolusi, dan menghasilkan pundi-pundi keuntungan yang besar bagi pedagang dan pemerintah negara terkait. Seperti yang terjadi pada China, Inggris, Laos, dan Myanmar di abad ke-19.

Kalau boleh saya bilang, mungkin sama powerful-nya dengan rempah-rempah yang menjadi alasan bangsa Eropa datang dan menjajah Nusantara.

Khun Sa Opium King

Berakhirnya era kejayaan opium pada masa itu juga ditandai dengan penangkapan Khun Sa yang disebut-sebut sebagai Raja Opium dari Myanmar di tahun 1996.

Khun Sa ditangkap karena ia adalah tokoh yang sangat powerful dalam produksi, distribusi, dan perdagangan heroin ke seluruh dunia saat itu. Bahkan, ia menggunakan pundi-pundi uang hasil penjualan heroin di Golden Triangle untuk membiayai pasukan yang dibentuknya untuk perlawanan (Shan United Army) pasca “dikeluarkan” secara ilegal oleh rekannya.

Karena menjadi buruan banyak negara untuk diadili, termasuk Amerika Serikat, beberapa tahun setelahnya Khun Sa kemudian memutuskan untuk menyerahkan diri kepada Pemerintah Myanmar.

“If I can get back my country, eight million of my people will rejoice. But, if I can stop the narcotic problem, then the whole world will rejoice.”

Salah satu pernyataan yang dikemukakan Khun Sha terkait posisinya dalam perdagangan heroin. Silakan dimaknai sendiri. 🙂

Kini di Golden Triangle, nggak ada lagi peperangan atau huru hara transaksi opium si emas hitam. Baik Thailand, Myanmar, hingga Laos sudah damai hidup berdampingan dengan Sungai Ruak dan Sungai Mekong sebagai saksinya.

Interaksi masyarakat antar negara di perbatasan segitiga emas ini juga masih aktif. Sekarang malah ditambah wara-wiri turis, kemunculan berbagai objek wisata, hotel & resort, pasar malam, sampai pedagang souvenir.

Saya sendiri ngerasa sedikit nggak percaya bisa ngebolang sejauh ini. Bisa menjejakkan kaki ke salah satu wilayah paling ‘penting’ dan berpengaruh di Asia Tenggara berabad-abad lalu. Meskipun agak ngeri juga karena ngebayangin kelamnya perdagangan, perebutan, dan bahkan konflik/perang akibat opium di masa itu. Belum ditambah total korban jiwa.

Ngomong-ngomong, saya jadi kepikiran, kalau saya dilahirkan & hidup di masa itu, kira-kira saya jadi apa ya perannya di masyarakat? 😄


Berkunjung ke Patung Big Buddha & Kembali ke Hostel di Chiang Rai

Big Buddha Chiang Saen

Big Buddha Chiang Saen

Selesai keliling museum, saya melipir ke kuil/patung Buddha raksasa yang lokasinya nggak jauh dari museum ini. Sambil ngaso dan beli air mineral di 7-11 terdekat karena kepala saya agak pening habis mencerna informasi yang terlalu banyak di museum. Lalu lalang turis yang naik turun perahu dari dermaga dekat kuil, jadi pemandangan seru yang saya saksikan di sore hari itu.

Chiang Saen

Setengah jam di kuil, saya mutusin buat balik ke parkiran museum dan bangunin Sammy yang ketiduran di mobil karena capek nyetir seharian. Habis itu, kita pun balik sekitar jam 5 ke Chiang Rai dan disambut dengan pemandangan langit yang super duper bagus!

“Got a lot of photos today?” Tanya Sammy, sambil ngeliat saya yang lagi liat-liat memori foto yang sudah berhasil diambil di hari itu.

“Yes, a lot. This is for my blog. Hahaha.” Jawab saya.

“Oh, you have a blog? Don’t forget to write about my tour then. Pssst, please don’t say bad things in your blog. Haha.” Gurau Sammy.

“How is it? Did you enjoy your trip today?” Tanya Sammy lagi.

“Yes, one of the best trip I have ever had. You are cool, Sam!” Puji saya.

Sunset Chiang Rai

Sambil menikmati jalanan yang lenggang dengan warna langit yang memukau sore itu, saya dan Sammy lanjut ngobrol-ngobrol kecil tentang Chiang Rai yang jadi kota kelahirannya, plus profesinya sebagai tour guide di Chiang Rai. Sammy ini bisa nggak cuma bolang alias bocah petualang, tapi juga real akamsi alias anak kampung Chiang Rai sini. Semua tentang Chiang Rai, dia khatam. 🙂

Saking lancarnya jalanan, nggak terasa, saya sudah sampai di depan hostel. Saya dan Sammy pun berpisah. Semoga suatu waktu ketika saya kembali ke Chiang Rai, saya bisa ngetrip bareng Sammy & Parn Trek lagi.

Baan Mai Kradan Hostel
Spot di hostel yang cukup menarik & warm.

Makin malam, Chiang Rai makin sepi. Beda sama kota ‘sepupunya’ alias Chiang Mai yang makin malam justru makin ramai. Belum banyak wisatawan yang datang ke Chiang Rai sebagai destinasi utama. Rata-rata wisatawan datang ke sini karena biasanya pesan trip ekstensi dari Chiang Mai. Kondisi ini justru yang bikin Chiang Rai makin terasa berbeda.

Menginap 3 hari 2 malam di kota ini bikin saya ngerasa kayak warga lokal. Selain karena emang orang Thailand dan Indonesia mirip secara fisik dan kultur, ini juga karena saya nginap di hostel yang homey banget meskipun isinya rata-rata bule. Berasa di rumah! Kapan-kapan kalau ada waktu luang, mungkin saya bakal bikin artikel review soal hostel saya yang super comfy ini. Siapa tau bisa jadi rekomendasi buat temen-temen yang ada rencana berkunjung ke Chiang Rai nanti.

Clock tower Chiang Rai
Menara jam emas raksasa di pusat Kota Chiang Rai.

Food in Chiang Rai

Malam itu, saya mutusin buat jalan kaki ke menara jam emas raksasa yang ikonik di tengah kota Chiang Rai. Nggak jauh dari hostel tempat saya nginap. Sekalian cari makan, soalnya di sekitar hostel beneran sepi banget. Cuma dan 1 – 2 warung makan yang buka.

Sambil jalan kaki di jalan yang sepi, saya lumayan ngerasa capek saat itu. Tapi, rasa itu segera hilang ketika saya memasuki wilayah clock tower yang cukup ramai. Banyak penjual makanan gerobakan di pinggir jalan yang aromanya memanggil-manggil untuk saya beli. Mulai dari sate ayam, tom yum, nasi goreng, sampai martabak telur dan manis tipis khas Thailand.

Soal kuliner, makanan Thailand nggak perlu diraguin lagi rasanya. Di hari itu, ada satu kuliner khas Chiang Rai yang belum saya coba: Khao Soi. Untung masih ada setengah hari lagi besoknya di Chiang Rai sebelum on the way ke bandara buat balik ke Bangkok.

Lain waktu, mungkin bakal saya ceritain juga soal Khao Soi yang enak di Chiang Rai dan pengalaman saya pulang ke Bangkok pertama kali naik Nok Air, pesawat LCC Thailand. 🙂


Last but not least, thank you for all greatest experiences you gave me, Chiang Rai. Stay awesome! 🇹🇭

The post Berkunjung ke Golden Triangle: Jalur Silam Perdagangan Opium Terbesar di Asia Tenggara appeared first on Spot Wisata.

]]>
https://spotwisata.com/golden-triangle-dan-opium/feed/ 0
13 Jajanan Unik di 7-Eleven Thailand yang Wajib Dicobain! https://spotwisata.com/7-eleven-thailand/ https://spotwisata.com/7-eleven-thailand/#respond Sat, 14 Dec 2019 13:16:39 +0000 https://spotwisata.com/?p=321 Kalau bahas tentang wisata belanja di Thailand, mungkin sebagian orang langsung terpikir: Chatuchak, Pratunam, Platinum Fashion Mall, MBK Center, sampai Siam Paragon. Padahal, nggak cuma…

The post 13 Jajanan Unik di 7-Eleven Thailand yang Wajib Dicobain! appeared first on Spot Wisata.

]]>
Kalau bahas tentang wisata belanja di Thailand, mungkin sebagian orang langsung terpikir: Chatuchak, Pratunam, Platinum Fashion Mall, MBK Center, sampai Siam Paragon. Padahal, nggak cuma di tempat belanja besar tersebut, 7-Eleven di Thailand juga bisa jadi area refreshing buat wisatawan.

Kalau di Indonesia, ada Indomaret dan Alfamart yang menjamur di setiap sudut, nah, lain lagi halnya dengan di Thailand. Gerai 7-Eleven adalah gerai minimarket paling populer yang bakal dengan mudah kita temui selama berada di Negeri Gajah Putih ini. Nggak cuma menjual kebutuhan sehari-hari yang sifatnya primer, yang menarik dari 7-Eleven di Thailand utamanya adalah aneka produk serta jajanan unik yang dijual. Yang tentunya nggak ada di Indonesia.

Masih ingat kan dengan jaman kejayaan 7-Eleven di Indonesia yang akhirnya terpaksa tutup di tahun 2017? Di mana setiap pengunjung bebas nongkrong tanpa batas waktu, isi ulang slurpee, sampai makan snack dengan saus keju & spaghetti sepuasnya! Hayo, yang anak sevel mana nih? 😀

Bedanya, kita nggak bakal menemui hal-hal yang pernah ada di 7-Eleven Indonesia tersebut di Thailand. Keunikan 7-Eleven Thailand justru terletak pada berbagai jenis produk, aneka makanan ringan, hingga minuman, yang dijual karena keunikannya. Mulai dari segi rasa, inovasi, hingga kemasan.

Ini dia nih, 13 jajanan unik & menarik yang wajib kamu cobain kalau ada rencana liburan ke Thailand!

1. Es krim dengan rasa unik (Salted Caramel, Corn, Taro, dsb)

Mulai dari rasa sampai bentuk, es krim yang ada di 7-Eleven Thailand variasinya banyak banget. Mulai dari yang mainstream (coklat, strawberry), antimainstream (Salted Caramel, Taro), sampai rasa kearifan lokal (kelapa, ketan hitam, mangga, dsb). Yang paling bikin saya ngiler sih jelas aja Nestle Salted Caramel. 😀

Es Krim 7-Eleven
Ada es krim rasa jagung sama taro!
Es krim 7-Eleven
Es krim Oreo sampai Nestle Salted Caramel semua tersedia di 7-Eleven Thailand.

2. Minuman brown sugar kalengan tanpa boba

Nggak perlu ngantri panjang-panjang buat nyobain minuman kekinian rasa brown sugar di Thailand. Cukup melipir aja ke 7-Eleven terdekat, kamu bakal dapat satu kaleng brown sugar milk tanpa boba. Eits, tapi rasanya beneran enaks!

Minuman di 7-Eleven Thailand
Minuman rasa gula merah yang kekinian tersedia dalam bentuk kaleng.

3. Snack rasa blueberry yogurt

Selain warna ungunya yang pekat, bayangin rasa asam, manis, dan gurih jadi satu ketika kamu menikmati snack yang satu ini.

Snack 7-Eleven
Semacam chiki, tapi rasa yogurt buah!

4. Minuman probiotik ukuran jumbo dan susu Meiji aneka rasa

Merasa kurang puas kalau minum Yakult yang ukurannya mini di sini? Nah, 7-Eleven Thailand punya jawabannya. Tersedia berbagai pilihan rasa dan ukuran minuman probiotik. Mulai dari yang original, mangga, sampai stroberi. Ukurannya sendiri yang paling kecil adalah 140 ml. Dijamin puas! Kalau favorit saya, tetap susu Meiji rasa pisang. Wangi dan enak banget. 😀

Susu meiji dan yakult jumbo
Berbagai varian susu Meiji & minuman probiotik di 7-Eleven Thailand.

5. Sosis, daging, burger, dan nasi kemasan siap santap

Buat teman-teman yang muslim, di Thailand sendiri sebenarnya nggak bakal susah kok cari outlet yang menjual makanan halal. Tapi, setau saya, biasanya adanya lebih banyak di daerah ramai semacam tempat belanja, mal, atau sekitar tempat wisata.

Nah, kalau teman-teman udah keburu lapar atau bujet liburannya udah tiris, tinggal melipir aja ke 7-Eleven terdekat. Sebab, banyak banget menu sarapan murah dan halal yang bisa teman-teman pilih. Mulai dari sosis, daging, burger, sampai nasi plus lauk, semua tersedia dengan harga mulai 20 Baht sampai 40 Baht. Tinggal taruh microwave di kasir, makan deh! Maksudnya halal di sini, bukan ada label halal ya. Tapi, teman-teman bisa pilih makanan yang menunya ayam, beef, atau minimal nggak ada label pork-nya.

Menu sarapan di 7-Eleven Thailand
Aneka sosis, bakso, daging, dan HAM, pilihan tepat buat sarapan murah dan hemat di 7-Eleven Thailand.
Makanan 7-Eleven Thailand
Satu porsi nasi dengan tumis ayam basil khas Thailand bisa jadi menu makan malam yang hemat.
Makanan 7-Eleven Thailand
Mau ngemil enak tapi uang udah tiris? Beli ayam BBQ aja di 7-Eleven, cuma Rp16.000-an.
Makanan 7-Eleven Thailand
Burger daging siap santap di 7-Eleven Thailand.
Makanan 7-Eleven Thailand
Ada juga daging ayam olahan bumbu siap santap yang bisa jadi pilihan sarapan atau makan siang. Cuma 30 Baht!

6. Aneka dessert khas Thailand

Sama kayak Indonesia, kuliner Thailand selain kaya variasi juga kaya rasa! Nggak cuma menu makanan utama, menu makanan penutupnya juga enak-enak dan gurih banget, lho. Nah, buat menikmati dessert khas Thailand, nggak perlu jauh-jauh ke tempat belanja atau tempat kulineran.

Baca juga: Mau Belanja Oleh-oleh Murah di Thailand? Big C Supermarket Tempatnya!

Di 7-Eleven Thailand, tersedia juga berbagai dessert lokal dalam kemasan yang bisa teman-teman nikmati kapan saja. Contohnya ini: mungkin ini semacam cendol/es campur ya, karena pakai coconut milk alias santan. Haha. Ada juga bubur kacang hijau, ketan hitam, sampai puding kelapa yang enak banget! Dan yang paling penting, murah meriah lho.

Makanan penutup di 7-Eleven Thailand
Dessert khas Thailand yang wajib dicoba di 7-Eleven adalah puding kelapa!

7. Sandwich dan aneka roti

Kepingin makan roti sandwich yang kejunya melimpah dan kaya rasa? Nggak perlu jauh-jauh ke restoran di Thailand sebab 7-Eleven sudah menyediakan menu yang satu ini. Cocok buat ganjel perut di pagi hari saat teman-teman mau siap-siap menuju destinasi wisata.

Nggak cuma itu, yang bikin saya pribadi betah lama-lama di 7-Eleven karena pilihan rotinya yang banyak dan unik. Roti tawar aja contohnya, ada yang kuning, ada yang pink. Belum lagi roti dengan berbagai filling yang bikin ngiler kayak kelapa, pandan custard, dan masih banyak lagi.

Sandwich 7-Eleven Thailand.
Pilihan sandwich di 7-Eleven Thailand.
Roti di 7-Eleven Thailand
Roti tawar pink dan kuning di 7-Eleven Thailand.
Roti di 7-Eleven Thailand.
Roti kemasan isi kelapa dan pandan custard.

8. Beauti drink & minuman jelly

Saya sendiri nggak tau gimana rasanya beauti drink yang satu ini karena belum pernah coba. Tapi, konon, minuman ini mengandung kolagen yang bagus untuk kecantikan. Bener atau enggaknya, saya nggak tau. Hehe. Tapi, yang pasti, minuman jelly-nya enak-enak dan kemasannya lucu!

Beauti Drink Thailand
Aneka minuman beauti drink yang dipercaya bisa berpengaruh pada kecantikan.
Minuman jelly thailand
Aneka minuman jelly berbagai rasa dengan kemasan unik!

9. Susu kedelai aneka rasa dengan kemasan botol kaca

Nah, minuman di 7-Eleven yang paling jadi favorit saya nomor satu adalah susu kedelai original dalam botol kaca ini. Seger dan kemurnian rasa kedelainya itu enak banget! Nggak terlalu manis juga. Bahkan, saya nggak ngerasa ini pakai pengawet lho.

Seger banget buat diminum abis capek-capek naik turun tangga BTS. Ada tiga rasa yang tersedia: original, thai tea, sampai coklat. Harganya juga murah, sekitar 15 Baht atau Rp8.000. Nggak ngerti lagi gimana caranya mereka dapat untung dengan harga murah, produk enak, dan kemasan yang pakai botol kaca ini.

Susu kedelai Bangkok
Susu kedelai terenak di Thailand!

10. Ragam manisan buah tropis kering

Bukan Thailand namanya kalau tanpa ada manisan buah tropis yang kering. Nah, produk ini juga dijual di 7-Eleven, lho, nggak cuma di tempat belanja besar atau Big C Supermarket aja. Ada durian, nanas, longan, dan masih banyak lagi.

Fruit Candy
Aneka manisan buah kering di 7-Eleven Thailand.

11. Shortcake

Untuk dessert, selain yang khas lokal, di 7-Eleven Thailand juga tersedia shortcake aneka rasa dengan harga yang murah. Kebayang nggak sih jadi warga Thailand kalau mau ngasih surprise hemat ke temen yang ultah? Nggak usah jauh-jauh beli cake di toko, tinggal jalan aja ke 7-Eleven. 😀

Shortcake
Shortcake berbagai rasa dengan kemasan ciamik!

12. Yogurt Meiji rasa kelapa

Yogurt rasa blueberry atau strawberry, mungkin biasa banget. Gimana kalau rasa kelapa plus ada nata de coco-nya? Nah, yogurt Meiji varian ini wajib banget dicoba kalau kamu lagi liburan ke Thailand, ya!

Yogurt Meiji
Yogurt Meiji Nata De Coco, varian yang cuma akan kamu temui di Thailand.

13. Thai tea dan kopi dingin siap minum

Yang lebih enak dari slurpee dan cuma ada di 7-Eleven Thailand tentu aja Thai Tea, coklat, dan kopi dingin, yang siap minum! Untuk Thai Tea, di Thailand sendiri setau saya ada dua jenis yang enak: yang pakai Cha Tra Mue dan biasanya dijual pedagang-pedagang di pinggir jalan dan Nestea Thai Tea. Nggak usah susah-susah beli mentahnya dan seduh sendiri kalau teman-teman mau coba Nestea Thai Tea. Di 7-Eleven, yang segar dan siap minum, harganya nggak sampai Rp 10 ribuan kok.

Nestea Thai Tea
Aneka minuman dingin siap minum yang seger banget!

Selain bisa jadi alternatif makan dan jajan murah, 7-Eleven di Thailand juga bisa jadi pilihan terbaik buat beli oleh-oleh kalau bujet teman-teman terbatas.

Sepengamatan saya selama di Thailand, ada dua jenis 7-Eleven: yang kecil dan besar. Tapi, biasanya jaraknya berdekatan dan hanya berbeda beberapa ratus meter. 7-Eleven yang kecil biasanya produknya terbatas. Kalau yang besar, teman-teman bakal berkesempatan menemui semua 13 jajanan unik yang sudah saya ulas di atas.

Jadi, ada yang akhir tahun ini berencana mengabiskan libur panjang ke Thailand? Selamat liburan, ya! 😀

The post 13 Jajanan Unik di 7-Eleven Thailand yang Wajib Dicobain! appeared first on Spot Wisata.

]]>
https://spotwisata.com/7-eleven-thailand/feed/ 0
Liburan Akhir Tahun 2019, Enaknya Ke Mana Ya? https://spotwisata.com/destinasi-liburan-akhir-tahun/ https://spotwisata.com/destinasi-liburan-akhir-tahun/#respond Sun, 06 Oct 2019 12:08:06 +0000 https://spotwisata.com/?p=105 Kurang dari dua bulan lagi, kita bakal masuk ke penghujung tahun 2019. Bertepatan dengan dua momen besar sekaligus: hari raya Natal dan tahun baru 2020,…

The post Liburan Akhir Tahun 2019, Enaknya Ke Mana Ya? appeared first on Spot Wisata.

]]>
Kurang dari dua bulan lagi, kita bakal masuk ke penghujung tahun 2019. Bertepatan dengan dua momen besar sekaligus: hari raya Natal dan tahun baru 2020, membuat akhir tahun juga menjadi momen libur panjang yang sayang kalau dilewatkan.

Mungkin, udah banyak nih temen-temen yang pusing sama kerjaan, pengen pergi liburan untuk sekedar rileksasi dan menjernihkan pikiran, tapi masih bingung mau ke mana?

Tenang aja, dalam artikel ini, mimin Spot Wisata bakal coba kasih rekomendasi destinasi liburan akhir tahun untuk temen-temen semua. Yuk, disimak!

1. Lihat Meriahnya Pesta Kembang Api di Negara Tetangga 

Bagai sayur tanpa garam, tidak lengkap merayakan tahun baru tanpa pertunjukan kembang api yang menggelora!

Buat kamu yang udah punya paspor, berkunjung ke Singapura, Malaysia, atau Thailand, bisa jadi pilihan terbaik untuk liburan akhir tahun. Sebab, ketiga negara tetangga tersebut kerap mengadakan pertunjukan kembang api yang memukau di malam pergantian tahun. Selain itu, kamu juga nggak perlu bikin visa dan biaya hidup di negara tersebut cukup murah. Kecuali, Singapura yang memang biaya hidupnya agak di atas rata-rata dari Indonesia, Malaysia, atau Thailand.

Tidak perlu merogoh kocek dalam untuk bisa menikmati pertunjukan kembang api yang spektakuler. Sebab, umumnya, pertunjukan kembang api bisa dinikmati dengan gratis oleh semua turis maupun masyarakat negara terkait. Hanya saja, kamu perlu datang lebih cepat dan pandai mencari tempat yang strategis agar dapat menikmati pertunjukan dan mengabadikan momen sepuasnya.

Di Singapura misalnya, kamu bisa datang ke Merlion Park, Esplanade Bridge, hingga Marina Barrage. Di Malaysia, pusat pertunjukan kembang api biasanya diselenggarakan di Petronas Tower atau Kuala Lumpur City Center. Sementara di Bangkok, kamu bisa menikmati letupan kembang api yang indah nan gratis di Sungai Chao Praya atau River Park Mal Icon Siam,.

2. Santai di Pantai Bali atau Lombok

 

View this post on Instagram

 

Have you witnessed the magnificent Melasti Beach? The blue ocean that’s telling us to come #explorebali by @helenavi

A post shared by BALI (@explorebali) on

Ingin menghindar dari segala hiruk-pikuk dan keramaian untuk rileksasi? Maka, wisata pantai adalah destinasi yang cocok untuk menghabiskan libur akhir tahunmu. Tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri, sebab di Indonesia, banyak banget lho pantai bagus yang bisa kamu kunjungi. Dua di antaranya adalah pantai-pantai di Bali dan Lombok yang sudah terkenal keindahannya ke manca negara. Mulai dari Pantai Pandawa, Pantai Nusa Dua, Pantai Jimbaran, hingga Pantai di Nusa Penida. Ada juga gili kembar tiga di Lombok yang tidak kalah pesonanya: Gili Trawangan, Gili Air, hingga Gili Meno di Lombok.

3. Wisata Kuliner di Bandung atau Jogja

 

View this post on Instagram

 

A post shared by # (@jogjafoodhunter) on

Jalan-jalan, nggak lengkap rasanya tanpa mencicipi kuliner atau jajanan kaki lima khas setempat. Untuk yang satu ini, Bandung dan Jogja adalah juaranya! Jogja dengan angkringan, kopi arang, sate klathak, bakpia, serta gudegnya yang khas. Sementara Bandung, terkenal dengan jajanan kaki limanya mulai dari batagor, cilok, lumpia basah, seblak, serabi, mi kocok, dan masih banyak lagi.

Kalau kamu termasuk yang doyan makan, kamu dapat menghabiskan waktu liburan akhir tahunmu untuk berburu makanan yang kamu suka atau belum pernah coba sebelumnya. Perut kenyang, hati senang!

4. Staycation di Hotel yang Nyaman

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Traveloka Indonesia (@traveloka) on

Staycation merupakan aktivitas liburan singkat yang dilakukan di lokasi yang tidak jauh dari rumah atau tempat tinggal saat ini.

Kalau kamu tidak punya bujet cukup besar untuk plesiran akhir tahun ke negara tetangga atau ke kota wisata lain di Indonesia, maka staycation bisa jadi alternatifnya. Kamu cukup melakukan one-day trip ke tempat-tempat menarik di kota tempat tinggalmu. Atau, kamu bisa juga menyewa satu kamar hotel yang nyaman untuk menghabiskan waktu sendirian dan menikmati fasilitas hotel. Mulai dari kolam renang, spa, gym, dan sebagainya.

Staycation juga bisa dilakukan bersama-sama dengan keluarga atau teman dekat, lho. Misalnya, menyewa sebuah vila di wilayah puncak, Bogor, kemudian menghabiskan waktu untuk mengobrol santai, bersenda gurau, berenang, main kartu atau boardgame, dan masih banyak lagi.

Gimana? Sudah mendapat pencerahan untuk destinasi liburan akhir tahunmu kali ini? Yuk, coba komen di bawah.

The post Liburan Akhir Tahun 2019, Enaknya Ke Mana Ya? appeared first on Spot Wisata.

]]>
https://spotwisata.com/destinasi-liburan-akhir-tahun/feed/ 0