Spot Wisata https://spotwisata.com Temukan ragam info seputar spot, tips, dan serba-serbi wisata yang menarik, di sini. Sun, 08 Jan 2023 18:51:03 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.3.14 https://spotwisata.com/wp-content/uploads/2019/10/Spot-Wisata-1-150x150.png Spot Wisata https://spotwisata.com 32 32 Cepat dan Efisien: Perpanjang Paspor di Imigrasi Pondok Pinang https://spotwisata.com/pengalaman-perpanjang-paspor/ https://spotwisata.com/pengalaman-perpanjang-paspor/#respond Sun, 08 Jan 2023 17:55:09 +0000 https://spotwisata.com/?p=1070 Karena 2021-2022 isinya kerja-kerja-kerja, kayaknya ini blog udah banyak sarang laba-labanya, padahal draft tulisan yang harus dipublish masih banyak dari solo trip tahun 2019. 😅…

The post Cepat dan Efisien: Perpanjang Paspor di Imigrasi Pondok Pinang appeared first on Spot Wisata.

]]>
Karena 2021-2022 isinya kerja-kerja-kerja, kayaknya ini blog udah banyak sarang laba-labanya, padahal draft tulisan yang harus dipublish masih banyak dari solo trip tahun 2019. šŸ˜…

Karena itulah, gue mau mulai nyelesaiin utang tulisan dari perjalanan lama & informasi baru soal cara perpanjang paspor yang baru aja gue lakuin. Sebelum bahan tulisan baru numpuk &Ā hamsyong, nanti.

Yes, berawal dari November 2022 lalu udah overwhelmedĀ sama kerjaan, lalu gue iseng browsing tiket.

Langsung lah muncul tekad kuat untuk mulai solo trip lagi di awal tahun ini. Asli, 3 tahun lebih nggak cuti panjang, pening juga sih kepala.

Abis itu, gue coba cek paspor, baru engeh kalo paspor gue itu masa berlakunya cuma sampai Mei 2023. Yang mana artinya, udah kurang dari 6 bulan dari waktu rencana perjalanan gue nanti.

Yaudah, gue langsung bikinĀ planĀ untuk perpanjang paspor di kantor imigrasi tempat gue bikin paspor dulu: Imigrasi Kelas 1 Pondok Pinang, Jakarta Selatan. Berhubung gue harus beli tiket dan perlu masukin nomor paspor. Karena ntar pas paspornya baru, otomatis nomor paspor juga akan berubah.

Yah, gue anaknya emang agak-agakĀ nostalgic. Selain ini KANIM tempat bikin paspor pertama, pertimbangan lainnya milih kantor Imigrasi yang satu ini juga karena deket dari kantor, cuma 10 menit. Jadi gue pikir, nggak perlu ambil cuti, bisalah melipir di jam makan siang atau izin bentar.

Kalau dari kalian ada yang berdomisili dekat area Rempoa, Bintaro, Pondok Indah, Pondok Pinang, dan sekitarnya, gue sangat merekomendasikan kalian buat ganti atau bikin paspor di Kantor Imigrasi Kelas I Pondok Pinang ini aja.

Kantor Imigrasi Pondok Pinang
Kantor Imigrasi Kelas I Pondok Pinang, Jakarta Selatan, dekat Sekolah Harapan Ibu.

Karena, dari dua kali pengalaman gue pribadi bikin dan perpanjang paspor, pelayanannya selalu super oke danĀ sat-set-sat-set.Ā Bahkan, cuma 30 menit, untuk gue perpanjang paspor di bulan Desember lalu. Gue sangat-sangat appreciateĀ semua staf dan sistem layanannya!

Di tulisan kali ini, gue hanya akan share: cara perpanjang paspor untuk paspor reguler yang masih ada tapi habis masa berlakunya, ya, sesuai pengalaman gue pribadi. Cuma ada 6 tahapan yang perlu dilakuin:

1. Download Aplikasi M-Paspor dan Daftar Antrean Online

Tahap yang satu ini adalah tahap wajib dan nggak bisa diskip, ya.

Proses daftar untuk bikin atau perpanjang paspor, udah nggak bisa manual dan harus online. Nggak kayak dulu, di mana kita kudu dateng subuh pagi buta, terus antre sampe imigrasi buka.

UdahĀ seamless,Ā praktis, dan cepet, guys pakai antrean online ini. Jadi, tiap hari, setiap kantor imigrasi itu punya kuota yang dibuka untuk bikin atau perpanjang paspor. Jadi prosesnya bisa lebih cepet dan nggak ada antrean panjang.

Di Android atau iOS, aplikasi M-Paspor ini ada dua-duanya, kok. Tinggal buka Google Play Store atau App Store aja, terus download.

Kalau udah download, tinggal daftar sesuai instruksi yang muncul di aplikasinya. Pakai email dan nomor HP yang aktif ya, supaya nanti verifikasinya gampang.

Kita bakalan dapet email otomatis kayak di bawah ini, dari Imigrasi buat verifikasi. Di dalam email ini, ada kode khusus yang perlu dimasukin ke dalam aplikasi pas kita registrasi. Kalau udah dimasukin & diverifikasi, pendaftaran selesai, deh.

Verifikasi Daftar Akun Antrean Imigrasi

Terus, selanjutnya apa?

Tinggal pilih aja, keperluan kalian mau apa.

Bikin baru? Perpanjang atau penggantian paspor? Semua udah ada di menunya. Kalau gue kemarin, langsung pilih perpanjang paspor reguler.

Kenapa nggak e-paspor?

Simply, karena belum butuh & kalau nggak salah inget, kuotanya belum buka.Ā 

Jangan lupa, pas masukin detail dokumen yang dibutuhin kayak nama panjang, NIK, atau Nomor Kartu Keluarga, dicek ulang ya dan usahain udah bener jadi nggak ada masalah & perlu revisi nantinya.

Di tahap ini juga, kita bisa pilih: mau dateng ke kantor imigrasi mana dan jam berapa. Ada opsi jam pagi, ada opsi jam siang sampai jam 3 sore. Gue pilih opsi jam 1 siang karena paling pas dengan jadwal di hari itu.

Proses perpanjang paspor online.
Langkah ketujuh proses perpanjang paspor. Sedikit lagi selesai.

 

2. Bayar Paspor via ATM atau Internet Banking

Kalau udah selesai registrasinya, selanjutnya adalah pembayaran.

Yes, jadi waktu pembayaran itu kalau gue nggak salah inget, cuma 2 jam dari sejak pendaftaran selesai.Ā 

  • Biaya perpanjang paspor reguler: Rp350.000 (48 Halaman)
  • Biaya perpanjang paspor elektronik: Rp650.000 (48 Halaman)

Makanya, kalau kalian masih iseng-iseng doang gue saranin jangan dulu book hari, ya. Pas udah pasti aja dan bener mau perpanjang, jadinya lebih efisien karena harus langsung bayar.

Sekarang, opsi pembayaran bikin atau perpanjang paspor udah lebih banyak dibanding dulu. Gue sendiri pilih pake ATM BCA, supaya bukti struk transfernya bisa gue simpen dan bawa nanti ke kantor Imigrasi (ini salah satu syarat / dokumen wajib).

Di ATM: pilihnya menu “lainnya”, terus “Pembayaran”, terus pilih “Pajak/Penerimaan Negara”, ya. Abis itu, kalian tinggal masukin aja nomor kode pembayaran yang ada di aplikasi M-Paspor, 15 digit. Terus, konfirmasi pembayaran dan pastiin saldo cukup. Kelar, deh.

Kalau kita udah bayar perpanjangan paspor, tunggu beberapa jam (agak lama), nanti halaman depan M-Paspor bentuknya akan berubah kayak gini. Dari statusnya yang “Menunggu Pembayaran” jadi “Sudah Terbayar”. Emang agak lama, tapi akan berubah kok, nggak usah panik.

Perpanjang paspor online
Tampilan depan M-Paspor kalau sudah melakukan pembayaran.

3. Siapin: E-KTP Asli, Paspor Lama, Bukti Bayar, dan Surat Pengantar ke Kanim

Empat dokumen ini: baik aslinya maupun fotokopinya, wajib dibawa ke kantor imigrasi, di jadwal yang udah kita pilih pas registrasi.

Perlu Kartu Keluarga, Ijazah, dan lain-lainnya, nggak?

Jawaban gue: kalau tujuan kita perpanjang paspor & paspornya nggak hilang, maka nggak perlu!

Proses ganti paspor di Kantor Imigrasi Kelas 1 Pondok Pinang udah sesuai syarat yang ada di website Dirjen Imigrasi. Cuma butuh E-KTP dan paspor lama kita yang habis masa berlakunya. Praktis danĀ sat-set-sat-setĀ deh pokoknya.

Kecuali: kalau paspor kalian hilang atau mau bikin baru, baru deh syaratnya beda.

Jangan lupa,Ā prepareĀ aja dari rumah fotokopian 4 dokumen ini, ya. Buat paspor lama, yang difotokopi cukup bagian muka atau halaman yang isinya identitas kita aja. Nggak perlu halaman yang ada stempel imigrasi negara lain / pasca perjalanan.

Download Surat Pengantar KANIM
Tombol Download Surat Pengantar ke KANIM, ada di aplikasi M-Paspor, klik aja detail pengajuan. Nanti ada QR Code juga di atasnya, cuma yang ini gue crop ya.Ā 

Surat pengantar ke KANIM-nya juga jangan lupa didownload dari aplikasi M-Paspor, ya. Karena surat ini perlu dilampirin bareng sama fotokopi E-KTP dan paspor lama. Tinggal klik aja detail pengajuan, nanti tombol downloadnya langsung ada, kok.

Perlu bawa materai 10.000 nggak?

Pengalaman gue: gue bawa, tapi nggak kepake, guys. Jadinya, bisa dibilang nggak perlu. Kecuali tujuannya bikin baru, ya. Monggo kalau kalian mau bawa dan siapin, nggak rugi juga, sih.Ā 

4. Datang ke Kantor Imigrasi Sesuai Jadwal atau 10 Menit Sebelumnya

Perpanjang paspor di imigrasi
Tempat verifikasi dokumen perpanjangan paspor dan ambil antrean di Kantor Imigrasi Pondok Pinang.

Kenapa perlu 10 menit sebelumnya?

Ya, biar siap-siap aja dan kita perlu juga ambil nomor antrean buat proses rekam & foto paspor nantinya.

Inget, yang daftar bikin atau perpanjang paspor, bukan cuma kita doang.

Jadi, pas kita datang ke kantor imigrasi itu, kita harus ke meja staf atau resepsionisnya buat kasih semua dokumen yang diperlukan. Nantinya, staf di sana akan ngecek dokumen yang kita bawa udah sesuai belum sama tujuan kita ke Imigrasi.

Misalnya ada yang kurang, stafnya bakal balikin dokumen buat dilengkapi. Kalau udah lengkap, stafnya bakal manggil kita lagi dan langsung dikasih nomor antrean buat ke lantai 2 dan proses rekam data paspor.

Usahain datang sesuai jadwal ya, guys. Bisa reschedule kalau nggak bisa datang, tapi harus H-1 maksimal.

Misal, jadwalnya besok, maka maksimal reschedule di Imigrasi yang sama itu adalah hari ini. Nggak bisa mendadak. Kalau kita nggak dateng, otomatis uang pembayaran paspor hangus dan harus registrasi dari awal lagi, ya.Ā 

Gue pribadi juga waktu itu milih tanggal yang nggak ada meeting di jam yang dipilih, jadi bisa tepat waktu datengnya.

5. Proses Rekam, Foto, dan Interview di Imigrasi

Kalau kalian udah dapet nomor antrean, kita bisa lanjut ke lantai 3 Kantor Imigrasi Pondok Pinang. Biasanya staf di depan bakal ngasih tahu juga kok kita harus ke lantai mana, sesuai tujuannya.

Tinggal tunggu giliran aja buat proses rekam, foto, dan interview.

Pengalaman gue sendiri di proses ini lumayan cepet, ya. Diverifikasi datanya, interview sama petugas imigrasinya, terus proses foto deh. Nggak sampai 10 menit, kalau nggak ada kendala di dokumen dan prosesnya, yaudah perpanjang paspor udah selesai.

Dari proses verifikasi di lantai 1, ambil antrean, nunggu antrean, sampai foto, itu cuma butuh waktu 30 menit kalau gue nggak salah inget. Pokoknya cepet banget dan gueĀ happyĀ karena bisa langsung balik kantor.

6. Ambil Paspor 4 Hari Setelahnya atau Maksimal 30 Hari

Perpanjang paspor
Kertas bukti perpanjang + bukti pembayaran + nomor antrean pengambilan paspor.

Setelah proses foto selesai, petugas Imigrasi yang interview kita juga akan kasih selembar bukti pengajuan pergantian paspor. Bukti ini harus dan wajib dibawa saat kita balik ke kantor Imigrasi buat ambil paspornya nanti.

Dari tanggal pengajuan sampai ke tanggal pengambilan, cuma butuh waktu 4 hari kerja, kalau pengalaman gue waktu itu untuk paspor reguler.

Misalnya nggak bisa dateng di jadwal pengambilan gimana?

Nggak usah khawatir. Kalian bisa ambil kapan aja, selama nggak lebih dari 30 hari sejak tanggal pembuatan paspor ya. Jangan lupa dicek tanggalnya, ya.Ā 

Kalau udah dapet nomor antrean, lanjut ke lantai 2 tempat pengambilan paspor, terus tunggu giliran. Pengalaman gue waktu itu, cuma 10 menit nunggu antrean, nggak berasa karena emang cepet banget prosesnya.

Serahin dokumen yang tadi udah dibawa dan distepler ke petugas di konter pengambilan paspor.

Tanda tangan serah terima, dan petugas bakal langsung kasih kita paspor baru plus paspor lama (yang sudah digunting petugas & nggak berlaku).

Masa berlaku paspor yang baru udah jadi 10 tahun, ya guys. Kalau punya gue, dari Mei 2023 jadi Desember 2023.

Pengambilan perpanjangan paspor.
Kiri: Paspor lama yang udah distepler danĀ  nggak berlaku. Kanan: Paspor baru dengan masa berlaku 10 tahun.

Kabar baiknya: paspor yang diterbitkan per Oktober 2022, udah balik ada halaman tanda tangannya lagi ya. Jadi udah nggak perlu lembar pengesahan tambahan. Kemarin sempet ada isu soal penolakan WNI masuk gara-gara paspor nggak ada lembar tanda tangannya, nah sekarang ini udah ada.

Selesai. Nomor paspor udah ganti baru dan udah bisa gue pakai buat beli tiket. Siap-siap jadi bolang. šŸ˜„

The post Cepat dan Efisien: Perpanjang Paspor di Imigrasi Pondok Pinang appeared first on Spot Wisata.

]]>
https://spotwisata.com/pengalaman-perpanjang-paspor/feed/ 0
Lumphini Park, Taman Publik Cantik di Tengah Hiruk Pikuk Kota Bangkok https://spotwisata.com/lumphini-park-bangkok/ https://spotwisata.com/lumphini-park-bangkok/#respond Thu, 07 Apr 2022 15:26:07 +0000 https://spotwisata.com/?p=1030 It’s been a year since my last article. Here we go, another interesting story from 2019. More like, a fallin’ love story, but with a…

The post Lumphini Park, Taman Publik Cantik di Tengah Hiruk Pikuk Kota Bangkok appeared first on Spot Wisata.

]]>
It’s been a year since my last article. Here we go, another interesting story from 2019. More like, a fallin’ love story, but with a public park. Haha.

Thai Tea Thailand
Autentik Thai Tea, beli di Pasar Chatuchak sebelum ke Lumphini Park.

Masih ngomongin soal Bangkok, menurut gue nggak lengkap kalo nggak bahas soal taman publiknya. Di tengah hiruk pikuknya kota metropolitan yang satu ini, taman publik bisa jadi area refreshingĀ yang menyenangkan buat masyarakat setempat maupun wisatawan kayak gue ini. Yang terpenting, gratis. šŸ˜†

2019 lalu solo trip ke Thailand, gue sengaja udah ngeluangin waktu buatĀ chillĀ satu hari tanpa harus berkunjung ke tempat-tempat ikonik. PengenĀ slow living aja seharian.Ā Bangun pagi, sarapan di rooftopĀ hostel, keliling kota naik BTS, dengan tujuan akhir sorenya ke Lumphini Park: taman publik yang cantik di tengah Bangkok.

Tentu, Lumphini bukan satu-satunya taman publik yang ada di Bangkok. Ada belasan taman publik lain yang nggak kalah menarik. Hanya aja, yah gue nggak punya banyak waktu buat ngunjungin semuanya dalam 9 hari trip. Karena mesti pindah kota & ada itineraryĀ yang harus dijalanin.

Senam massal di Lumphini Park.

Jadilah gue menjatuhkan pilihan pada Lumphini Park. Yang konon katanya, setelah gue riset sana-sini di internet, adalah Best of The Best Public Park inĀ Bangkok. Nggak pikir panjang, ya langsung sikat masukin itinerary. Dan, setelah sampai sana, gue ngerasa beruntung udah bikin keputusan tepat buat berkunjung ke taman yang super menarik ini.

Kenapa?

Lumphini Park Is The First Public Park In Bangkok

Lumphini Park
Monumen utama di dekat pintu masuk Lumphini Park.

Dari informasi yang tertera di situs tourismthailand.org, Lumphini Park adalah taman publik pertama yang ada atau dibangun di Kota Bangkok. Taman yang multifungsi buat masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas outdoor. Mulai dari, olahraga, senam, sekadar duduk dan piknik, baca buku, dengerin musik, dan masih banyak lagi sesuai preferensi.

Nah, nama Lumphini juga konon diambil dari nama lokasi atau tempat kelahiran Siddharta Gautama di Nepal, yaitu “Lumbini”. Ini cukup menarik tapi nggak begitu mengherankan karena Buddha adalah agama mayoritas masyarakat Thailand.

Taman ini punya luas sekitar 142 hektar yang kabarnya, dulu adalah properti atau lahan pribadi dari Raja Rama VI yang dibangun tahun 1920. Nah, sekitar tahun 1925, Raja Rama VI mendonasikan lahan ini kepada negara dan masyarakat sebagai lahan atau area publik.

Ketika gue ke sana, gue sendiri lumayan tercengang ngeliat taman publik hijau yang sebegitu luasnya. Ditambah, di Lumphini Park bukan cuma ada pohon, bunga, dan aneka tanaman hijau standar taman publik biasanya, tapi ada juga danau buatan yang luas dan berbagai hewan yang hidup bebas di sana.

Lumphini Park Bangkok
Stepped into the park!

Gue duduk di pinggir danau dengan latar belakang gedung-gedung tinggi khas kota metropolitan. Ngeliatin gerombolan burung merpati terbang dan bangau cari makan. Well, seharian ngabisin waktu di taman ini pun kayaknya gue akan seneng-seneng aja.

Taman Lumphini Bangkok
Danau & gerombolan burung merpati di Lumphini Park.

Ramai banget, tapi emang pada dasarnya taman ini punyaĀ vibesĀ yang fresh dan menyenangkan. Plus, terawat dengan baik, yang gue lihat saat itu.

Lokasi dan Akses Transportasi Menuju Lumphini Park

Map Chatuchak
Papan rute MRT di Taman Pasar Chatuchak.

Lokasi Lumphini Park ada di Rama IV Road, Bangkok. Bisa pake Google Maps juga dan dijamin akurat.

Karena gue dari Pasar Chatuchak, gue ke Lumphini Park naik MRT dari Stasiun Si Lom. Turunnya di Stasiun MRT Lumphini, cuma 1 stasiun dan deket banget emang. Bisa juga diakses pake BTS Skytrain, tapi seinget gue tetep harus interchange sama MRT.

Kalo mau cepet, ya bisa pake taksi meter atau Grab. Ada juga akses transportasi lain kayak bus kota, tapi gue sendiri kurang tahu detailnya. Yaa, yang paling gampang diakses dan dibaca rutenya sih BTS dan MRT. Terutama buat wisatawan yang emang mau & suka eksplor.

Yang gue suka dari Bangkok juga, semua rute dan penunjuk arah BTS & MRT itu mudah dan jelas dibaca. Tinggal ikutin aja. Kalo bingung, tanya. Dijamin, nggak bakal nyasar.

Thai-Japanese Bridge & King Rama VI Monument

Thai-Japanese Bridge, Bangkok.
Thai-Japanese Bridge di dekat Lumphini Park.

Turun dari MRT Lumphini, gue jalan kaki sedikit ngelewatin Thai-Japanese Bridge yang posisinya cukup menarik perhatian. Sempet ambil foto dan sedikit kepo, kenapa ya bisa ada jembatan ini? Ternyata ini adalah jembatan yang dibangun sebagai tanda persahabatan antara Jepang & Thailand. Mungkin karena hubungan bilateral atau ekonomi.

Monumen King Rama VI
Monumen King Rama VI.

Nah, nggak lama jalan kaki setelah lewatin jembatan ini, gue pun sampai di depan taman Lumphini dan disambut oleh Monumen King Rama VI dengan latar belakang gedung-gedung perkantoran plus jalur kereta BTS.

Berbagai Atraksi di Lumphini Park: dari Track Lari sampai Perahu Angsa

Lumphini Park, Bangkok.

Nggak kayak taman publik pada umumnya, Lumphini Park punya berbagai atraksi yang bisa bikin orang jatuh cinta dan betah lama-lama di sini. Atraksi yang ada di Lumphini lebih beragam karena lahannya yang memang lebih luas dibanding taman publik kebanyakan.

Track lari udah pasti ada, standar taman publik. Berbagai patung dan paviliun buat ngumpul dan santai-santai juga ada. Area bermain anak,Ā outdoor gym,Ā lapangan tenis, danĀ spacesĀ untuk berbagai jenis aktivitas seperti olahraga dan club-club.

Outlet tiket buat naik angsa alias bebek-bebekan di danau Lumphini Park.

Salah satu yang paling menarik perhatian dari Lumphini tentu aja adalah danau yang luas di tengah taman dan atraksi perahu angsanya yang bisa disewa pengunjung. Kalo di sini, kita kan biasa nyebutnya bebek-bebekan, ya. Naik berdua, terus dikayuh deh keliling area danau.

Buat sewa bebek-bebekan di Lumphini Park, kita cuma perlu ngerogoh kocek sebesar 40 Baht atau sekitar Rp18.000 sampai Rp20.000. Harga ini berlaku untuk durasi 30 menit. Kita juga perlu bayar deposit sebesar 80 Baht atau Rp35.000 pas beli tiket sebagai jaminan buat ngembaliin bebek-bebekannya ke pinggir on time. Kalo waktunya kelebihan karena keasikan ngayuh, ya bakal dipotong dari uang deposit tsb buat sisa pembayarannya.

Sayangnya, karena gue solo trip, gue nggak bisa nyobain bebek-bebekan ini. Soalnya supaya seimbang, naik bebek ini mesti sepasang dan dikayuh bareng. Padahal, sekeliling danau Lumphini Park menarik banget buat dieksplor lewat air. Tapi, yah apa daya, mereka cuma nyewain bebek-bebekannya, nggak nyewain partner, hahaha. Alhasil, gue cuma bisa ngeliatin dari pinggir danau sambil merhatiin bangau-bangau yang lagi cari makan di air.

Bangau asli vs angsa replika. :))

Asli, ini pemandangan bagus & epic banget. Ada perahu angsa atau bebek-bebekan, tapi ada juga bangau asli di pinggir danau yang warnanya sama-sama putih. Kayak ngeliat real versionĀ danĀ replica versionĀ dalam satu waktu, meskipun beda jenis hewan. Gue senyum-senyum sendiri ngeliatnya. :)))

Berbagai Hewan di Lumphini Park: dari Biawak, Tupai, sampai Bangau

Yang nggak kalah menarik lainnya dari Lumphini sekaligus jadi daya tarik utama taman publik Krung Thep ini adalah adanya berbagai hewan yang hidup bebas di sini. Bukan cuma sekadar ikan di kolam, tapi juga biawak besar, bangau, tupai, kura-kura, dan beraneka jenis burung mulai dari merpati sampai murai.

Sayangnya, yang sempet gue liat di Lumphini cuma bangau-bangau dan gerombolan burung merpati di pinggir danau. Kura-kura apalagi biawak besar, jujur gue nggak tau di mana lokasi tepatnya di taman yang luasnya berhektar-hektar ini. Dan takut juga sih kalo ketemu. :))

Sempet riset dan dapat info kalo biawak-biawak besar yang ada di taman ini sebenernya nggak bahaya. Tapi ya cukup bikin takut dan ngagetin pas muncul di track running. Untungnya saat itu, gue nggak ketemu sama binatang satu ini. Meski sebenernya penasaran juga, ahaha.

Taman bermain di Lumphini Park.

Berhubung waktu itu sampe Lumphini jam 4 sore, waktu buat eksplor taman ini nggak begitu banyak. Ditambah, gue udah telanjur nyaman duduk di pinggir danau ngeliatin bangau. Sambil nunggu sunset, gue juga keliling-keliling area taman yang deket-deket kayak area taman bermain anak dan paviliun-paviliunnya.

Sunset di Lumphini Park

Lumphini Park, Bangkok.
Sunset di Lumphini Park, Bangkok.

Nggak kalah bagusnya sama sunsetĀ di pantai, di Lumphini Park, sesi matahari terbenam waktu gue berkunjung itu juga lagi sama bagusnya. Selain suhu Kota Bangkok yang memang kering, gue dateng ke Thai saat itu pas masih musim panas. Jadi, kondisi cuaca dan langit lagi terang dan bagus-bagusnya. Tentu aja, ngedapetin panorama sunset yang bagus bukan perkara susah.

Abis keliling-keliling taman bentar, gue balik lagi ke sekitar pinggir danau buat ngeliat cantiknya matahari terbenam di balik gedung-gedung bangunan yang berdiri kokoh. Ditambah, pohon-pohon yang rindang di sekitar danau saat itu juga berubah menjadi siluet yang bikin pemandangan sunset jadi makin ciamik.

Sunset at Lumphini Park.
Another beautiful sunset angle from Lumphini Park.

Cuma modal iPhone 6 seadanya, beruntungnya, gue berhasil nge-capture panorama saat itu yang lumayanĀ memorable. Puas cekrak-cekrek, sambil jalan, gue juga sambil nyari jalan keluar taman karena udah mau jam 7-an. Satu-satu pengunjung taman udah mulai pulang & sepi.

Habis Dari Lumphini Park, Enaknya Ke Mana?

Karena masih sore, gue mutusin buat lanjut ngebolang ke Bangkok Art and Culture Centre (BACC) di dekat Siam Square. Lanjut naik MRT & BTS karena saling terhubung. Emang dasar gue norak aja sih, bangku banyak kosong ya tapi demennya diri buat liatin jalanan. :))

Suasana di dalam MRT menuju BACC.

Seinget gue, pas turun dari BTS, gue bisa langsung konek ke jembatan menuju mal dan juga BACC. Plus, gue bisa liat jembatan yang ada tulisan “Bangkok, City of Life” ini. Bukan cuma sebatas jembatan, tapi jembatan ini juga punya banyak space yang ada kursi-kursi buat warga sekadar menikmati pemandangan sekitar & lampu-lampu jalan. Jembatan ini juga menghubungkan antara mal dan tempat-tempat di sekitar BACC.

Jembatan BACC.

Sesuai namanya, BACC ini adalah tempat & pusat pameran berbagai karya seni. Dari lukisan, patung, dan berbagai ekshibisi, biasanya sering digelar di tempat ini. Gue masih inget banget di tahun 2018 gue ke Bangkok, gue sempet nonton ekshibisi tentang #DontTellMeHowtoDress.

Yang kurang lebih menyampaikan pesan bahwa perempuan nggak seharusnya diatur harus pakai apa demi untuk menghindari kekerasan atau pelecehan seksual. Karena, apa pun pakaiannya, sumber masalah sebenarnya adalah di otak pelaku, sama sekali bukan di korban. Di ekshibisi ini juga ditunjukin berbagai kisah perempuan yang mengalami pelecehan dan kekerasan seksual, padahal saat itu mereka sedang pakai seragam sekolah, baju seragam kerja, dan yang menyedihkan, ada baju anak-anak. Jujur, gue speechlessĀ dan sedih. Salah satu ekshibisi yang bagus dan berkesan yang pernah gue datengin.

Bangkok Art and Culture Centre, Thailand.

 

Bangkok Art & Culture Centre.
Interior dalam BACC.

 

Pameran Lukisan di BACC.

 

Karya seni pop di BACC.

Gue agak lupa BACC saat itu tutup jam 7 atau jam 8 malam. Yang pasti, gue gak lama di sana karena udah bentar lagi tutup. Nah, perjalanan hari itu pun gue sudahi dengan keliling daerah BACC dan akhirnya gue balik ke hostel. Bonus foto sudut bangunan BACC dari angle lain yang menarik & memorable untuk gue pribadi.

Sudut BACC lainnya yang menarik.

Salah satu hal yang gue syukuri dari trip ini adalah, gue sendirian, jadi bisa eksplor banyak. Dan kalo dipikir-pikir, jalan seharian random, tried to living like locals, somehow ngasih gue energi tersendiri dan bisa lebih kenal sama sisi lain dari Bangkok.

Gue cukup menikmati naik transportasi umum di Bangkok, terutama BTS. Ngeliat lampu-lampu jalan, mampir tempat makan yang enak, dan bisa eksplor jalan sekitar stasiun BTS.

I love this city & its beauty, as much as I love myself. Can’t wait to meet you again, Bangkok!

Pulang ke hostel naik BTS.

The post Lumphini Park, Taman Publik Cantik di Tengah Hiruk Pikuk Kota Bangkok appeared first on Spot Wisata.

]]>
https://spotwisata.com/lumphini-park-bangkok/feed/ 0
Sowan ke Kuil Dewi Kwan Im Terbesar di Tengah Pegunungan Chiang Rai https://spotwisata.com/wat-huay-pla-kang-chiang-rai/ https://spotwisata.com/wat-huay-pla-kang-chiang-rai/#respond Sun, 03 Jan 2021 22:00:44 +0000 https://spotwisata.com/?p=931 Sebelum mulai hectic lagi per Senin di Q1 2021 dan mumpung sempet cerita, here we go! Banyak banget, hal dan detail perjalanan menarik yang emang…

The post Sowan ke Kuil Dewi Kwan Im Terbesar di Tengah Pegunungan Chiang Rai appeared first on Spot Wisata.

]]>
Sebelum mulai hectic lagi per Senin di Q1 2021 dan mumpung sempet cerita, here we go!

Banyak banget, hal dan detail perjalanan menarik yang emang belum sempet gue ceritain dari solo trip 9 hari ke Thailand November 2019 kemarin. Salah satunya tentang kunjungan ke Wat Huay Pla Kang yang berlokasi di tengah pegunungan Chiang Rai.

Wat Huay Pla Kang Chiang Rai

Sebuah kuil Buddha di mana patung Dewi Kwan Im terbesar atau yang dikenal juga sebagai Guan Yin, Sang Goddess of Mercy, bersemayam kokoh dengan pesonanya yang magis.

Yang membuat perjalanan ini menarik bagi gue sendiri, bukan cuma karena tempat atau kuilnya yang emang legendaris. Baik dari sisi historis maupun arsitekturnya. Tapi juga karena kunjungan ke sana, gue lakuin secara spontan dan bisa dibilang nekat. Yes, the power of solo trip. Kalo nggak solo trip, pasti nggak bisa ubah-ubah & dadakan seenak jidat. Semua harus serba kompromi, brou.

Naik Taksi Argo Tembak dari Terminal Bis Chiang Rai ke Hostel

Kenapa spontan? Jadi, dari Bangkok ke Chiang Rai, gue naik bis kota Sombat Tour selama 12 jam. Bis jalan dari Bangkok mulai jam 7 malam, dan sampai di Terminal Bis Chiang Rai itu jam 7 paginya. Nah, dari sejak subuh sampe bis tiba di terminal, Chiang Rai diguyur hujan yang nggak kelar-kelar. Alhasil, suhu udara di bis jadi makin menjadi-jadi dinginnya. Ditambah lagi, Chiang Rai itu kan wilayah pegunungan. Otomatis, ya bikin gue yang nggak kuat dingin ini jadi agak ‘semaput’. Untung, untung banget, gue selalu bawa jaket dobel. Haha.

Saking dinginnya, pas turun dari bis, otak gue ikutan beku dan susah mikir.

“Buset, ini gue ke mana dulu, yak?”

Sebenernya, gue udah bikin itinerary lengkap dari berangkat sampe pulang lagi ke Jakarta. Tapi, ya berhubung gue jalan sendirian, gue pasti iseng masukin satu atau dua timeline kosong buat “yaudah gimana ntar atau di sana ajalah”. Sengaja, biar otak gue dipaksa mikir, kreatif, dan bisa solve the problem.

Wat Huay Pla Kang ini pun udah ada dalam itinerary gue saat itu. Cuma, ke sananya gimana, gue sama sekali nggak tau. Hahaha. Sialnya, pagi itu di terminal dingin & gloomy banget. Jangankan mikirin rute ke sana gimana, gue sibuk menggigil dan gerak-gerak biar dinginnya ilang, tapi nggak ilang-ilang. Akhirnya, gue pindah ke tempat duduk di terminal bagian dalam yang ada pintu dan jendelanya. Lumayan, dingin berkurang.

Sambil nenggak air mineral botolan 20 Baht yang gue beli di terminal, gue diem dan merhatiin sekitar. Terutama moda transportasi yang tersedia di terminal. Gue liat-liat ada tiga moda transportasi yangĀ ready: taksi, songthaew (kayak angkot kalo di sini), sama ojek. Satu lagi, ada Grab Thailand juga.

Otak gue yang udah mulai bisa dipaksa mikir itu langsung ngasih ide:

“Cuy, ke hostel aja dulu. Siapa tau bisa early check in, naro tas, sama ngangetin badan at least sampe ada matahari, lah.”

Iya, gue agak gambling. Karena waktu itu seinget gue, hostel gue nggak nyediain fasilitas early check in. Yah, maklum, namanya juga hostel backpacker dengan rate 200K semalem. Haha.

Deal,Ā tujuan utama ke hostel dulu. BisaĀ early check inĀ apa nggak urusan belakangan. Setelah itu, gue mikir lagi: gue naik apa nih ke hostel? Langsung, gue cek aplikasi Grab Thailand. Niatnya mau naik Grab Car sama nyari ongkos yang fixed supaya nggak kena tembak. Tapi ternyata, harga Grab Car pagi itu sekitar 150 Baht lebih alias kalo dirupiahin dengan kurs Rp475 jadi sekitar Rp72.000. Gue lupa jarak dari terminal ke hostel berapa KM, tapi saat itu gue mikir harga ini mahal & nggak make sense. Ya make sense-nya karena hujan jadi lebih mahal.

The power of solo tripĀ kayak yang gue bilang sebelumnya, nggak tau gue kerasukan apa. Gue milih skip & tutup aplikasi Grab, terus nekat nyamperin bapak-bapak taksi yang lagi pada ngumpul dan nyari penumpang. Padahal gue tau most likely,Ā ini bakalan nembak argonya. Dan bener.

Pertama, gue langsung nanya khas turis:

“Excuse me, can you drive me to this hostel?” Kata gue, sambil nunjukin peta & nama hostel dalam bahasa Thailand. Lucky me, si bapak supir taksi yang gue tanya langsung tau dan jawab “oh yes, 100 Baht to this hostel.” Dalem hati: waw, berkah nekat & berinteraksi dengan warga lokal. Haha.

Kalo dibandingin Grab Car yang gue cek tadi harganya, jelas ini lebih murah. Gue bisa sampe ke hostel dengan ongkos hanya Rp47.500 saja! Pelajaran yang bisa diambil di sini: tidak semua harga tembak akan merugikan kita. šŸ˜„

Tidak ada perdebatan deal or no deal lagi, langsung aja gue naik dan bilang “ok, let’s go!”

Gue udah kedinginan dan laper, bos.

Duduk di depan bareng pak supir, gue sungguh menikmati jalanan kota Chiang Rai pagi itu. Lenggang, sepi, dan damai. 30 menit perjalanan, gue udah sampe depan Hostel Baan Mai Kradan.

Apakah gue bisaĀ early check in? Jelas tidak. Haha. šŸ™‚

Karena penghuni kamar gue belum keluar/checkout pagi itu, makanya nggak bisa. Tapi, staf hostel super baik. Gue dibolehin titip barang (kalo ada) dan langsung sarapan di ruang tamu. Sampe di hostel jam 9, gue numpang duduk, sarapan, dan bengong kurang lebih sampe jam 10. Kalo mau check in, ya mesti nunggu sampe jam 2. Yang mana ini tidak make sense dan ngapaaaain, brou?

Karena nggak mau nunggu sia-sia, gue memutuskan untuk lanjut jalan ke Wat Huay Pla Kang jam 10.30 pagi itu dari hostel. Ini super spontan, asli. Lalu, pertanyaannya: apakah gue harus nyewa motor? Atau naik ojek ke sana?

Lanjut Naik Grab Bike Thailand ke Wat Huay Pla Kang

Grab Bike Thailand

Pas ngetrip ke Chiang Mai, kota di sebelahnya Chiang Rai, tahun 2018, gue sempet sewa motor untuk keliling dan naik-naik ke puncak gunung. Tapi, kali ini gue mengurungkan niat untuk kembali sewa motor karena gue kelupaan bawa SIM (SIM Indonesia berlaku di ASEAN) dan kota Chiang Rai itu banyak wilayah perbatasan dengan negara tetangga, Laos & Myanmar. Daripada kenaĀ checking polisi di perbatasan soal urusan administratif dan jadi ribet?

Akhirnya, gue pilih buat nyoba naik ojek alias Grab Bike ke Wat Huay Pla Kang. Dengan ekspektasi, semoga harganya udah make senseĀ karena jam 10 pagi itu udah nggak ujan dan matahari udah muncul. 5 menit setelah order Grab Bike, gue dapet driver dengan tarif 83 Baht atau sekitar Rp40.000 untuk menuju Wat Huay Pla Kang. Bener-benerĀ first time experiencedĀ gue ngojek dan pake Grab di negara orang.Ā All smooth!

Chiang Rai emang kota yang sepi banget, bedalah sama Chiang Mai. Tapi surprisingly, nemu Grab Car atau Grab Bike di sini gampang banget. Ditambah, selama gue nyoba Grab di sana, gue selalu dapet supir yang bisa bahasa Inggris & paham orderan gue mau ke mana.

Sama seperti perjalanan gue ke hostel dengan taksi argo tembak, gue juga sungguh-sungguh menikmati perjalanan ngojek ke Wat Huay Pla Kang yang ada di tengah pegunungan di Chiang Rai. Lebih malah. Naik ojek di Chiang Rai yang sepi lebih asik daripada naik mobil, ternyata. Life was very YOLO back then.

Agak lupa detail obrolannya gimana, tapi yang pasti, gue dengan bapak driver ojek menuju Wat Huay Pla Kang waktu itu sempet ngobrol sedikit. Standar, tentang gue dari mana, sama siapa dateng ke Chiang Rai, sekalian gue konfirm kalo ternyata Grab di Chiang Rai itu gampang dapetnya. Haha. Endingnya pas udah deket lokasi, bapak driver ngasih tau gue kalo gue bisa makan gratis di kuil. Beliau juga nunjukin langsung tempat di mana gue bisa makan gratis. Matur nuwun sanget, pak!

Tentang Wat Huay Pla Kang di Chiang Rai

Guan Yin Chiang Rai

Wat Huay Pla Kang adalah salah satu landmark yang populer dan terbilang baru di Chiang Rai. Kabarnya, kuil ini mulai berdiri keseluruhan dan terbuka untuk umum sejak tahun 2016. Berlokasi di wilayah pegunungan Muang, Chiang Rai, Wat Huay Pla Kang dulunya hanya terdiri atas 1 bangunan kantor khusus untuk biksu (tahun 2001), sebelum akhirnya berkembang sampai semegah sekarang ini.

Banyak orang sering salah sebut kuil ini sebagai ā€œChiang Rai’s Big Buddha Templeā€. Padahal faktanya, patung yang ada di kuil ini bukan patung Buddha, tetapi patung Dewi Kwan Im atau Guan Yin, Sang Dewi Welas Asih.

Goddes of Mercy

Chiang Rai Buddha Statue

Dalam ajaran Buddhisme Mahayana, Guan Yin atau Kwan Im adalah Bodhisattiva, yaitu seseorang yang telah mendapat dan mencapai pencerahan. Namun, beliau memutuskan untuk mendedikasikan dirinya demi memperjuangkan kebahagiaan dan kesejahteraan makhluk lain yang masih menderita dan sengsara, alih-alih memilih memasuki nirwana.

Mahayana adalah salah satu aliran atau gerakan dari agama Buddha yang muncul di India sejak era umum/Masehi pada awal abad ke-9. Sejak itu juga, aliran atau ajaran ini mulai mendominasi kultur Buddha di Asia Tengah dan Asia Timur, dan menyebar hingga ke Asia Tenggara. Terutama Myanmar dan Sri Lanka.

Chiang Rai sendiri merupakan kota paling utara di Thailand yang salah satunya berbatasan langsung dengan Myanmar. Nah, bagian utara Thailand, terutama wilayah Chiang Mai, dulunya adalah pusat dari Kerajaan Lanna.

Sebagai informasi, Kota Chiang Mai dan Kota Chiang Rai ini bersebelahan, ya. Sama-sama di utara Thailand. Bedanya, Chiang Rai itu disebut sebagai ā€œThe Northernmost City in Thailandā€ alias kota paling ujung-banget-utaranya Thailand. Makanya, Chiang Rai berbatasan langsung sama Laos dan Myanmar. Dibelah sama Sungai Mekong.

Soal perbatasan ini, gue udah sempet nulis cerita perjalanan gue ke Golden Triangle Thailand secara khusus. Monggo kalo mau baca di sini: https://spotwisata.com/golden-triangle-dan-opium/

Dari Chiang Mai ke Chiang Rai, kurang lebih makan waktu 2-3 jam kalau lewat darat atau pake bis. Persis Jakarta – Bandung. Waktu ke Chiang Mai tahun 2018 lalu, gue sendiri belum sempet ngunjungin Chiang Rai.

Karena udah dateng ke Chiang Rai 2019 lalu, gue bisa bandingin kalo Chiang Rai dan Chiang Mai ini bisa dibilang beda banget. Chiang Mai itu udah kota turis dan cukup ramai, tapi masih super autentik dan khas. Kayak Jogja atau Malang kalau di Indonesia.

Sementara Chiang Rai, masih sepi banget dan menurut gue masih jarang turis yang destinasi utamanya direct ke Chiang Rai dari Bangkok. Rata-rata turis yang dateng ke kota ini, biasanya destinasinya ke Chiang Mai dulu, baru besoknya 1 day trip ke Chiang Rai pake tur atau travel van.

Background historis dan kultur tersebut, berpengaruh ke arsitektur dari bangunan kuil Wat Huay Pla Kang. Iya, kuil magis yang satu ini dibangun dalam gaya Thai-Lanna yang berpadu dengan banyak elemen arsitektur Tiongkok. Mulai dari segi warna bangunan kuil yang didominasi putih, kuning, emas, hijau, dan merah; sampai ke patung naga raksasa dan Pagoda khas Tiongkok yang ada di kompleks kuil Wat Huay Pla Kang.

Detail Kompleks Kuil Wat Huay Pla Kang di Chiang Rai

Wat Huay Pla Kung Chiang Rai

Sejak di Grab Bike alias ojek menuju kuil ini, gue udah mulai takjub karena sepanjang jalan sekitar 5 menitan lagi sampe, gue udah bisa liat megahnya patung Dewi Kwan Im dari jauh yang dikeliling area perbukitan.

Pas sampe di lokasi, sambil bayar ojek, gue ada bengong dulu sekitar 5 detik karena terkesima sama pesona kompleks kuil Wat Huay Pla Kang yang megah dan cerah. Ditambah, cuaca pasca hujan waktu itu super duper terik. Asli, ini kuil makin cantik dan ciamik!

Sepengamatan gue saat itu, kompleks kuil Wat Huay Pla Kang ini terdiri atas 3 bangunan utama, yaitu:

1. Area Bangunan dan Patung Dewi Kwan Im

Kwan Im Thailand

Bangunan ini jelas yang ternyentrik di kompleks kuil Wat Huay Pla Kang: udah keliatan jelas dari jauh dan seolah-olah manggil-manggil buat dikunjungin.

Patung Dewi Kwan Im ini jugalah yang kabarnya menjadi daya tarik utama bagi banyak turis mancanegara, terutama Tiongkok dan Vietnam, buat datang ke Chiang Rai dan beribadah di kuil ini.

Di bagian tangga bangunan patung Dewi Kwan Im, ada sepasang patung naga raksasa putih yang menjadi dekorasi tangga utama menuju tempat peribadatan.

Dragon Statue Chiang Rai

Chiang Rai Temple

Wat Huay Pla Kung Chiang Rai

Chiang Rai Temple

Bukan cuma sosok Dewi Kwan Im dan warna putihnya aja, patung naga raksasa dan beberapa patung lainnya yang ada di sekitar bangunan juga merupakan bagian dari representasi mitologi Buddha sekaligus elemen utama dari arsitektur tradisional Tiongkok.

Kwan Im atau Guan Yin adalah Dewi Welas Asih, Pemaaf, dan Penyayang. Sementara ikon naga dalam kepercayaan Tiongkok mengandung simbol harapan, kemakmuran, serta kebahagiaan. Dari sini, gue pribadi cukup relate sama makna dari bangunan dan detail arsitekturnya.

Wat Huay Pla Kung

Baik masyarakat lokal maupun turis sangat menghormati Wat Huay Pla Kang. Selain dijadikan tempat ibadah, juga sekaligus dijadikan tempat buat berlatih Dhamma. Bahkan, ada kepercayaan setempat: siapa pun yang berdoa di kuil ini niscaya akan mendapat kesehatan yang baik dan kesejahteraan materi. Amen? Amen!

Ngomong-ngomong, kalo lo liat gambar patung Dewi Kwan Im di atas, di bagian kening ada satu bulatan hitam. Yang mana bulatan tersebut adalah jendela yang bisa membawa kita buat ngeliat pemandangan di sekitar pegunungan lokasi Wat Huay Pla Kang.

Guan Yin Temple

Wat Huay Pla Kang

Wat Huay Pla Kang

Yak, kita bisa naik ke bagian kepala patung, tepatnya ke lantai 25, lewat lift yang sudah disediakan pihak kuil. Biayanya sekitar 40 Baht atau Rp20.000. Gue sendiri nggak sempet naik ke atas waktu itu karena datang bertepatan dengan jam makan siang. Kalo nggak salah, loket tiketnya ditutup sementara.

Gue juga nggak begitu minat buat naik & liat. Karena dengan naik ke bagian area Patung Dewi Kwan Im aja, pemandangannya udah super bagus.

Wat Huay Pla Kung

Oh iya, Wat Huay Pla Kang itu luas banget ya. Jadi, kalo misalnya kita capek keliling naik-naik bukit dan kuil, tinggal naik mobil keliling gratis warna pink ini aja. Tapi, nunggunya agak lama. Ya maklum, namanya juga gratis. Haha.

2. Bangunan Pagoda atau Stupa 9 Tingkat

Pagoda Chinese Chiang Rai

Di sebelah area bangunan Patung Dewi Kwan Im, ada Pagoda 9 Tingkat yang kalo diliat sekilas aja, gaya arsitektur Tiongkok-nya sangat mendominasi. Mulai dari detail bangunan, warna, sampai ke sepasang patung naga yang jadi dekorasi tangga utama.

Pagoda Chinese Chiang Rai

Pagoda Chiang Rai

Bangunan pagoda ini bisa dibilang unik karena di Thailand, jarang ada pagoda atau stupa yang terdiri atas banyak tingkat dan kombinasi warna seperti yang ada di kompleks Wat Huay Pla Kang.

Rata-rata stupa di Thailand biasanya terdiri atas 1 – 3 tingkat dan warna keseluruhannya emas. Contohnya kayak yang ada di Grand Palace Bangkok, cerita kunjungan gue ke Grand Palace bisa dibaca di sini: https://spotwisata.com/berkunjung-ke-grand-palace-bangkok/

3. Bangunan Tempat Peribadatan

Berlokasi di tengah dan diapit antara Patung Dewi Kwan Im dan Pagoda 9 Tingkat, bangunan tempat peribadatan di Wat Huay Pla Kang juga dijaga oleh sepasang patung naga putih di tangga utamanya. Di dalam bangunan, ada patung Buddha raksasa berwarna putih mengkilap yang dibuat dari porselain.

Wat Huay Pla Kung

Sekilas, bentuk bangunan tempat ibadah ini mirip banget sama Wat Rong Khun atau Kuil Putih yang juga ada di Chiang Rai. Nanti kapan-kapan, gue ceritain soal Wat Rong Khun juga ya. Di mana yang menarik dari Wat Rong Khun bukan hanya detail arsitekturnya, tetapi juga cerita dan filosofi di balik setiap detail dan elemen bangunannya.

Nyobain Makanan Gratis di Wat Huay Pla Kang

Makanan gratis di kuil

Jam 10.50 sampe di lokasi, nggak kerasa gue udah keliling kompleks kuil selama 1,5 jam. Yes, jalan kaki. 12.30, gue udah kelaparan dan bekal minum udah mulai abis. Akhirnya, gue turun dari kuil dan mulai gerilya cari outlet makanan. Sayangnya, karena berlokasi di tengah area pegunungan, seinget gue saat itu nggak banyak toko atau penjual makanan di Wat Huay Pla Kang. Cuma ada satu toko atau outlet minuman yang menunya lumayan variatif dan harganya standar.

Dapur umum di kuil

Satu yang menarik perhatian gue saat itu adalah “dapur umum” tempat buat ambil makanan gratis, sesuai yang dibilang bapak driver Grab Bike gue di awal. Bukan cuma makanan, ada juga area buat isi ulang air mineral dingin gratis. Standar kuil pada umumnya yang memang menyediakan makanan atau snack gratis buat pengunjung.

Makanan gratis di kuil

Menu makanan waktu itu, semacam mie pipih dan lebar kayak kwetiau, yang dikasih kecap dan disajikan dengan bumbu kaldu kental, sayuran rebus, dan bubuk cabe kering khas bumbu Thailand. Sederhana banget, tapi juga enak banget. Kemungkinan besar, karena gue juga udah lapar banget. Haha. Ini kedua kalinya gue nyoba makan makanan gratis di kuil. Yang paling bikin bersyukur adalah air putih dinginnya itu. Seger banget bos. šŸ˜†

10 menit makan, sisanya gue keliling-keliling area bawah kuil yang makin sore makin ramai didatangi pengunjung. Tadinya, gue mau coba sampe sore atau kalo bisa sampe malam di kuil ini. Penasaran, pengen liat gimana kompleks Wat Huay Pla Kang di waktu malam yang pastinya lebih bersinar karena dikeliling lampu-lampu.

Tapi, berhubung gue ke sini naik Grab Bike dan Chiang Rai kota yang sepi, gue khawatir baliknya malah susah. Haha. Nggak lucu kan kalo gue mesti jalan kaki di kampung orang berkilo-kilo buat ke hostel karena nggak ada transportasi?

Akhirnya sekitar jam 1 karena udah mulai mendung lagi juga, gue mutusin buat balik ke hostel dan check in. Perginya naik Grab Bike, pulangnya juga gue pesen Grab Bike karena nggak ada opsi transportasi lain yang possible. Kurang dari 10 menit, gue udah dapet Grab Bike menuju hostel.

Sampe di hostel jam 2 sorean, gue mutusin hari itu udahan dulu eksplornya. Baru berasa super capeknya 12 jam perjalanan darat di bis, langsung ke Wat Huay Pla Kang pula nggak pake istirahat. šŸ˜…

Oh iya, hostel gue ini, Baan Mai Kradan, super duper homeyĀ sekali. Nggak jauh dari pusat kota Chiang Rai dan juga outlet makanan. Hanya aja, seperti yang gue bilang, Chiang Rai adalah kota yang sepi.

Tapi, berhubung gue nginep di hostel yang banyak turis, lokal maupun internasional, kunjungan gue ke Chiang Rai saat itu bener-bener ngasih pengalaman gue buat hidup seperti orang lokal. Bahkan, buat beli makan malam ke area pusat kota, gue jalan kaki sekitar 30 menit santai sendirian udah kayak mau ke warung deket rumah mau beli telor sama indomi. Haha.

Di lain waktu, nanti gue mungkin akan cerita & review juga soal hostel-hostel yang gue inapin selama solo trip 9 hari gue di Thailand kemarin. Nggak ada yang zonk! Murah, berkualitas, strategis, dan atmosfernya bener-benerĀ feels like home. Siapa tau bisa jadi rekomendasi lo yang pasca pandemi nanti pengen eksplor Thailand.

Adios! šŸ˜„

The post Sowan ke Kuil Dewi Kwan Im Terbesar di Tengah Pegunungan Chiang Rai appeared first on Spot Wisata.

]]>
https://spotwisata.com/wat-huay-pla-kang-chiang-rai/feed/ 0
Pengalaman Pertama Terbang dengan Nok Air dari Bandara Mae Fah Luang Chiang Rai https://spotwisata.com/nok-air-chiang-rai/ https://spotwisata.com/nok-air-chiang-rai/#respond Sat, 13 Jun 2020 20:06:04 +0000 https://spotwisata.com/?p=856 Jujur aja, akhir-akhir ini, saya lagi kangen banget sama suasana bandara & onboard di pesawat. Sebelum pandemi, di akhir Januari 2020, saya masih ke luar…

The post Pengalaman Pertama Terbang dengan Nok Air dari Bandara Mae Fah Luang Chiang Rai appeared first on Spot Wisata.

]]>
Nok Air

Jujur aja, akhir-akhir ini, saya lagi kangen banget sama suasana bandara & onboard di pesawat. Sebelum pandemi, di akhir Januari 2020, saya masih ke luar kota karena ada urusan kerjaan dari kantor. Yang buat traveling,Ā biasanya memang setahun sekali sekalian ngabisin cuti. Terakhir di November 2019, rute yang saya tempuh JKT-BKK-JKT direct pakai Garuda & CEI (Chiang Rai) ke DMK (Don Mueang) pakai Nok Air.

Karena menulis adalah bagian dari terapi & bisa mengatasi rasa kangen, ya udah deh sekalian aja saya ceritain pengalaman terbang saya pertama kali dengan Nok Air. Pesawat LCC (Low Cost Carrier) dari Thailand yang armadanya (livery) punya desain unik & beda daripada yang lain. šŸ¤—

Waktu itu, saya naik Nok Air untuk pulang dari Chiang Rai ke Bangkok dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 30 menit. Mirip dengan penerbangan Jakarta ke Malang dan sebaliknya. Karena pergi ke Chiang Rai udah naik bus selama 13 jam, buat pulangnya saya pilih yang praktis & cepat aja pakai pesawat. Udah capek soalnya, bos! Hehe. Nah, alih-alih beli tiket pesawat LCC populer kayak AirAsia atau Thai Lion Air, saya malah milih Nok Air. Kenapa sih? Nggak takut dapat bad experience,Ā emang?

Alasannya simple aja: saya tertarik sama desain bodi pesawat Nok Air yang unik & menonjol. Didominasi warna kuning terang dengan logo paruh burung yang juga dijadikan sebagai desain utama bagian kepala pesawat. Dalam bahasa Thailand, “Nok” sendiri artinya memang burung. Dari kejauhan/di landasan terbang, pesawat Nok Air terlihat cukup mencuri perhatian & memikat. Tapi, apakah sebanding dengan pelayanannya?

Justru itu, prinsip saya sih, kalau nggak dicoba dan dibuktikan sendiri, saya nggak bakal tau. Apalagi waktu itu saya sempet sedikit maju mundur mau beli tiket pulang naik Nok Air. Sebab, di beberapa forum traveling seperti TripAdvisor, rating Nok Air terbilang kurang bagus. Belum lagi dibarengi dengan berbagai komentar negatif dari orang-orang yang pernah menjadi penumpang.

Bener nggak, sih?


Nekat Beli Tiket Nok Air Rute Chiang Rai ke Don Mueang Lewat Traveloka

Nok Air Traveloka

Saya sihĀ nothing to loseĀ aja. Kalau dapetĀ good experienceĀ ya bagus, kalau dapetĀ bad experienceĀ ya dijadiin pelajaran. SebagaiĀ traveler,Ā saya sebenernya juga khawatir kalau-kalau pesawat delayed lama atau bahkan sampai dibatalkan dan saya harusĀ refund. Ribet lagi urusannya. Sementara lusa, saya sudah harus terbang & pulang ke Jakarta lagi. Kebayang kan kalau sampai nggak dapet pesawat dalam waktu cepat? Bisa dobel deh ruginya. Haha. šŸ˜‚

Akhirnya, saya mutusin buat modal nekat & bismillah aja beli tiket Nok Air lewat Traveloka. Nah kebetulan, saya tipe travelerĀ yang nggak sukaĀ gamblingĀ untuk urusan persiapan akomodasi kayak tiket atau penginapan. Nggak bisa pakai rumus “gimana ntar”. Apalagi buat perjalanan ke luar negeri. Semua udah harus saya siapin jauh-jauh hari sebelum hari keberangkatan. Buat perjalanan ke Thailand kemarin, semua akomodasi udah saya beli 1 bulan sebelum keberangkatan lewat online travel agent: Traveloka untuk pesawat dan hostel & 12go.asia untuk tiket bus.

Kalau di Indonesia, Nok Air ini mirip-mirip dengan Citilink, terutama dari segi pelayanannya. Nah dari sisi harga, lebih mirip murahnya Lion Air & AirAsia. Untuk rute one wayĀ dari Chiang Rai (CEI) ke Don Mueang (DMK), Bangkok, saya beli hanya seharga Rp430.000 di Traveloka. Harga tiket ini lebih murah dibanding tiket bus yang saya beli di 12go.asia untuk menuju Chiang Rai: sekitar Rp550.000-an. Namun tentunya, fasilitasnya juga sebanding. Kapan-kapan, saya mungkin bakal cerita juga soal bus dari Sombat Tour yang saya tumpangi menuju Chiang Rai ini.

Saya sendiri emang paling males terbang siang bolong karena panas & silau. Saya juga tipe orang yang lebih suka menikmati penerbangan dengan melihat pemandangan dari jendela atau nonton/dengerin musik di in flight entertainment (kalau naik premium airline). Alih-alih tidur dan menutup jendela pesawat. Kebetulan, waktu itu di Traveloka ada jadwal Nok Air yang sore jam 16.00. Pas, deh! Saya udah kebayang bakalan sebagus apa langitnya kalau terbang jam-jam segitu. Apalagi Chiang Rai kan wilayah pegunungan. Bisa makin ciamik pemandangannya dengan asumsi nggak turun hujan, hehe.


Dari Hostel Baan Mai Kradan Menuju Bandara Internasional Mae Fah Luang Chiang Rai

Hostel Baan Mai Kradan Chiang Rai

Kebetulan, saya menginap di hostel yang letaknya cukup strategis di tengah Kota Chiang Rai: Baan Mai Kradan. Karena bangun siang, di hari ketiga di Chiang Rai, saya nggak sempet eksplor ke mana-mana lagi selain ngaso sebentar buat minum Thai Tea di warung dekat hostel. Jam 1 siang, saya mutusin buat langsung ke bandara naik GrabCar. Padahal, saya belum sempet nyobain Khao Soi, kuliner khas wilayah utara Thailand. Tapi yaa daripada telat, kan. Hehe.

GrabCar Chiang Rai

Nah, Chiang Rai ini, meskipun kotanya terbilang sepi dan belum jadi destinasi wisata utama turis asing, saya tetep gampang banget dapet GrabCar ataupun GrabBike di sini. Waktu mau ke Bandara Mae Fah Luang, saya cuma nunggu sekitar 10 menit pascaĀ booking. Dengan ongkos 136 Baht atau sekitar Rp65.000, perjalanan dari hostel ke bandara cuma memakan waktu 20 menit di tengah lenggangnya kota Chiang Rai.

Karena nyapa & konfirmasi tujuan pakai bahasa Inggris,Ā driverĀ Grab saya waktu itu nanya: “Oh, I thought at first you are Thai, where are you from?” Hahaha, iya, emang muka saya ini bak pinang dibelah dua sama orang-orang asli Thailand. Ya namanya juga masih ASEAN. šŸ˜

Sambil ngobrol-ngobrol kecil sama bapakĀ driver soal Chiang Rai, saya cukup menikmati jalanan yang sepi & lancar jaya menuju bandara. Chiang Rai ini kota yang cocok banget buat meditasi dan jadiĀ escapeĀ buat kita yang capek sama segala hiruk-pikuk kota dan kesibukannya. Nyaman & tenang.

Nah, sampai di bandara, karena masih jam setengah 2 siang, saya masih sempat keliling-keliling bandara. Karena belum makan siang, saya jadi jalan-jalan dulu ngeliatin merchant di bandara. Harapannya bisa nemu Khao Soi, kuliner khas setempat yang belum sempat saya coba selama 3 hari 2 malam di Chiang Rai.

Mae Fah Luang Chiang Rai International Airport

Mae Fah Luang Chiang Rai International Airport

Khao Soi House at Chiang Rai Airport

Emang dasar kalau rejeki nggak ke mana, saya nemu Khao Soi House, dong! Salah satu merchant makanan di Bandara Mae Fah Luang—yang sesuai namanya—specialty dish-nya adalah Khao Soi. Nggak pakai mikir 2 kali, langsung deh saya coba. Soalnya, kalau makan Khao Soi bukan di Chiang Rai/utara Thailand, udah beda lagi nuansanya. Jadi, saya nggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini (lagi). Hehe.

Khao Soi Menu

Khao Soi ini sendiri sebenarnya makanan khas dari tiga negara sekaligus: Thailand (bagian utara), Laos, dan Myanmar. Khao Soi adalah semacam mi kari (berkuah santan) dengan isian daging (bisa babi atau sapi), telur rebus, daun bawang, dan dikasih taburan mi telur krispi dan daun bawang di atasnya. Tapi, kalau di lidah saya sendiri, Khao Soi yang saya makan rasanya lebih mirip kari daging. Santannya dominan dengan mi kuning gepeng mirip kwetiau yang lembut. Khao Soi ini disajikan dengan acar ketimun, bawang, dan potongan jeruk nipis. Kalau suka pedas, di meja juga tersedia bubuk cabe yang bisa ditambahin ke mangkuk, khas sajian Thailand. Kalau kita di Indonesia kan, biasanya sambel ya.

Khao Soi Chiang Rai

Apakah enak? Buat saya enak, tapi bikin begah. Mungkin karena santannya yang banyak dan porsi yang saya pesan itu ternyata besar banget. Karena makannya di bandara, harga Khao Soi yang saya pesan waktu itu lumayan mahal 178 Baht atau sekitar Rp85.000-an. Tapi tetap worth karena porsi dan dagingnya besar-besar. Saya juga jadi nggak penasaran lagi sama rasa Khao Soi!


Proses Check In sampai On Boarding Pesawat Nok Air di Bandara Mae Fah Luang Chiang Rai

Check In Counter Chiang Rai Airport

Selesai makan Khao Soi karena udah jam setengah 3, saya langsung ke konter check-in Nok Air untuk nyetakĀ boarding pass.Ā Kebetulan, malamnya saya udah web check in lewat website Nok Air langsung. Nggak bisa lewat Traveloka karena opsi Nok Air waktu itu nggak tersedia.


Web Check In Nok Air Bisa Pilih Kursi (untuk 1 Hari Sebelum Keberangkatan)

Web Check In Nok Air
Check-in melalui website Nok Air. Sumber gambar: nokair.com

Nah, yang istimewa buat saya, Nok Air ini meskipun LCC, saya tetap bisa check-in lewat website sambil pilih kursi! Gratis pula. Sebagai window seat person,Ā saya seneng banget, dong! Biasanya kalau di LCC kayak Citilink atau AirAsia, kalau kita nggak beli kursi ya bakalan dikasih random pas check-in. Alih-alih beli kursi, saya juga biasanya cenderung pasrah aja kalau naik LCC. Paling sering dapet kursi tengah atau aisle,Ā jarang banget dapetĀ window seat. Dari sini, poin +10 buat Nok Air. Dengan harga tiket Rp430.000 tanpa additional apa pun, bisa pilih kursi, itu wow & worth sih buat saya.

Boarding Pass Nok Air

Nok Air Entry Boarding Room

Habis check in dan dapetĀ boarding pass,Ā saya langsung lanjut keĀ boarding room. Karena waktu itu hari Jumat sore, besoknyaĀ weekend,Ā Bandara Mae Fah Luang lumayan padat & ramai waktu itu. Bandara Mae Fah Luang ini adalah bandara internasional yang melayani rute internasional ke kota-kota di Tiongkok salah satunya Hangzhou. Mirip Bandara Internasional Juanda di Surabaya.

Nah, yang menarik, diĀ boarding room, lagi-lagi saya disapa/diajak ngobrol sama orang asli Thailand pakai bahasa Thailand. Haha. Pas saya jawab pakai bahasa Inggris, baru deh si mbak tau saya bukan orang lokal. Si mbaknya ini nanya, dia bener atau nggak ada di gateĀ untukĀ boardingĀ Nok Air ke Bangkok? Akhirnya kita ngobrol-ngobrol dikit sambil nungguĀ boarding. Si mbak juga nanya, kok saya nggak lanjut ke perbatasan Myanmar? Katanya, di sana barang belanjaannya bagus-bagus & murah. Si mbaknya sendiri habis dari Myanmar dan beli beberapa barang yang menurut dia bagus sambil ditunjukin ke saya. šŸ˜„


Desain Bodi Pesawat yang Unik & Kabin yang Terawat

Nok Air Livery

Nok Air cabin inside

Penerbangan saya waktu itu jam 16.10 waktu setempat. Nah, sekitar jam 15.45 saya udah berdiri di barisan seat 46-61 untuk masuk pesawat. Artinya, penerbangan Nok Air DD-8719 rute Chiang Rai – Bangkok yang saya tumpangi waktu itu tepat waktu! Poin +10 lagi deh buat Nok Air. Kekhawatiran saya tentang delayed apalagi sampai nggak ada kejelasan, nggak kebukti.

Nok Air Mae Fah Luang Chiang Rai Airport

Waktu itu, karena masuk pesawat Nok Air nggak lewat garbarata, saya jadi bisa liat langsung desain bodi pesawat Nok Air berbentuk kepala burung yang didominasi warna kuning dan pink. Ini pertama kalinya saya ngeliat pesawat yang punya desain “beda” kayak gini alih-alih pattern abstrak, logo, atau dominasi warna brand semata. Berasa mau siap-siap naik burung terbang. Hahaha.

Safety instruction card Nok Air

Sepengamatan saya, kabin pesawat Nok Air waktu itu cukup bersih dan terawat. Saya juga merhatiin jendela pesawat yang biasanya berdebu & ada goresan-goresan. Tapi saya nggak nemuin itu di Nok Air. Jendelanya cukup bersih & bikin foto-foto yang saya ambil jadi jernih juga.


Legroom & Sandaran Kursi Nok Air yang Cukup Lega & Nyaman

Nok Air Legroom

Nok Air DD-8719 yang saya tumpangi waktu itu menggunakan pesawat Boeing 737-800 dengan formasi/layout seatĀ 3-3. Seat pitch atau jarak antara kursi dengan kursi di depannya adalah sekitar 30 inci. Yang saya tau, untuk pesawat LCC lain, seat pitch biasanya antara 28-29 inci. Dengan seat pitch 30 inci, otomatis legroom seat Nok Air jadi lebih lega. At least buat saya yang tingginya 157 cm ini. Karena saya pribadi pernah naik pesawat LCC yang mana lutut saya sampai mentok ke kursi depan. Dan itu nggak nyaman banget. Perpaduan legroomĀ yang pas dan sandaran kursi yang nyaman, saya cukup senang sih bisa naik Nok Air waktu itu. Apalagi harga tiketnya termasuk murah. +10 lagi!


Gratis Refreshment Air Mineral 100 ML

Mineral water refreshment Nok Air

Bukan cuma itu aja, saya lumayan kaget 15 menit pascaĀ take-off, pramugari di pesawat ngasih air mineral 100 ML gratis buat semua penumpang. Pengalaman saya naik LCC lain, kalau kita nggak beli atau nggak bawa dari bandara, ya nggak bakal ada snack atau sekadar air. Saya pun juga tahu diri & nggak berekspektasi apa-apa kalau beli tiket LCC. Asalkan tepat waktu aja, udah cukup. Awalnya iseng mau nyobain LCC asli Thai buat jalan-jalan di Thailand sendiri, eh malah berujung saya terkesan banget sama Nok Air ini! Haha. šŸ˜†

Fly with Nok Air

Karena jam terbangnya sore, selama penerbangan, mata saya terus-terusan dimanjain sama warna langit yang gradasinya keren & cantik banget! NgeliatĀ sunsetĀ dari atas langit adalahĀ goal!


Landing di Bandara Internasional Don Mueang Bangkok

Fly with Nok Air

Nok Air landing at Don Mueang Bangkok Airport

Nggak berasa satu setengah jam berlalu, penerbangan saya pun selesai dan landing di Bandara Internasional Don Mueang, Bangkok. Saya sangat menikmati penerbangan sore hari itu dengan Nok Air karena pemandangannya bikin takjub, terutama gradasi sunset-nya yang oranye & pink. Jadi aja satu setengah jam saya cuma bengong ngeliatin ke luar jendela sambil sesekali ngambil foto. Emang waktu terbang terbaik buat short haulĀ itu ya sore sih. Terutama kalau kita lagi nggak diburu-buru waktu.

Don Mueang Airport

Don Mueang Airport

Btw, kenapa sih landingnya di Bandara Internasional Don Mueang, bukan Suvarnabhumi? Nah, buat teman-teman yang belum tahu, Don Mueang ini emang dikenal sebagai bandara-nya backpaker dan diperuntukkan bagi pesawat-pesawat LCC. Kalau Suvarnabhumi, dikenal sebagai bandara internasional yang melayani penerbangan dengan pesawat-pesawat premium (full service) seperti Thai Airways atau Garuda Indonesia. Biaya layanannya juga pasti beda. Kalau di sini, mungkin kayak Bandara Soetta dan Bandara Halim.

Suvarnabhumi Airport
Suvarnabhumi Airport
Suvarnabhumi Airport
Suvarnabhumi Airport
Suvarnabhumi Airport Rail Link
Vending Machine untuk beli tiket Airport Rail Link di Suvarnabhumi.

Kebetulan, saya udah pernah landingĀ danĀ take offĀ dari Don Mueang maupun Suvarnabhumi. Masing-masing, ada kelebihannya. Suvarnabhumi meskipun jauh dari tengah Kota Bangkok, tapi ada kereta bandara (Airport Rail Link) yang terhubung langsung dengan BTS (Bangkok Sky Train) yang ongkosnya jauh lebih murah (50 Baht) dibanding naik taksi. Nah, kalau bandara Don Mueang ini udah dekat tengah Kota Bangkok, jadi pilihan transportasinya lebih beragam. Ada bus bandara juga yang melayani rute ke beberapa titik/destinasi populer seperti Chatuchak dan Victory Monument. Ongkosnya cuma sekitar 20/30 Baht. Nggak heran kan kenapa bandara ini disebut-sebut sebagai bandaranya backpacker? Hehe.

Don Mueang Airport Bus
Tempat tunggu bus di Bandara Don Mueang.
Bus Don Mueang AIrport
Bus A1 dari Bandara Don Mueang.
Bus Bandara Don Mueang
Tiket Bus A1.

Nok Air Is Totally Worth It!

Kalau pasca pandemi, teman-teman ada yang berencana traveling ke Thailand dan ke kota lain selain Bangkok, Nok Air bisa jadi pilihan pesawat LCC yang bersahabat & worth it. Seperti yang kita tahu, industri penerbangan dan pariwisata adalah yang paling telak terimbas covid-19. Karena itu juga, saya kepikiran untuk nulis artikel review ini sedikit sebagai bentuk support. Semoga, industri penerbangan, pariwisata, dan semua orang yang bekerja & menumpukan hidup di dalamnya, bisa segera pulih & bangkit kembali. Semangat!

The post Pengalaman Pertama Terbang dengan Nok Air dari Bandara Mae Fah Luang Chiang Rai appeared first on Spot Wisata.

]]>
https://spotwisata.com/nok-air-chiang-rai/feed/ 0
Berkunjung ke Grand Palace Bangkok dengan Harga Tiket 500 Baht/240.000, Apakah Worth? https://spotwisata.com/berkunjung-ke-grand-palace-bangkok/ https://spotwisata.com/berkunjung-ke-grand-palace-bangkok/#comments Sun, 31 May 2020 05:55:47 +0000 https://spotwisata.com/?p=729 Mungkin, seperti Monas kalau di Jakarta. Berkunjung ke Grand Palace paling direkomendasikan ketika kitaĀ traveling ke Bangkok, Thailand. Di kunjungan pertama saya ke Thailand tahun 2018…

The post Berkunjung ke Grand Palace Bangkok dengan Harga Tiket 500 Baht/240.000, Apakah Worth? appeared first on Spot Wisata.

]]>
Grand Palace Bangkok

Mungkin, seperti Monas kalau di Jakarta. Berkunjung ke Grand Palace paling direkomendasikan ketika kitaĀ traveling ke Bangkok, Thailand. Di kunjungan pertama saya ke Thailand tahun 2018 lalu, saya belum sempat berkunjung ke landmark populer Bangkok yang satu ini. Karena waktunya terlalu singkat, cuma 5 hari 4 malam. Saya dan Adia (teman perjalanan saya) pun waktu itu memang lebih fokus ke Chiang Mai daripada eksplor Bangkok.

Saya nggak terlalu kepikiran atau “ngegas” ke sana sini waktu itu sebab saya yakin suatu saat saya bakal balik lagi ke Negeri Gajah Putih ini. Dan benar, kesampaian juga di bulan November 2019. 😁

I rarely fall in love, but when I do, I will enjoy the feeling while I still can.

Iya, jatuh cinta. Mungkin sesederhana itu alasan kenapa saya mau balik lagiĀ travelingĀ ke negara ini, alih-alih memilih destinasi lain. Pertama kali menjejakkan kaki di Suvarnabhumi Aiport di bulan Mei 2018, meski tengah malam karena pesawat saya delayed,Ā saya langsung merasa cukup nyaman & ‘familiar’. Mungkin karena lanskap dan masyarakat Thailand memang nggak jauh berbeda dengan Indonesia. Ditambah, saya mendapat taksi dengan driverĀ yang sangat ramah, sigap, bahasa Inggrisnya lancar, danĀ care. Masih hangat di ingatan saya, kalimat perpisahan yang dituturkan bapakĀ driver-nya pasca menurunkan saya dini hari di hostel adalah “You take care of yourself, ya. Enjoy Thailand!”.

Singkat dan simple, tetapi cukup berkesan. Bagi saya.

Kali kedua kunjungan saya ke Thailand, 9 hari pula, tentu saya langsung memasukkan kunjungan ke Grand Palace ke dalam itinerary. Nggak lupa saya juga melakukan banyak riset lebih dulu terkait Grand Palace supaya nggak bingung & paham aturanĀ dos and donts-nya. Yang menarik, saya banyak menemukan ulasan di forumĀ travelingĀ yang bilang kalau tiket masuk Grand Palace Bangkok itu kemahalan & nggak worth. Bener nggak, sih?

Berhubung saya emang lumayan suka datang ke tempat wisata bersejarah, saya nggak langsung percaya. Apalagi kalau banyak bangunan dengan arsitektur yang autentik, klasik, dan detail. Nggak perlu pakai mikir dua kali!


Sekilas Tentang Grand Palace Bangkok

Grand Palace Bangkok
Bagian Wat Phra Kaew, Grand Palace, Bangkok.

Dibangun pada 6 Mei 1782 oleh Raja Phutthayotfa Chulalok atau yang dikenal juga dengan Raja Rama I, Grand Palace adalah kompleks istana yang sangat besar dan megah yang juga menjadi tempat tinggal resmi dari raja-raja Siam di masa itu hingga tahun 1925. Seperti Bangkok yang memiliki nama resmi Krung Thep Maha Nakhon, dalam bahasa Thailand, Grand Palace dikenal sebagai Phra Borom Maha Ratcha Wang.

Istana ini sangat kompleks dengan berbagai bangunan di dalamnya, yang total luas areanya mencapai 24 hektar lebih atau sekitar 218.400 meter persegi. Ada bangunan utama istana, kantor & sekretariat kerajaan, kapel, museum, aula dan singgasana, paviliun, halaman rumput, taman, gerbang dan tembok besar yang makin menambah megah kompleks istana.

Grand Palace Bangkok.
Sepotong lukisan yang ada di dinding bagian dalam pintu masuk Grand Palace, Bangkok.

Berdasarkan denahnya, Grand Palace sendiri terdiri atas 35 bagian bangunan yang terpisah. Tapi secara umum, ada 4 bagian utama dari Grand Palace, yaitu:

  1. Area luar Grand Palace,
  2. Area Kuil Emerald Buddha atau Wat Phra Kaew,
  3. Area tengah Grand Palace,
  4. Dan area dalam Grand Palace.
Grand Palace Map
Denah detail Grand Palace, Bangkok. Sumber Gambar: www.royalgrandpalace.th/

Area luar Grand Palace merupakan area tempat masuk pengunjung pertama kali. Di mana pada area ini terdiri atas bangunan kantor tempat urusan dan segala informasi yang terkait dengan Grand Palace dan kerajaan. Kalau nggak salah, di area ini juga terdapat tempat penyewaan pakaian yang “pantas” sebelum beli tiket dan memasuki kompleks istana. Iya, untuk masuk ke Grand Palace, kita harus berpakaian tertutup dan sopan. Nggak boleh pakai celana atau rok pendek dan pakaian yang memperlihatkan bahu, lengan, atau terlalu menonjolkan dada.

Pakaian Grand Palace, Bangkok.
Aturan berpakaian saat kunjungan ke Grand Palace, Bangkok.

Area Wat Phra Kaew atau yang dikenal juga dengan The Temple of Emerald Buddha (area favorit yang ramai pengunjung) adalah kuil Buddha yang dibangun sejak 1783 sejalan dengan tradisi kuno dari Wat Mahathat di Ayutthaya. Tentang Ayutthaya sendiri, saya pernah tulis di sini. Di dalam kuil ini juga terdapat patung Buddha dari batu giok berwarna hijau zamrud (emerald) yang kabarnya disimpan di bagian bawah.

Nah, area tengah merupakan yang paling besar dan penting, karena merupakan area utama yang menjadi pusat istana. Ada rangkaian bangunan Phra Maha Monthien yang menjadi jantung dari Grand Palace sekaligus tempat tinggal dan tidur raja beserta keluarganya dahulu. Ada rangkaian bangunan Phra Thinang Chakri Maha Prasat yang merupakan aula singgasana kerajaan yang bergaya elektik: campuran antara arsitektur Thailand dan Eropa era Renaissance di abad ke-19. Dan ada juga kebun/taman Siwalai yang luas yang pada masa silam digunakan sebagai tempat bermain croquet oleh para wanita kerajaan.

Sementara itu, area dalam istana adalah wilayah khusus yang didiami oleh raja, harem (pelayan), ratu, para selir, dayang-dayang, dan juga anak-anak raja. Di mana pada masa itu, praktik rumah tangga poligami di kerajaan berakhir di masa kepemimpinan Raja Rama VII sekitar awal abad ke-20.

Meski sudah nggak lagi dihuni oleh Raja Thailand, saat ini, Grand Palace masih menjadi tempat diselenggarakannya berbagai acara resmi, upacara kerajaan, dan ibadah bagi masyarakat yang beragama Buddha. Salah satu contohnya adalah ketika Raja Bhumbol Adulyadej wafat. Grand Palace adalah tempat bagi masyarakat untuk memberikan penghormatan terakhir sekaligus mengenang wafatnya Raja Bhumibol satu tahun kemudian.


Harga Tiket Masuk Grand Palace Bangkok

Grand Palace Bangkok Tickets Office

Bagi wisatawan asing atau non-Thai, masuk ke Grand Palace wajib membeli tiket di loket utama seharga 500 Baht per orang. Sementara untuk orang Thailand asli, masuk Grand Palace tidak dipungut biaya sama sekali alias gratis. Per November 2019 ketika saya ke Thailand, kurs-nya adalah Rp475 per 1 Baht. Jadi, 500 Baht x Rp475, adalah sekitar Rp240.000 untuk masuk ke dalam Grand Palace. Memang cukup mahal dan mirip-mirip harga tiket masuk Dunia Fantasi di di akhir pekan. šŸ˜†

Grand Palace main entry
Pintu masuk sekaligus area pengecekan tiket ke Grand Palace.

Banyak juga cerita orang Indonesia yang bisa masuk ke Grand Palace tanpa membeli tiket. Alasannya apalagi kalau bukan karena orang kita memang bak pinang dibelah dua dengan orang Thailand. Ya namanya juga masih sama-sama ASEAN. Hehe. Tapi, kalau saya pribadi sih nggak menyarankan hal ini dilakukan, meskipun kita punya ‘kesempatan’. Apalagi diam-diam ‘menyamar’ dan masuk Grand Palace lewat pintu khusus untuk warga Thai.

Selain sangat nggak etis, ini juga sama dengan tidak mendukung  pemerintah setempat dalam memelihara objek wisatanya. Dengan membeli tiket resmi, artinya kita juga memberi devisa kepada Thailand untuk terus memajukan pariwisatanya. 😁

Nah, sebagai tips, kalauĀ  mau berkunjung ke Grand Palace, usahakan datang dari pagi. Kalau perlu, luangkan satu hari khusus hanya untuk ke Grand Palace aja. Sebab, kompleks istananya benar-benar luas dan nggak cukup dieksplor dalam waktu 1 – 2 jam. Apalagi kalau kita termasuk orang yang suka memerhatikan detail. Karena jujur aja, saya pribadi banyak mematung di beberapa spot cuma buat ngeliatin detail arsitektur bangunan di Grand Palace yang memukau banget! Sayangnya, saya waktu itu kesiangan. Baru sampai di Grand Palace sekitar jam 12, pas lagi terik-teriknya. Jadi nggak semua wilayah Grand Palace bisa saya jangkau.

Jam buka/kunjungan ke Grand Palace adalah mulai dari 08.30 – 16.30. Sementara jam buka loket tiketnya adalah mulai 08.30 – 03.30. Jangan lupa bawa topi dan pakaiĀ sunblock terutama kalau berkunjung di musim panas karena asli mataharinya nyengat banget, bos!

Tiket masuk ke Grand Palace

Mungkin kebanyakan orang bakal mikir, kok mahal amat 500 Baht? Emangnya dapat apa atau bisa ngapain aja sih di Grand Palace Bangkok? Weits, tenang. Tiket tersebut bukan untuk kunjungan single ke satu area atau bangunan aja, melainkan juga tiket terusan ke berbagai bagian lain yang menarik di Grand Palace. Di antaranya adalah:

  1. Tiket masuk utama ke seluruh wilayah Grand Palace,
  2. Kuil Emerald Buddha dan Museum Tekstil Ratu Sirikit,
  3. Museum Arts of Kingdoms,
  4. Dan terakhir, menonton pertunjukan Thai Mask Dance di Sala Chalermkrung Royal Theatre. (Yang ini favorit saya, karena pertunjukannya beneran niat dan keren!).

Cara Menuju Grand Palace Bangkok

Stasiun BTS Saphan Taksin Bangkok

Waktu itu, karena saya berangkat dari hostel di daerah Phaya Thai, saya memilih menggunakan BTS dan lanjut naikĀ boatĀ untuk menuju ke Grand Palace. Dari Stasiun Phaya Thai, saya naik BTS menuju Stasiun BTS Saphan Taksin. Kenapa harus Stasiun BTS Saphan Taksin? Karena, stasiun ini adalah satu-satunya yang terkoneksi atau terintegrasi langsung dengan sistem transportasi air di Chao Phraya River. Dari Stasiun BTS Saphan Taksin, kita cuma perlu turun tangga dan jalan sebentar menuju Dermaga Sathorn.

Tiket Perahu Bangkok
Tiket naik perahu di Sungai Chao Phraya, 20 Baht.

Dari dermaga inilah, kita bisa naik perahu untuk menuju Grand Palace dengan harga tiket hanya 20 Baht atau Rp9.500 aja. Tiket ini berlaku untuk perahu biasa yang berwarna oranye ya. Kalau mau naik perahu turis yang lebih fancyĀ dan tingkat dua (bisa duduk di atas), kita bisa pilih Chao Phraya Tourist Boat Hop On Hop Off. Tapi, tentu aja harga tiketnya juga lebih mahal yaitu 60 Baht atau Rp30.000-an.

Chao Phraya River Line
Jalur Sungai Chao Phraya.

Jalur transportasi air di Sungai Chao Phraya sendiri terdiri atas beberapa dermaga pemberhentian yang jadi destinasi wisata utama para wisatawan, yaitu:

  1. Asiatique The Riverfront,
  2. Sathorn,
  3. Iconsiam,
  4. Ratchawongse/China Town,
  5. Yod Pi Man/Pak Klong Taladd/Flower Market,
  6. Wat Arun & Wat Pho,
  7. Tha Chang/Tha Maharaj/Grand Palace,
  8. Pranok/Thonburi/Shiriraj Phimukstan Museum,
  9. Phra Pin Klao/Phra Arthit/Khao San Road.

Bangkok The River City

Dermaga Tha Chang Grand Palace
Turun di Dermaga Tha Chang untuk menuju Grand Palace.

Kalau naik perahu dari Dermaga Sathorn, maka ambil jalur menuju Dermaga Phra Pin/Phra Arthit dan turun di Dermaga Tha Chang (Poin 7). Lalu, tinggal jalan kaki sekitar 15 menit untuk menuju kompleks Grand Palace. Jika ditotal ongkos saya untuk bisa sampai Grand Palace dengan naik BTS + perahu ya sekitar Rp30.000-an. Saya berani jamin kalau jumlah ini bakal jauh lebih murah dibanding kalau kita naik taksi atau grab menuju Grand Palace di tengah kemacetan Kota Bangkok. šŸ˜„

Bangkok dikenal sebagai The River City, jadi kalau nggak nyoba transportasi airnya, bakal rugi deh. Soalnya, selain praktis menghubungkan ke berbagai titik destinasi wisata, pemandangan selama naik perahu juga oke lho. Gambar di atas salah satu contohnya. Saya ambil dari perahu oranye menuju Grand Palace. Tips: duduk di pinggir dekat jendela supaya pengalaman naik perahunya lebih mantap karena bisa foto-foto dan menikmati angin sepoi-sepoi. Sesekali juga kecipratan air sungai yang sayang, warnanya coklat & hijau pekat. Banyak sampah juga.


Megah & Ramainya Grand Palace

Pintu masuk Grand Palace
Area pintu masuk utama Grand Palace yang dipadati wisatawan.

Jalan kaki dari Dermaga Ta Chang menuju Grand Palace nggak begitu jauh. Tapi, cuaca saat itu cukup terik dengan langit yang biru terang. Ya iya, saya kan nyampenya jam 12. Hahaha. Beda cerita mungkin kalau saya datang lebih awal. November 2019 lalu, di Thailand masih panas-panasnya. Kalau dari foto di atas, perhatiin aja turis-turis kebagi jadi dua tipe: yang pakai topi & yang pakai payung. Karena nggak mau ribet, saya pilih jadi tipe turis yang pertama. Hehe.

Kunjungan ke Grand Palace

Waktu itu, saya datang hari Senin ke Grand Palace. Dan itu, ramai banget, apalagi akhir pekan. Mulai dari wisatawan asing, lokal, sampai anak-anak sekolah di Thailand yang melakukan kunjungan untuk studi. Dari Dermaga Ta Chang, kita tinggal ikutin aja jalur jalan yang mengarahkan ke Grand Palace. Rata-rata turis yang jalan di wilayah ini sudah pasti mau berkunjung ke sana. Pas sampai di wilayah terluar Grand Palace, dalam hati saya “Buset megah banget!”. Perpaduan luas, kemegahan, dominasi warna putih dan emas bangunan, ditambah biru langit yang mencrang, Grand Palace saat itu bener-bener keren di mata saya!

Oh iya, di kalangan wisatawan asing, Grand Palace juga dikenal sebagai destinasi wisata yang banyakĀ scammer-nya. Modusnya rata-rata menyetop turis di tengah jalan menuju Grand Palace, terus bilang kalau Grand Palace tutup. Nah, sebagai gantinya oknum ini akan menawarkan turis tersebut untuk ke destinasi wisata lain dengan menumpang tuk-tuk yang sudah ditunjuk sang oknum. Apesnya, kalau kita kejebak, kita bakal dibawa keliling-keliling dan konon berakhir di tempat pembelian emas/permata. Di mana, kita harus bayar sewa tuk-tuk selama keliling dan wajib beli emas/permata. Kalau enggak, ya risikonya bisa ngeri juga. Sementara kita, bakal berakhir dengan isi kantong terkuras akibat oknum tersebut.

Saya sendiri udah lama banget baca-baca di forum traveler soal scam ini. Makanya, saya hati-hati banget jangan sampai kena. Selain kabarnya “mengincar” turis bule & oriental look (karena paling bisa dibedakan dengan look turis Asia Tenggara/penduduk asli Thailand sendiri), oknum scammerĀ ini juga melihat atau mengincar turis dari penampilannya. Contoh, biasanya kita kalau jalan-jalan suka gantungin kamera di leher, kan? Nah, yang begini ini udah pasti turis & berpeluang besar jadi sasaran mereka.

Ketika melihat keramaian Grand Palace waktu itu, saya sempet ragu: emang bener ada scam semacam ini? Bodoh banget kalau sampai ada yang kena. Tapi, kemudian, saya melihat banner pengumuman di bawah ini dari kepolisian setempat. Yang mana artinya, saya asumsikan, kepolisian Thailand pun sudah cukupĀ awareĀ dengan masalahĀ scamĀ di wilayah Grand Palace. Maka dari itu, agar tidak berjatuhan lagi korban, dipasang banner sosialisasi di bawah. Cool!

Jam buka Grand Palace Bangkok

Dari pintu masuk utama, kita bakal diarahin ke sebuah kantor/bangunan yang menyewakan/menjual pakaian tertutup. Khusus untuk turis yang datang dengan atasan atau bawahan pendek. Sebab, berpakaian tertutup adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi ketika berkunjung ke Grand Palace. Kalau dirasa pakaian kita sudah memenuhi syarat, maka tinggal langsung jalan aja menuju loket pembelian tiket.

Waktu itu saya pun pakai celana jeans panjang dan kaos oblong biasa. Masih tergolong pantas & bisa masuk tanpa perlu beli baju atau kain penutup tambahan. Nah, di pintu masuk utama, kita bakal masuk lebih dulu ke sebuah galeri terbuka yang bernama Galeri Ramakien.


Galeri Ramakien

Galeri Ramakien Grand Palace Bangkok

Galeri ini cukup besar dan mengelilingi bangunan kuil utama di Grand Palace. Di sepanjang dinding, terdapat lukisan mural yang menggambarkan kisah Ramakien. Sebuah epos Thailand yang diadaptasi dari epos Ramayana, India. Ramakien sendiri bercerita mengenai pertempuran antara Raja Tosakanth yang merupakan raja iblis melawan Raja Rama yang manusia.

Menurut kisahnya, Tosakanth menculik Ratu Sida, istri dari Raja Rama dan dibawa ke Kota Longka. Tosakanth berharap, Ratu Sida perlahan akan jatuh cinta kepadanya, namun ternyata tidak. Akhirnya Tosakanth kembali melakukan pertempuran dengan Raja Rama. Di mana kali ini Tosakanth membawa banyak kerabatnya sebagai pasukan sementara Raja Rama membawa pasukan monyet. Pertempuran dimenangkan oleh Raja Rama yang akhirnya berhasil membawa kembali Ratu Sida ke Ayutthaya, ibu kota Kerajaan Siam pada masa itu.

Lukisan mural di sepanjang dinding Galeri Ramakien ini total memiliki 178 bagian dan kabarnya dibuat di masa pemerintahan Raja Rama I tahun 1782, serta sudah direnovasi berkali-kali. Cara Thailand mempertahankan & menceritakan kembali sejarah & warisan kebudayaannya, memang patut diacungi jempol!

Potongan lukisan di atas adalah Tosakanth atau Raja Iblis yang dikisahkan berperang dengan Raja Rama. Nah, kalau dalam epos Ramayana dari India, Tosakanth adalah Rahwana. Lukisan ini terletak di sebelah kiri persis ketika kita masuk pertama ke Grand Palace sebagai “penyambutan”. Didominasi warna emas, waktu ngeliat langsung, saya lumayan lama berdiri memperhatikan detail lukisan Tosakanth ini. Haha.

Pintu masuk Grand Palace Bangkok

Selain dari eposnya yang mengadaptasi Kisah Ramayana India, mayoritas detail arsitektur bangunan yang ada di dalam Kompleks Grand Palace pun banyak yang mengambil dan dipengaruhi budaya Hindu India. Padahal, seperti yang kita tahu, Thailand adalah salah satu negara dengan pemeluk agama Buddha terbesar saat ini.

Nah di bawah, di pintu masuk ada sekitar 6 patung “The Demon of Guardians” yang menjaga galeri. Beberapa dari patung ini ditempatkan menghadap ke kapel patung Emerald Buddha atau patung Buddha Zamrud dengan tujuan agar menjaganya dari semua roh jahat.

Demon of Guardians Grand Palace, Bangkok.
The Demon of Guardians.
Emerald Buddha
Foto Patung Buddha Zamrud. Sumber Gambar: www.royalgrandpalace.th

Sayangnya, saya sendiri waktu itu nggak sempat menuju bagian bangunan Grand Palace yang ada patung Buddha Zamrud ini. Selain karena keterbatasan waktu, Grand Palace itu luas banget, bos! Letak bangunannya lumayan jauh & kalau nggak salah patung ini pun nggak boleh ‘didekati’. Maka dari itu, sebagai gambaran, saya kasih fotonya yang diambil dari website resmi Grand Palace aja ya. Semoga kebayang!

Sedikit tentang Buddha Zamrud, patung ini sendiri diukir dari batu giok berwarna zamrud yang tinggi atau ukurannya mencapai 66 cm. Dibuat dari Thailand Utara (wilayah Chiang Mai, Chiang Rai, dll), patung ini dianggap sebagai patung Buddha paling penting di Thailand karena sejarahnya yang sudah dibuat sejak abad ke-15. Nah, yang menarik, patung ini punya tiga kostum khusus yang disesuaikan dengan musim, yaitu musim panas, musim hujan, dan musim dingin. Dua kostum pertama dibuat di masa pemerintahan Raja Rama I sementara kostum musim dingin dibuat di masa pemerintahan Raja Rama III. Pengubahan kostum juga dilakukan tiga kali dalam setahun yang upacaranya dipimpin langsung oleh raja.

Patung Cheewok Komaraphat

Bukan cuma itu aja yang menarik, ada juga Patung Cheewok Komaraphat yang duduk dengan menopang sebelah kaki memberikan kesan magis di dekat Galeri Ramakien. Cheewok Komaraphat adalah dokter dari Sang Buddha yang kini dianggap sebagai bapak obat herbal Thailand. Di hadapannya, ditempatkan juga mortar dan batu gerindra yang di masa lampau, digunakan oleh banyak orang untuk menggiling obat yang dipercaya lebih manjur khasiatnya.


The Temple of Emerald Buddha (Wat Phra Kaew)

The Temple of Emerald Buddha

Dari pintu masuk, kita bakal langsung ke bagian bangunan berikutnya yang paling populer dari Grand Palace yaitu The Temple of Emerald Buddha atau Wat Phra Kaew. Kuil yang terletak di area luar istana ini adalah bangunan yang menampung patung Buddha Zamrud. Dibangun sejak periode Sukhothai atau 800 tahun lalu,Ā  yang menarik, kuil kerajaan ini nggak punya tempat khusus untuk tempat tinggal para biksu. Seperti kuil pada umumnya.

Masih dalam kompleks The Temple of Emerald Buddha, kalau yang di atas ini adalah Phra Siratana Chedi. Sebuah stupa emas yang didirikan oleh Raja Rama IV untuk menyimpan dan mengabadikan peninggalan Buddha. Phra Siratana Chedi memiliki bentuk dasar seperti lonceng seperti stupa khas Sri Lanka, yang mayoritas penduduknya juga beragama Buddha. Keren!

Phra Mondop Grand Palace Bangkok
Phra Mondop
Phra Mondop Grand Palace Bangkok
Detail bangunan Phra Mondop yang didominasi warna emas dan hijau zamrud.

Phra Mondop adalah bangunan perpustakaan Buddha yang dibangun pada tahun 1789 di masa pemerintahan Raja Rama I. Kabarnya, di dalam perpustakaan ini terdapat lemari buku berbahan permata yang besar dan indah tempat menampung tulisan-tulisan atau naskah suci Buddha.

Gambar di atas adalah sebuah patung Kinnara & Kinnari, yang berdiri kokoh di wilayah The Temple of Emerald Buddha. Dalam mitologi Buddha, Kinnara dan Kinnari adalah makhluk setengah manusia dan setengah burung yang baik hati dan diyakini berasal dari Pegunungan Himalaya. Kinnara dan Kinnari juga dipercaya adalah pengawas dari segala aspek kesejahteraan kehidupan manusia. Sementara dalam mitologi Hindu, Kinnara digambarkan sebagai makhluk surgawi yang sosoknya sebagian manusia, sebagian kuda, dan sebagian lagi burung. Namun, pada intinya, karakter makhluk ini di kedua mitologi sama: baik & membawa keberkahan bagi manusia. šŸ˜‡

Detail bangunan Grand Palace Bangkok

Detail bangunan Grand Palace Bangkok

Saya lumayan takjub & terkesima sendiri pas ngambil gambar di atas. Detail bangunan yang rumit, perpaduan warna yang vividĀ tapi pas, dan tinggi bangunan yang menjulang, Grand Palace ini tanpa kita tahu sejarahnya pun udah keren banget emang! Saya sempat juga masuk ke dalam kuil Buddha-nya. Waktu itu, kalau nggak salah sedang ada aktivitas beribadah/berdoa yang dilakukan para Biksu. Warga lokal dan juga turis banyak juga yang ikutan berdoa di belakang para Biksu ini. Tapi, nggak boleh difoto, divideoin, & kita harus respek (nggak boleh berisik/berkerumun berdekatan orang yang beribadah) selama ibadah tersebut berlangsung. Foto keempat di atas kalau nggak salah ingat adalah detail arsitektur bagian dalam kuil.


Bangunan Inti Istana Kerajaan

Area inti istana Grand Palace yang bergaya elektik

Setelah dari The Temple of Emerald Buddha, bangunan selanjutnya yang bisa dikunjungi adalah Chakri Maha Prasat Hall, atau yang menjadi inti dari bangunan istana kerajaan. Semua yang berkaitan dengan Dinasti Chakri, ada di sini. Bangunan ini adalah kediaman kerajaan yang dibangun oleh Raja Rama V di tahun 1877. Kalau teman-teman lihat, sekilas desainnya memang bergaya ala-ala kerajaan Inggris sedikit karena arsiteknya pun ternyata memang dari Inggris: John Clunish.

Chakri Maha Prasat

Tapi, kemudian, Raja Rama V meminta tiga kubah di atas bangunan untuk diganti menjadi bergaya Prasat atau istana khas bangsa Khmer dan Thai. Maka dari itu, bangunan ini pada akhirnya dibuat dengan berpadu dalam dua gaya: Eropa (abad ke-19) & Thailand. Kalau dulu, Raja Rama V tinggal di bangunan ini, sekarang, bangunan ini diperuntukkan menjadi tempat perjamuan bagi tamu negara. Di bawah ini adalah foto Chakri Maha Prasat dari sudut yang lain. Dari sudut mana aja, emang bikin takjub sih!

Nah, di sebelah Chakri Maha Prasat, ada juga Dusit Maha Prasat Hall. Bangunan di foto di bawah ini adalah sebuah aula yang bertingkat dan besar yang kini difungsikan sebagai tempat persemayaman atau peristirahatan terakhir para raja dan keluarganya. Di bangunan ini pula, jenazah raja dan keluarganya disimpan selama seratus hari sebelum dikremasi. Dusit Maha Prasat sendiri dibangun oleh Raja Rama I sebagai pengganti dari Phra Thinang Amarintharaphisek Maha Prasat yang terbakar di tahun 1789.

Sementara di bagian depan kompleks bangunan ini, terdapat sebuah taman yang luas yang disebut sebagai kebun/taman Siwalai. Yang di masa silam, dijadikan sebagai tempat bermain croquet oleh para bangsawan wanita di kerajaan. Tamannya sangat bersih dan terawat dengan baik. Penting untuk diingat ketika berkunjung, jangan sampai menginjak taman ini ya.

Dusit Maha Prasat Hall

Dusit Maha Prasat Hall

Dusit Maha Prasat Hall

Dusit Maha Prasat Hall


Bak Oase di Tengah Gurun: Coffee Shop di Grand Palace

Coffee Shop Grand Palace

Karena perbekalan air mineral sudah menipis & teriknya matahari di Bangkok saat itu lumayan bikin dehidrasi, saya merasa bersyukur ada kafe/coffee shop di dalam Grand Palace! Saya lupa nama kafenya apa, nyari-nyari di internet nggak nemu hehe. Tapi, yang pasti, kafe ini seingat saya cuma satu-satunya di Grand Palace. Kalau keluar dari Dusit Maha Prasat ke arah Museum The Temple of Emerald Buddha, kita pasti ngelewatin kafe ini karena letaknya di tengah-tengah. Sekilas dari desain bangunannya, persis sama kafe-kafe yang ada di wilayah Kota Tua, lho.

Kalau nggak salah ingat juga, harga makanan dan minuman di kafe ini nggak mahal. Ya standar kafe pada umumnya. Kafenya lumayan ramai & rasa minumannya enak. Seperti biasa, mumpung di Thailand, saya nyobain Thai Tea-nya, dong! Hehe.

Kafe di Grand Palace

Kafe di Grand Palace


Museum The Temple of Emerald Buddha

The Temple of The Emerald Buddha Museum

Kelar ngaso di kafe, saya langsung melanjutkan perjalanan karena berhubung waktu sudah jam 2/3 sore. Kunjungan selanjutnya adalah ke Museum The Temple of The Emerald Buddha. Kalau di awal saya berkunjung ke kuil “beneran” dan menikmati keindahan bangunannya, kali ini ke museumnya untuk melihat & tahu cerita detail tentang Buddha. Di museum inilah banyak peninggalan sekaligus dokumentasi historis dari perjalanan Buddha. Saya nggak punya foto bagian dalam museum ini karena seingat saya pengambilan foto/video dilarang. Tapi, yang pasti, bagian dalamnya komplit & bagus banget. Berasa “tercerahkan”, hehe.


Menonton Pertunjukan Thai Mask Dance

Tiket nonton pertunjukan Thai Mask Dance di Grand Palace Bangkok

Terakhir, part yang paling ditunggu-tunggu dari kunjungan ke Grand Palace adalah menonton pertunjukan Thai Mask Dance di Teater Sala Chalermkrung. Menonton pertunjukan ini gratis karena sudah masuk dalam tiket terusan yang kita beli di awal ya, temen-temen. Jadi, pastikan habis beli tiket jangan dibuang karena kita bakal butuh tiketnya untuk masuk ke beberapa bagian bangunan, termasuk menonton Thai Mask Dance ini.

Keluar dari area dalam Grand Palace, saya langsung menuju area jalan besar di mana terdapat bus wisata gratis yang bakal membawa kita ke Royal Theater Sala Chalermkrung. Bus akan jalan sekitar 10-15 menit sebelum jadwal pertunjukan dimulai. Dalam satu hari, pertunjukan Thai Mask Dance ini digelar 5 kali yang menyesuaikan jadwal buka Grand Palace. Yaitu: jam 10.30, 13.00, 14.30, 16.00, dan 17.30. Kalau nggak salah, saya ambil jadwal pertunjukan yang 14.30. Sebab, sore harinya saya sudah harus buru-buru ke terminal bus Chatuchak untuk naik bus menuju Chiang Rai. Hehe.

Bus Wisata di Grand Palace

Perjalanan dari Grand Palace menuju teater cukup menyenangkan karena bus terbuka jadi kita bisa menikmati jalan sekaligus angin sepoi-sepoi. Dari luar, keseluruhan kompleks Grand Palace makin terlihat megah & menawannya dengan dinding berwarna putih yang berdiri kokoh.

Area luar Grand Palace

Royal Theatre Sala Chalermkrung

Royal Theatre Sala Chalermkrung

Sesampainya di Teater Sala Chalermkrung, semua penumpang langsung menyeberang dan masuk ke teater untuk menonton pertunjukan. Kalau boleh saya bilang, lumayan mirip sama bangunan teater di Taman Ismail Marzuki. Saya sendiri cukup terkesan sama rapinya persiapan & pelayanan menuju teater ini dari Grand Palace. Di Batch saya waktu itu, yang nonton lumayan ramai karena mungkin juga udah terlalu sore dan beberapa jam lagi Grand Palace bakal tutup.

Royal Theatre Sala Chalermkrung

Lima menit setelah penonton masuk semua, pertunjukan pun dimulai. Nah, Thai Mask Dance atau yang dikenal juga sebagai Khon-Thai Classical Masked Dance ini sudah ada atau dipertunjukan sejak jaman Kerajaan Ayutthaya. Kalau tadi di awal datang ke Grand Palace, kita bisa melihat lukisan mural tentang Ramakien, nah di teater ini kita bisa nonton pertunjukannya yang lengkap! Mengadopsi cerita/epos Ramayana dari India, Ramakien adalah cerita/epos nasional Thailand yang memadukan mitologi Hindu dan Buddha dengan tradisi/budaya Thailand.

Bukan hanya soal Raja Rama melawan Raja Iblis (Tosakanth) untuk merebut kembali Ratu Sida, di pertunjukan ini juga banyak cerita dari karakter-karakter dalam cerita Ramakien. Yang paling populer adalah karakter monyet besar yang dikenal sebagai Hanoman dalam epos Ramayana, yang ada di kubu Raja Rama dalam memerangi Tosakanth. Diiringi dengan narator dan musik yang apik, mata kita bakal dimanjain sama detail panggung, pakaian tokoh, dan aksi berbagai karakter yang ciamik.

Thai Mask Dance Performance Grand Palace
Tokoh Perempuan dalam Thai Mask Dance.

Thai Mask Dance Performance Grand Palace

Thai Mask Dance Performance Grand Palace
Hanoman.
Thai Mask Dance Performance Grand Palace
Perang antara Raja Rama dan Raja Iblis.
Thai Mask Dance Performance Grand Palace
Efek lighting dan tata panggung yang memukau.
Thai Mask Dance Performance Grand Palace
Akhir pertunjukan.

Pertunjukan ini harus diakui cukup bagus, niat, dan keren! Gemuruh tepuk tangan & sorak sorai penonton juga nggak ketinggalan menjadi penutup pertunjukan. Bukan cuma itu, pasca menonton pertunjukan Thai Mask Dance ini, tokoh Hanoman dan Ratu juga dipersiapkan secara khusus di bagian depan teater untuk sesi foto bersama penonton yang berminat, lho. Saya pun juga nggak ketinggalan untuk ikutan foto meski antreannya cukup panjang. Hehe, ya kapan lagi, kan?

Thai Mask Dance Performance Grand Palace


Kesimpulan: apakah worth berkunjung ke Grand Palace dengan harga tiket Rp240.000?

Buat saya, sangat worth! Meskipun saya cuma bisa menghabiskan waktu 4 jam di Grand Palace, sudah cukup buat bikin sayaĀ eyegasmĀ berkali-kali melihat detail bangunan di Grand Palace yang desainnya secantik itu. Sambil dikit-dikit buka denah buat coba memahami bangunan & patung-patung yang ada di Grand Palace, di tengah teriknya matahari dan ramainya turis. Ditambah, pertunjukan Thai Mask Dance yang jadi gong terakhir dari tiket masuk Grand Palace, bikin pengalaman kunjungan saya jadi makin berkesan. Akulturasi Hindu, Buddha, dalam budaya lokal Thailand bikin sayaĀ relateĀ dan lumayan bisa paham karena di Indonesia pun bisa dibilang mirip.

Agak lumayan nyesel karena nggak datang lebih awal untuk mengeksplor Grand Palace yang luas banget ini. Tapi, nggak masalah karena saya yakin, ini bukan kunjungan terakhir saya ke Thailand. Kalau ada kesempatan & tabungan cukup, saya nggak bakal ragu untuk liburan lagi ke sini. šŸ˜‰

Sore itu, pasca nonton Thai Mask Dance, karena sudah mau jam 4, saya langsung lari ke stasiun MRT terdekat untuk menuju ke terminal bus Chatuchak. Saya emang sudah beli tiket bus malam ke Chiang Rai (kota di utara Thailand) dengan total perjalanan 13 jam dari pukul 7 malam. Agak ambisius karena keliling Grand Palace selama 4 jam lumayan bikin kaki pegel dan menuntut dikasih balsem. Hehe.

Tapi, karena bus yang saya tumpangi cukup nyaman denganĀ leg roomĀ yang lega banget, saya jadi bisa istirahat sepanjang perjalanan sambil ngelurusin kaki.

Thank you Grand Palace, till we meet again! ā¤


Note:

Selain yang dicantumkan sumbernya, semua gambar dalam artikel ini adalah hasil dokumentasi saya sendiri. Meski nggak ditempeliĀ watermark, mohon izin dulu di kolom komentar kalau mau digunakan untuk tujuan tertentu ya. Kalau tidak izin pun, mohon sertakan sumber jika direpost. Terima kasih. šŸ™‚

The post Berkunjung ke Grand Palace Bangkok dengan Harga Tiket 500 Baht/240.000, Apakah Worth? appeared first on Spot Wisata.

]]>
https://spotwisata.com/berkunjung-ke-grand-palace-bangkok/feed/ 4
Berkunjung ke Golden Triangle: Jalur Silam Perdagangan Opium Terbesar di Asia Tenggara https://spotwisata.com/golden-triangle-dan-opium/ https://spotwisata.com/golden-triangle-dan-opium/#respond Sun, 03 May 2020 03:13:00 +0000 https://spotwisata.com/?p=591 Bagi saya, selalu ada hal yang menarik dan nggak pernah habis untuk dibahas dari perbatasan. Lebih daripada ‘sekadar’ garis khayalan yang memisahkan dua atau lebih…

The post Berkunjung ke Golden Triangle: Jalur Silam Perdagangan Opium Terbesar di Asia Tenggara appeared first on Spot Wisata.

]]>
Golden Triangle Monument Chiang Rai

Bagi saya, selalu ada hal yang menarik dan nggak pernah habis untuk dibahas dari perbatasan. Lebih daripada ‘sekadar’ garis khayalan yang memisahkan dua atau lebih wilayah geografis, politik, atau yurisdiksi seperti yang didefinisikan dalam hukum.

Tapi juga, bagaimana kehidupan masyarakat di masa lampau, budaya, adat istiadat, interaksi, berbagai peristiwa hebat yang terjadi pada masa itu sampai membentuk batas, hingga kondisi wilayah serta masyarakatnya kini.

Golden Triangle yang ada di Chiang Rai, provinsi paling utara di Thailand, adalah salah satunya. Sebuah segitiga perbatasan sekaligus tempat bertemunya 3 negara: Thailand, Laos, dan Myanmar. Bukan tanpa alasan perbatasan ini diberi nama Golden Triangle alias Segitiga Emas.

Dulunya, mulai tahun 1950-an, kawasan yang dipisahkan oleh Sungai Ruak dan Sungai Mekong ini dikenal sebagai penghasil sekaligus jalur perdagangan opium terbesar di Asia Tenggara dengan luas sekitar 950.000 KM2.

Opium atau bunga poppy sendiri adalah tanaman herbal yang memiliki kandungan racun (salah satunya opium) yang dapat menjadi bahan baku dari pembuatan narkotika: seperti morfin, heroin, dan sabu-sabu, di masa silam. Dari kawasan inilah, 70% lebih pasokan opium–yang juga dijuluki sebagai emas hitam–di seluruh dunia pada masa itu bisa terpenuhi.

Golden Triangle & Mekong River Chiang Rai


Sedikit Kilas Balik

Pengetahuan saya tentang perbatasan & kehidupan masyarakatnya, jelas masih sangat terbatas. Pun dengan pengalaman saya.

Pertama kalinya saya menginjakkan kaki ke wilayah perbatasan di tanah air adalah perbatasan Indonesia & Malaysia di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara. Yang kedua masih perbatasan Indonesia & Malaysia, tapi kali ini di Kepulauan Meranti, Riau. Dan yang ketiga, perbatasan Indonesia & Australia di Kepulauan Aru, Dobo, Provinsi Maluku. Ketiganya sama-sama di enam tahun silam, tepatnya di tahun 2015.

Sewaktu di Desa Tanah Merah, Pulau Rangsang, Riau, yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka. Yes, The Famous Selat Malaka!

Saya bisa berkunjung ke tiga perbatasan ini karena pasca lulus dari kampus di tahun yang sama, saya ikutan jadi freelance field researcherĀ untuk program Desa Broadband Terpadu.

Sebuah program dari Kemenkominfo yang bermitra dengan UI, sebagai salah satu wujud dari prioritas Nawa Cita nomor tiga, yaitu: membangun Indonesia dari pinggiran. Yang tujuannya untuk mengembangkan SDM dan mengoptimalkan potensi masyarakat desa di wilayah perbatasan, melalui teknologi informasi dan komunikasi.

Nah, dari sana, ketertarikan saya lebih jauh tentang perbatasan bermula. Tapi, saya sadar, berkunjung ke desa atau wilayah perbatasan bukan hal yang mudah apalagi murah.

Makanya ketika saya ada kesempatan untuk traveling lagi, saya nggak ragu untuk nabung lebih banyak & menjadikan wilayah perbatasan sebagai salah satu destinasi. Termasuk Golden Triangle, di Chiang Rai, yang November tahun 2019 lalu saya kunjungi.

Terus, gimana ceritanya saya bisa sampai di Golden Triangle, Chiang Rai?


Perjalanan dari Bangkok ke Chiang Rai: 13 Jam dengan Bus Malam

Terminal Bus Sombat Tour Bangkok

Modal nekat dulu dan sokongan tabungan kemudian! 😁

Berkunjung ke Chiang Rai dan Golden Triangle termasuk dalam rangkaian solo trip saya selama 9 hari di Thailand. Di Chiang Rai, saya menghabiskan waktu 3 hari 2 malam.

Kunjungan ke Golden Triangle saya lakukan di hari kedua di Chiang Rai, dengan menggunakan one day tourĀ yang disediakan di hostel tempat saya menginap: Baan Mai Kradan. Golden Triangle sendiri adalah destinasi terakhir dari rangkaian one day tourĀ yang saya ikuti.

Jadi, di sini, saya menghabiskan waktu sekitar 3 – 4 jam untuk melihat Golden Triangle, Sungai Mekong, dan Museum Opium.

Ada banyak banget moda transportasi yang bisa dipilih buat menuju Chiang Rai dari Bangkok. Mulai dari pesawat, kereta, travel, sampai bus. Tapi, setahu saya, di Chiang Rai belum ada stasiun kereta api.

Jadi, belum ada rute kereta yangĀ langsung turun di Chiang Rai. Kalau mau ke Chiang Rai pakai kereta, kita perlu ke Chiang Mai dulu naik kereta biasa atau sleeper train. Terus lanjut lagi naik travel atau bus sekitar 3 jam dari Chiang Mai buat ke Chiang Rai. Stasiun kereta terdekat dari Chiang Rai cuma ada di Chiang Mai.

Tiket Bus Bangkok-Chiang Rai
Penukaran tiket online jadi tiket cetak/fisik di Terminal Sombat Tour Bangkok.

Saya pribadi pilih bus malam untuk menuju Chiang Rai dari Bangkok. Alasannya sederhana: saya mau coba moda transportasi lain selain kereta atau pesawat. Sekalian lama-lama buat menikmati perjalanan malam ke kota yang juga dikenal sebagai “The Northernmost Large City in Thailand” ini.

Setelah riset sana sini soal bus malam ke Chiang Rai, saya akhirnya pesan tiket bus dari Sombat Tour lewat situs 12go.asia, harga totalnya 1.159 Baht atau sekitar Rp550.000.

Bus Sombat Tour VIP 20 Chiang Rai

Bus Sombat Tour VIP 20 Chiang Rai

Buat perjalanan 13 jam, fasilitas bus ini oke punya dengan kursi privateĀ buat masing-masing orang yang lumayan luas.

Ada kamar mandi,Ā entertainmentĀ on board,Ā makan malam gratis di restoranĀ rest areaĀ di daerah Don Taeng, snack, bantal, dan headset yang sudah disediakan masing-masing di kursi penumpang. Lengkap & ciamik. Harga tiketnya juga 11-12 sama pesawat LCC direct dari Bangkok ke Chiang Rai kayak AirAsia.

Bus Sombat Tour VIP 20 Chiang Rai

Bus Sombat Tour VIP 20 Chiang Rai

Bus Sombat Tour VIP 20 Chiang Rai

Bus Sombat Tour VIP 20 Chiang Rai

Karena makin larut, nggak terlalu banyak yang saya bisa lihat di perjalanan selain kendaraan yang lalu lalang. Sesekali, bus juga melewati area perumahan penduduk, ladang, pabrik, dan hutan yang menandakan bahwa kita sudah masuk ke wilayah pegunungan dan nggak lama lagi bakal sampai di Chiang Rai.

Sekitar jam 06.00 pagi, bus sudah sampai diĀ  Chiang Rai dan menuju terminal pemberhentian. Disambut langit yang kelabu karena hujan deras, pagi itu di Chiang Rai, saya lumayan menggigil kedinginan karena suhunya kalau nggak salah 25 atau 28 derajat celcius. Akhirnya terpaksa pakai jaket dobel sambil cari taksi buat langsung ke hostel. šŸ˜…


‘Well, Here I Am, Chiang Rai!’

Terminal Bus Chiang Rai
Suasana pagi itu di terminal bus Chiang Rai.
Terminal bus Chiang Rai
Ruang tunggu di terminal bus Chiang Rai yang kosong.

Adalah ungkapan yang saya serukan dalam hati ketika taksi yang saya tumpangi melaju dan membawa saya keluar dari terminal, menuju pusat kota Chiang Rai. Kota paling utara di Thailand. Kota yang menurut sejarahnya, ratusan tahun lalu berada di bawah kekuasaan Burma atau yang kini Myanmar.

Senang dan excited jadi satu. Tapi sebelum mengeksplor kota yang jauh dari hingar bingar ini, saya mutusin buat langsung early check in ke hostel dan istirahat dulu. Karena ya capek, laper, dan dingin banget, bos! 🤣

Hostel Baan Mai Kradan
Susana di hostel pagi itu yang halamannya basah karena hujan deras.

Berangkat dari Hostel: One Day Tour dengan Parn Trek

Hostel Baan Mai Kradan

Saya sebenernya pengen banget ngebolang sendirian dengan nyewa motor seharian di Chiang Rai. Tapi, setelah saya pikir ulang, saya nggak berani ambil risiko.

Soalnya, destinasi yang saya kunjungi dekat banget sama wilayah perbatasan Thailand dengan Laos & Myanmar. Kalau ada checkingĀ dari kepolisian setempat, bisa repot. Meskipun saya punya SIM C yang kabarnya berlaku di ASEAN, tapi lebih baik sayaĀ play safeĀ di negeri orang.

Nah, one day tour saya saat itu menggunakan jasa tur dari Parn Trek yang saya pesan langsung di hostel tempat saya menginap. Harganya waktu itu 1.000 Baht atau sekitar Rp475.000 untuk 6–7 destinasi utama di Chiang Rai.

Destinasi terakhir dan yang jadi gong dari trip ini adalah kunjungan ke Golden Triangle. Harga paket tur sudah termasuk transportasi, bensin, tour guide merangkap driver, dan makan siang gratis.

Tapi, belum termasuk sebagian tiket masuk ke beberapa destinasi wisata kayak Wat Rong Khun (Kuil Putih) atau Black House Museum (Museum Hitam). Tiket masuk yang dikasih sama tour guideĀ cuma tiket masuk ke Museum Opium di Golden Triangle. Kalau nggak salah harganya sekitar 50 Baht atau Rp24.000-an.

Parn Trek
Tour guide saya, Sammy Si Petualang!

Guide Tour saya hari itu namanya Sammy. Saya kurang tau nama asli/Thai-nya, tapi yang pasti Sammy itu nama panggilan karena biasanya nama orang Thailand cukup sulit buat dilafalin.

Sammy ini orang asli Chiang Rai yang saya tebak umurnya 30 – 35 tahunan. Sammy juga punya lisensi sebagai tour guide resmiĀ dari TAT Tourism Thailand. Orangnya ramah banget & bahasa Inggrisnya fasih. Humoris juga walau kadang-kadang garing. Hehe, peace, Sam! šŸ¤—

Di hari itu, ternyata cuma saya yang daftar tur. Untung nggak dicancel. Lucky me!

“Seems like today is a special day for you, cause I only take you to this tour. Like private tour!” Kata Sammy.

Jam setengah 9 pagi, saya dan Sammy berangkat sesuai jadwal tur yang sudah ditentukan. Sambil ngobrol-ngobrol kecil, saya jadi tau kalau Sammy ternyata orang/keturunan suku asli Lan Na, salah satu suku asli Thailand yang mendiami wilayah utara/pegunungan.


Menuju Golden Triangle

Chiang Rai
Jalanan yang lenggang di Chiang Rai dengan pemandangan gunung.

Jalanan Chiang Rai

Sekitar jam 2 siang, saya dan Sammy sudah on the wayĀ ke Chiang Saen, wilayah Golden Triangle. Jalan protokol di Chiang Rai, sangat lenggang cenderung sepi. Jadi aja ke tiap destinasi, waktu tempuhnya kurang dari 30 menit. Khusus ke Golden Triangle kalau nggak salah sekitar 1 jam, karena letaknya di paling utara kota Chiang Rai dekat area perbatasan.

Pas sampai, saya langsung bisa melihat monumen Golden Triangle yang berdiri menyambut dan membelakangi Sungai Mekong. Sungai Mekong sendiri adalah batas alam dari negara-negara yang berdiri berdampingan di Golden Triangle: Thailand, Myanmar, Laos. Dari monumen ini, saya bisa melihat tiga negara tersebut sekaligus.

Golden Triangle

Nggak banyak aktivitas yang bisa dilakukan di Golden Triangle kini selain berfoto di monumen, memandangi Sungai Mekong, berbelanja souvenir, atau menyeberang ke Laos dan Myanmar. Orang-orang Thailand sendiri biasanya memang sering menyeberang ke dua negara tersebut naik boat untuk berbagai keperluan. Salah satunya belanja. Ah, waktu saya lagi di ruang tunggu boarding bandara Chiang Rai buat balik ke Bangkok, saya juga kenalan sama seorang perempuan, asli Thailand, yang cerita kalau dia seneng banget habis balik dari Myanmar karena dapet banyak belanjaan murah. Salah satunya pouch seharga 80 Baht. 😁

Bukan cuma warga lokal, wisatawan yang mau nyeberang ke Laos atau Myanmar dari Golden Triangle juga bisa. Tapi, ada syarat administrasi yang harus dipenuhi karena hitungannya sudah ke luar dari Thailand meskipun masih dekat/di wilayah perbatasan. Di Laos/Myanmar sendiri, seingat saya, Sammy bilang ada kasino-kasino yang memang target pasarnya wisatawan. Jadi kalau mau main judi, bisa aja. Tapi risiko ditanggung sendiri, kata Sammy. šŸ˜„

Berdiri di Monumen Golden Triangle sedikit banyak membuat saya berimaji tentang masa tersebut. Di wilayah ini, lewat Sungai Mekong, produksi, distribusi, dan perdagangan opium dilakukan secara besar-besaran oleh Thailand, Myanmar, dan Laos. Bahkan menyabet gelar terbesar di Asia Tenggara karena dari jalur ini jugalah, pasokan opium ke negara-negara barat berasal.

Wilayah pegunungan yang dingin & menyelimuti Golden Triangle adalah kunci utama dari terproduksinya opium menjadi obat-obatan terlarang. Sebab, opium sendiri berasal dari bonggol dan getah hitam bunga poppy yang tumbuh paling subur di wilayah ini, dibandingkan tanaman lainnya.


Melihat Bunga Poppy & Pengolahannya di 212 House of Opium

House of Opium Chiang Rai

Kayak apa sih si bunga poppy yang akhirnya menjadikan Golden Triangle sebagai kawasan penghasil dan jalur distribusi opium terbesar di Asia Tenggara ini?

Nah, buat menjawab pertanyaan ini, Sammy langsung ngajak saya berkunjung ke 212 House of Opium atau Museum Opium yang nggak jauh letaknya dari Golden Triangle. Sebuah museum yang dibangun oleh pemerintah Thailand dengan bantuan Jepang untuk mengedukasi masyarakat luas terkait obat-obatan terlarang dan pemberantasannya.

House of Opium Chiang Rai
Pintu masuk Museum Opium, Chiang Rai.

House of Opium Chiang Rai

Museum yang terdiri atas dua lantai ini sukses bikin saya takjub dan bisa ikut “menghirup” aroma opium. Di pintu masuk utama, saya disambut dengan meja berisi berbagai macam jenis stempel untuk postcard/souvenir card saya. Persis macam paspor aja. Kreatif! šŸ˜…

Alhasil, buat kenang-kenangan, saya pun nggak ketinggalan membanjiri souvernir card saya dengan stempel berbagai bentuk.

Souvenir card opium chiang rai

Souvenir card opium chiang rai

Di dinding ruangan juga tertera berbagai informasi pengantar untuk mengenal Golden Triangle di masa silam. Mulai dari lokasinya di Chiang Rai, sampai ada kalender sosio agrikultural dari hilltribes atau suku asli yang mendiami area pegunungan di Thailand. Dari kalender besar di dinding ini juga saya tau kapan petani di masa itu mulai menanam padi, bunga poppy, ganja, hingga masa panennya.

Museum Opium Chiang Rai


Legenda tentang Opium

Legend of Opium

Meski bukan bagian dari fakta sejarah, melainkan sebatas cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi, legenda adalah bagian yang melekat erat pada suatu budaya. Nah, opium pun punya legenda asal usulnya sendiri yang ditempel di beberapa titik pada dinding ruangan di museum ini.

Menurut kepercayaan Suku Lua, jaman dulu, ada seorang wanita yang meninggal dalam usia sangat sepuh. Sebelum dia meninggal, dia berpesan untuk dimakamkan di dekat persimpangan jalan yang ramai. Setelah dimakamkan, tiba-tiba muncul dua tanaman tembakau di atas makamnya, tepatnya di bagian payudara jenazah wanita tersebut. Sementara di bagian pinggangnya, muncul sebuah tanaman opium.

Nah, penduduk desa yang penasaran kemudian mencicipi kedua jenis tanaman ini. Hasilnya, mereka ternyata lebih suka tembakau dibanding opium. Makanya, mereka coba menanam kembali tembakau itu dan pada akhirnya menggunakan tembakau untuk rokok.

Berbeda dengan Suku Lua, Suku Akha percaya bahwa dulu ada seorang perempuan muda yang cantik dan jadi primadona banyak laki-laki. Dari sekian banyak laki-laki, ada 7 orang yang bisa menarik hati si peremuan muda ini. Sampai suatu hari, ketujuh pria itu datang melamar si perempuan. Tapi, si perempuan ini nggak mau memilih salah satu dari mereka karena takut bikin yang lainnya–yang nggak dipilih–jadi sedih dan cemburu.

Akhirnya, perempuan ini bikin keputusan yang lumayan mengejutkan: berhubungan seksual dengan ketujuh pria yang datang tersebut sekaligus. Meskipun dia tahu hal itu bahaya dan mungkin bisa bikin dia mati, dia tetap rela.

Ketika dia sudah nggak sanggup lagi dan berharap mati, dia juga berdoa agar bisa dilahirkan kembali sebagai bunga yang cantik. Sampai ketika setelah dimakamkan, bunga tersebut pun muncul dari bagian hati/liver si perempuan tersebut.

Sebelum meninggal, perempuan ini juga sempat berpesan ke saudaranya untuk mengurus makamnya dan bunga yang bakal tumbuh di atasnya. Dia juga bilang: siapa pun yang mencicipi bunga tersebut bakal ‘ketagihan’, baik dalam makna baik atau buruk.

Dari legenda ini, baik dan buruk yang dimaksud mungkin adalah: untuk tujuan pengobatan atau justru kecanduan, ya. šŸ™‚


Proses Pertumbuhan Bunga Poppy sampai Menjadi Opium

ladang bunga poppy di museum opium
Gambaran ladang bunga poppy di masa silam yang ada di House of Opium.

Setelah lumayan puas ‘berkenalan’ sama berbagai suku asli Thailand, Myanmar, dan Laos, dengan legendanya masing-masing, saya melipir ke ruangan khusus yang berisi ladang bunga poppy dan pertumbuhannya sampai menjadi opium.

Lagi-lagi, saya terkesan dengan seberapa detail museum ini menggambarkan & mendokumentasikan hal tersebut. Rasanya mau ngasih jempol banyak-banyak ke pemerintah Thailand, penggagas, pendiri, dan pengurus museum ini.


1. Biji bunga poppy sebelum ditanam

Opium seeds

2. Bunga poppy setelah ditanam dan tumbuh mekar

Oppium poppies

3. Bunga poppy yang petalnya rontok/jatuh dan bonggolnya siap tumbuh

Opium Poppies

4. Bonggol opium yang sudah tumbuh dan matang

Opium pods

5. Getah putih yang muncul dari bonggol opium yang diiris/disayat

Opium latex

6. Bonggol opium yang sudah kering/sedikit getahnya

Opium as narcotics

7. Bonggol opium kering berwarna hitam yang siap dijual & diolah

Dry opium pods


Peralatan yang Dibutuhkan untuk Memproduksi Opium

Opium production tools

Selain dijual bonggolnya, masyarakat atau petani lokal di wilayah Golden Triangle pada masa itu juga memproduksi opium untuk digunakan sebagai bahan merokok.

Nah, untuk mengolah bonggol opium kering ini, ada cukup banyak alat yang dibutuhkan. Mulai dari berbagai jenis timbangan tradisional, pisau sayat, alat kerik, panci, sampai boks penyimpanan opium yang sudah diolah.

Timbangan opium

Timbangan dan boks penyimpanan opium

Fakta menarik:Ā 

  1. Berdasarkan informasi yang ditempel dalam pigura di dinding museum, setiap bonggol opium dapat diolah/dikerik sekitar 3 sampai 4 kali dalam rentang 2 – 3 hari setiap waktu pengerikan.
  2. Untuk mendapatkan 1,6 kilogram opium, dibutuhkan 3.000 bonggol opium kering.
  3. Opium yang mentah bisa disimpan selama 2 tahun tanpa kehilangan potensinya sebagai bahan relaksasi atau narkotika.
  4. Biji bunga poppy atau opium juga biasa digunakan untuk dekorasi kue, dessert,Ā sampai makanan untuk burung merpati.
  5. Minyak yang berasal dan diekstraksi dari biji opium juga bisa digunakan sebagai bahan dasar pembersih seperti detergen, sabun, atau bahkan cat.

Perlengkapan yang Dibutuhkan untuk “Menikmati” Olahan Opium

China adalah negara di Asia yang masyarakatnya tak ketinggalan mengonsumsi opium di masa silam. Selain digunakan sebagai bahan obat-obatan medis dan pain killer sejak abad ke-7, opium juga mulai dikonsumsi sebagai rokok yang dicampur dengan tembakau mulai abad ke-17.

Tentu aja, aktivitas ini nggak lepas dari peran dan pengaruh Asia Tenggara, khususnya masyarakat di wilayah Golden Triangle pada masa itu yang mengolah dan mengonsumsi opium untuk rileksasi. Nggak heran, kalau berbagai perlengkapan yang dibutuhkan buat menikmati atau merokok opium sedikit banyak mendapat pengaruh dari tradisi China pada masa itu.

Iya, supaya bisa mencapai kenikmatan maksimal ketika menikmati opium, ada teknik dan perlengkapan khususnya juga. Mulai dari tikar alas rebahan, pipa rokok, sampai bantal sandaran kepala. Emanglah masyarakat Asia ini kalau urusan nyeniĀ nggak usah diraguin lagi! šŸ˜Ž


1. Tikar bambu untuk alas rebahan saat merokok opium

Opium mats

Bukan tanpa alasan kuat kenapa tikar bambu dipilih untuk merokok opium. Desain dari tikar ini sudah secara khusus dirancang agar dapat melancarkan sirkulasi udara di bawah tubuh perokok agar tetap merasa “dingin” dan nyaman ketika merokok.

2. Pipa rokok opiumĀ 

Opium pipe

Ada banyak jenis pipa yang digunakan untuk merokok opium, mulai dari yang pendek sampai yang panjang. Tapi salah satu yang paling populer adalah pipa opium yang terkait dengan mitologi masyarakat Cina.

3. Bantal yang digunakan sebagai penyangga kepala saat merokok opium

Opium pillows

Bantal atau penyangga berbahan dasar porcelain kabarnya adalah yang terbaik untuk merokok opium karena dapat membuat kepala perokok tetap dingin dan nyaman. Selain itu, bantal ini juga bisa membuat perokok merasa seperti melayang-layang di awan ketika mengonsumsi opium.


Tips & Teknik Merokok Opium yang Digemari di Masa Silam

Perlengkapannya siap, sekarang giliran tekniknya.

Nah, suku asli yang mendiami wilayah pegunungan Golden Triangle di Thailand, punya posisi favorit dan diklaim jadi yang terbaik untuk menikmati opium.

Teknik atau posisi ini dinamakan “Heel against Buttocks” atau tumit yang membelakangi/berlawanan arah dengan bokong. Gambaran detailnya ada di bawah ini:

How to smoke opium

Position for smoking opium


Dampak dari Konsumsi Opium

Penalties of opium use

Sayangnya, dibanding digunakan untuk keperluan medis atau pain killer, opium lebih melekat digunakan sebagai obat-obatan terlarang yang membuat banyak orang kecanduan dan menimbulkan dampak serius.

Museum ini secara lengkap dan komprehensif menunjukkan berbagai dampak dari opium pada masa itu. Hingga akhirnya, budidaya dan produksi Opium di Thailand dilarang sekitar tahun 1970-an oleh mendiang Raja Bhumibol Adulyadej.

Selain melarang, Raja Bhumibol juga memperkenalkan tanaman penggantinya kepada suku asli setempat agar mereka tetap dapat bekerja dan menghasilkan uang dengan bercocok tanam.Ā Setelah pelarangan, pertumbuhan opium di Thailand menurun drastis.

Effects of opoium

Effects of opium

Tapi tentu aja, perkara pemberantasan ini bukan hal mudah. Meski sudah dilarang, masih ada juga masyarakat yang diam-diam menanam opium di berbagai wilayah di Thailand dan berakhir di tangan penyelundup. Maka dari itu, pemberantasan dan peperangan terhadap obat-obatan ini terus berlanjut dan sejak tahun 2003, Thailand sendiri sudah menyerukan War on Drugs.Ā 


Kekuatan Opium di Masa Silam

Bukan cuma bisa bikin ‘rileks’ dan menciptakan halusinasi yang berbahaya bagi tubuh, opium sebagai narkotik yang populer diperdagangkan di masa itu bahkan dapat digunakan sebagai alat tukar utang, memicu terjadinya peperangan serta revolusi, dan menghasilkan pundi-pundi keuntungan yang besar bagi pedagang dan pemerintah negara terkait. Seperti yang terjadi pada China, Inggris, Laos, dan Myanmar di abad ke-19.

Kalau boleh saya bilang, mungkin sama powerful-nya dengan rempah-rempah yang menjadi alasan bangsa Eropa datang dan menjajah Nusantara.

Khun Sa Opium King

Berakhirnya era kejayaan opium pada masa itu juga ditandai dengan penangkapan Khun Sa yang disebut-sebut sebagai Raja Opium dari Myanmar di tahun 1996.

Khun Sa ditangkap karena ia adalah tokoh yang sangat powerfulĀ dalam produksi, distribusi, dan perdagangan heroin ke seluruh dunia saat itu. Bahkan, ia menggunakan pundi-pundi uang hasil penjualan heroin di Golden Triangle untuk membiayai pasukan yang dibentuknya untuk perlawanan (Shan United Army) pasca “dikeluarkan” secara ilegal oleh rekannya.

Karena menjadi buruan banyak negara untuk diadili, termasuk Amerika Serikat, beberapa tahun setelahnya Khun Sa kemudian memutuskan untuk menyerahkan diri kepada Pemerintah Myanmar.

“If I can get back my country, eight million of my people will rejoice. But, if I can stop the narcotic problem, then the whole world will rejoice.”

Salah satu pernyataan yang dikemukakan Khun Sha terkait posisinya dalam perdagangan heroin. Silakan dimaknai sendiri. šŸ™‚

Kini di Golden Triangle, nggak ada lagi peperangan atau huru hara transaksi opium si emas hitam. Baik Thailand, Myanmar, hingga Laos sudah damai hidup berdampingan dengan Sungai Ruak dan Sungai Mekong sebagai saksinya.

Interaksi masyarakat antar negara di perbatasan segitiga emas ini juga masih aktif. Sekarang malah ditambah wara-wiri turis, kemunculan berbagai objek wisata, hotel & resort, pasar malam, sampai pedagang souvenir.

Saya sendiri ngerasa sedikit nggak percaya bisa ngebolang sejauh ini. Bisa menjejakkan kaki ke salah satu wilayah paling ‘penting’ dan berpengaruh di Asia Tenggara berabad-abad lalu. Meskipun agak ngeri juga karena ngebayangin kelamnya perdagangan, perebutan, dan bahkan konflik/perang akibat opium di masa itu. Belum ditambah total korban jiwa.

Ngomong-ngomong, saya jadi kepikiran, kalau saya dilahirkan & hidup di masa itu, kira-kira saya jadi apa ya perannya di masyarakat? šŸ˜„


Berkunjung ke Patung Big Buddha & Kembali ke Hostel di Chiang Rai

Big Buddha Chiang Saen

Big Buddha Chiang Saen

Selesai keliling museum, saya melipir ke kuil/patung Buddha raksasa yang lokasinya nggak jauh dari museum ini. Sambil ngaso dan beli air mineral di 7-11 terdekat karena kepala saya agak pening habis mencerna informasi yang terlalu banyak di museum. Lalu lalang turis yang naik turun perahu dari dermaga dekat kuil, jadi pemandangan seru yang saya saksikan di sore hari itu.

Chiang Saen

Setengah jam di kuil, saya mutusin buat balik ke parkiran museum dan bangunin Sammy yang ketiduran di mobil karena capek nyetir seharian. Habis itu, kita pun balik sekitar jam 5 ke Chiang Rai dan disambut dengan pemandangan langit yang super duper bagus!

“Got a lot of photos today?” Tanya Sammy, sambil ngeliat saya yang lagi liat-liat memori foto yang sudah berhasil diambil di hari itu.

“Yes, a lot. This is for my blog. Hahaha.” Jawab saya.

“Oh, you have a blog? Don’t forget to write about my tour then. Pssst, please don’t say bad things in your blog. Haha.” Gurau Sammy.

“How is it? Did you enjoy your trip today?” Tanya Sammy lagi.

“Yes, one of the best trip I have ever had. You are cool, Sam!” Puji saya.

Sunset Chiang Rai

Sambil menikmati jalanan yang lenggang dengan warna langit yang memukau sore itu, saya dan Sammy lanjut ngobrol-ngobrol kecil tentang Chiang Rai yang jadi kota kelahirannya, plus profesinya sebagaiĀ tour guide di Chiang Rai. Sammy ini bisa nggak cumaĀ bolangĀ alias bocah petualang, tapi juga real akamsi alias anak kampung Chiang Rai sini. Semua tentang Chiang Rai, dia khatam. šŸ™‚

Saking lancarnya jalanan, nggak terasa, saya sudah sampai di depan hostel. Saya dan Sammy pun berpisah. Semoga suatu waktu ketika saya kembali ke Chiang Rai, saya bisa ngetrip bareng Sammy & Parn Trek lagi.

Baan Mai Kradan Hostel
Spot di hostel yang cukup menarik & warm.

Makin malam, Chiang Rai makin sepi. Beda sama kota ‘sepupunya’ alias Chiang Mai yang makin malam justru makin ramai. Belum banyak wisatawan yang datang ke Chiang Rai sebagai destinasi utama. Rata-rata wisatawan datang ke sini karena biasanya pesan trip ekstensi dari Chiang Mai. Kondisi ini justru yang bikin Chiang Rai makin terasa berbeda.

Menginap 3 hari 2 malam di kota ini bikin saya ngerasa kayak warga lokal. Selain karena emang orang Thailand dan Indonesia mirip secara fisik dan kultur, ini juga karena saya nginap di hostel yangĀ homeyĀ banget meskipun isinya rata-rata bule. Berasa di rumah! Kapan-kapan kalau ada waktu luang, mungkin saya bakal bikin artikel review soal hostel saya yang super comfyĀ ini. Siapa tau bisa jadi rekomendasi buat temen-temen yang ada rencana berkunjung ke Chiang Rai nanti.

Clock tower Chiang Rai
Menara jam emas raksasa di pusat Kota Chiang Rai.

Food in Chiang Rai

Malam itu, saya mutusin buat jalan kaki ke menara jam emas raksasa yang ikonik di tengah kota Chiang Rai. Nggak jauh dari hostel tempat saya nginap. Sekalian cari makan, soalnya di sekitar hostel beneran sepi banget. Cuma dan 1 – 2 warung makan yang buka.

Sambil jalan kaki di jalan yang sepi, saya lumayan ngerasa capek saat itu. Tapi, rasa itu segera hilang ketika saya memasuki wilayah clock towerĀ yang cukup ramai. Banyak penjual makanan gerobakan di pinggir jalan yang aromanya memanggil-manggil untuk saya beli. Mulai dari sate ayam, tom yum, nasi goreng, sampai martabak telur dan manis tipis khas Thailand.

Soal kuliner, makanan Thailand nggak perlu diraguin lagi rasanya. Di hari itu, ada satu kuliner khas Chiang Rai yang belum saya coba: Khao Soi. Untung masih ada setengah hari lagi besoknya di Chiang Rai sebelum on the way ke bandara buat balik ke Bangkok.

Lain waktu, mungkin bakal saya ceritain juga soal Khao Soi yang enak di Chiang Rai dan pengalaman saya pulang ke Bangkok pertama kali naik Nok Air, pesawat LCC Thailand. šŸ™‚


Last but not least, thank you for all greatest experiences you gave me, Chiang Rai. Stay awesome! šŸ‡¹šŸ‡­

The post Berkunjung ke Golden Triangle: Jalur Silam Perdagangan Opium Terbesar di Asia Tenggara appeared first on Spot Wisata.

]]>
https://spotwisata.com/golden-triangle-dan-opium/feed/ 0
Cerita Saya di Ayutthaya: Naik Kereta Ekonomi Sampai Keliling Sepedaan Seharian! https://spotwisata.com/wisata-ayutthaya-thailand/ https://spotwisata.com/wisata-ayutthaya-thailand/#respond Sun, 26 Apr 2020 00:52:37 +0000 https://spotwisata.com/?p=505 2019, tepatnya di bulan November kemarin, adalah tahun kedua saya berkunjung ke negeri yang terkenal dengan Thai Tea dan Mango Sticky Rice-nya alias Thailand. Iya,…

The post Cerita Saya di Ayutthaya: Naik Kereta Ekonomi Sampai Keliling Sepedaan Seharian! appeared first on Spot Wisata.

]]>
Stasiun Ayutthaya Bangkok

2019, tepatnya di bulan November kemarin, adalah tahun kedua saya berkunjung ke negeri yang terkenal dengan Thai Tea dan Mango Sticky Rice-nya alias Thailand. Iya, kali ini saya solo trip. Bedanya, yang kali ini lebih panjang. Saya ambil cuti total 9 hari dari kantor dan bikin itineraryĀ yang cukup padat. Saya nggak tau kalau saya anaknya ternyata ambisius sampai saya bikin itinerary buat solo trip. šŸ˜…

Itinerary Ayutthaya
Itinerary solo trip yang saya buat. Total budget sengaja dicrop hehe.

Hasilnya, selama 9 hari, saya berhasil berkunjung dan menghabiskan waktu di tiga kota sekaligus di Thailand: Bangkok, Ayutthaya, dan Chiang Rai yang ada di bagian utara Thailand dan berbatasan langsung dengan Laos & Myanmar. Beda sama Bangkok yang udah dinobatkan sebagai “The Most Visited City in The World” versi Mastercard 2019 Global Destination Cities Index, mungkin Ayutthaya & Chiang Rai adalah dua kota di Thailand yang belum terlalu familiar didengar atau jadi tujuan kunjungan wisatawan.

Berhubung saya memang lebih suka destinasi wisata historis, gunung, sawah, dan pedesaan, jadilah saya mantap memasukkan dua kota tersebut ke dalam itineraryĀ saya. Plus, saya memang mau eksplor semua moda transportasi selama di Thailand, termasuk bus dan kereta ekonominya. Buat ke Ayutthaya, saya naik kereta ekonomi kurang lebih 2 jam dari kota Bangkok. Sementara pas ke Chiang Rai, saya naik bus malam kurang lebih selama 13 jam dari Terminal Chatuchak, Bangkok. Pengalaman saya selama di Chiang Rai, nggak kalah menarik dan memorable-nya dengan di Ayutthaya. Mungkin berikutnya bakal saya tulis di artikel terpisah kalau ada waktu luang. Hehe. šŸ˜‰

Perjalanan saya ke Ayutthaya adalahĀ one day tripĀ alias jalan pagi baliknya malam. Bukan karena kotanya kecil dan bisa dieksplor dalam waktu seharian. Tapi, berhubung jaraknya dekat dari Bangkok & saya berencana menghabiskan waktu lebih lama di Chiang Rai, jadi di Ayutthaya, cukup seharian aja. Sayangnya, setelah tahu gimana pesona kota yang seumuran sama kerajaan Majapahit di Nusantara ini, one day tripĀ ternyata nggak cukup, bos! Apalagi kalau kita lumayan suka sama wisata historis.


Jam 8 Pagi: Berangkat dari Hostel Menuju Stasiun Hua Lamphong, Bangkok

The Posh Hostel Phaya Thai Bangkok

Di Bangkok, saya menginap di The Posh, sebuah hostel minimalis di daerah Phaya Thai yang kebetulan lokasinya sangat strategis: pinggir jalan, dekat banget sama stasiun BTS (Skytrain), terkoneksi langsung ke airport railink, dan yang paling penting, samping-sampingan sama 7-11 alias Seven Eleven. Kunjungan ke Ayutthaya adalah hari ketiga saya di Thailand. Landing di Suvarnabhumi, Bangkok, hari Sabtu sore terus ngaso dulu sampai Minggu. Hari Seninnya saya langsung gas lagi keliling-keliling ke kota lain sesuai itinerary.

Karena hari minggunya keliling-keliling jajan di Bangkok sampai jam 9 malam, hari Senin saya jadi bangun kesiangan. Niatnya mau berangkat ke stasiun jam 6 pagi, malah jam setengah 8 baru bangun. Untung saya solo trip, jadi nggak perlu ngerugiin & ganggu jadwal siapa-siapa. Bisa santai & ubahĀ itineraryĀ seenak jidat, hehe. Habis bangun, mandi, dan secepat kilat sarapan di hostel, saya langsung menuju ke stasiun BTS Phaya Thai dan naik BTS sesuai rute ke arah Stasiun Hua Lamphong.

Hua Lamphong Station

Hua Lamphong Station

Hua Lampong Station

Stasiun ini adalah stasiun kereta api utama di Bangkok dengan ratusan trayek yang bisa bawa kita menuju kota-kota lain di Thailand atau bahkan negara tetangga terdekat (Laos, Kamboja, Malaysia). Di stasiun ini juga tahun 2018 lalu, saya pertama kalinya nyobain naik sleeper trainĀ yangĀ super comfyĀ menuju Chiang Mai. Bedanya kali ini, saya datang ke sini mau nyobain kereta ekonominya menuju Ayutthaya. Saya pribadi suka banget sama desain arsitektur stasiun yang bergaya neo klasik ini.

Dari BTS Phaya Thai, buat ke Hua Lamphong, saya mesti nyambung naik MRT dengan transit di Stasiun BTS Siam lebih dulu. Lalu, saya lanjut naik BTS ke jalur Silom (yang garis hijau tua) menuju Stasiun Sala Daeng. Nah, dari Stasiun Sala Daeng saya lanjutĀ interchange ke MRT menuju Stasiun MRT Hua Lamphong. Nyampe, deh. Oh iya, jangan lupa, tiket BTS & MRT berbeda ya. Jadi kalau teman-temanĀ interchange, harus beli tiket lagi.

BTS Route Bangkok
Rute BTS & MRT yang saya naiki menuju Stasiun Hua Lamphong. Sumber Gambar: bangkok-maps.com

Mungkin kesannya ribet dan jauh, tapi kalau kita pelajarin & praktik langsung, rute BTS & MRT di Bangkok lumayan mudah buat diikutin & dipahamin, kok. Kalau temen-temen mau yang lebih cepet dan nggak ribet buat ke Stasiun Hua Lamphong, bisa naik grab bike, grab car, atau taksi, tapi tentunya biaya lebih tinggi & siap-siap kejebak di macetnya Kota Bangkok.

Ticket Hua Lamphon Station

Sampai di stasiun, saya langsung menuju loket dan buru-buru beli tiket keberangkatan ke Ayutthaya yang paling cepat karena ngejar waktu. Sampai stasiun jam 9 pagi (45 menit perjalanan naik BTS & MRT), saya dapat tiket pukul 09.25 dengan estimasi waktu tiba pukul 11: 27, atau sekitar 2 jam perjalanan.

Train Ticket to Ayutthaya

Saya beli tiket ekonomi kelas 3 dengan harga 15 Baht aja (Kurs Rp475/Baht saat itu) alias Rp7.125 untuk perjalanan 90 KM selama 2 jam. Sebagai informasi, untuk menuju Ayutthaya dari Bangkok, pilihan transportasinya banyak ya, temen-temen bisa juga naik bus kota dari Stasiun Mo Chit atau naik travel. Kalau saya pilih kereta ekonomi karena memang mau coba dan nikmatin angin sepoi-sepoi sepanjang perjalanan. Kereta kelas 1 & 2 sebenarnya juga tersedia, tapi jadwalnya sedikit & harus buru-buru beli supaya nggak kehabisan.

Economy Train to Ayutthaya

You get what you pay for,Ā benar adanya. Dengan ongkos 15 Baht, saya mesti gercep naik ke kereta ekonomi menuju Ayutthata supaya kebagian tempat duduk yang strategis (dekat jendela). Kalau temen-temen pernah naik kereta ekonomi di Jabodetabek sebelum eraĀ commuter line atau kereta ekonomi ke Bandung jaman dulu, nah suasana di dalam kereta ini ya persis kayak gitu, kok. Banyak tukang jualan lalu lalang, duduk berebutan, bahkan ada yang berdiri. Tapi saya pribadi seneng-seneng aja dan cukup menikmati perjalanan karena lebih kerasa local vibes-nya. Oh iya, kereta ini juga berhenti dan menurunkan penumpang di setiap stasiun selama perjalanan ya.

Di kereta, saya duduk hadap-hadapan sama muda-mudi Thailand yang nampaknya pacaran. Meskipun saya roaming alias nggak ngerti mereka ngomong apa, tapi seru juga ngeliatin gimana pasangan yang lagi kasmaran saling goda dan becanda selama di kereta buat ngusir bosan. Yang saya perhatiin sekilas, muda-mudi ini secaraĀ fashionĀ cukup kekinian, dandan, dan bawa seperangkat kamera. Jadi, tebakan saya, mereka mau ke Ayutthaya juga buat foto-foto. Mungkin buat project atau stok postingan media sosial. Sesekali mereka juga ketawa kalau ada ibu-ibu atau bapak-bapak penjual makanan di kereta yang teriak kenceng-kenceng. Jujur, saya penasaran apa yang mereka ketawain karena saya nggak ngerti bahasanya, tapi mau nanya atau nimbrung ya sungkan juga. Hahaha. šŸ˜‚

Stasiun Ayutthaya

Perjalanan dua jam ke Ayutthaya naik kereta nggak berasa karena saya lumayan nikmatin pemandangan dan lalu lalang interaksi orang selama di kereta. Kalau boleh saya bilang, suasananya mirip perjalanan menuju Karawang, di mana banyak area sawah tapi udaranya panas banget. Kebetulan, saya pernah ke Karawang waktu bantu-bantu penelitian. Untungnya ketolong sama AC alam alias semilir angin selama perjalanan. Sampai akhirnya, tibalah saya di Stasiun Ayutthaya dan turun berbarengan sama muda-mudi yang duduk di hadapan saya. Selanjutnya, ngapain?


Sewa Sepeda di Rental Depan Stasiun Ayutthaya

Ketika sampai di Stasiun Ayutthaya, saya punya 3 pilihan cara buat mengeksplor ibukota lama ThailandĀ  ini: sewa tuktuk buat one day trip,Ā sewa motor, atau sewa sepeda. Saya pilih sewa sepeda.

Sepeda di Ayutthaya

Kenapa? Karena di Jakarta, saya ke mana-mana naik motor terus, jadi bosan & mau coba hal baru. Kalau sewa tuk-tuk, bisa jadi nggak puas mampir ke mana-mana karenaĀ tuk-tuk cuma bakal nganterin kita ke destinasi-destinasi yang udah disepakati di awal sesuai biaya sewa. Jadilah saya lumayan nekat langsung sewa sepeda di rental seberang stasiun dengan harga 50 Baht alias Rp24.000-an untuk keliling sampai pukul 6 sore. Dengan harga segitu, saya juga dapat peta Ayutthaya buat memudahkan selama keliling dan juga kunci gembok untuk keamanan.

Sepeda di Ayutthaya Bike in Ayutthaya

Bermodal sepeda berkeranjang warna pink inilah saya berkeliling menelusuri kota yang ditetapkan sebagai situs warisan dunia di tahun 1991 oleh UNESCO ini. Dengan keterbatasan alat transportasi, tentu aja saya nggak bisa berkeliling satu kota Ayutthaya yang luas seharian. Tapi, saya cukup menikmati bersepeda di Ayutthaya dan total bisa mengunjungi 2 candi.

Sisanya, saya sekadar menikmati suasana di pinggir jalan dan jajan di taman publik, nggak mau terlalu ambisius. Terik matahari yang nyengat di kulit nggak jadi penghalang saya bersepeda karena selain pakai topi saya juga excitedĀ dan terkesima dengan kecantikan kota yang sekarang jadi situs arkeologi ini. Yang paling bikin saya takjub, di kota ini disediain jalur khusus untuk pesepeda & aman banget. Saya pernah nyaris keluar jalur tapi nggak ada satupun mobil & motor yang klakson. Damai banget.

Total waktu saya bersepeda dan berkeliling jalan kaki di destinasi wisata Ayutthaya adalah mulai pukul 12.00 – 17.30 sore atau hampir 6 jam. Gempor nggak? Hahaha, jelas, tapi untungnya ada tiger balsemĀ yang jadi penyelamat super pas nyampe hostel. šŸ˜

Destinasi Pertama: Ayutthaya Historical Park (Wat Phra Mahathat)

Ayutthaya atau Phra Nakhon Si Ayutthaya adalah ibukota Provinsi Ayutthata yang udah berdiri sejak tahun 1350. Raja U Thong, sebagai pendirinya, adalah raja di Kerajaaan Ayutthaya di masa itu. Kota ini letaknya ada di tepi sungai Chao Phraya dan berseberangan dengan Kota Bangkok yang sekarang jadi ibukota Thailand. Jadi bisa dibilang, Chao Phraya adalah sungai yang menjadi saksi ibukota lama vs ibukota baru yang hidup damai berdampingan hingga kini. Sayangnya, karena peperangan dengan Kerajaan Burma, Kerajaan Ayutthaya dulu jadi runtuh dan reruntuhannya inilah yang sekarang masih tersisa di Kota Ayutthaya. Sampai kemudian, beberapa ada yang direstorasi juga oleh pemerintah setempat.

Wat Mahathat Ayutthaya

Awalnya, saya mau ambisius buat ngunjungin banyak candi dalam waktu 6 jam di Ayutthaya. Tapi, pas sampai di Ayutthaya Historical Park yang ada Wat Mahathat, saya langsung mengurungkan niat karena kompleks percandian yang satu ini aja guede banget, bos! Minimal eksplornya sejam, belum sepedaannya yang lumayan makan waktu. 🤪

Ayutthaya Historical Park
Tempat parkir sepeda sewaan di Wat Mahathat, Ayutthaya Historical Park.

Wat Mahathat sendiri adalah komplek candi yang paling ikonik di Ayutthaya karena banyak patung Buddha tanpa kepala (The Headless Buddha) dan ada juga kepala Buddha tanpa tubuh (Buddha’s Head). Dari rental sepeda, saya langsung meluncur ke Historical Park dan berkunjung ke Wat yang keren satu ini. Kurang lebih waktu bersepeda buat sampai ke Wat ini 40 menitan.

Ayutthaya Historical Park Admission Fee

Berdasarkan sejarahnya, Wat Mahathat adalah wihara yang dibangun tahun 1374 di masa pemerintahan Raja Borommaracha I dan merupakan bagian dari Kerajaan Ayutthaya. Tapi kemudian, seiring dengan serangan dari Kerajaan Burma, Wat Mahathat juga ikut dibakar dan akhirnya runtuh. Setelah itu, Wat ini kemudian direstorasi di tahun 1767 oleh pemerintah Thailand hingga dapat berdiri saat ini sebagai destinasi wisata historis di Ayutthaya, meski sebagian bangunannya masih berupa reruntuhan.

Buddha Head Statue Ayutthaya

Yang nggak boleh kelewatan dicari & dikunjungi selama di Wat Mahathat adalah patung kepala Buddha yang terjebak di pohon beringin. Ini salah satu patung yang cukup misterius dan legendaris di Wat Mahathat. Untungnya saya berhasil nemuin & ngeliat langsung. Seingat saya, patung ini boleh difoto tapi posisi kita saat mengambil foto harus jongkok atau merunduk agar kaki kita nggakĀ sejajar atauĀ pointingĀ ke kepala Buddha dan kepala kita sama rendahnya/tidak lebih tinggi dari kepala Buddha di pohon tersebut.

Ini adalah salah satu bentuk respek sekaligus penghormatan terhadap patung Buddha sebagaimana yang kita tahu, Thailand adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha. Saya sendiri selalu ingat petuah: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Dengan kata lain, kita sangat perlu menghormati dan menghargai kepercayaan serta adat istiadat di mana pun wilayah yang kita pijak/datangi. šŸ™‚

Buddha Statue Wat Mahathat

Wat Mahathat

Wat Mahathat

Kurang lebih sekitar 2 jam saya berkeliling Wat Mahathat, saya akhirnya mutusin buat pindah destinasi ke Wat lainnya. Dengan harga tiket masuk 50 Baht atau sekitar Rp24.000-an, saya jujur takjub dan terpesona banget sama kompleks percandian di Wat Mahathat. Ngeliat reruntuhannya, serasa kayak dibawa masuk ke lorong waktu & masa lampau. Mungkin karena masih sama-sama ASEAN. Meskipun saya sendiri jelas masih lumayan asing sama sejarah Thailand.


Destinasi Kedua: Ngaso & Jajan di Area Taman Publik

Kota Ayutthaya Thailand

Niat saya mau lanjut ke Wat berikutnya langsung ketahan sama bunyi perut yang udah mulai keroncongan dan tenggorokan yang kering karena haus. Karena sadar masih butuh tenaga banyak buat keliling Ayutthaya, destinasi berikutnya saya mutusin bentar buat keliling taman publik sekitar Wat Mahathat buat jajan es Fanta jeruk, Khanom Buang (kue leker khas Thailand), dan juga noodle boat (mi khas Thailand).

Khanom Buang Thailand

Segelas es Fanta jeruk dan seporsi Khanom Buang harganya masing-masing sekitar 20 Baht. Sedangkan seporsi noodle boatĀ harganya kalau nggak salah sekitar 30 Baht atau 40 Baht. Nah, yang unik dariĀ noodle boatĀ Thailand adalah porsinya yang kecil dan dikit banget meski penyajiannya menggunakan mangkuk ayam jago yang ukurannya sama dengan yang ada di Indonesia. Jadi, kalau makanĀ noodle boatĀ jelas nggak cukup 1Ā  porsi.

Saya sempet nengok ke meja sebelah, satu orang, minimal pesan 3 porsiĀ noodle boatĀ buat sekali makan. Makanya pas saya cuma pesan 1 porsi (meskipun habis itu nambah jadi 2 porsi), pelayannya bingung dan nanya: ‘are you sure?’ Hahaha. Ada dua menu noodle boat yang tersedia: ayam atau daging sapi.

Noodle Boat Thailand

Sementara jenis mi-nya bisa dipilih sesuai selera: bihun atau mi kuning. Tapi, kuah kaldunya sendiri seingat saya sama-sama asam dan segar khas kuliner Thailand. Penyajian satu porsi noodle boatĀ isinya ada: mi (kuning atau bihun), tauge, daging atau ayam, bakso ikan, yang disiram dengan kuah kaldu. Nah pelengkapnya ada kerupuk kulit (babi) yang buat saya enak banget!

Noodle Boat Ayutthaya
Suasana warung noodle boat di Ayutthaya.

Kalau temen-temen prefer makanan halal, jangan lupa buat tanya-tanya dulu ke penjualnya atau cari warung yang ada kata “halal” atau khusus muslim. Karena, saya yakin, warungĀ noodle boatĀ yang saya kunjungi bukan termasuk yang halal. Kenyang & puas makanĀ noodle boat saya langsung lanjut lagi keliling Ayutthaya naik sepeda sekitar jam 3 sore. Ke mana lagi destinasi saya selanjutnya?


Destinasi Ketiga: Wat Thummikarat

Wat Thummikarat Ayutthaya

Buat saya, Wat Thummikarat atau candi/wihara ayam jago ini unik banget. Sebab, baru kali ini saya liat wihara/kuil Buddha yang penuh sama patung ayam jago dan patung singa dari depan sampai belakang. Bermodal tiket masuk seharga 20 Baht, saya langsung keliling kompleks candi ayam jago ini selama sejam.

Wat Thummikarat Ayutthaya

Wat Thummikarat Ayutthaya

Wat Thummikarat Ayutthaya

Sama dengan Wat Mahathat, Wat Thummikarat juga bersinggungan dengan Bangsa Khamer dari Kamboja yang bermukim di dekat Wat ini pada masa lampau. Wat ini juga sekaligus jadi saksi dari pertempuran antarkerajaan di Ayutthaya.

Wat Thummikarat Ayutthaya

Wat Thummikarat Ayutthaya

Sepengamatan saya, kondisi patung dan lahan/kebun di Wat Thummikarat sangat terawat dan estetik. Ini karena mungkin Wat ini masih dijadikan tempat beribadah oleh biksu dan warga setempat. Di sini, saya mengabiskan waktu kurang lebih sejam. Sebelum mutusin buat kembali ke rental sepeda dan balik ke Bangkok, saya nyempet-nyempetin eksplor destinasi terdekat yang sesuai papan petunjuk jalan. Apa destinasinya?


Destinasi Keempat: Million Toy Museum & Baan Khao Nhom

Million Toy Museum Ayutthaya

Sayangnya, saya kurang beruntung karena kedua destinasi ini ternyata sama-sama tutup khusus di hari Senin. Mungkin hari buka yang diutamain justru Sabtu-Minggu karena pengunjung lebih banyak. Jadi dalam satu minggu, mereka ambil liburnya di hari Senin, hari di mana orang mulai beraktivitas/sibuk kerja.

Million Museum Ayutthaya

Sesuai namanya, Million Toy Museum sendiri adalah museum berisi jutaan mainan yang didirikan oleh seorang ilustrator buku anak-anak dan akademis, Prof Krirk Yoonpun, pada tahun 2008. Dikutip dari Bangkokpost.com, Prof Krirk kabarnya terinspirasi dari Kitahara Tin Toy Museum di Jepang yang sempat dikunjunginya saat menerima The Noma Prize untuk Chaona Thai (Thai Farmers), salah satu buku anak-anak yang ditulisnya tahun 1982. Saat kembali ke Thailand, Prof Krirk langsung mengoleksi mainan dari lokal & global, dan membutuhkan waktu sekitar 2 dekade atau 20 tahun hingga akhirnya Million Toy Museum bisa berdiri.Ā Worth to visit,Ā kan? Ya semoga di lain waktu, saya bisa kembali dan berkunjung ke sini.

Nah, kalau Baan Khao Nhom bukan museum atau destinasi wisata, tapi kafe yang menjual penganan manis atauĀ dessertĀ khas Thailand. Lokasi Baan Khao Nhom searah dengan Wat Mahathat, jadi saya pikir sekalian pulang bisa mampir. Tapi karena tutup, jadi pukul 16.30, saya mutusin buat sepedaan santai dan balik ke rental sepeda.


Rental Sepeda Selesai & Kembali ke Bangkok

Sepeda di Ayutthaya
Perjalanan pulang ke rental sepeda & Stasiun Ayutthaya.

Sesampainya saya di rental sekitar jam 17.00, pemilik rental nyuruh saya duduk sebentar dan ngasih segelas air mineral kemasan dingin. Ngeliat saya yang ngos-ngosanĀ sambil megang betis, bapak pemilik rental nanya: ‘are you finished? how was your ride?’. Karena masih engap dan capek, saya cuma jawab: ‘It was great’. Hahaha. Si bapak yang peka langsung bilang: ‘I see, I see, enjoy your drink!’. šŸ˜„

Saya ngaso di rental sekitar setengah jam lalu langsung nyebrang ke Stasiun Ayutthaya buat beli tiket kereta balik ke Bangkok. Kebetulan, kereta saya berangkat jam 18.00 dan perjalanan sepanjang pulang, bagus banget! Kalau nggak salah, sunsetĀ di Thailand itu mulai jam 17.00 – 18.30. Jadi aja, saya masih ngeliat langitĀ sunsetĀ dari kereta yang lumayan kece gradasi warnanya.

Kereta pulang saat itu cukup penuh, karena mungkin semua orang yang berkunjung ke Ayutthaya, balik di jam yang sama. Meskipun kereta balik dari Ayutthaya ke Bangkok jadwalnya masih tersedia sampai jam 10 malam. Tapi beruntungnya, saya bisa tetap dapat bangku di dekat jendela buat nikmatin semilir angin dan pemandangan di sepanjang perjalanan.

Di perjalanan, sambil sedikit ngelurusin kaki yang pegal luar biasa, saya merenung. Bukan hanya mengingat-ngingat betapa bagus dan eksotisnya Ayutthaya, tapi juga saya baru sadar satu hal. Di Jakarta, saya mungkin sering motoran berjam-jam. Tapi, baru kali ini saya sanggup sepedaan hampir 6 jam, di kota/negara orang, tanpa nyasar, takut, atau kena serempet mobil/motor. Hahaha. Buat saya, solo trip memang ajaib, karena bisa bikin saya tau & terkejut sama kemampuan yang saya nggak tau ternyata saya punya.

Oh iya, selama di Ayutthaya, saya nggak pernah dengar suara klakson motor atau mobil lho. Dan di jalan raya pun disediakan jalur khusus untuk sepeda. Jadi, mau saya lambat atau berhenti sebentar sekali pun, tetap aman sentosa.

2 jam perjalanan, nggak terasa saya sudah sampai kembali di Stasiun Hua Lamphong, Bangkok. Ingat sama sepasang muda-mudi Thailand yang saya ceritain di awal? Saya ternyata naik kereta balik yang sama dengan mereka juga lho. Meskipun duduknya nggak hadap-hadapan lagi.

Prachak Roasted Duck

Jam 19.30, sebelum balik ke hostel, saya mutusin buat sekalian makan di Prachak Roasted Duck, salah satu kuliner Thailand yang populer, di daerah Silom. Rasanya? Sungguh enaaaaak banget!Ā One day tripĀ saya ke Ayutthaya di hari itu benar-benarĀ worth itĀ dan capeknya kebayar sama seporsi nasi bebek panggang ini.

Thank you, Ayutthaya. Stay great, stay beautiful. See you next time. 😁

Note: semua foto di dalam artikel ini adalah dokumen pribadi saya. Boleh direpost, tapi mohon cantumkan credit, ya.

The post Cerita Saya di Ayutthaya: Naik Kereta Ekonomi Sampai Keliling Sepedaan Seharian! appeared first on Spot Wisata.

]]>
https://spotwisata.com/wisata-ayutthaya-thailand/feed/ 0
7 Kuliner Khas yang Wajib Dicoba Saat Liburan ke Bali! https://spotwisata.com/kuliner-khas-bali/ https://spotwisata.com/kuliner-khas-bali/#respond Mon, 06 Jan 2020 12:14:52 +0000 https://spotwisata.com/?p=382 Punya rencana untuk liburan ke Bali di tahun 2020? Nah, selain mantaiĀ sepanjang hari, tentu nggak komplit rasanya kalau nggak memasukkan wisata kuliner khas Bali dalam…

The post 7 Kuliner Khas yang Wajib Dicoba Saat Liburan ke Bali! appeared first on Spot Wisata.

]]>
Punya rencana untuk liburan ke Bali di tahun 2020? Nah, selain mantaiĀ sepanjang hari, tentu nggak komplit rasanya kalau nggak memasukkan wisata kuliner khas Bali dalam rencana liburanmu! Sebab, ada banyak hal yang membuat Bali dijuluki sebagai last paradise on earth.Ā Dua yang utama tentu saja adalah destinasi wisata pantai dan juga kulinernya yang mampu bikin lidah bergoyang.

Beberapa kuliner khas Bali yang terkenal di antaranya adalah: nasi campur, nasi pedas, nasi jinggo, sate lilit, hingga ayam betutu. Belum lagi ditambah berbagai kafe unik yang menyediakan menu makanan lokal hingga internasional yang nggak kalah enaknya. Nah kali ini, saya mau kasih rekomendasi 7 kuliner makanan khas Bali yang pernah saya coba sendiri beberapa waktu lalu, saat berkunjung ke Bali. Apa aja sih? Simak, yuk!


1. Kuliner Khas Bali: Nasi Bali Made Weti

Warung Nasi Bali Made Weti
Warung Nasi Bali Made Weti di Jalan Segara Ayu, Pantai Sanur, Bali.

Dimulai dari yang paling populer di Bali, Nasi Bali Made Weti adalah kuliner khas Bali yang terlihat nggak pernah sepi pembeli, saking enaknya! Warung ini dikenal dengan beberapa sebutan nama: Warung Made Weti, Warung Nasi Bali Men Weti, Warung Nasi Made Weti. Tapi, yang tepat sesuai dengan bannerĀ yang terpasang di atas warung adalah: Nasi Bali Made Weti.

Warung Nasi Bali Men Weti
Para pegawai di warung nasi Made Weti yang kompak pakai seragam kaos berwarna biru laut.

Menu utama dan satu-satunya yang dijual di warung nasi ini tentu saja adalah nasi campur khas Bali. Dalam satu piring, menu nasi campurnya terdiri atas satu porsi nasi (bisa juga di-requestĀ khusus menjadi setengah porsi), urap (pare, tauge, kangkung, dan daun gonde yang direbus), setengah butir telur balado, ayam betutu suwir, dan kelapa serut bakar.Ā Kemudian, campuran nasi disiram dengan kuah kaldu kuning yang gurih dan diberiĀ toppingĀ kulit ayam yangĀ maknyusĀ renyahnya.

Nasi Bali Made Weti Bali
Satu porsi nasi campur Made Weti dengan topping kulit ayam yang renyah. Psst, kulit ayamnya bisa dibeli terpisah sesuai permintaan.

Satu porsi nasi campur Bali di Warung Made Weti dihargai sekitar Rp35.000 belum termasuk minum atau kalau kamu minta tambahan topping. Karena kulit ayam gorengnya renyah dan enak banget, waktu itu saya minta tambah seporsi dan dihargai sekitar Rp10.000-an. Untuk minumnya, kita bisa pesan langsung sekaligus dengan menu nasi. Bisa juga beli di minimarket sebelah warung. Nah, yang paling asik, warung nasi Made Weti terletak di salah satu pintu masuk Pantai Sanur, Bali. Sembari sarapan, kamu bisa duduk di pasir pantai sambil menikmati pemandangan dan deburan ombak pagi hari!

Lokasi Warung Nasi Bali Made Weti: Jalan Segara Ayu, Sanur, Kec. Denpasar Sel., Kota Denpasar, Bali 80228.

Jam Buka Warung Nasi Bali Made Weti:Ā Setiap hari, mulai pukul 08.00 – 13.00 WITA.

Harga Satu Porsi Nasi Bali Made Weti:Ā Mulai dari Rp35.000 per porsi.

Nomor Telepon Nasi Bali Made Weti: 0812-3899-0448


2. Kuliner Khas Bali: Seafood Warung Subak

Warung Subak Bali
Sumber Gambar: warungsubak.net

Liburan ke Bali yang destinasi utamanya adalah pantai, tentu nggak lengkap tanpa makan seafood.Ā Nah, kalau mau mencicipiĀ seafoodĀ enak dengan suasana pantai yang Bali banget, maka Jimbaran tempatnya. Tapi, buat kamu yang lagi di wilayah Denpasar dan mau cobaĀ seafoodĀ enak, murah, tapi lokasinya di restoran dan khas bintang lima, maka Warung Subak jawabannya!

MenuĀ seafoodĀ yang dijual di Warung Subak dijamin lengkap dari mulai kerang, cumi, udang, kepiting, aneka macam sayur, dan masih banyak lagi. Ditambah, pilihan sambalnya juga top markotop. Tersedia juga menu paket nasi yang beragam, mulai dari paket individu sampai paket keluarga. Yang pasti, harganya terjangkau.

Ketika datang ke Warung Subak, mungkin kamu akan terkesan karena bangunan ‘warung’ ini tidak serupa warung pada umumnya. Melainkan, berbentuk restoran dengan atmosfer yang masih asri karena berada di lingkungan persawahan di wilayah Denpasar. Kalau datang ramai-ramai, kamu juga bisa pilih untuk duduk di saung lho. Makin berasa deh asri khas Bali-nya!

Lokasi Warung Subak: Jalan Astasura No. 5 Peguyangan, Peguyangan Kangin, Kec. Denpasar Utara.

Jam Buka Warung Subak: Setiap hari, mulai pukul 10.00 – 22.00 WITA.

Harga Makanan/Minuman Warung Subak: Mulai dari Rp35.000 per porsi.

Nomor Telepon Warung Subak: 0851-0043-6702


3. Kuliner Khas Bali: Nasi Babi Goreng Sambal Matah Warung Cahaya

Nasi babi goreng sambal matah
Satu porsi nasi babi goreng sambal matah di Warung Cahaya.

Nah, bagi teman-teman yang mengkonsumsi daging babi, liburan ke Bali tentu nggak lengkap tanpa menikmati olahan menu yang satu ini. Menu andalan di Warung Cahaya tentu saja adalah satu porsi nasi dengan lauk daging babi goreng garing yang dilengkapi dengan sambal matah melimpah ruah. Plus tambahan dua iris ketimun sebagai penyegar. Jangan lupa, tambah satu porsi plecing kangkung pedas sebagai pelengkap. Maknyos!

Lokasi Warung Cahaya: Jalan Dewi Ratih No.1, Legian, Kuta, Kabupaten Badung, Bali.

Jam Buka Warung Cahaya: Setiap hari, mulai pukul 08.30 – 19.00 WITA.

Harga Makanan/Minuman Warung Cahaya: Mulai dari Rp17.000 per porsi.

Nomor Telepon Warung Cahaya: 0852-0583-0136.


4. Kuliner Khas Bali: Chicken Run

Chicken Run Kuliner Khas Bali
Panggangan ayam di Chicken Run, Seminyak, Bali.

Bosan makan ayam goreng tepung? Atau bosan makan ayam bakar? Nah, chicken run bisa jadi alternatif terbaik untuk kamu. Chicken Run menjual menu ayamĀ roastedĀ alias ayam panggang yang bumbu rempahnya bisa kamu rasakan sampai ke tulang!

Sewaktu saya berkunjung ke kedai yang ada di Jalan Sunset Road, Seminyak ini, saya bisa lihatĀ displayĀ ayam panggangnya yang baunya semerbak. Konsep tempat makan Chicken Run ini sendiri juga mengusung tema kontainer. Di mana tempat duduk sekaligus tempat makan untuk pengunjung diletakkan di sekeliling kontainer/jendela. Sementara pelayannya, ada di dalam atau di tengah-tengah ruangan.

Berikut adalah menu yang saya pesan waktu berkunjung ke Chicken Run Bali. Satu porsi nasi dengan setengah ekor ayam panggan yang dihargai sekitar Rp30.000. Kalau beli satu ekor, maka harganya sekitar Rp60.000. Nah, yang menarik dan makin menggugah selera, kita bisa jugaĀ requestĀ minyak rempah tetesan dari panggangan ayam. Yang rasanya asin, gurih, dan pastinya bikin makan tambah lahap! Kebayang nggak gimanaĀ moist-nya rasa kulit ayam dari ayam panggang ini? Dijamin ngiler~

Chicken Run Kuliner Khas Bali
Salah satu menu di Chicken Run: satu porsi nasi dengan setengah ekor ayam panggang yang empuk, gurih, dan renyah.

Lokasi Chicken Run Bali: Jalan Sunset Road No.18 Legian, Seminyak, Kuta, Kabupaten Badung, Bali.

Jam Buka Chicken Run Bali: Setiap hari, mulai pukul 08.00 – 23.00 WITA.

Harga Makanan/Minuman Chicken Run Bali: Mulai dari Rp30.000 per porsi.

Nomor Telepon Chicken Run Bali: 0819-1628-6478.


5. Warung Kedaton

Warung Kedaton Kuliner Khas Bali
Satu porsi nasi beserta lauk pauk di Warung Kedaton, Denpasar, Bali.

Kalau kamu mau mencicipi makanan ala masakan rumah atau ala warteg, Warung Kedaton bisa jadi pilihan tepat. Dengan variasi menu yang beragam, rasa makanan di Warung Kedaton bisa saya bilang cukup enak dan ada di atas rata-rata “warteg” pada umumnya. Tempatnya juga cukup bersih, nyaman, dan terletak di pinggir jalan besar. Jadi bisa dengan mudah ditemukan. Harga makanannya juga standar per lauk pauk. Misalnya, dendeng balado untuk satu kali sendok dihargai Rp7.000-an. Begitu juga dengan lauk lainnya yang dihargai per porsi dalam satu piring.

Lokasi Warung Kedaton Bali: JalanĀ Raya Kuta No.62/3, Kuta, Kabupaten Badung, Bali.

Jam Buka Warung Kedaton Bali: Setiap hari, mulai pukul 08.00 – 21.00 WITA.

Harga Makanan/Minuman Warung Kedaton Bali: Mulai dari Rp7.000 per lauk.

Nomor Telepon Warung Kedaton Bali: (0361) 763712.


6. Bread Basket

Bread Basket Kuliner Khas Bali
Kafe Bread Basket yang menjual roti bagel enak. Sumber gambar: thebreadbasketbakery.com/

Ke Bali, nggak lengkap kalau nggak ngafe. Tapi, percuma juga kalau ngafe tapi cuma ngejar tempat, sementara makanannya standar. Nah, di Bread Basket, kamu bisa mendapatkan dua hal sekaligus: makanan yang enak dan khas, plus tempat yang nyaman. Kalau ke sini, jangan lupa coba menu kopi dan roti bagelnya yang super enak ya!

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Bread Basket Bali (@breadbasket.id) on

Lokasi Bread Basket Bali:

  1. Jalan Danau Tamblingan No.51 Sanur, Denpasar.
  2. Jalan Raya Uluwatu 88, Uluwatu Centre Point.
  3. Jalan Mertanadi No.100, Kerobokan Kelod, Kuta Utara

Jam Buka Bread Basket Bali: Setiap hari, mulai pukul 07.00 – 17.00 WITA.

Harga Makanan/Minuman Bread Basket Bali: Mulai dari Rp25.000.

Nomor Telepon Bread Basket Bali:Ā 

  1. (0361) 282339 – Sanur
  2. (0361) 4725222 – Uluwatu
  3. (0361) 9342510 – Kerobokan

7. Second Floor Coffee

Second Floor Kuliner Khas Bali
Menu kopi strawberry a.k.a Fresamentado di Kafe Second Floor, Bali.

Minum kopi susu kekinian, mungkin udah biasa. Gimana kalau coba racikan kopi spesial campur buah? Nah, jangan sampai kelewatan berkunjung ke Second Floor Bali, ya. Di sini ada tiga menu kopi buah yang rasanya enak dan super autentik, sekaligus menjadiĀ signatureĀ dari Second Floor. Yang unik, kafe ngopi yang satu ini benar-benar ada di lantai dua lho, sesuai namanya. Kafe yang desainnya didominasi kayu ini memberi kesan klasik, asri, danĀ homey.Ā Kalau mau ngopi sambilĀ chit-chatĀ sama kawan atau pacar, pas banget deh!

Lokasi Second Floor Bali: Jalan By Pass Ngurah Rai No.86, Kesiman Kertalangu, Denpasar.

Jam Buka Second Floor Bali: Setiap hari, mulai pukul 08.30 – 18.00 WITA.

Harga Makanan/Minuman di Second Floor Bali: Mulai dari Rp30.000.

Nomor Telepon Second Floor Bali:(0361) 462558.


Jadi, kapan nih rencana kamu liburan ke Bali? SelamatĀ mantaiĀ dan kulineran, ya! šŸ™‚

The post 7 Kuliner Khas yang Wajib Dicoba Saat Liburan ke Bali! appeared first on Spot Wisata.

]]>
https://spotwisata.com/kuliner-khas-bali/feed/ 0
13 Jajanan Unik di 7-Eleven Thailand yang Wajib Dicobain! https://spotwisata.com/7-eleven-thailand/ https://spotwisata.com/7-eleven-thailand/#respond Sat, 14 Dec 2019 13:16:39 +0000 https://spotwisata.com/?p=321 Kalau bahas tentang wisata belanja di Thailand, mungkin sebagian orang langsung terpikir: Chatuchak, Pratunam, Platinum Fashion Mall, MBK Center, sampai Siam Paragon. Padahal, nggak cuma…

The post 13 Jajanan Unik di 7-Eleven Thailand yang Wajib Dicobain! appeared first on Spot Wisata.

]]>
Kalau bahas tentang wisata belanja di Thailand, mungkin sebagian orang langsung terpikir: Chatuchak, Pratunam, Platinum Fashion Mall, MBK Center, sampai Siam Paragon. Padahal, nggak cuma di tempat belanja besar tersebut, 7-Eleven di Thailand juga bisa jadi area refreshingĀ buat wisatawan.

Kalau di Indonesia, ada Indomaret dan Alfamart yang menjamur di setiap sudut, nah, lain lagi halnya dengan di Thailand. Gerai 7-Eleven adalah gerai minimarket paling populer yang bakal dengan mudah kita temui selama berada di Negeri Gajah Putih ini. Nggak cuma menjual kebutuhan sehari-hari yang sifatnya primer, yang menarik dari 7-Eleven di Thailand utamanya adalah aneka produk serta jajanan unik yang dijual. Yang tentunya nggak ada di Indonesia.

Masih ingat kan dengan jaman kejayaan 7-Eleven di Indonesia yang akhirnya terpaksa tutup di tahun 2017? Di mana setiap pengunjung bebas nongkrong tanpa batas waktu, isi ulang slurpee,Ā sampai makan snack dengan saus keju & spaghetti sepuasnya! Hayo, yang anak sevel mana nih? šŸ˜€

Bedanya, kita nggak bakal menemui hal-hal yang pernah ada di 7-Eleven Indonesia tersebut di Thailand. Keunikan 7-Eleven Thailand justru terletak pada berbagai jenis produk, aneka makanan ringan, hingga minuman, yang dijual karena keunikannya. Mulai dari segi rasa, inovasi, hingga kemasan.

Ini dia nih, 13 jajanan unik & menarik yang wajib kamu cobain kalau ada rencana liburan ke Thailand!

1. Es krim dengan rasa unik (Salted Caramel, Corn, Taro, dsb)

Mulai dari rasa sampai bentuk, es krim yang ada di 7-Eleven Thailand variasinya banyak banget. Mulai dari yang mainstream (coklat, strawberry), antimainstream (Salted Caramel, Taro), sampai rasa kearifan lokal (kelapa, ketan hitam, mangga, dsb). Yang paling bikin saya ngiler sih jelas aja Nestle Salted Caramel. šŸ˜€

Es Krim 7-Eleven
Ada es krim rasa jagung sama taro!
Es krim 7-Eleven
Es krim Oreo sampai Nestle Salted Caramel semua tersedia di 7-Eleven Thailand.

2. Minuman brown sugar kalengan tanpa boba

Nggak perlu ngantri panjang-panjang buat nyobain minuman kekinian rasa brown sugarĀ di Thailand. Cukup melipir aja ke 7-Eleven terdekat, kamu bakal dapat satu kalengĀ brown sugar milkĀ tanpa boba. Eits, tapi rasanya beneran enaks!

Minuman di 7-Eleven Thailand
Minuman rasa gula merah yang kekinian tersedia dalam bentuk kaleng.

3. Snack rasa blueberry yogurt

Selain warna ungunya yang pekat, bayangin rasa asam, manis, dan gurih jadi satu ketika kamu menikmati snack yang satu ini.

Snack 7-Eleven
Semacam chiki, tapi rasa yogurt buah!

4. Minuman probiotik ukuran jumbo dan susu Meiji aneka rasa

Merasa kurang puas kalau minum Yakult yang ukurannya mini di sini? Nah, 7-Eleven Thailand punya jawabannya. Tersedia berbagai pilihan rasa dan ukuran minuman probiotik. Mulai dari yang original, mangga, sampai stroberi. Ukurannya sendiri yang paling kecil adalah 140 ml. Dijamin puas! Kalau favorit saya, tetap susu Meiji rasa pisang. Wangi dan enak banget. šŸ˜€

Susu meiji dan yakult jumbo
Berbagai varian susu Meiji & minuman probiotik di 7-Eleven Thailand.

5. Sosis, daging, burger, dan nasi kemasan siap santap

Buat teman-teman yang muslim, di Thailand sendiri sebenarnya nggak bakal susah kok cari outlet yang menjual makanan halal. Tapi, setau saya, biasanya adanya lebih banyak di daerah ramai semacam tempat belanja, mal, atau sekitar tempat wisata.

Nah, kalau teman-teman udah keburu lapar atau bujet liburannya udah tiris, tinggal melipir aja ke 7-Eleven terdekat. Sebab, banyak banget menu sarapan murah dan halal yang bisa teman-teman pilih. Mulai dari sosis, daging, burger, sampai nasi plus lauk, semua tersedia dengan harga mulai 20 Baht sampai 40 Baht. Tinggal taruh microwave di kasir, makan deh! Maksudnya halal di sini, bukan ada label halal ya. Tapi, teman-teman bisa pilih makanan yang menunya ayam, beef, atau minimal nggak ada label pork-nya.

Menu sarapan di 7-Eleven Thailand
Aneka sosis, bakso, daging, dan HAM, pilihan tepat buat sarapan murah dan hemat di 7-Eleven Thailand.
Makanan 7-Eleven Thailand
Satu porsi nasi dengan tumis ayam basil khas Thailand bisa jadi menu makan malam yang hemat.
Makanan 7-Eleven Thailand
Mau ngemil enak tapi uang udah tiris? Beli ayam BBQ aja di 7-Eleven, cuma Rp16.000-an.
Makanan 7-Eleven Thailand
Burger daging siap santap di 7-Eleven Thailand.
Makanan 7-Eleven Thailand
Ada juga daging ayam olahan bumbu siap santap yang bisa jadi pilihan sarapan atau makan siang. Cuma 30 Baht!

6. Aneka dessert khas Thailand

Sama kayak Indonesia, kuliner Thailand selain kaya variasi juga kaya rasa! Nggak cuma menu makanan utama, menu makanan penutupnya juga enak-enak dan gurih banget, lho. Nah, buat menikmatiĀ dessertĀ khas Thailand, nggak perlu jauh-jauh ke tempat belanja atau tempat kulineran.

Baca juga: Mau Belanja Oleh-oleh Murah di Thailand? Big C Supermarket Tempatnya!

Di 7-Eleven Thailand, tersedia juga berbagaiĀ dessertĀ lokal dalam kemasan yang bisa teman-teman nikmati kapan saja. Contohnya ini: mungkin ini semacam cendol/es campur ya, karena pakaiĀ coconut milkĀ alias santan. Haha. Ada juga bubur kacang hijau, ketan hitam, sampai puding kelapa yang enak banget! Dan yang paling penting, murah meriah lho.

Makanan penutup di 7-Eleven Thailand
Dessert khas Thailand yang wajib dicoba di 7-Eleven adalah puding kelapa!

7. Sandwich dan aneka roti

Kepingin makan roti sandwich yang kejunya melimpah dan kaya rasa? Nggak perlu jauh-jauh ke restoran di Thailand sebab 7-Eleven sudah menyediakan menu yang satu ini. Cocok buat ganjel perut di pagi hari saat teman-teman mau siap-siap menuju destinasi wisata.

Nggak cuma itu, yang bikin saya pribadi betah lama-lama di 7-Eleven karena pilihan rotinya yang banyak dan unik. Roti tawar aja contohnya, ada yang kuning, ada yang pink. Belum lagi roti dengan berbagaiĀ fillingĀ yang bikin ngiler kayak kelapa, pandan custard, dan masih banyak lagi.

Sandwich 7-Eleven Thailand.
Pilihan sandwich di 7-Eleven Thailand.
Roti di 7-Eleven Thailand
Roti tawar pink dan kuning di 7-Eleven Thailand.
Roti di 7-Eleven Thailand.
Roti kemasan isi kelapa dan pandan custard.

8. Beauti drink & minuman jelly

Saya sendiri nggak tau gimana rasanya beauti drink yang satu ini karena belum pernah coba. Tapi, konon, minuman ini mengandung kolagen yang bagus untuk kecantikan. Bener atau enggaknya, saya nggak tau. Hehe. Tapi, yang pasti, minuman jelly-nya enak-enak dan kemasannya lucu!

Beauti Drink Thailand
Aneka minuman beauti drink yang dipercaya bisa berpengaruh pada kecantikan.
Minuman jelly thailand
Aneka minuman jelly berbagai rasa dengan kemasan unik!

9. Susu kedelai aneka rasa dengan kemasan botol kaca

Nah, minuman di 7-Eleven yang paling jadi favorit saya nomor satu adalah susu kedelai original dalam botol kaca ini. Seger dan kemurnian rasa kedelainya itu enak banget! Nggak terlalu manis juga. Bahkan, saya nggak ngerasa ini pakai pengawet lho.

Seger banget buat diminum abis capek-capek naik turun tangga BTS. Ada tiga rasa yang tersedia: original, thai tea, sampai coklat. Harganya juga murah, sekitar 15 Baht atau Rp8.000. Nggak ngerti lagi gimana caranya mereka dapat untung dengan harga murah, produk enak, dan kemasan yang pakai botol kaca ini.

Susu kedelai Bangkok
Susu kedelai terenak di Thailand!

10. Ragam manisan buah tropis kering

Bukan Thailand namanya kalau tanpa ada manisan buah tropis yang kering. Nah, produk ini juga dijual di 7-Eleven, lho, nggak cuma di tempat belanja besar atau Big C Supermarket aja. Ada durian, nanas, longan, dan masih banyak lagi.

Fruit Candy
Aneka manisan buah kering di 7-Eleven Thailand.

11. Shortcake

Untuk dessert, selain yang khas lokal, di 7-Eleven Thailand juga tersedia shortcakeĀ aneka rasa dengan harga yang murah. Kebayang nggak sih jadi warga Thailand kalau mau ngasihĀ surpriseĀ hemat ke temen yang ultah? Nggak usah jauh-jauh beliĀ cakeĀ di toko, tinggal jalan aja ke 7-Eleven. šŸ˜€

Shortcake
Shortcake berbagai rasa dengan kemasan ciamik!

12. Yogurt Meiji rasa kelapa

Yogurt rasa blueberry atau strawberry, mungkin biasa banget. Gimana kalau rasa kelapa plus ada nata de coco-nya? Nah, yogurt Meiji varian ini wajib banget dicoba kalau kamu lagi liburan ke Thailand, ya!

Yogurt Meiji
Yogurt Meiji Nata De Coco, varian yang cuma akan kamu temui di Thailand.

13. Thai tea dan kopi dingin siap minum

Yang lebih enak dariĀ slurpeeĀ dan cuma ada di 7-Eleven Thailand tentu aja Thai Tea, coklat, dan kopi dingin, yang siap minum! Untuk Thai Tea, di Thailand sendiri setau saya ada dua jenis yang enak: yang pakai Cha Tra Mue dan biasanya dijual pedagang-pedagang di pinggir jalan dan Nestea Thai Tea. Nggak usah susah-susah beli mentahnya dan seduh sendiri kalau teman-teman mau coba Nestea Thai Tea. Di 7-Eleven, yang segar dan siap minum, harganya nggak sampai Rp 10 ribuan kok.

Nestea Thai Tea
Aneka minuman dingin siap minum yang seger banget!

Selain bisa jadi alternatif makan dan jajan murah, 7-Eleven di Thailand juga bisa jadi pilihan terbaik buat beli oleh-oleh kalau bujet teman-teman terbatas.

Sepengamatan saya selama di Thailand, ada dua jenis 7-Eleven: yang kecil dan besar. Tapi, biasanya jaraknya berdekatan dan hanya berbeda beberapa ratus meter. 7-Eleven yang kecil biasanya produknya terbatas. Kalau yang besar, teman-teman bakal berkesempatan menemui semua 13 jajanan unik yang sudah saya ulas di atas.

Jadi, ada yang akhir tahun ini berencana mengabiskan libur panjang ke Thailand? Selamat liburan, ya! šŸ˜€

The post 13 Jajanan Unik di 7-Eleven Thailand yang Wajib Dicobain! appeared first on Spot Wisata.

]]>
https://spotwisata.com/7-eleven-thailand/feed/ 0
Big C Supermarket, Tempatnya Belanja Oleh-oleh Murah Thailand! https://spotwisata.com/big-c-supermarket-thailand/ https://spotwisata.com/big-c-supermarket-thailand/#respond Sat, 30 Nov 2019 11:00:26 +0000 https://spotwisata.com/?p=318 Ngomongin soal liburan ke Thailand, pasti nggak bakalan lepas dari yang namanya belanja berbagai oleh-oleh danĀ snackĀ unik khas Thailand. Selain terkenal dengan destinasi wisata yang menarik,…

The post Big C Supermarket, Tempatnya Belanja Oleh-oleh Murah Thailand! appeared first on Spot Wisata.

]]>
Big C Supercenter, Bangkok, Thailand
Pintu masuk Big C Supermarket, Ratchadamri, Bangkok, Thailand.

Ngomongin soal liburan ke Thailand, pasti nggak bakalan lepas dari yang namanya belanja berbagai oleh-oleh danĀ snackĀ unik khas Thailand. Selain terkenal dengan destinasi wisata yang menarik, negeri gajah putih ini juga populer karena makanan dan jajanannya yang enak-enak. Di Thailand, terutama Bangkok, kamu juga nggak bakal kesusahan buat nemuin pasar, supermarket, hingga tempat untuk belanja oleh-oleh.

Nggak heran, sebab, Bangkok adalah salah satu kota di dunia yang paling banyak dikunjungi di tahun 2018. Dan berhasil mempertahankan gelar tersebut selama 4 tahun berturut-turut, berdasarkan survei yang dilakukan Mastercard Inc, dikutip dari Bloomberg.

Kalau biasanya tempat belanja oleh-oleh terkenal di Bangkok adalah Chatuchak Market, Khao San Road, Pratunam Market, hingga MBK Center. Kali ini, saya bakal kasih rekomendasi beda yang mungkin belum banyak orang Indonesia tahu, yaitu Big C Supermarket atau Big C Supercenter, Thailand.

Big C Supermarket ini semacam supermarket besar yang jadi ikon dan langganan belanja bulanan orang-orang Thailand. Kalau di sini, mungkin mirip Giant atau Carrefour. Kalau teman-teman mau cari Nestea Thai Tea khas Thailand, Cha Tra Mue, Tao Kae Noi, dan snack unik Thailand lainnya, nggak salah lagi, di sinilah tempatnya.

Nggak cuma banyak pilihan jenis makanan ringan khas Thailand, Big C Supercenter juga ramah banget untuk turis. Mereka punya spot yang didedikasikan khusus buat turis yang memang cari oleh-oleh khas Thailand. Selain itu, harga yang mereka tawarkan juga murah. Bahkan, sering banget ada promo untuk produk-produk yang jadi favorit seperti manisan mangga kering khas Thailand, Tao Kae Noi, Pocky aneka rasa, dan masih banyak lagi.


Lokasi Big C Supermarket, Bangkok, Thailand

Di Bangkok, lokasi Big C Supermarket sendiri ada di beberapa titik. Tapi, waktu saya ke sana, saya memutuskan untuk pergi ke Big C Supermarket yang berlokasi di Ratchadamri, Bangkok, Thailand. Kenapa? Karena selain mudah dijangkau dengan menggunakan BTS (Bangkok SkyTrain), wilayah Ratchadamri juga yang paling dekat dengan hostel tempat saya menginap.

Lokasi: 97 11 Ratchadamri Rd, Lumphini, Pathum Wan District, Bangkok 10330, Thailand

Jam buka Big C Supermarket: Setiap hari, mulai pukul 9 pagi sampai jam 2 pagi.

Telepon:Ā +66 2 250 4888

Di samping pintu masuk Big C Supermarket, Ratchadamri, Thailand, juga ada Mini Big C yang buka 24 jam. Produk-produknya memang nggak selengkap yang ada di Big C Supermarket, tapi barang-barangnya hampir mirip kok.

Mini Big C Supercenter, Ratchadamri, Thailand.
Pintu masuk Mini Big C Supermarket, Ratchadamri, Bangkok.

Cara Menuju ke Big C Supercenter Thailand

Big C Supermarket Ratchadamri ada di seberang Central World persis. Jadi, kalau teman-teman mau berkunjung ke sana dengan BTS, tinggal naik aja dari stasiun BTS terdekat dari hotel menuju stasiun BTS Ratchadamri.

BTS Bangkok Map
Peta Jalur BTS Bangkok. Sumber: bangkok-maps.com.

Dari peta jalur BTS di atas, teman-teman tinggal menyesuaikan aja naik BTS-nya dari stasiun mana. Yang perlu diingat, BTS Bangkok tu terbagi menjadi dua jalur: Sukhumvit Line dan Silom Line. Yang warna hijau muda itu jalur Sukhumvit, sementara yang hijau tua itu jalur Silom. Nah, BTS Ratchadamri ada di jalur Silom.

Jadi, kalau teman-teman naik dari jalur Shukumvit, teman-teman perlu transit atau turun di stasiun BTS Siam, kemudian lanjut ke Ratchadamri dengan jalur Silom ya! Ongkos BTS biasanya tergantung jarak dari tempat teman-teman naik. Makin jauh, biasanya makin mahal. Tapi, semahal-mahalnya BTS, dijamin nggak sampai lebih dari 60 Baht kok.

Central World, Bangkok, Thailand.
Big C Supercenter Ratchadamri ada di seberang Central World, Bangkok, Thailand.

Transportasi lain yang bisa teman-teman coba untuk ke Big C Ratchadamri ada taksi atau grab. Tentu aja, biayanya jauh lebih mahal dibanding BTS. Tergantung juga titik keberangkatan teman-teman dari mana. Kalau teman-teman naik BTS dan sudah sampai di stasiun Ratchadamri, dari stasiun, tinggal jalan aja menuju Central World/Big C Supercenter. Posisinya depan-depanan persis kok! Jalan kaki sekitar 10 menit, teman-teman bisa pakai Google Maps. Jangan ragu untuk mengandalkan Google Maps selama di Bangkok karena super akurat, saya udah cobain sendiri. šŸ˜€


Berbagai Snack dan Oleh-oleh yang Ada di Big C Supercenter Ratchadamri, Bangkok, Thailand

Big C Supercenter, Ratchadamri, Thailand.
Pusat oleh-oleh dan jajanan khas Thailand ada di lantai 2 Big C Supercenter Ratchadamri, Thailand.

Kalau kamu sudah masuk ke Big C Supercenter, maka kamu bisa langsung menuju lantai 2 supermarket. Di lantai dua inilah, pusat dari tempat aneka makanan kering, oleh-oleh, dan jajanan khas Thailand bisa kamu temukan. Apa aja yang dijual di Big C Supermarket?




1. Aneka Permen dan Jelly Unik Khas Thailand

Berbagai permen dan jeli-jelian khas Thailand tersedia bagi kamu yang suka penganan manis.

Big C Supercenter jelly and candies
Berbagai jelly dan penganan manis di Big C Supercenter Thailand.
Chewy Milk Candy Mango Thailand
Permen empuk rasa mangga khas Thailand, cuma 52 Baht atau sekitar Rp24.700.

2. Thai Signature Snack di Thailand Corner

Di bagian Thai Signature, tersedia oleh-oleh dengan kemasan khas Thailand yang cocok dibawa untuk keluarga besar atau kerabat di kantor.

Thailand Corner di Big C Supercenter
Thailand Corner di Big C Supercenter Ratchadamri.
Thai Signature Big C Supercenter
Pusat oleh-oleh Thai Signature di Big C Supermarket Ratchadamri.
Big C Supercenter Thailand
Aneka penganan manis semacam dodol dan buah-buahan kering di Big C Supercenter Ratchadamri.

3. Aneka Bumbu Instan Masakan Thailand: Tom Yum, Red Curry, Green Curry

Tergila-gila dengan rasa masakan lokal Thailand yang autentik? Kamu bisa membeli aneka bumbu instannya langsung di Big C Supercenter, Ratchadamri, Thailand. Mulai dari Tom Yum, Red Curry, Green Curry, sampai Pad Thai, semua tersedia. Harganya cuma 20 Baht atau sekitar Rp9.500.

Bumbu masakan Thailand
Aneka bumbu instan masakan lokal Thailand.
Bumbu instan masakan Thailand.
Tersedia juga bumbu ayam basil.

4. Aneka Chips: Coconut Chips, Veggie Chips

Cari aneka chips atau keripik unik khas Thailand? Di Big C Supercenter, kamu bisa menemukan keripik kelapa dan juga keripik sayuran!

Veggie Chips Thailand
Aneka Veggie Chips di Big C Supercenter Thailand.
Coconut Chips Thailand
Keripik kelapa alias coconut chips yang khas di Thailand.

5. Manisan Mangga & Durian Kering Khas Thailand

Sama seperti di Indonesia, Thailand juga terkenal dengan buah-buahan tropisnya, terutama mangga. Mangga Thailand terkenal dengan rasanya yang super manis dan baunya yang harum. Nggak lupa juga, warna kulitnya yang kuning secara menyeluruh. Karena kaya akan buah-buahan tropis, Thailand mengolahnya menjadi oleh-oleh dalam bentuk manisan buah kering yang dikemas.

Dried Mango Thailand
Manisan buah mangga kering dalam kemasan di Big C Supercenter Thailand.
Dried Mango Thailand
Tersedia berbagai promo manisan mangga kering di Big C Supercenter.
Dried durian Thailand
Ada juga manisan durian kering lho di Big C Supercenter.

6. Aneka Teh: Nestea Thai Tea & Cha Tra Mue Oleh-oleh Favorit Turis di Thailand

Yang paling nggak boleh ketinggalan dibeli selama liburan di Thailand tentu saja adalah Nestea Thai Tea dan Cha Tra Mue yang enak banget itu. Di Big C Supercenter, kamu bakal dengan mudah menemukan dua produk khas Thailand ini. Banyak juga pilihan teh lain yang nggak kalah menarik buat kamu yang suka ngeteh.

Yang pasti, harga Nestea Thai Tea dan Cha Tra Mue (Teh asli Thailand untuk membuat Thai Tea) ini harganya jauh lebih terjangkau dibanding kalau teman-teman beli di tempat lain atau jastip online shop. Satu bungkus Nestea Thai Tea, harganya cuma 90 Baht. Kurs saat saya pergi adalah Rp475 per 1 Baht. Jadinya 90 x Rp475 = Rp42.750. Satu bungkus Nestea Thai Tea harganya nggak sampai Rp50.000!

Tea Thailand
Berbagai teh yang dijual di Big C Supercenter Thailand.
Nestea Thai Tea Thailand
Nestea Thai Tea favorit turis yang berkunjung ke Thailand. Harganya murah!
Chat Tra Mue
Cha Tra Mue, teh khas Thailand yang biasa digunakan untuk membuat Thai Tea. Cuma 130 Baht atau sekitar Rp61.750.

7. Lays, Bento, Pocky

Jajanan atau snack yang jadi buruan para turis lainnya adalah Lays, Bento (snack cumi kering), dan juga pocky beraneka rasa. Lays dan Pocky yang ada di Thailand punya berbagai rasa unik yang sulit kamu temukan di negara-negara lain, termasuk Indonesia, lho. Oh iya, ketiga snack ini juga kerap didiskon di Big C Supercenter Ratchadamri. Makin banyak belinya, makin murah harganya!

Lays Thailand Big C Supermarket
Lays beraneka rasa di Big C Supermarket Thailand.
Bento Dried Squid Thailand
Bento, snack cumi kering yang banyak diburu turis di Big C Supercenter.
Mango Pocky Thailand
Pocky rasa mangga yang cuma tersedia di Thailand.

8. Fish Skin Aneka Rasa

Tersedia snack kulit ikan aliasĀ fish skinĀ rasa Tom Yum dan juga Salted Egg di Big C Supercenter.

Fish Skin Snack Thailand
Fish Skin aneka rasa di Big C Supermarket.

9. Pad Thai Instan

Buat kamu yang mau coba masak-masak makanan Thailand tapi bingung caranya, kamu bisa beli yang instannya lho! Di Big C Supercenter tersedia berbagai makanan Thailand instan yang bisa kamu coba sendiri di rumah. Contohnya Pad Thai, kwetiau khas Thailand.

Pad Thai Thailand
Pad Thai instan dijual di Big C Supercenter.

10. Aneka Buah-buahan Segar dan Puding

Big C Supercenter juga menjual aneka buah-buahan tropis yang ada di Thailand. Mulai dari kelapa muda, mangga, dan masih banyak lagi.

Young coconut Thailand.
Kelapa muda dijual di Big C Supercenter, hanya 29 Baht per buah atau sekitar Rp14.000.
Mango Thailand
Mangga kupas siap makan yang dijual di Big C Supermarket.
Coconut Pudding Thailand
Puding kelapa khas Thailand yang khas dengan teksturnya yang lembut dan rasanya yang gurih dan manis.

11. Aneka Jus Buah

Tidak hanya menjual buah segar, beragam olahan buah juga dijual di Big C Supercenter, salah satunya dalam bentuk jus. Haus saat belanja? Jus buah segar ini bakal bantu nyegerin tenggorokan kamu!

Fresh Juice in Big C Supercenter
Berbagai jus buah segar yang dijual di Big C Supermarket.

12. Aneka Sushi

Selain makanan khas Thailand, Big C Supercenter juga menjual sushi segar.

Sushi Big C Supercenter
Paket sushi segar di Big C Supercenter.
Sashimi Big C Supercenter.
Aneka sashimi di Big C Supercenter Thailand.

13. Ada Indomie Goreng!

Siapa sangka, indomie goreng yang populer dari Indonesia juga dijual lho di Big C Supercenter Thailand! Orang Indonesia, bangga nggak nih?

Indomie Goreng
Indomie goreng tersedia juga di Big C Supercenter Bangkok, Thailand.

Habis Berapa Belanja di Big C Supercenter Thailand?

Selama berkunjung ke Thailand, saya sendiri sudah komit, nggak mau belanja banyak-banyak. Karena tujuan liburannya untuk menikmati keindahan negeri gajah putih tersebut. Jadi, waktu di Big C Supermarket, saya belanja secukupnya dan cuma beli oleh-oleh yang memang khas di Thailand. Ini dia gambar belanjaan yang saya beli:

Shopping Big C Supercenter
Hasil belanjaan di Big C Supercenter, Ratchadamri,Thailand.
Big C Supercenter Bill
Total belanjaan sekitar 588 Baht atau Rp279.300 untuk 4 Nestea Thai Tea, 1 Nestea Lemon, 1 Pretzel, 1 Mango Candy, dan 1 Bento Squid.

Saya beli empat bungkus Nestea Thai Tea, 1 Nestea Lemon Tea, 1 Pretzel isi 12 pack, 1 permen mangga, dan 1 bungkus Bento Squid isi 12 pack. Totalnya jadi 588 Baht dengan kurs Rp475 per baht. Jadi, belanjaan saya seluruhnya cuma Rp279.300 aja! Murah banget, kan? šŸ˜€

Buat kamu yang punya bujet terbatas buat beli oleh-oleh, Big C Supercenter di Ratchadamri, Bangkok, Thailand, bisa jadi pilihan tepat. Kamu bisa beli oleh-oleh snack yang isinya banyak tapi harganya murah untuk dibagikan ke kerabat sepulangnya dari Thailand. Nestea Thai Tea, misalnya, satu bungkusnya berisi 12 sachet Thai Tea dengan harga cuma Rp42.000-an atau 90 Baht aja!

Kalau kamu menghabiskan liburan akhir tahun 2019, jangan lupa berkunjung ke Big C Supermarket ya. Dijamin, bakal puas banget belanjanya. šŸ˜€

Baca juga: Liburan Akhir Tahun 2019, Enaknya Ke Mana Ya?

The post Big C Supermarket, Tempatnya Belanja Oleh-oleh Murah Thailand! appeared first on Spot Wisata.

]]>
https://spotwisata.com/big-c-supermarket-thailand/feed/ 0